
Habil mengendarai mobilnya menuju rumahnya. Dia tak menyangka ada gadis seperti rilley yang menolak diajak ketempat makan mewah. Juga menolak untuk ditraktir, setiap kali mereka makan mereka selalu membayar makanan masing2. Jam sudah menunjukkan pukul 8 malam saat habil sampai dirumah.
"assalamu'alaikum" gumam habil
"wa'alaikumsalam" hail yang sedang duduk diruang tengah menjawab salam habil.
Habil menileh mendapati hail yang duduk dengan 2 laptop didepannya. Habil mendekati hail, "lagi apa?"
"ngerjain tugas yang dikasih jimmy tadi sore"
"loh kenapa jimmy ga kasih ke gue langsung?" habil heran karena jimmy adalah asistennya kenapa malah memberi tugas pada hail.
"lu kan lagi ngedate bang apa salahnya kalaj gue bantu ngerjain tugas lu" jawab hail
"kerjaan lu aja udah banyak il" habil berupaya mengambil laptop yang disamping hail.
"kita saudara bang harus saling bantu. Mulai sekarang kita harus saling berbagi jangan cuma kebahagiaan tapi juga beban. Jangan semua lu tanggung sendiri" hail menatap abangnya. Habil tersenyum mendapati hail yang kini sudah mulai dewasa.
"gimana kencan lu sama rilley" hail mengetik lagi laptop didepannya. Habil menghela nafas panjang menatap apada hail yang masih fokus pada laptop didepannya.
"il..."
"hmmm"
"lu dapet ide darimana sih hal2 romantis kaya gitu?"
"pengalaman lah bang" jawab hail santai
"ga semua cewe mau il digituin"
"maksud abang?" hail menoleh habil yang sudah menyandarkan tubuhnya dikepala sofa.
"gue asyik liat opera ehh dia malah molor. Gue ajak makan dicafe mewah dia narik gue makan diwarung pinggir jalan. Mana bayar masing2 dia ga mau dibayarin"
"hahahaha" hail tertawa dibuatnya, "gue ga ngebayangin bang lu pake tuksedo rilley pake gaun terus makan dipinggir jalan. Emang lu berdua spesies langka hahaha"
Habil melirik adiknya tajam melempar adiknya dengan bantal sofa, "ampun bang... ampun hahaha"
"habil..." hail dan habil seketika menoleh pada suara yang memanggil mereka. Mereka melihat sosok nasya berdiri dengan dress panjang rambut yang terurai sangat indah.
"mama..." habil dan hail langsung menghampiri ibunya yang berdiri dibawah tangga.
"kamu jangan nakal sama adikmu. Kalian harus saling sayang" omel nasya setelah kedua anaknya berdiri diepannya.
"maaf ma" ucap habil serius
"kita cuma bercanda ma" hail memeluk tangan ibunya, "ayah mana ma?"
"tentu aja kerja pasti pulangnya malam lagi" gerutu nasya seperti anak kecil. Habil dan hail tau pasti ayahnya sedang ditoilet dan ayahnya lupa untuk mengunci kamar.
"kalian pasti belum makan ayo kita makan" ucap nasya sambil menarik anak2nya ke meja makan. Habil dan hail mengikuti.
Nasya mengambil nasi dan lauk dipiring kemudian menyuapi anaknya satu persatu. Habil dan hail hampir memangis mendapati nasya yang seperti ini. Biasanya nasya hanya duduk diam atau mengubah-ubah posisi album foto mereka dikamar.
"ternyata kalian disini" suara araf bergema diruang makan. Nasya langsung beranjak mendapati suaminya dipintu ruang makan.
Araf mendapat kedipan mata dari anak2nya dia pun mengerti.
"iya sayang maaf ya terlambat pulang"
"kamu udah makan mas?" araf mengangguk. Araf membawa nasya kedepan tv, dia memberikan album foto dan melihat-lihat foto mereka ber-5.
