
Setelah mendapat sesi siraman rohani dari Lia. Lana cukup lama merenung. Di usianya yang hampir 24 tahun dan akan menjadi seorang ibu dalam hitungan bulan. Dia benar-benar merasa harus instrospeksi diri.
Dua kali sang suami dijebak orang dengan modus yang sama. Membuatnya sadar. Banyak wanita di luar sana. Bukan hanya pelakor. Yang menginginkan suaminya.
Meski Vi selalu saja bisa membuktikan kalau dirinya tidak bersalah. Tapi tidak mungkin terjadi jika hal itu akan terjadi lagi. Kembali ucapan Lia terngiang di kepalanya.
"Secinta-cintanya suamimu pada kamu. Jika kamu terus saja bersikap seperti ini. Lama-lama dia akan meledak juga. Jengah menghadapimu. Entah itu 10 atau 20 tahun lagi. Itu seperti bom waktu yang setiap saat bisa saja meledak. Berubahlah sedikit demi sedikit. Itu akan lebih baik pada rumah tangga kalian"
Sungguh Lana tidak ingin rumah tangganya berakhir. Kecuali maut yang mengakhiri kebersamaan mereka. Karena itulah dia bertekad untuk berubah.
Dua hari sejak kedatangan Arya dan Lia. Lana di bolehkan pulang. Dengan Marina yang meminta Vi untuk memantau Lana soal vitaminnya.
"Kamu beruntung jika bulan depan kontrol. Bukan aku yang akan memerikasmu" ucap Marina sebelum keduanya pulang.
"Kenapa?" tanya Vi.
"Aku mau persiapan my baby girl" jawab Marina sumringah. Sambil mengusap perutnya.
"Sudah waktunya kah?" tanya Vi.
"Tinggal tunggu waktunya saja" jawab Marina.
"Well semoga semua lancar. Meet you soon baby" ucap Lana mengusap perut Marina.
"Ahhh dia merespon" ucap Lana lagi merasakan tendangan di tangannya.
"Kenalan sama Tante sama Boy ya girl" jawab Marina.
"Semoga saja anaknya Arch nggak tomboy kayak mamanya" doa Lana ketika mobil mereka sudah mulai mengaspal di jalan raya.
Vi sejak tadi hanya diam saja. Membuat Lana heran.
"Kamu kenapa, honey?" tanya Lana.
"Entahlah By, perutku tidak enak" jawab Vi pada akhirnya.
"Kenapa tidak bilang? Kan tadi bisa diperiksa dulu. Nggak keburu pulang. Sakit atau gimana?" tanya Lana khawatir.
"Rasanya enek mau muntah gitu" keluh Vi. Untungnya Vi bisa bertahan sampai ke rumah. Dimana Tania dan Jayden sudah menunggu di sana.
Vi langsung menghambur masuk mencari wastafel. Memuntahkan isi perutnya.
"Itu Vi kenapa?" tanya Tania.
"Masuk angin kali, Ma" jawab Lana.
Lain Lana lain Jayden. Pria itu malah tersenyum melihat kelakuan Vi.
"Bi Ijah buatkan air jahe buat Vi ya bik. Tolong" ucap Lana sambil berjalan ke wastafel dapur.
Memijat pelan tengkuk sang suami.
"Sudah baikan?" tanya Lana ketika Vi selesai mencuci wajahnya dan berkumur. Pelan pria itu menganΔ£guk. Lantas mendudukkan dirinya di kursi meja makan.
"Enak?" ledek Jayden.
"Iisshh Papa. Ya nggaklah" jawab Vi ketus. Dua orang ini tetap tidak berubah suka meledek satu sama lain.
"Mau taruhan sama Papa. Si boy mau balas dendam ama elu" ucap Jayden sambil tersenyum.
"Maksud Mas dia..." tanya Tania.
"Kehamilan simpatik. Lana yang hamil Vi yang ngidam" jawab Jayden.
"Alamak...ampun boy, Papa minta maaf. Nggak lagi-lagi deh bikin Mama kesal. Ya ya boy...boy....please" rengek Vi sambil menyentuh perut Lana yang masih tidak paham apa itu kehamilan simpatik.
Detik berikutnya, Vi sudah kembali berlari ke wastafel. Muntah lagi.
