The Story Of "A"

The Story Of "A"
Sebelum Mulai Memanas



"Aku akan berusaha mendapatkannya. Bosku yang sekarang sedang ada masalah sama istrinya. Jadi akan lebih mudah menggodanya. Secara dia pasti kurang belaian. Yang ini orangnya tampan, muda. Tajir lagi. Pasti dia hot banget waktu di ranjang. Ah jadi tidak sabar pengen merasakan bercinta dengan bosku itu. Pasti dia bisa memuaskanku"


Satu kalimat panjang itu terucap dari bibir Stella. Entah dengan siapa dia berbicara. Namun yang jelas, Dika yang mendengarnya. Merasa jijik, dan sudah pasti mengambil kesimpulan. Stella benar-benar wanita ular yang bisa membahayakan hubungan Lana dan Vi. Seperti waktu itu. Tidak! Dia tidak boleh kecolongan lagi! Pikir Dika sambil berlalu dari tempat itu.


Tak lama Stella keluar dari ruang fotokopi itu. Sedikit merapikan penampilannya. Ah salah, membuat penampilannya semakin menggoda. Berharap secepat mungkin dia bisa menarik perhatian bosnya.


Masuk ke ruang kerja Vi. Membawa berkas yang harus Vi periksa. Stella berjalan dengan langkah menggoda. Ingin sekali Vi meliriknya. Dan benar saja. Mendengar hentakan heels beradu dengan lantai. Membuat Vi langsung mengalihkan pandangannya dari laptopnya.


Melihat penampilan Stella yang eemmm menggoda. Tak memungkiri Vi sedikit tergoda. Paha mulus yang hampir tiga perempat terlihat karena rok sangat mini yang Stella pakai. Juga belahan dada yang nampak begitu mengiurkan karena Stella sengaja melepas tiga kancing kemeja teratasnya.


"Eheemmm" Vi berdehem untuk menetralisir gejolak dalam dirinya.


"Saya membawakan berkas yang harus Tuan periksa juga tanda tangani" ucap Stella sensual.


Perlahan mendekat ke arah tuannya. Sedikit menundukkan tubuhnya. Hingga semakin jelaslah isi kemeja Stella yang tumpah ruah seolah minta disesap.


Vi menelan salivanya susah payah. Dia jelas masih normal. Tiap malam saja dia harus mati-matian menahan diri untuk tidak menerkam Lana sang istri. Gengsi Vi sangat tinggi saat ini.


"Dika sama Fajar ke mana?" tanya Vi berusaha mencari pertolongan.


Namun pertanyaan Vi justru dianggap Stella sebagai sinyal kalau Vi ingin menghabiskan waktu berdua dengannya.


"Ah, itu pak Dika dan pak Fajar sedang ada meeting di luar" jawab Stella dengan senyum terkembang di bibirnya.


Perlahan mulai meraih dokumen yang Stella bawa. Memeriksanya, dengan Stella yang berusaha menarik perhatiannya. Wanita mendekat ke arah. Berusaha memangkas jarak. Membiarkan bosnya menghirup aroma parfum miliknya. Begitu jarak mereka tidak ada. Stella kembali mencondongkan tubuhnya. Tepat di sebelah Vi. Hingga pria itu sedikit merasa terganggu. Posisi mereka bisa membuat salah paham orang yang melihatnya. Dan benar saja,


Ceklek, pintu dibuka.


"Vi aku membawa makan siang untuk..."


Ucapan Lana terpotong melihat suaminya yang terlihat seperti sedang menatap ke arah dada sang sekretaris yang terbuka. Dan parahnya Lana berpikir kalau Vi yang membukanya.


"Kau datang?" tanya Vi yang heran. Tidak biasanya Lana datang ke kantornya. Sementara Stella tampak memicingkan matanya. Menatap Lana yang juga menatapnya balik.


"Ini istri bosnya. Cantik sih" guman Stella cukup mengakui kecantikan Lana.


"Siapa dia?" tanya Lana to the poin.


Tinggal mereka berdua di ruangan itu.


"Sekretaris baruku" jawab Vi singkat dan seperti biasa dingin.


"Kau bahkan tidak bicara padaku soal itu" todong Lana.


"Itu urusan kantor. Tidak ada urusannya denganmu" kilah Vi.


Entah kenapa dia merasa dejavu dengan pembicaraan ini. Sepertinya dia pernah berada di situasi ini sebelumnya.


"Tentu saja. Aku istrimu" jawab Lana mulai berkaca-kaca.


Dadanya mulai terasa sesak. Cukup kecewa ketika Vi tidak lagi menganggap dirinya sebagai istrinya. Perlahan menyentuh perutnya. Berharap jika bayinya tidak berulah didalam sana. Ve mulai paham jika bayinya akan bereaksi jika dirinya dalam mood yang kurang baik. Meski usia kandungannya baru masuk trimester kedua.


"Oh come Lana. Jangan terlalu membesar-besarkan masalah" jawab Vi santai.