****
Habil merasa penat dengan banyaknya pekerjaan yang dikerjakannya. Sekilas dia melihat ponselnya mencari kontak rilley. Dia mengirim pesan pada rilley.
habil:
rill nanti jam 5 sepulang kantor aku jemput kamu ya
Rilley:
iya
Habil lekas membereskan pekerjaannya karena jam sudah menunjukkan pukul 4 sore setelah selesai shalat ashar dia bergegas kembali keruangannya.
Dihotel rilley merapikan pakaiannya karena besok dia harus segera kembali kerusia. Malam ini dia memakai pakain casual biasa dengan kaos dan celana jeans dan sweater coklat. Rambutnya dia biarkan tergerai dibagian depan rambut dia kuncir dengan karet agar tak berponi.
Sambil menunggu kedatangan habil dia memainkan ponselnya melihat status lingkaran teman2nya. Belum lama rilley melihat sosmed-nya dia dikejutkan dengan suara bel kamar hotelnya. Dia pun beranjak dan segera membuka pintu. Terlihat habil sudah berdiri menjulang didepannya dengan wajah kuyu seperti lelah sehabis bekerja. Namun dia tetap tersenyum melihat rilley.
"kita jalan sekarang..." ajak habil yang diangguki rilley. Rilley segera mengambil tas dan menutup kamarnya.
"bil..."
"hmmm" habil menutup ponselnya memasukkan kedalam saku. Mereka duduk dibelakang supir.
"apa ga terlalu cepat kamu perkenalkan aku sama orangtua kamu?" terlihat kecemasan diwajah rilley.
"ga rill, dan aku juga pengen kamu liat sendiri kondisi kedua orang tua aku. Kalau kamu serius sama aku kamu aku pengen saat kita menikah nanti kamu siap bantu aku untuk menjaga mama aku"
"aku udah tau kondisi ibu kamu bil dan aku siap. Anggap aja sebagai bakti aku ke ibuku sendiri walaupun sampai sekarang aku ga tau dimana mama" rilley tertunduk lemas.
"kamu serius?" tanya habil dia tak mau begitu saja terbuai dengan ucapan rilley. Banyak wanita yang mencoba mendekati habil agar status sosial mereka naik. Tapi habil mencari istri bukan hanya untuk dirinya tapi juga keluarganya. Jika dia bisa menyayangi ibunya maka kelak anak-anak mereka mungkin bisa jadi anak baik. Walaupun usia habil baru 19 tahun tapi dia tak pernah main2 dengan wanita. Jika ada wanita melemparkan dirinya pada habil, habil tak serta merta menerima begitu saja. Dia lebih suka menolak dengan tegas.
Sesampainya dirumah terlihat araf sedang menuntun nasya. Mereka hendak masuk kedalam rumah. Habil dan rilley menghampiri araf dan nasya menyalami mereka. Araf tersenyum begitu pun nasya.
"anak gadis siapa ini cantik sekali" ucap nasya kemudian membelai rambut panjang rilley. Rilley segera memeluk nasya. Dia sangat ingin merasakan oelukan seorang ibu. Memang betul rilley memiliki ibu tiri. Tapi mereka nyaris tak pernah bicara apalagi pelukan karena ibu tiri rilley sangat sibuk membantu mengurus usaha ayah rilley.
"tante nama saya rilley" rilley melepas pelukan nasya
"ayo masuk nanti tante masakin untuk kamu"
Rilley menggelengkan kepalanya dia memeluk tangan nasya, "tante saya ga mau tante masak, saya cuma mau peluk tante boleh" rilley sangat menyukai nasya begitu pun nasya yang langsung mengangguk dan tersenyum. Mereka masuk kedalam rumah dengan rilley memeluk lengan nasya erat seperti takut jika nasya akan lari.
"bil... rilley sepertinya anak baik" ucap araf memandang mereka yang berjalan berdua.
"habil belum yakin yah... tapi yang pasti dia selalu ada dalam doa habil. Kalau kami berjodoh in shaa Allah kami lanjut ke jenjang yang lebih serius yah"
Araf hanya tersenyum pada putranya memeluk habil dari samping dan membawanya masuk kedalam rumah