Triple Story

Triple Story
eps 85



Setelah 1 tahun meninggalnya annasya, Habil menikahi rilley. Pernikahan mereka diadakan dengan sangat sederhana hanya ada keluarga inti dari pihak rilley dan Habil. Karena rilley memang tak mau pernikahan mewah dia hanya ingin pernikahan sederhana di taman bunga milik nasya yang masih terawat dengan baik.


Setelah pengucapan ijab kabul semua merasa senang begitu pun araf. Matanya berkaca melihat pernikahan putra pertamanya dengan nasya dalam hati araf berkata, "sya lihatlah anak kita Habil dia sudah menikah dan menemukan kebahagiaan nya. Begitu pun hasybi kini Joana menantu kita sedang hamil anak kembar seperti kamu dulu hanya saja mereka kembar 2 menurut hasybi. Apapun itu yang penting mereka sehat. Hanya tinggal si bungsu dia lebih suka bertualang. Entah sampai kapan anak itu akan begitu" araf memandang pada para putranya dengan tatapan bahagia.


Araf sedang duduk sendiri ditepi kolam renang ditemani segelas jeruk hangat. Kakinya dicelupkan kedalam air sambil menengadah menatap langit.


"ayah disini?"


Sebuah suara mengejutkan araf yang sedang khusyuk menikmati langit malam. Araf menoleh dan mendapati hail ikut duduk disampingnya dengan menghilangkan kakinya. Dia tak menjawab pertanyaan yang memang tak perlu dia jawab dia hanya tersenyum.


"Ayah lagi mikirin apa?" tanya hail


Araf menatap keatas, "langit malam ini bintangnya banyak il... ayah lagi mengenang saat mama masih ada ayah selalu diajaknya untuk melihat langit malam setelah melakukan aktifitas melelahkan seharian. mengajak ayah untuk selalu bersyukur menjalani hidup"


"ayah merindukan mama?" baik melihat kesamping wajah ayahnya yang sedang menatap langit.


"selalu..." suara araf mengecil tiba-tiba terdengar desah nafas araf yang sangat berat, "ayah selalu merasa bersalah pada wanita solehah dan baik hati itu" sejenak araf menghentikan ucapannya dia menarik nafas dalam-dalam, "ayah mencintai dia tapi ayah sering menyakitinya" araf menunduk dan menangis tersedu.


Baik mendekat pada ayahnya dan memeluknya, "ayah harus menjalani hidup ayah harus kuat. Hail yakin mama sudah bahagia disana"


Araf membalas pelukan baik sesaat kemudian melepas pelukan anak bungsunya itu menatap wajah tampan baik yang sangat mirip nasya, "il..."


"hmmm...."


"ayah bisa minta sesuatu sama kamu?"


"apa yah?'


"ayah ingin sebelum ayah menghadap Allah bisakah kamu juga segera menikah?"


Hail tertawa mendengar pertanyaan ayahnya


"kok malah ketawa.... memangnya kamu ga iri sama Habil yaang baru menikah? atau hasybi yang sebentar lagi punya anak? kamu ga ingin seperti mereka?"


Habil memandang lurus kedepan dengan senyum lebarnya sambil mulut tertutup ia berkata, "hail senang kalau bang Habil, bang hasybi juga ayah bisa menemukan bahagia kalian. Tapi hidup bahagia ga harus menikah kan yah. Banyak hal yang mau hail lakukan"


"baiklah apa yang bisa ayah lakukan lagi jika itu sudah menjadi keputusan kamu. Ayah hanya berdoa semoga Allah selalu melindungi dan menyayangi kamu. Hidup bahagia"


"aminnnn...." seru hail disambut tawa ayahnya.


Sebenarnya baik dn araf sama-sama mengalami kesulitan sepeninggal nasya. Araf yang belum terbiasa hingga 1 tahun sepeninggalnya nasya dia sering berbicara sendiri seperti ada nasya karena saking inginnya berbicara dengan nasya. Hal ini belum diketahui anak-anaknya karena araf selalu berbicara sendiri didalam kamarnya.


