
Araf duduk disisi ranjang nasya yang baru saja selesai dioperasi. Araf merasa sangat terpukul melihat keadaan nasya. Dia merutuki kebodohannya yang membuat nasya menjadi seperti ini. Menjelang tengah malam hail datang. Dia menyapa orang-orang yang menunggu ibunya. Hail memeluk habil yang tengah menyandarkan kepalanya ditembok rumah sakit. Terlihat gurat penyesalan diwajahnya.
"bang..." sapa hail, membuat habil terkejut mendapat tepukan dipunggungnya.
"mama udah selesai dioperasi, kita ga jadi punya adik il" habil tersenyum kecut. Hail memeluk habil dia sendiri pun menangis melihat habil yang kacau seperti ini.
"gue gagal menjaga mama dengan baik" tangis habil pecah begitu pun hail. Terserah pada mereka yang lalu lalang melihat hail dan habil menangis bersama.
"udah takdir bang, kita harus sabar dan kuat bang biar mama ga sedih" entah benar atau tidak yang diucap hail karena dia sendiri bingung mau bicara apa.
Araf keluar dari ruangan, berganti hail masuk kedalam. Araf duduk sendiri habil yang melihat pun tak ada niat mendekat. Habil acuh saja karena dia sendiri masih sakit hati dengan keadaan ibunya.
Hana melihat kedua anaknya tertidur dibangku panjang, "mas... kita pulang yuk kasian anak-anak besok harus sekolah" ucap hana yang diiyakan oleh suaminya. Leni dan bayu menolak untuk pulang. Setelah berpamitan mereka pun pulang.
Zaki melihat pada istrinya yang tak menangis melihat keadaan nasya, "hana... sekarang kamu udah jadi lebih kuat tak menangis saat..." belum selesai zaki bicara hana terisak menangis kencang membuat anak-anaknya dibangku tengah terbangun.
"ma..." alana memeluk mamanya dari belakang. Ivan pun demikian.
"kenapa adik kamu ga bisa belajar dari kesalahannya dulu mas, kenapa harus diulangi hiks..." dengan terbata hana menangis sejadinya. Zaki menepikan mobilnya dia ikut memeluk hana bersama anak-anaknya.
_
Hail mendekat pada abangnya yang masih anteng duduk dilantai sambil memutar tasbihnya sambil mulutnya berdzikir dan mata tertutup.
Hail menepuk pundak habil pelan, "bang kita tahajud yuk"
Habil membuka matanya mengucek sebentar kemudian bangkit mwngikuti hail. Leni, bayu dan araf telah tertidur dibangku panjang ruang tunggu.
Setelah selesai dengan shalat malamnya habil dan hail hendak kembali ke igd namun hail seperti melihat sosok hilman.
"bang sebentr gue kesana dulu"
"mau ngapain?" tanya habil penasaran
"kayanya gue tadi liat pak hilman, ngapain ya dia disini malam-malam begini?" hail mempercepat langkahnya agar tak kehilangan jejak. Habil pun mengikuti tanpa banyak bicara.
Sesampainya diruang vip hilman masuk hail melihat pintu itu saat dia hendak masuk lengannya ditahan oleh habil, "ketuk dulu ucapin salam il ga sopan kalau main nyelonong masuk"
"iya bang"
tok.... tok.... tok....
"den hail, den habil" hilman terkejut melihat habil dan hail didepan pintu ruang rawat inap.
"siapa yang sakit pak?" tanya hail penasaran dia pun melongo melihat kedalam. Belum sempat hilman menjawab dia melihat wajah pucat inara tergeletak dengan selang oksigen dan infus.
"bu inara..." hail pun masuk tanpa permisi menabrak hilman. Saat mendekat betapa terkejutnya hail dan habil memdapati inara lenuh luka lebam disekujur tubuhnya dan wajah pun banyak luka sobek dan luka lebam.