"Aku? Membesar-besarkan masalah. Apa kau sadar kau sudah melewati batasanmu. Aku selalu memberitahumu apa yang aku lakukan. Aku selalu meminta izin kemanapun aku pergi. Tapi kamu...." ucap Lana emosi. Hormon kehamilan mulai menunjukkan andilnya.


Vi kembali terdiam. Dia kembali dejavu. Dia dan Lana pernah berada di situasi seperti ini sebelumnya. Dia yakin itu. Melihat sang suami yang hanya diam. Lana hanya menarik nafasnya. Lantas berlalu pergi dari hadapan Vi.


"Oh sorry, Boy. Mama tidak bermaksud membuatmu ikut bersedih" batin Lana mengusap perutnya.


Dia berusaha menenangkan dirinya. Namun sialnya di depan ruangan Vi. Dia bertemu dengan sekretaris ular itu.


"Jangan berpikir untuk bisa mendekati suamiku" ucap Lana to the poin. Ketika dia dan Stella berhadapan langsung.


Melihat dari interaksi antara bos dan istrinya tadi. Stella bisa menarik kesimpulan kalau hubungan keduanya memang sedang bermasalah.


"Kita lihat saja nanti, Bu. Seorang suami yang kurang belaian pasti akan mencari kehangatan untuk menghangatkan dirinya" ucap Stella berbisik di telinga Lana.


"Kita lihat saja nanti. Kau atau suamiku yang kurang belaian. Karena setelah hari ini akan kupastikan kalau suamiku tidak akan sudi melihatmu. Bahkan jika kau telan..jang sekalipun didepannya" balas Lana tanpa takut.


Lana bukan wanita yang mudah diintimidasi apalagi diancam. Dia akan melawan siapa saja yang mengganggu dirinya. Apalagi berani mengganggu miliknya.


Lantas berlalu dari hadapan Stella yang hanya bisa menggeram kesal.


"Kita lihat saja. Akan kubuat suamimu yang memohon belaian kepadaku" guman Stella.


Sementara itu, Lana yang bertemu Dika di lobi. Langsung menghampiri istri keponakannya itu.


"Lana kenapa tidak bilang kalau mau kemari" tanya Dika begitu berada di hadapan Lana.


"Hanya ingin mengantarkan makan siang. Sudah lama aku tidak memasak untuk Vi" jawab Lana sambil menatap ke arah ruangan Vi yang jelas tidak akan terlihat dari tempat mereka berada.


Dika sejenak menelisik wajah Lana. Memastikan jika tidak ada yang terjadi pada Lana.


"Baik-baik saja?" tanya Dika.


Lana menarik nafasnya pelan.


"Tidak. Hanya sedikit mood swing saja" jawab Lana mencoba tersenyum.


Lantas pamit pada Dika untuk kembali ke kantornya sendiri. Dika menatap kepergian Lana dengan sejuta tanya. Tersenyum, memperhatikan Lana yang kini bahkan mulai memakai flat shoes. Meninggalkan heels tujuh senti-nya, yang memang bisa membahayakan kehamilannya.


Ya, Dika dan Rahma tahu soal kehamilan Lana. Dia yang curiga. Memaksa dokter yang memeriksa Lana waktu itu untuk memberitahukan kondisi Lana. Dengan alasan dia akan memberitahu suami Lana. Agar hubungan keduanya membaik.


Dan trik Dika berhasil. Senyum terkembang jelas di bibir Dika. Ketika dia tahu pewaris Aditama Grup sudah hadir diantara mereka. Dan seperti permintaan Lana yang ingin menyembunyikan kehamilannya. Dika pun mengikuti keinginan Lana.


Dika hanya memberitahu Rahma. Karena berpikir, asisten Lana itu perlu tahu keadaan bosnya. Agar bisa ikut menjaga Lana diam-diam selama Lana berada di kantor. Selain ketiganya tidak ada orang lain yang tahu. Termasuk Vi juga yang lainnya. Bisa Dika bayangkan, dulu Vi akan berteriak kegirangan jika tahu Lana hamil. Tapi sekarang entahlah. Dika tidak tahu apa reaksi Vi jika dia tahu, sang istri hamil anaknya.


Di ruangannya, Vi masih terdiam. Menatap paperbag yang berisi makan siang untuknya. Pelan dia meraihnya. Membuka isinya. Tumis sapi lada hitam, kesukaannya. Lantas mulai memakannya. Lana memang sering memasak untuknya. Tapi kenapa kali ini rasanya berbeda. Rasanya dia mulai mengenal rasa ini. Padahal selama hampir dua bulan ini. Dia sama sekali tidak mengenal masakan Lana.


Sesaat sakit melanda hatinya. Saat dia melihat tatapan sendu Lana. Detik berikutnya dia berniat akan menjelaskan semuanya begitu sampai dirumah nanti. Mencegah semuanya, sebelum mulai membuat hubungan keduanya kembali memanas.


***


Bonus pict,



Kredit Instagram @ xukai_miya


Abang Vi yang belakangan minta digetok pakai gagang sapu 😅😅


***