Sedangkan hail dia lebih suka menyibukkan diri dengan traveling dan swafoto sebagai hobi barunya. Untuk melupakan kesedihannya dan rasa bersalahnya pada nasya ibunya yang telah tiada.


Mereka sama-sama memiliki luka yang tak pernah bisa mereka ucapkan. Mereka hanya memendam tanpa tau kalau itu berdampak psikologis pada mereka.


"Ayah... hail... mari makan dulu" ajak joanan yang berjalan tertatih dengan perutnya yang besar menuju kolam renang untuk memanggil ayah mertuanya dan adik iparnya.


"lagi nemenin mertuanya bang Habil diruang tamu" Joana berbalik, "ayah ayo..." Joana melambaikan tangannya dan diangguki araf.


Sepeninggal nasya, memang Joana selalu memperhatikan kesehatan araf dari mulai sarapan obat bahkan vitamin semua Joana lakukan agar ayah mertuanya tak merasa kesepian. Araf sangat bersyukur memiliki menantu yang perhatian padanya berbeda dengan hasybi yang hanya sekedarnya. Karena memang anak itu tak banyak bicara.



Habil mulai bekerja seminggu setelah dia menikah, rilley seperti yang diminta Habil dia hanya mengurus rumah dan suami. Kini Joana tak lagi tinggal dirumah utama karena sudah ada rilley dia kembali kerumahnya karena dirumahnya ada orangtua Joana yang kini tinggal disana karena ingin menunggu kelahiran cucu pertama mereka.


Joana memberi catatan apa saja yang biasa dia lakukan untuk mertuanya. Rilley membaca dan menyimak dengan teliti. Araf pun sesekali kekantor atau menghadiri janji temu dengan teman-temannya. Habil tak mengizinkan ayahnya terlalu sibuk dengan alasan kesehatan.


Suatu sore araf berjalan sore sendiri saat pulang dia terlihat dengan tubuh kotor dan penuh luka. Rilley sangat khawatir dan membawa ayahnya kekamar. Dia segera mendial ponselnya dan menghubungi suaminya agar segera pulang.


"ya Allah ayah kenapa ini? siapa yang bikin ayah jadi seperti ini?" tangis rilley yang memang menantunya yang 1 ini sangat cengeng hal kecil pun bisa membuatnya menangis.


"ayah gapapa rill tadi ayah cuma lagi nolong ibu-ibu yang lagi dipukuli sama orang"


Rilley menghembuskan nafas kasar, "bi nah tolong ambilkan kitak obat, arti tolong panggilkan hail, mina... buatkan minum untuk ayah"


"haiss... jangan terlalu panik ril ayah gapapa kok, buktinya ayah masih bisa jalan pulang"


"gimana aku ga panik yah... ayah lebam-lebam begini" tangis rilley.


"ayah kenapa k?" hail turun tangga dengan tergesa-gesa saat mendengar dari art-nya kalau ayahnya pulang dengan penuh luka.


"katanya ayah nolong ibu-ibu yang dihajar orang il.. ayah lain kali jangan ikutan kalau lihat yang begitu. Ayah harus menghindar" masih dengan tangisan nya sambil mengobati luka ayah mertuanya.


"siapa yang berani bikin ayah begini?!" hail berucap dengan sangat keras karena emosi.


"udah-udah ayah gapapa kok"


"il tolong bawa ayah kekamar gantikan baju nanti kk bawakan sarapan ayah kekamar" pinta Riley yang diangguki hail.


Hail menuntun ayahnya kekamar perlahan, "ayah bisa jalan il"


"ga nerima bantahan... besok-besok ayah kalau pergi kemana pun harus dikawal"


"kamu pikir ayah anak kecil apa"


Hail tak menjawab ucapan sang ayah, didalam hatinya merasakan sakit melihat ayahnya seperti ini. Hail mendudukkan ayahnya disofa kamar mencari ganti pakaian rumahan di lemari ayahnya.


"ayo yah kita ganti pakaian dulu sebelum kak rilley datang"


"terima kasih ya nak" senyum araf pada putra bungsunya itu.


"aku harus cari orang yang membuat ayah seperti ini" batin hail