
Menjelang isya habil pulang kerumah dilihatnya sang ibu sedang duduk bersama ayahnya ditepi kolam renang. Ibunya nampak bahagia tertawa sambil melihat album foto. Habil mendekat pada mereka, "assalamu'alaikum"
"wa'alaikumsalam" jawab nasya dan araf bersamaan. Habil mencium ounggung tangan nasya dan araf bergantian kemudian ikut disisi kiri ibunya memeluk nasya.
"mama lagi apa sih?" tanya habil penasaran
"mama lagi liat album kalian waktu kecil. Nih lihat kalian bener-bener bikin mama gemes. Apalagi hail waktu bayi cengeng dan manja. Sering banget diusilin hasybi dan kamu" nasya menatap pada foto mereka ber-3 yang gembul dan lucu. Habil ikut tersenyum melihatnya.
"setiap kali kalian menangis bersamaan mama selalu bingung yang mana yang mau digendong terlebih dahulu. Pada akhirnya mama hanya memeluk kalian hahaha" tawa araf pecah.
"mama rindu saat-saat kalian masih butuh mama" lirih nasya.
Habil menatap pada ibunya kemudian bersandar dipundak nasya, "sampai sekarang kami juga butuh mama. Ga ada yang lebih kami butuhkan daripada kalian"
"sayang kamu inget ga ini? waktu pertama kali mereka lahir kedunia?" araf menunjuk foto triple h baru lahir.
flashback on
Annasya baru saja selesai dioperasi untuk mengeluarkan 3 bayi dalam perutnya. Nasya bahagia melihat 3 putranya lahir dengan selamat. Selepas araf mengadzankan mereka dikembalikan kedalam box bayi.
Araf mendekat pada nasya yang masih dibawah oengaruh bius lokal. Araf menciumi istrinya, "terima kasih sayang" nasya tersenyum bahagia sampai menitikkan airmatanya. Leni dan bayu pun terharu melihatnya. Apalagi mereka tau perjuangan nasya untuk mendapatkan bayi, selama hamil sampai melahirkan tidaklah mudah untuk nasya. Nasya sering merasa sesak nafas dan lupa hal-hal kecil.
"sayang selamat ya..." leni menciumi nasya seperti anaknya sendiri. Nasya menangis karena bahagia.
Keesokan harinya triple h dibawa keruangan nasya untuk disusui, beruntungnya untuk nasya airsusunya sangat deras hingga dia belum membutuhkan formula untuk ke-3 bayi mereka. Suster membantu nasya untuk menyusui putranya, dengan hati-hati nasya menyusui bayi mungil didepannya. Araf memperhatikan dengan seksama, "anak ayah haus ya..." araf melihat betapa kuat habil menyusu pada ibunya sesekali nasya mendesis.
"sakit sayang?" araf terlihat khawatir Nasya menggeleng dan tersenyum.
"ga seperti waktu pertama kali mas" jawab nasya.
Araf mencium kening istrinya, "masya Allah ya perjuangan seorang wanita mereka ga cuma hamil dan melahirkan setelah anak lahir pun perjuangan belum selesai. Terima kasih sayang" araf memeluk nasya dan mencium puncak kepala nasya.
"ihhh mas malu ah... ada suster tuh" wajah nasya merah menaham malu. Araf hanya nyengir kuda.
"gapapa bu udah biasa kok" jawab suster yang mengambil bayi hasybi untuk bergantian disusui setelah habil tertidur. Begitu terus sampai hail yang terakhir kali ini nasya merasa hail paling haus.
"sayang kamu pasti laper mau aku beliin sesuatu?" tanya araf setelah membantu nasya duduk bersandar pada kepala ranjang.
"iya mas aku lapar banget, tapi kalau kebanyakan makan nanti aku gendut mas"
"emang kenapa sih kalau gendut? yang penting kamu sama anak-anak sehat" jawab araf.
.
"lelaki manis kalau ngomong tapi nanti kalau istrinya udah mulai gendut dia cari yang kurus-kurus dan cantik" dengus nasya.
