Triple Story

Triple Story
bab 79



Kedatangan hasybi dirumah araf benar2 memberikan perubahan yang signifikan. Annasya memang masih membutuhkan bantuan orang untuk aktifitas sehari2nya. Hasybi sering melatih nasya untuk bermain games teka-teki silang atau hanya sekedar bermain games ringan yang melatih otak. Dengan kesabaran dan bimbingan hasybi perlahan nasya menjadi lebih baik. Setiap pagi dan sore hasybi membawa nasya berjalan-jalan. Seperti sore ini saat hasybi menyelesaikan tugasnya diklinik dengan cepat dia dan perawat membawa nasya berjalan disekitar komplek perumahannya sambil melihat luasnya danau.


Nasya terlihat tersenyum senang, hasybi tak melepaskan genggaman tangannya dari nasya. Setelah berjalan cukup jauh hasybi meminta ibunya duduk dikursi roda yang dibawa perawat agar ibunya tak terlalu kelelahan. Dia membantu memberi minum pada ibunya perlahan.


"mama seneng?" tanya hasybi sambil mengelap mulut ibunya dengan tissue.


Nasya menganggukkan kepalanya, "makasih ya"


Hasybi menggenggam tangan nasya menciumi dengan lembut, "ma sebentar lagi hasybi akan menikah mama sehat terus ya supaya bisa memyaksikan aku nikah" Nasya mengangguk kemudian membelai wajah putranya, "semoga Allah kasih kebahagiaan untuk kamu menjadi keluarga sakinah, mawaddah, warrahmah till jannah"


"amin ya rabb" jawab hasybi


Hasybi mendorong kursi roda ibunya dan segera pulang kerumahnya. Agar ibunya segera sarapan dan minum obat. Pekerjaan araf menjaga nasya menjadi lebih ringan karena hasybi menjaga nasya lebih baik dan mempraktekan ilmunya sebagai dokter syaraf.


"assalamu'alaikum" habil dan nasya memberi salam pada penghuni rumah.


"wa'alaikumsalam terdengar sahutan dari habil dan araf yang sedang duduk diruang tengah. Araf segera mengambil alih nasya membawanya kekamar untuk dibersihkan yang nantinya dilanjutkan sarapan dan minum obat.


"gimana sayang kamu seneng diajak jalan2?" tanya araf pada istrinya yang diangguki nasya, "nanti sore kita jalan2 lagi ya kalau cuaca cerah"


"iya mas" jawab nasya singkat.


Habil mendekati orangtuanya untuk pamit berangkat bekerja. Setelah habil menyalami nasya dan araf dia beranjak dari sana ke arah depan rumahnya karena mobil dan supir sudah menunggu.


"bang..." hasybi mengejar habil yang sudah dibukakan pintu mobil oleh supir pribadi habil.


"ya" habil berbalik


"bisa luangin waktu untuk aku ga? ada yang mau aku omongin" pinta hasybi.


Habil melihat sekilas pada jam tangan rollex ditangannya dia mengangguk. Hasybi menarik habil ke bangku diteras rumahnya.


"bang maafin gue ya udah ngelangkahin lu untuk nikah lebih dulu" tanpa basa basi setelah mereka duduk hasybi langsung ke pokok masalahnya.


"loh ga masalah namanya juga jodoh lu udah dateng duluan" ucap habil yang masih santai


"bang... tapi..."


"gapapa santai aja bi.. i'm ok" habil menggenggam tangan hasybi mencoba menenangkan adiknya.


"bang 1 lagi"


"apa?"


"setelah menikah boleh ga untuk sementara gue sama joana tinggal dipaviliun belakang klinik yang kosong? Karena kan lu tau sendiri untuk beli rumah sekitar sinj gue belum sanggup. Dengan joana minta nikah ijab kabul aja tanpa resepsi aja gue udah bersyukur bang. Niatnya sih gue sama joana mau nabung untuk beli rumah disekitar sini aja supaya masih bisa kontrol kesehatan mama setiap hari" hasybi terbuka dengan pemikirannya. Habil merasa senang melihat adiknya.


