
Vi cukup terkejut ketika siang itu dia mendapat pemberitahuan dari Dika kalau pengacara Bryan sang ayah, ingin bertemu.
"Soal apa ya?" tanya Vi.
"Aku juga tidak terlalu paham. Dia hanya menghubungiku dan berkata seperti itu" jawab Dika.
"Dia yang akan kesini sendiri" tambah Dika.
Vi hanya mengangguk dengan wajah nampak serius memikirkan apa yang diinginkan sang Papa. Mencoba berpikir positif tanpa ingin menebak-nebak.
Sekitar pukul sepuluh pagi, pintu ruang kerja Vi dibuka oleh Dika. Sang asisten masuk diikuti oleh seorang pria seumuran Dika. Juga seorang pria yang lebih muda. Asistennya mungkin, pikir Vi.
"Selamat siang, tuan Alvian Aditama" sapa pria itu. Sementara Dika langsung undur diri. Tidak ingin mengganggu.
"Selamat siang, tuan...
"Nasution, Hendra Nasution. Panggil saja seperti itu" ucap pria itu ramah.
"Ada yang bisa saya bantu, tuan Nasution" tanya Vi.
"Saya disini mewakili tuan Bryan Aditama, ayah Anda. Untuk menyampaikan dokumen ini" ucap tuan Nasution.
Bersamaan dengan sang asisten menyerahkan satu map kepada Vi. Pelan menerima map itu. Mulai membacanya. Mata Vi membulat tidak percaya membaca isi dari map itu.
"Ini maksudnya apa, tuan Hendra Nasution?" tanya Vi tidak percaya.
***
Sepulang kerja. Vi menjemput Lana dan berkata mari menginap di rumah orang tua Lana. Mendengar hal itu, Lana langsung mengembangkan senyumnya. Dia sebenarnya rindu pada papa, mama dan sang adik. Namun tidak berani mengatakannya pada Vi. Takut pria itu tidak mengizinkannya pergi ke rumah orang tuanya. Mengingat status Lana yang sudah bersuami.
"Kenapa kamu begitu senang? Apa kamu merindukan mereka?" tanya Vi.
Lana mengangguk reflek.
"Kenapa tidak bilang? Kita bisa berkunjung ke sana akhir pekan jika kamu merindukan mereka" ucap Vi pelan mengusap lembut kepala Lana.
"Bolehkah?" tanya Lana antusias.
"Tentu saja boleh. Baby, aku beritahu ya. Jangan pernah menyembunyikan apapun dariku. Katakan apapun yang kamu inginkan. Beritahu aku apa yang kamu mau dan rasa. Marah saja jika aku berbuat kesalahan. Aku tidak masalah" ucap Vi.
Mendengar itu, Lana langsung menghambur memeluk sang suami. Haru juga bersyukur, Lana bisa mendapatkan suami seperti Vi.
"Aaahhh terima kasih, aku cinta kamu. I love you" ucap Lana sambil mencium bibir Vi.
"Haish jangan memancingku. Ini masih di jalan" gerutu Vi yang disambut kekehan Lana.
"Malah tertawa. Mau aku terkam di sini?" tanya Vi.
Mobil mereka masih melaju di jalan raya. Namun sudah mendekati rumah Jayden.
"Kenapa tidak?" tantang Lana.
Detik berikutnya, Lana langsung menarik kerah baju Vi. Menjangkau bibir Vi lantas menciumnya. Vi jelas gelagapan menerima serangan Lana. Pria itu buru-buru menepikan mobilnya.
"Baby, jangan aneh-aneh deh. Ini dijalan" protes Vi. Meski sebenarnya dia juga suka dengan sikap agresif Lana.
Tidak peduli pada protes Vi. Lana kembali menautkan bibirnya pada milik sang suami. Memancing has*** Vi, yang dia tahu. Hanya dia pancing sedikit. Pria itu langsung on fire.
"Oke jika kamu memaksa. Nanti kalau habis ini kita digerebek warga. Jangan nangis ya" ucap Vi. Mengingat mobil mereka berhenti tepat di pinggir jalan. Meski sedikit jauh dari pemukiman. Tapi bisa saja kehadiran mobil mereka menarik perhatian warga.
"Kita kan bukan pasangan mesum. Kita suami istri. Kalau digerebek paling juga papa yang malu" seloroh Lana. Sambil mulai mengurai kancing kemeja Vi. Juga mulai membuka ikat pinggang suaminya.Karena itu akan mengganggu pergerakan mereka nantinya.
"Pasangan mesumlah. Kepengen kok tidak tahu tempat" kekeh Vi yang langsung hilang dibungkam oleh ciuman dari Lana.
Tanpa banyak protes lagi. Vi langsung membalas ciuman Lana. Sejenak membuat suasana semakin panas. Keduanya sadar, tidak bisa melakukan penyatuan lama-lama. Mengingat tempatnya tidak memungkinkan.
Keduanya mendesah. Ketika tubuh mereka menyatu. Sesaat keduanya saling pandang. Memindai wajah masing-masing yang sudah memerah. Terbakar oleh api gairah yang membara.
Dan permainan panas keduanyapun dimulai. Baik Vi maupun Lana semakin menikmati kegiatan panas mereka. Yang semakin hari semakin nikmat saja untuk dilakukan.