"ehhh kamu kok ngomongnya gitu sih? in shaa Allah aku akan selalu setia sama kamu. Udah ga usah drama ayo cepat bilang kamu mau makan apa? aku ga mau kamu lapar" ucap araf nasya melihat kearah suaminya.
"apa aja mas tapi pesen online aja aku ga mau kamu keluar cari makanan. Aku mau disini temenin aku" nasya menepuk tempat disisinya araf menuruti istrinya dia duduk disampjng nasya dan memeluk pundak istrinya.
"masih sakit?" araf mengelus perut nasya yang dijahit kemarin demi melahirkan anak-anak mereka. Nasya hanya mengangguk.
"alhamdulillah ya mas Allah langsung kasih kepercayaan kita sampai 3 baby sekaligus" ucap nasya dipelukan araf.
"perjuangan 6 tahun untuk dapat anak ga sia-sia kan"
"hmmm..." araf mengetik ponselnya untuk memesan makanan.
"kalau caesar kan nunggu 4 tahun baru boleh hamil lagi ya setelah anak-anak umur 4 tahun program lagi ya mas" nasya mendapat lirikan tajam dari suaminya. Seperti tak punya dosa nasya hanya tersenyum menunjukkan barisan giginya yang rapi.
Araf menghadap nasya, "jahitan belum kering aku yang ga ngelahirin aja ngerasa ngeri kok bisa-bisanya kamu berpikir untuk punya anak lagi sih?"
Nasya tertunduk mendengar ucapan araf, jika araf sudah seperti itu nasya tak berani menatap wajah araf. Karena dia tau araf sedang marah.
"aku ga mau kamu kesakitan lagi sayang, aku patah hati, hati aku sakit banget ngeliat kamu kesakitan begitu. Apalagi kamu ga mengerang atau teriak. Kamu juga ga mau pukul atau gigit aku saat kesakitan seperti wanita lain itu bikin aku tambah sakit kamu menahannya sendiri. kamu cuma menangis nahan semua rasa sakit" araf memeluk nasya erat. Entah sudah berapa bulir airmata araf keluarkan saat nasya melahirkan putra mereka.
"maaf mas" ucap nasya pelan. Araf mencium kepala nasya dengan dalam.
flashback off
"pasti ga mudah ya ma untuk melahirkan kami, terima kasih ma" ucap habil tulus.
"kalian sumber kebahagiaan kami, sesulit apapun mama akan melakukannya" nasya menatap lembut pada putranya.
"alhamdulillah ya sayang anak-anak jadi anak soleh. Terima kasih udah didik mereka jadi anak baik"
Saat sedang asyik berkumpul ponsel nasya berbunyi ternyata dari hasybi anak mereka yang kini berada dijerman
"assalamu'alaikum sayang" nasya terlihat sumringah mendapat telepon dari anaknya yang kini sedang menuntut ilmu.
"wa'alaikumdalam mama... ada ayah sama abang juga" ucap hasybi diseberang sana. Terlihat hasybi sedang memakan sandwich dan sekotak susu.
"kamu baru makan siang bi?" tanya nasya khawatir.
"iya ma hari pertama masuk kuliah ma jadi banyak yang harus hasybi lakuin" jawab hasybi.
"jangan sering-sering makan sandwich minta bibi masak dan bawakan bekal untuk kamu" lagi-lagi nasya berucap dengan nada khawatir.
"iya" hasybi menjawab singkat.
"mama sama ayah kapan berkunjung?" tanya hasybi sambil menggigit sandwich
"lu udah kangen ya...." ledek habil sambil memeluk dan mencium ibunya.
"ishhh" desis hasybi tak suka.
"bulan depan in shaa Allah mama sama ayah kesana" ucap araf
"beneran yah?" terlihat dimata hasybi dia sangat senang walaupun dia tak bicara tapi terlihat dari binar matanya. Araf mengangguk mengiyakan.
"doakan aja kami sehat selalu sayang jadi bisa kesana"
"amin..."
"ya udah ma aku tutup dulu ya masih ada yang harus hasybi kerjakan assalamu'alaikum"
"wa'alaikumsalam"