Triple Story

Triple Story
bab 42



Habil shock melihat ibunya sudah bersimbah darah, dia berdiri dideoan pintu ruang rawat igd bersama araf dan seorang supir mereka. Araf mendapat telepon dari leni agar bisa ikut makan malam dirumah bersama karena leni merindukan nasya.


"ma..." araf terisak tertahan


"ada apa raf?" tanya leni khawatir


"nasya masuk rumah sakit ma..." kini araf terisak


"apa? ya Allah... pi...." leni langsung berteriak memanggil suaminya.


"ayah... ada apa ini? kenapa mama bisa sampai seperti ini?" tanya habil pada ayahnya yang sudah menangis sambil terduduk dilantai.


"ini salah ayah bil..." araf meremas rambut dikepalanya.


"apa salah ayah?!" habil menatap tajam ayahnya dengan jejak airmata dipipinya


"ayah ga tau kalau erika bekerja diperusahaan dia bekerja udah 6 tahun tapi ayah baru tahu 2 minggu lalu. Hari ini ayah ketemu erika diruangan karena ayah ingin bertanya kenapa dia ada disini. Dan mamamu masuk kedalam melihat kami dia salah paham bil"


"mama kenal erika?"


"ya... dulu erika pernah membantu ayah begitu pun sebaliknya jauh sebelum kamu lahir. Tapi kebaikan ayah membuat dia salah paham dan menyukai ayah. Itulah kenapa mama kamu cemburu pada erika dan murka seperti ini" jelas araf.


Habil tak lagi mau mendengar araf jujur dia sendiri tak tau harus bagaimana. Dia sangat kecewa pada araf yang tak bisa teliti menerima karyawan hingha membuat ibunya seperti ini. Dia sangat ketakutan melihat ibunya bersimbah darah dan pingsan. Ketakutan yang tak oernah dia rasakan seumur hidupnya.


Saat sedang duduk dibangku ruang tunggu habil menerima telepon dari hail, dengan enggan habil mengangkatnya.


"assalamu'alaikum" suara habil parau membuat hail khawatir


"wa'alaikumsalam lu kenapa bang?" tanya hail


"mama masuk rumah sakit il hiks..." tangis habil pecah


"ya Allah kok bisa sekarang kondisi mama gimana?" hail mulai panik


"masih diperiksa dokter didalam il"


"gue pulang bang" hail segera menutup teleponnya dia memesan tiket lewat aplikasi untuk kepulangannya hari ini.


Hasybi yang mendapat kabar dari hail jika ibu mereka masuk rumah sakit pun menelepon habil. Dia khawatir bahkan hampir menangis, "bang... mama kenapa?"


"mama tertabrak motor bi, maafin abang lalai menjaga mama" sesal habil


"ya Allah mama...." tangis hasybi pecah


"doakan mama ya bi... biar selamat dan sehat lagi" suara habil lemah karena dia tak tau lagi harus bagaimana.


"bang... gue pengen pulang" rengek hasybi namun dia tau itu sangatlah tidak mungkin karena dia berada jauh dijerman. Dia tak bisa semudah hail pulang pergi seenaknya apalagi dia sekarang sedang sibuk-sibuknya kuliah agar bisa segera lulus kuliah dan pulang.


"lu fokus aja sama kuliah lu bi, lu bantu doa aja dari sana ingat pesan mama sesibuk apapun lu jangan tinggalin shalat yang wajib dan sunah. Jangan lupa doain mama supaya mama baik-baik aja"


Tak lama kemudian bayu, leni, zaki, hana dan anak-anaknya datang kerumah sakit.


"raf..." panggil leni yang terlihat kuyu karena terus menangis sejak mendapat telepon.


"mi..." araf berdiri menyambut leni. Habil pun menyalami mereka semua. Ivan duduk disamping habil menepuk pundak habil berharap bisa metingankan sedikit beban dipundak habil.