Dan benar saja. Tak perlu waktu lama, keduanya menggeram hampir bersamaan. Menandakan puncak surga dunia sudah berhasil mereka raih. Nafas Lana dan Vi sama-sama masih memburu. Ketika keduanya menghentikan kegiatan panas mereka. Senyum terkembang di bibir masing-masing.
Perlahan Lana turun dari pangkuan sang suami.
"Kita lanjut lagi di kamarmu nanti" ucap Vi. Meraih tisu lantas membersihkan diri. Merapikan bajunya yang berantakan. Lantas melajukan mobilnya kembali kerumah Jayden. Tentu setelah Lana memperbaiki penampilannya.
Vi terkekeh.
"Kenapa?" tanya Lana.
"Kita seperti pencuri yang ketahuan mencuri" ucap Vi. Lana ikut tersenyum mendengar ucapan Vi. Lantas melesatkan ciuman ke bibir Vi.
"Baby, jangan memancingku lagi" kesal Vi. Karena mobil mereka sudah masuk ke gerbang rumah Lana.
"I love you, honey" bisik Lana di telinga Vi.
"Apa kamu bilang tadi?" tanya Vi.
"Terima kasih Baby. I love you" ucap Vi.
"Love you more, my honey" balas Lana.
Dan ucapan Lana membuat Vi geram.
"Kenapa? Tidak suka?" tanya Lana.
"Boleh tidak kita pulang saja. Aku ingin mengurungmu di kamar sampai pagi" ucap Vi mesum.
"Iisshh sejak kapan pria balok es ini jadi pria mesum sejagat raya" gerutu Lana.
"Sejak dia bertamu ke rumah Lana. Dan disana dia disambut penuh cinta" ucap Vi sambil tersenyum.
"Gombal!" cebik Lana kesal.
Keduanya terkekeh bersamaan.
"Woi, pengantin baru jangan bikin konten uhuk-uhuk di sana ya. Bikin baper plus merusak pemandangan" seloroh satu suara dari luar mobil mereka.
Mendengar suara Young Jae. Lana langsung menghambur keluar. Langsung memeluk sang adik.
"Idih jangan peluk-peluk. Tubuh elu udah terkontaminasi sama tubuh suami elu" protes Young Jae.
Namun hal itu tidak digubris Lana. Dia terus memeluk Young Jae. Sambil berjalan masuk ke rumah mereka. Vi mengekor di belakang keduanya. Menenteng hand bag milik Lana.
"Ma...Mama...tolongin Young Jae. Lana sudah jadi pedofil. Pengen makan Young Jae" teriak Young Jae membahana di seluruh penjuru rumah besar itu.
"Eh, sudah datang" sambut Tania.
Memeluk Lana yang akhirnya melepaskan pelukannya pada Young Jae. Membuat pria itu langsung naik ke kamarnya. Beralasan ingin segera mandi. Menghilangkan bau Vi yang nempel di badannya.
"Elu kira gue polusi" protes Vi yang disambut juluran lidah Young Jae.
"Eh, jangan masuk kamar dulu. Nanti kita ngobrol dulu" pesan Young Jae sebelum naik ke lantai dua.
Suasana malam itu begitu bahagia. Lama tidak berkumpul membuat suasana rindu tergambar jelas di wajah semua orang.
"Maaf, lama tidak membawa Lana berkunjung ke rumah" ucap Vi penuh rasa bersalah.
"Sebenarnya Papa mau marah. Mentang-mentang sudah kewong aja lupa sama yang nyetak. Tapi lihat dia (menunjuk Lana dengan dagunya) ...sumringah kayak bohlam 1000 watt hilang sudah marahnya Papa" curhat Jayden.
Yang entah sejak kapan jadi melow.
"Sudahlah, Pa. Yang penting mereka bahagia. Kalau mereka lupa kemari. Kita yang kesana. Boleh kan Vi?" tanya Tania.
"Boleh banget Ma. Jangan khawatir. Perabotnya sudah komplit. Nggak ada lesehan. Nggak ada ******* berjamaah lagi. Datang saja, pintu rumah kami selalu terbuka untuk kalian" jawab Vi sumringah.
"Terbuka apaan. Orang harus scan sama password-an segala" gerutu Young Jae.
"Kan ada Bi Inem yang bukain pintu" jawab Lana.
"Ya sekali-kali lesehan kayak waktu itu seru juga" usul Young Jae.
"Boleh juga tu. Asal lesehan asli. Bukan blasteran kayak kemarin. Antimainstream" seloroh Jayden.
"Boleh. Nanti kita plan. Hubungi yang lain siapa tahu bisa gabung" usul Tania lagi.
"Yes, boleh deh nyemplung ke kolam renang elu" seru Young Jae.
"Emang kolam renang elu kenapa? Suka bener ma kolam renang gue" tanya Lana.
"Ada pemandangan tak biasa dari kolam renang elu" bisik Young Jae penuh misteri.
"Idih jangan nakutin napa" cebik Lana.
Young Jae terbahak mendengar kekesalan sang kakak. Sesaat suasana kembali riuh dengan canda yang terucap dari bibir semua orang.
***
Bonus pict,
Kredit Instagram @ xukai_empire
Abang Vi,
Kredit Instagram @ chengxiao_hk
Neng Lana..
***