
pindahan selesai pukul 5 sore, triple H duduk diruang tamu kontrakan inara bersama rilley dan hilman sedang inara ke kamarnya untuk berganti pakaian. Saat keluar hail tersenyum senang mendapati penampilan casual inara yang jauh lebih cantik dibanding dia berpakaian formal kesekolahnya. Inara memakai kaos dengan lengan yang berkerah v dan memakai celana pendek selutut. Rambut yang biasa dia kuncir dia biarkan tergerai. Inara sangat cantik lehernya yang jenjang dengan bentuk wajah oval dan kulit kuning langsat benar-benar membuat hail terpesona. Inara tersenyum pada semuanya terutama matanya menatap pada hilman yang duduk sambil memainkan ponsel ditangannya. Hail merasa cemburu dan kesal.
"kalian mau makan apa?" tanya inara masih dengan wajah yang menampilkan senyum. Hilman menatap pada inara sejenak dia merasa takjub namun saat hail berdehem dia tersadar.
"kok ga ada yng jawab kalian mau makan apa?" sekali lagi inara bertanya.
"ga usah bu kami mau langsung pulang aja, nanti mama sama ayah khawatir jika kami terlalu lama diluar" habil menjawab mewakili semuanya,
"owh ya sudah kalau gitu. Anak-anak yang baik pasti orang tua kalian sangat sayang ya dengan kalian sampai kalian tak boleh pulang malam" ucapan inara seketika membuat rilley menunduk sedih. Dia teringat dengan ibunya yang selalu bekerja keras siang malam tanpa tau apa yang terjadi pada anak semata wayangnya. Bahkan rilley sering hanya untuk mendapat uang saku dia bekerja sampingam di banyak tempat.
Menyadari kesedihan diwajah rilley habil segera berucap, "kami pamit dulu bu, ayo pak kita pulang"
Inara dan rilley mengantar kepergian mereka. Habil menatap pada inara yang masih sedih, "kamu jangan khawatir kami akan mencoba sebaik mungkin untuk bisa menemukan ayah kamu"
Rilley tersenyum senang mendengar ucapan habil, hail menatap pada inara dan hilman yang sedang bicara, "makasih ya sudah mampir" inara masih tersenyum terlihat sangat bahagia.
"iya..." hilman hanya tersenyum dan menjawab singkat. Tapi bisa dipastikan 2 orang dewasa ini sedang dalam mode senang membuat hail terbakar cemburu.
"anak-anak terima kasih ya bantuannya" inara menatap pada murid-muridnya yang hendak masuk mobil sedang yang menjawab hanya hasybi dan habil yang mengangguk. Berbeda dengan hail yang langsung duduk memejamkan matanya.
"kapan-kapan mampir aja" inara berucap pada hilman uang diangguki hilman. Mereka pun bertukar nomor ponsel. Hail kesal bukan main dia membuka kaca mobilnya yang ada dibelakang bangku supir menatap pada hilman dan inara, "pak bisa cepat ga?" teriak hail karena kesal
Hilman dan inara menoleh pada hail, inara berdecih kesal dengan hail sedang hilman mengangguk. Hilman segera berpamitan dan masuk kedalam mobil. Setelah mobil jalan hail berucap pada hilman, "pak hilman jangan genit-genit sama bu inara!" ucapan hail lebih seperti memerintah. Namun hilman hanya menggelengkan kepala saja.
Sesampainya dirumah nasya sudah duduk diruang tengah menantikan kedatangan anak-anaknya. Triple h menyalami ibu mereka setelahnya bergantian ke toilet. Annasya masih duduk diruang tengah saat dia melihat para putranya keluar dari toilet.
"anak-anak mama udah pada makan siang?" ada nada khawatir di ucapan annasya karena biasanya dia memberikan bekal pada putranya namun bekalnya tak dibawa mereka.
"udah ma tadi dikantin" habil mewakili saudaranya.
