
Hail dan araf datnag kekantor polisi bersama untuk menjenguk nasya. Araf membawakan makanan kesukaan nasya. Araf berulang kali menghembuskan nafas mengingat betapa malunya dia bertemu nasya. Hari-harinya tanpa nasya sangat tak berarti terlebih dirinya yang selalu bergantung pada nasya membuatnya semakin bersalah.
Nasya datang dihadapan mereka setelah hail menyalami nasya araf berdiri hendak menyambut nasya. Namun nasya hanya menyalami dan duduk dihadapan mereka tanpa bicara.
"mama gimana kabarnya?" suara hail tercekat menahan tangis. Nasya memandang pada anaknya mengelus rambut hitamnya yang sudah mulai panjang.
"kamu belum sempat potong rambut ya? Pasti sibuk banget. Kalau sibuk ga usah pulang balik mama aja yang kesana kalau mama udah bebas" nasya tak memperhatikan yang lain. Dia sangat merindukan ke-3 putranya yang sangat disayanginya.
"ma..." hail merangsek memeluk nasya menangis sejadinya. Araf pun tak dapat menahan diri diam-diam dia sendiri pun menghapus airmatanya.
"cengengnya belum hilang anak mama, untung kuliah disingapur deket coba kalau jauh-jauh kaya hasybi mama bakalan khawatir banget" ucap nasya mengelus punggung anaknya.
"maafin hail ma..."
"harusnya mama yang minta maaf, kalian pasti malu punya mama seorang napi" ucap nasya dengan mengeratkan pelukannya pada hail.
"ga ma... apapun dan bagaimana pun mama kita semua bangga sama mama. Mama yang terbaik"
"terimakasih sayang"
"il... lu nengokin mama malah bikin mama sedih gimana sih?!" habil yang baru datang langsung mencium punggung tangan mamanya.
Nasya melepas pelukan hail dan memeluk habil sebentar, "maaf ma habil baru bisa jenguk mama"
"gapapa sayang mama tau kamu sangat sibuk"
"udah ah sedih-sedihnya ayo kita makan" hail membukakan bekal makan didepannya. Terlihat telur gulung, dendeng balado, sup ikan dan tumis sawi putih terhidang didepan nasya.
"terima kasih ya tapi kalian ga perlu bawa-bawa makanan kesini cukup kalian datang mama udah seneng banget" annasya menatap bangga pada putranya.
"gapapa ma... kapan lagi minta abang masak. Ini yang masak abang loh mah" bisik hail walaupun masih terdengar oleh semua.
"oh ya? sejak kapan abang bisa masak?" nasya tampak pura-pura berpikir.
"lemes" habil menepuk pundak kiri adiknya.
"ma... abang jahat" seperti biasa hail akan bersikap manja pada ibunya hal ini yang selalu dirindukan nasya keakraban keluarganya dan sikap manja anak-anaknya.
"abang ga boleh gitu sama adiknya" nasya pura-memarahi habil.
"dasar manja" cetus habil
"biarin wee..." hail menjulurkan lidahnya.
"sya... maafkan aku..." suara araf memecah tawa nasya dan para putranya.
"ya..." jawab nasya singkat. Nasya sendiri tak tau mau bicara apa. Dia menyuap lagi makanan didepannya tanpa memandang pada araf yang diam kembali.
"mama hari senin mama akan segera bebas, pelapor udah mencabut tuntuttannya. Maaf kalau habil terlalu lamban" ucap habil sambil menunduk.
Nasya menghentikan makannya menatap pada putra tertuanya, "terima kasih sayang. Ga ada yang terlambat justru mama senang disini mama dapat teman. Juga para polisi dan napi disini baik semua sama mama. Bahkan kepala polisi disini rajin ajak mama makan bareng disel" Nasya sengaja mengatakan semua kebaikan frizz ingin tau reaksi araf. Ternyata araf terkejut seperti dugaannya.
