Triple Story

Triple Story
bab 51



Keesokan harinya annasya dibebaskan bersyarat oleh pihak kepolisian. Nasya berpamitan dengan penghuni sel yang selama beberapa hari telah menemaninya. Dia juga berpamitan pada polwan yang memperlakukan nasya dengan sangat baik. Saat nasya hendak keluar dari kantor polisi frizz datang menghampirinya.


"sya..." nasya, araf dan habil menengok pada frizz.


"ya..." nasya menundukkan pandangan tak mau melihat yang bukan muhrim.


"bisa kita bicara"


"silahkan"


"berdua"


"maaf kita bukan muhrim haram hukumnya berduaan. Disini ada suami dan anak saya sebagai mahrom saya silahkan bicara" nasya masih tertunduk saat bicara pada frizz.


"apa kita ada kesempatan ketemu lagi?" frizz menghela nafas sesaat sebelum bertanya.


Araf berdecak kesal, sedang habil ingin tersenyum melihat kesalnya sang ayah. Nasya dengn tegas menggelengkan kepalanya, "untuk apa? kalau ga ada yang penting? Pun kalau ada yang penting saya masih harus mendengar persetujuan suami saya" dengan lembut nasya menekankan berulang kali kata suami disetiap kalimatnya agar frizz sadar dia bukanlah wanita single yang pantas dikejar.


"apa aku ga ada kesempatan sedikit pun?" friz menatap nasya yang masih tertunduk.


"saya permisi assalamu'alaikum" nasya menggandeng araf meninggalkan frizz yang terdiam mematung melihat kepergian nasya beserta suami dan anaknya.


"kenapa bukan aku yang ketemu sama kamu sya? kenapa harus dia" gumam frizz.


"ma..." habil memanggil ibunya yang kini duduk disampingnya sedang ayahnya duduk samping supir.


"ya..."


"erika udah masuk penjara"


"owh... kenapa?" nasya seperti tak tertarik dia memandang keluar jendela


"kasus manipulasi data, korupsi, provokasi dan..."


"kok banyak banget" nasya menoleh pada habil.


"karena memang itu semua dia lakukan beserta komplotannya" jelas habil.


"kamu tau semua itu mas?" nasya bertanya menyelidik


Araf menggeleng saja tak menjawab, "biasanya kamu selalu lindungi erika" cetus nasya


"jangan mulai..." araf menghela nafas sambil merapikan duduknya enggan berdebat dengan nasya.


"ma..." panggil habil


"hmmm"


"waktu dipenjara mama sering sakit kepala?" tanya habil yang khawatir.


"dia bahkan sering lupa dimana selnya setelah olahraga pagi" araf bicara tanpa ditanya.


"ayah tau darimana?"


"kamu pikir ayah hanya diam aja melihat ibumu masuk penjara? ayah akan lakuin apa aja agar ibumu ga kesulitan disana" dengan tegas araf menjawab.


"oh ya? apalagi yang kamu tau?" pancing nasya


"mulai sekarang kemana pun kamu pergi, aku udah siapkan bodyguard untuk kamu" ucap araf. Tapi nasya tak memjawab. Dia enggan pula menjawabnya.


"kenapa ga jwab?" tanya araf


"jawab apa? kamu mau dengar terima kasih mas? hah! justru bodyguard itulah yang akan lapor ke kamu apa aja dan kemana aja aku pergi. supaya kamu lebih leluasa untuk pelukan dengan bangak perempuan diluar sana" dari suaranya nasya terdengar emosi. Habil mencoba menenangkan ibunya"


"ma... udah ah malu sama pak agus kalau berantem dimobil" habil menengahi.


***


Annasya lekas naik kekamarnya setelah sampai dirumah. Dia tak lagi mempedulikan araf, bahkan menoleh pun tidak. Sesampainya dikamar nasya lekas kekamar mandi. Dia membersihkan diri didalam bath thub berisi air hangat dan aroma therapi. Nasya memejamkan matanya sebentar dan merilexkan pikirannya sebentar, "kegilaan apa yang udah aku lakukan kenapa aku jadi seperti ini..." gumam nasya dan dia meneteskan airmatanya.