Sebenarnya hasybi sanggup saja beli rumah tapi bukan dikomolek perumahan yng ditinggali nasya yang harganya bisa mencapai puluhan milyar. Tapi jika hasybi membeli rumah yang jauh dari rumahnya dia takut tak bisa mengintrol kesehatan ibunya.


Habil menepuk pundak adiknya, "jangan terlalu berpikir soal tempat tinggal, berdoa aja ya untuk pernikahan kamu supaya Allah kasih kelancaran. Kalau lu mau resepsi mewah dihotel kita bisa pakai hotel yang dikelola oleh perusahaan abinaya corp. Itu juga kan perusahaan kakek kita akan dapat budget khusus"


Habil bangkit dari duduknya menepuk pundak adiknya, "kamu udah banyak berubah, lebih dewasa dan ga kritis lagi. Semoga kamu bisa menjadi imam yang baik untuk joana dan keluargamu menjadi keluarga sakinah, mawaddah, warrahmah berjodoh sampai syurga"


"amin Allahuma amin"


"ya udah gue berangkat dulu ya. Jangan terlalu banyak berpikir jaga kesehatan" hasybi menganggukkan kepalanya.


***


Habil sampai diruangannya, jimmy dan helen membacakan jadwal hari ini. Hail tidak bisa membantu habil bekerja beberapa hari ini. Dia izin pada habil untuk istirahat beberapa hari untuk membuat aplikasi. Habil yang tak curiga apapun pada adiknya mengiyakan saja.


"tuan pagi ini meeting dibuka dengan seorang perwakilan dari kedutaan italia. Kemudian dilanjut oleh perusahaan yang bernama Aderes company"


"tunggu" helena segera diam saat habil bilang tunggu, "aderes company? saya minta profil lengkap tentang perusahaan itu. Sepertinya saya tau perusahaan itu"


"perusahaan ini bergerak dibidang exim produk dari italia dan eropa. jaringan mereka sangat luas di eropa dan sebagian asia. Dulu saat tuan daffa dan tuan araf mencoba beekrjasama dengan perusahaan ini berulang kali gagal. Dan entah kenapa perusahaan ini ditahun ini mengajukan diri untuk bekerjasama dengan perusahaan kita" jelas jimmy.


"cari tau motif mereka sebelum rapat dengan mereka dimulai. Saya ga mau ceroboh menerima begitu saja perusahaan yang berulang kali menolak bekerjasama tiba2 minta bekerjasama" perintah habil tegas.


"baik tuan" jimmy segera beranjak dari sana


"helena siapkan materi rapat dengan kedutaan italia segera panggil direktur perencanaan keruangan saya" dengan tegas habil berkata tanpa melihat ke arah helena.


"Tapi tuan direktur perencanaan pak adi sedang cuti karena istrinya melahirkan" jawab helena


"sejak kapan?"


"sejak 2 hari yang lalu saat anda tidak masuk kerja tuan"


"panggil wakilnya"


"baik tuan" helena segera beranjak dari sana.


Helena langsung bernafas lega dia kembali keduduknya, teman2 helena yang melihat helena begitu tegang pun bertanya, "kenapa na?"


"gapapa"


"pak habil emang ganteng sih masih muda lagi dibawah kita umurnya. Tapi dia bener2 tegas bikin gue merinding kalau dia dah ngomong. Beda banget sama pak hail yang asyik juga santai" ucap teman sekretaris helena


"husss jangan ngomong sembarangan!" ucap helena


"i... iya maaf"


"kamu telepon bagian perencanaan suruh wakilnya segera keruangan pak habil. Aku harus siapin materi untuk meeting"


"iya..." teman helena menuruti permintaan helena.


Setelah asisten dan sekretarisnya keluar habil mengusap wajahnya kasar. Sesaat dia terpejam dan memikirkan apa yang harus dilakukannya karena rilley tak juga mau enyah dari pikirannya.