"emang boleh ma makan disel?" hail bertanya dengan polosnya
"baik banget dia ya ma, pantas mama agak gemuk ternyata mama bahagia" habil menggeleng mendengar ucapan hail yang disambut tawa nasya.
"jelas dia baik, dulu itu dia teman mama waktu smu, teman sekelas" ucap nasya ingin memancing keingintahuan araf. Namun sepertinya araf tak terpancing, itu membuat nasya kecewa.
"laki-laki apa perempuan ma?" hail mendekatkan kepalanya pada nasya.
"laki-laki dan dia dulu pernah suka sama mama-mu sebelum akhirnya dia tau kalau mama udah menikah dan menyerah untuk dapetin mama" cetus araf yang ternyata udah tau kalau frizz adalah kepala polisi disini. Habil dan hail saling tatap melihat ke arah nasya yang dengan santainya makan bekal didepannya tanpa mau menjawab ucapan araf.
"hasybi kabarnya gimana sayang?" tanya nasya pada para putranya.
"oiya sampai lupa, tadi abang suruh video call ma kalau kita jenguk mama" hail memgambil ponselnya dari dalam saku celana dan menelepon hasybi.
Panggilan ketiga diangkat oleh hasybi, "assalamu'alaikum"
"wa'alaikumsalam anak mama habis shalat subuh?" tanya nasya yang terlihat binar bahagia dimatanya. Hasybi mengangguk mengiyakan.
"iya ma, kan kewajiban ma. Mama gimana kabarnya?" tanya hasybi.
"Alhamdulillah mama baik bi... kamu juga jaga diri baik-baik disana ya. Jangan sampai telat makan dan shalat wajib harus dilaksanakan kalau yang sunnah sebisa mungkin luangkan waktu" ucap nasya yang diangguki hasybi.
"iya ma pasti. Ma minggu depan hasybi libur musim semi hasybi mau pulang kangen mama"
"iya sayang yang penting ga mengganggu kuliah kamu"
"iya ma... ma ayah mana?"
Nasya memberikan ponselnya pada araf, "assalamu'alaikum bi..."
"wa'alaikumsalam yah... yah nanti kalau hasybi pulang ayah sama mama anter hasybi kembali kejerman ya" pinta hasybi pada ayahnya.
"iya sayang" araf mengangguk.
"terima kasih yah..." dengan wajah sumringah hasybi berterima kasih pada ayahnya.
Araf dan kedua anaknya menuju parkiran saat ada seseorang memanggil nama araf, "raf..." mereka menengok seorang polisi berseragam lengkap menghampiri mereka.
"frizz..." gumam araf.
Tanpa tedeng aling-aling frizz melayangkan tinju pada wajah araf membuat araf tersungkur. Habil dan hail seketika membela ayahnya. Namun didorong oleh frizz dengan sorot mata tajam frizz berteriak pada habil dan hail, "ini bukan utusan kalian!"
"jelas ini urusan kami, dia ayah kami. Anda berani berbuat kekerasan dikantor polisi jangan mentamg-mentang anda polisi terus bisa seenaknya. Saya akan laporkan anda ke propam!" habil balik membentak.
Namun frizz tak mengindahkan ancaman habil dia menarik kerah baju araf, "harusnya gue rebut nasya dari lo kalau gue tau lo cuma bisa bikin dia ga bahagia!" teriak frizz didepan wajah araf. Araf melepas cengkeraman frizz dikerah bajunya.
"siapa yang bilang nasya ga bahagia! hah! apa lo denger dari mulut nasya sendiri kalau dia ga bahagia!" araf tak kalah emosi menghadapi frizz.
"kali ini gue ga akan tinggal diam! gue akan rebut nasya dari ******** kaya lo!" mata frizz terlihat penuh amarah.
Habil dan hail hanya bisa diam dan saling tatap saat melihat kepergian polisi berperawakan tinggi dan besar itu. Araf memang tinggi tapi tak besar seperti frizz.
"yah... orang itu yang ayah dan mama maksud tadi?" tanya hail yang diangguki araf.