Sudah hampir 1 jam nasya mengurung diri didalam kamar mandi membuat araf khawatir jika saja nasya tak mengunci pintu kamar mandi dia sudah membukanya dan memastikan keadaan nasya.


tok... tok... tok....


"sya... kamu baik-baik aja didalam? buka pintunya" teriak araf dari luar. Nasya membuka matanya melihat ke arah pintu dia bangkit membilas dirinya dan memakai piyama mandi. Dia membuka pintu kamar mandi saat itu dia melihat araf berdiri didepannya. Nasya tak memghiraukan dia berlalu dan mengambik telepon diatas nakas. Menelepon dapur untuk membawakannya teh jahe.


"sya... kamu masih marah?" araf duduk disebelah nasya dibalkon kamarnya. Nasya menoleh pada araf memperhatikannya sebentar dan menatap lagi kedepan.


Saat seseorang mengetuk pintu memberikan pesanan nasya, araf bangkit dan membawakannya untuk nasya.


"mas..." akhirnya suara nasya keluar dari bibir mungilnya


"hmmm" araf menuangkan teh jahe kedalam cangkirnya


"maafkan aku" seketika araf menghentikan dirinya menuang teh meletakkan teko teh itu diatas tempatnya semula.


"Hufff..." araf menghela nafas, "harusnya aku yang minta maaf. Aku..."


"aku mau kita pisah" potong nasya seketika araf shock bukan main. Dia menoleh pada nasya tak percaya dengan ucapan yang baru saja keluar dari mulutnya.


"kamu jangan becanda sya..." suara araf parau


"aku ga becanda, anak-anak udah besar terserah mereka mau ikut siapa. Dan kamu bisa cari istri lagi yang lebih sehat dan lebih baik dari aku" nasya menatap kosong didepannya. Apa benar ini yang diinginkannya? tapi dia harus bagaimana lagi? Dia hanya tak mau membuat araf dan anak-anaknya repot karena dirinya jika alzheimer ini semakin parah nantinya. Selagi dia masih ingat dengan araf dan anak-anaknya dia memilih untuk menyingkir dari mereka semua. Dia tau tak lama lagi semua memori indah tentang keluarganya akan segera hilang.


Perlahan tapi pasti nasya akan kehilangan ingatannya dan menjadi orang yang benar-benar lupa segalanya. Bahkan mungkin yang terparah dia tak bisa melakukan apapun sendiri.


"aku ga mau!" tegas araf


"kenapa?" nasya menoleh pada araf


"untuk apa? kita udah tua anak-anak udah besar. Sebentar lagi aku pensiun dan habil yang akan mengurus perusahaan. Kita akan melewati masa tua bersama"


"cih..." nasya berdecih, "entahlah mas rasanya ga seperti dulu lagi"


Araf berdiri menghampiri nasya, "aku mohon jangan hukum aku seperti ini. Aku sayang sama kamu"


"kamu pasti tau saat aku dikantor polisi ada orang yang 24 jam menjaga aku, terus menerus mengikuti aku agar aku ga tersesat atau kebingungan. Pasti kamu yang membayar dia kan? kamu tau aku Alzheimer kan? kenapa? kenapa kamu ga mau lepasin aku?! kamu mau aku jadi beban kamu terus hah!" dengan kesalnya nasya berucal sambil berurai airmata.


"kamu tau?" araf memandang nasya yang sudah mengetahui perihal sakitnya.


"kamu lupa? aku pun seorang dokter" Araf memeluk nasya erat, "lepasin mas!"


"ga akan pernah sampai maut memisahkan aku ga akan pernah lepasin kamu" Nasya menangis dipelukan araf terisak, "ssttt jangan nangis aku ga mau kamu sedih. Maafin aku... maafin aku" araf pun menangis memeluk nasya.