"kenapa nasya bisa seperti ini?" tanya leni pada araf


Belum sempat araf menjawab dokter sudah keluar dari ruangan, "pak araf..." dokter wanita yang menangani nasya mengenal araf dan keluarganya, siapa yang tak mengenal mereka pemilik rumah sakit.


"ya dokter" araf segera bangkit mendekat pada dokter diikuti yang lain.


"kondisi bu nasya sangat mengkhawatirkan kami hendak meminta persetujuan dari pihak keluarga untuk mengangkat rahim bu nasya. Karena setelah kami periksa dengan seksama kami melihat ada jaringan yang membahayakan untuk kesehatan bu nasya kedepannya" jelas dokter


"lakukan saja dokter yang penting istri saya selamat" pinta araf


"baik kalau begitu bapak silahkan ikut suster untuk menandatangani dokumennya" Araf mengikuti intruksi dokter tersebut.


Semua shock mendengar penjelasan dokter, leni menangis histeris dipelukan hana, "tenang mi... mami ga boleh begini nanti mami juga ikutan sakit. kita doakan ya mi supaya nasya baik-baik aja" Hana yang sebenarnya juga sangat sedih dan ingin menangis kencang ditahannya.


"bil..." zaki mendekat pada habil yang terlihat shock dan diam saja sedari tadi. Wajahnya terlihat sangat sedih dan memerah zaki melihatnya merasa iba.


"sabar ya bil..." zaki menepuk pundak habil, habil hanya menoleh sebentar dan menunduk lagi.


Tak sampai 15 menit araf datang dan duduk dilantai bersama bayu, zaki dan habil. Bayu yang sebenarnya sangat penasaran kenapa nasya bisa seperti ini bertanya pada araf, "raf... kenapa nasya bisa seperti ini?" tanya bayu.


Dengan tertunduk araf menjelaskan perihal erika yang bekerja diperusahaannya setelah 6 tahun dan araf baru tahu 2 minggu lalu. Annasya yang emosi pun diceritakannya oleh araf.


"setau mami nasya orang paling sabar dan selalu menggunakan logika dia tak pernah sekalipun marah sampai seperti itu! apa yang kalian lakukan!!" leni geram


"mi..." araf memandang leni yang tak percaya padanya


"gue heran sama lo raf, walaupun kejadiannya udah puluhan tahun lalu tapi apa lo ga bisa ambil pelajaran dari kejadian yang lalu yang hampir ngehancurin rumah tangga lo! kok bisa-bisanya lo ketemu dia diruangan lo lagi!" emosi hana memuncak. Hana adalah orang yang frontal yang akan sangat marah tanpa pikir lagi jika melihat nasya tersakiti.


"gue cuma mau tanya kenapa dia bisa kerja ditempat w na" araf menjelaskan dengan nada lemah berharap semua percaya pada araf. Tapi yang ada mereka hanya menatap araf tajam. Terlebih bayu yang menggelengkan kepala tak habis pikir dengan sikap araf.


"buat apa lo tau alasannya? mo coba jadi pahlawan lagi hah!" emosi hana


"seharusnya lo pecat dia, bukannya lo bilang nasya udah kasih dia rumah dan toko? Ga ada alasan buat erika untuk kerja apalagi ditempat lo!" zaki yang biasanya diam dan tak mau ikut campur kini pun bicara.


"papi pun ga paham dengan jalan pikiran kamu raf" bayu menghela nafas kasar tanpa menatap pada anaknya.


"pi..." araf memelas ketika semua orang menyudutkannya biasanya bayu-lah yang akan bijaksana tapi saat ini bayu sendiri pun terlihat kecewa pada araf.


"ini salah habil" habil bicara membuat semua yang menatap tajam pada araf menoleh padanya, "kalau habil bisa menjaga mama lebih baik dan ga membiarkan mama masuk keruangan ayah sendiri mama ga akan seperti ini hiks..." habil menyalahkan dirinya sendiri atas kejadian yang menimpa nasya. Sepupu-sepupunya memeluk habil dan ikut menamgis.