"mama tuh jangan banyak khawatir sama kita, kita udah gede ma bisa jaga diri tenang aja" hail mendekap ibunya dari samping disusul hasybi yang tanpa ucapan duduk dan memeluk ibunya juga. Habil duduk dibawah menyandar pada paha sang ibu.
"untuk seorang ibu anak-anak tetaplah anak-anak" ucap nasya lembut pada anak-anaknya sambil mengelus kepala mereka bergantian.
"ga mau ah kita sayang mama, sayaaaang bangey mama" hail yang paling manja mendekap mamanya erat.
Araf merengut mendengar ucapan anak-anaknya. Memang selama ini araf sangat jarang berinteraksi dengan anak-anaknya karena kesibukannya mengurus kantor yang mulai merambah hampir seluruh dunia bukan hanya asia tenggara dan eropa.
"ayah cemburu" araf duduk sendiri memberengutkan wajahnya pura-pura sedih. Hasybi yang paling dekat dengan araf memeluk ayahnya, "hasybi sayang ayh juga kok"
Habil dan hail beranjak dan memeluk ayahnya, "ayah kita yang terbaik" hail mencium ayahnya.
Annasya sangat bersyukur mendapat keluarga yang saling menyayangi. Selain anak-anak yang kompak dan saling melindungi dia juga mendapat suami yang perhatian dengan keluarga. Berbeda dengan araf muda yang playboy dan tak peduli dengan perasaan nasya dulu, kini araf menjelma menjadi sosok dewasa tak hanya menjadi tempat keluh kesahnya tapi juga anak-anaknya. Araf benar-benar berusaha menjadi ayah yang baik terutama suami yang baik untuk nasya.
"gimana pindahannya?" tanya nasya pada anak-anaknya
hail yang masih memanjakan diri dengan ayahnya tak langsung menjawab. Hasybi yang menyandarkan kepalanya pada paha sang ayah menjawab, "cuma pindahan dari sekolah kerumah guru kok ma"
Sontak hal itu membuat hail dan habil menatap pada hasybi. Kemudian mereka saling pandang dan menepuk jidat. Nasya dan araf yang melihat tingkah mereka saling pandang dengn wajah penuh selidik nasya menoleh pada habil, "maksudnya gimana bang?"
Jika ibunya sudah memanggil dirinya abang itu berarti ibunya ingin jawaban jujur dari seorang habil. Karena habil yang tertua jadi dia harus mempertanggung jawabkan apalagi dialah yang menelepon ibunya untuk meminta izin, "iya ma cewe itu tinggal digudang sekolah terus bu inara guru kami yang baru mau mengajak dia tinggal bersama makanya kami bantu dia" jawab habil jujur walaupun tak semuanya dia ceritakan dengan detil.
"kok bisa dia tinggal digudang sekolah? memangnya orang tuanya kemana?" kali ini araf yang bertanya pada putranya.
"dia bilang ibunya kerja jadi tkw, sedang ayahnya yang orang austria ada di negaranya. Dia lost contact yah" hail menjawabnya diantara semua triple h hanya hail yang bisa bicara tanpa berbohong tapi tak membuat curiga.
"memangnya anak itu ga punya saudara?" arag lagi yang bertanya penasaran.
Hasybi mendongak menatap sang ayah, "kita mana tau yah ngapain juga tanya-tanya kita cuma bantu pindahan kok" araf dan nasya menggeleng mendapat jawaban dari hasybi. Anak ini memang paling cerdas secara IQ dibanding saudara-saudaranya tapi EQ anak ini benar-benar rendah. Dia anak yang paling malas bergaul, bicara hanya seperlunya dan tak peduli dengan ucapannya akan menyakitkan atau ga. Walau begitu dia anak yang sangat menyayangi saudaranya. Annasya terkadang bingung harus bagaimana mengajari hasybi untuk lebih peduli pada sekitar.
💓💓💓💓
jangan lupa untuk tinggalkan jejak ya terima kasih