"Apa kubilang?" ucap Jayden tengil.
"Mas ini nggak kasihan apa sama Vi?" tegur Tania.
"Kalau kehamilan simpatik masa iya datangnya baru sekarang. Kan Lana sudah masuk trimester kedua seharusnya morning sick-nya sudah mulai hilang" heran Tania.
Jayden hanya mengedikkan bahunya
Pada akhirnya setelah berkonsultasi dengan Marina. Disimpulkan kalau Vi memang mengalami kehamilan simpatik. Habis tenaga Vi selama dua bulan ini. Tiap muntah dia selalu merasa lemas. Enggan makan. Takut muntah.
Lana jelas begitu khawatir dengan keadaan sang suami. Tidak menyangka jika kekesalan yang sempat menderanya. Direspon langsung oleh sang putra.
Hingga masuk bulan keenam, Vi mulai bisa bernafas lega. Muntahnya sudah jauh berkurang. Setelah kejadian itu Vi jadi tahu betapa susahnya wanita yang sedang hamil. Membuat Vi berjanji untuk tidak akan menyakiti Lana atau membuat kesal wanita itu.
Setelah semua itu, kehamilan Lana berjalan normal. Tidak lagi merepotkan sang Papa maupun dirinya. Dan benar, dari hasil USG di bulan ke tujuh. Diketahui kalau sebutan Boy adalah benar.
"Apa aku bilang?" ucap Lana sombong. Menatap foto USG anak pertama mereka, yang berjenis kelamin laki-laki. Mereka sedang rebahan di ranjang mereka. Tidur dengan menggunakan dada Vi sebagai bantal. Perut Lana yang semakin besar membuatnya harus tidur dengan posisi kepala lebih tinggi.
"Iya-iya kamu benar By" jawab Vi sambil mencium puncak kepala sang istri.
Lana tersenyum mendengar ucapan sang suami.
"Sudah menghubungi Papa dan Mama" tanya Lana.
"Sudah...akhir bulan ini mereka pulang" jawab Vi. Hubungan mereka dan kedua orang tua Vi benar-benar membaik. Mereka sering terhubung dengan panggilan video call. Saling memberi kabar. Juga menanyakan keadaan si Boy.
"Baik-baik disana ya Boy. Kita berjumpa sebentar lagi" ucap Vi mengusap lembut perut Lana.
"Alah orang dia tiap malam juga nengokin" cebik Lana.
"Kan ikut saran dokter Maya" cengir Vi.
"Modus" jawab Lana.
Detik berikutnya pria itu sudah mencium bibir sang istri yang semakin seksi dimata Vi saat tengah hamil. Dan Lana langsung menyambutnya. Hingga sesi panas itu kembali berulang. Yang terjadi hampir tiap malam.
***
Vi berlari masuk ke ruang IGD. Setelah mendapat telepon dari Marina. Kalau Lana mengalami kontraksi. Saat mereka sedang makan siang sambil me time. Bersama Kanaya. Keduanya langsung membawa Lana ke rumah sakit. Menitipkan putra dan putri masing-masing kepada baby sitter.
"Bagaimana?" tanya Vi.
"Masuklah tadi sudah masuk bukaan tujuh. Hebat sekali kamu buat jalannya" seloroh Marina yang memang terkenal kalau ngomong ceplas ceplos tanpa filter.
"Aku masuk. Nanti papa dan mamaku datang tolong diurus" pamit Vi. Kanaya dan Marina mengangguk.
"Selamat berjuang Pak" oceh Kanaya. Bersamaan dengan pintu ruang bersalin yang tertutup.
Tak berapa lama Tania, Jayden, Vera juga Bryan datang. Disusul Young Jae. Yang menjadi supir keluarga mereka.
"Bagaimana?" tanya Jayden dan Bryan bersamaan.
Kekompakan bekas musuh di masa lalu itu. Membuat semua orang tersenyum.
"Jangan khawatir Om semua. Bukaan delapan mungkin sekarang. Bentar lagi juga lahir jagoannya mereka. Lagipula Lana full power kok. Habis makan dua porsi nasi Padang" canda Marina.
"Vi sudah masuk?" tanya Tania.