"ya Allah pak hilman kenapa bu inara sampai begini?" habil bertanya tanpa menoleh pada hilman.
"il... tenang il lebih baik kita bicara diluar jangan disini nanti bu inara terganggu" ujar habil yang langsung menarik adiknya keluar ruangan.
Hilman menutup pintu kamar dengan hati-hati, hail melihat tajam pada hilman meminta penjelasan. Hilman menghela nafas, "inara diperkosa oleh herman dan teman-temannya secara brutal digudang sekolah" ucap hilman sambil menangis terisak.
Habil dan hail terkejut bukan main, "gue serahin inara ke lo untuk dijaga! Gue sengaja ga kejar bu inara karena gue tau dia suka sama lo! tapi apa yang lo lakuin hah! apa!" bentak hail membua heboh rumah sakit.
Habil mencoba menenangkan adiknya, "tenang il... tenang... ini rumah sakit ga pantes lu teriak-teriak begitu!" Hilman hanya menunduk menangis tanpa niat membantah ucapan hail.
"bapak udah laporkan kejadian ini kekantor polisi?" habil mencoba bersikap tenang. Hilman mengangguk mengiyakan, "besok mereka mulai penyelidikan" ucap hilman.
"serahkan semuanya sama kami" ucap habil
Hail menangis terisak dia yang awalnya berdiri jadi melorot turun duduk dilantai, "bang... kenapa disaat mama kena musibah, orang yang gue cinta juga kena musibah? ya Allah bang" hail menutup mukanya dengan kedua telapak tangannya mengusap kasar, "hahh...." hail memukul tembok.
Habil memeluk adiknya erat dia tau untuk saat ini bukan kata mutiara apalgi kata bijak yang hail perlukan. Tapi pelukan hangat agar hail tak merasa sendiri. Habil menepuk-nepuk punggung hail. Dibalas dengan pelukan erat hail.
"ngomong-ngomong kenapa kalian bisa ada disini dini hari begini?" tanya hilman dengan suara yang masih parau.
"mama masuk rumah sakit pak" jawab habil menoleh sebentar pada hilman.
"ibu sakit apa den?" tanya hilman yang terkejut mendengar ucapan habil.
"mama tertabrak motor pak"
"ya Allah" hilman beranjak dari duduknya, "kalian bisa tolong saya jaga inara?" tanya hilman yang diangguki habil.
"terima kasih saya keruangan bu nasya dulu"
Habil tak menjawab dia hanya mengangguk sambil memeluk adiknya.
"bang hiks... hiks..."
"sssttt udah, udah ayok berdiri kira masuk lagi kedalem" ajak habil yang diikuti adiknya.
Habil meraih ponselnya menelepon sesorang, "halo pak lukman"
"....."
"iya ini habil, saya mau tanya apa kantor polisi anda menangkap tersangka pemerkosaan atas nama herman dan 2 orang temannya?"
"...."
"bagus, rawat mereka dengan baik buat mereka mendekam disana selamanya" perintah habil pada orang diseberang sana. Hail menoleh pada habil yang sudah duduk disisi ranjang inara. Habil menepuk punggung hail, "tenang ya sekarang mereka ga akan bisa lolos dari penjara. Aku akan jamin mereka akan betah berada dipenjara" ucap habil pelan hampir berbisik.
"terima kasih bang" ucap hail yang diangguki habil.
Keesokan harinya banyak wartawan menyerbu yayasan abinaya school atas kejadian pemerkosaan beserta tindak kekerasan yang dilakukan guru mereka terhadap teman seprofesi. Zaki bukan main sibuk hari itu menghadapi kerumunan wartawan dan berkumpulnya para eksekutif diruang rapat meminta penjelasan pada kepala sekolah dan ketua yayasan yang tak lain adalah leni ibunda zaki. Saham abinaya corp pun tak sampai sehari sempat turun akibat kejadian tersebut membuat zaki dan bayu menjadi sangat sibuk.