"Sudahlah. Orang kita disuruh pulang sendiri. Untung ketemu anak lanangmu itu yang lagi patah hati ditinggal pacarnya" jawab Bryan. Menunjuk Young Jae yang memang terlihat menekuk mukanya.
Caca, pacar Young Jae memutuskan untuk melanjutkan studynya di negeri Paman Sam untuk mengejar cita-citanya menjadi spesialis jantung. Keputusan Caca membuat Young Jae patah hati sepatah-patahnya. Baru kali ini hati Young Jae benar-benar hancur karena seorang perempuan.
"Biarin aja. Nanti dia juga cepat dapat ganti" seloroh Jayden.
"Idiihh Papa mah tidak tahu perasaan Young Jae. Sakit Pa, sakit Pa" rengek Young Jae sok dramatis.
"Sakitan mana sama kakakmu didalam yang lagi berjuang melahirkan keponakanmu" skak mat Tania.
"Ya jangan disamain dong. Kak Lana, si Boy lahir sakitnya hilang. La aku?"
"Tahu dari mana. Habis lahir sakitnya ilang" tanya Vera.
"Itu mbak Kanaya sama mbak Marina pas aku nengokin mereka. Mereka sudah bisa ketawa sambil nggendong Rafi sama Vivi"
Semua orang terdiam. Yang dikatakan Young Jae memang benar.
"Benar kan omongan Young Jae" tebak pria tampan itu. Pria itu mendengus kesal.
Jayden baru akan menjawab. Ketika terdengar suara tangisan dari dalam sana. Suara tangisan itu membuat semua orang saling tersenyum. Lantas saling memeluk. Merasa yakin jika itu adalah suara cucu mereka yang sudah mereka tunggu selama ini.
Tak berapa lama. Vi keluar dari ruang bersalin. Senyum tak lekang dari wajah tampannya yang berantakan. Namun bahagia jelas terlihat di wajahnya.
"Sudah lahir my baby boy" teriak Vi.
Mendengar kalimat itu semua orang langsung tersenyum. Bahkan Tania dan Vera langsung berpelukan sambil menangis. Para pria langsung memeluk putra mereka.
***
Seminggu kemudian suasana di Green Hill begitu meriah. Semua orang berkumpul di rumah itu, untuk menyambut baby boy Lana dan Vi. Semua begitu meriah dan semarak. Hingga mobil milik Vi masuk ke halaman ruamah mewah itu.
"Welcome home boy" sebuah suara kompak menyambut kedatangan Lana yang menggendong bayinya.
Senyum Lana dan Vi tidak pernah lekang dari wajahnya. Kebahagiaan mereka seolah menebus air mata yang sempat melanda rumah tangga mereka beberapa waktu lalu.
Hampir semua berebut ingin menggendong putra Lana. Namun pada akhirnya bayi mungil itu berakhir di gendongan sang Paman. Young Jae. Entah kenapa, sejak bayi itu lahir. Young Jae jadi salah satu orang yang betah diikuti oleh bayi mungil itu. Semua orang membiarkan saja. Sebab ketika putra Lana berada dalam gendongan Young Jae. Pria itu bisa tersenyum. Seolah lupa pada patah hatinya.
"Baguslah dia ngurusin ponakannya. Daripada dia sibuk mikirin Caca" ucap Jayden yang diaminin oleh semua orang.
"Sudah memberi nama si boy" tanya Vera, sang Mama Vi.
"Sudahlah" jawab Vi.
"Siapa?" tanya semua orang.
"Masak kita manggil dia boy terus" seloroh Riko, yang tengah menggendong Rafi sang putra.
"Panggil dia Lendra. Syailendra Yue Aditama" jawab Vi sambil tersenyum
END
Salam kenal dari baby L, jangan ditanya ada sekuel atau tidak. Belum kepikiran π€π€π€
Baby L,
Salam sayang juga dari Lana dan Vi,
All kredit Instagram @ chessman.smilling_fiys
Terima kasih sudah dukung karya author ini. Sudah kasih komen juga. Pokoknya terima kasih...πππ
Sampai ketemu di kisah Adrian dan Ve yang masih on going. Mungkin akan lanjut juga dengan kisah Rafa dan Valerie...π€²π€²
See u soon readers tercinta...π€π€
Love you all πππ
***