
Keesokan paginya,
Tok, tok, tok,
Terdengar pintu di ketuk tapi bukan dari pintu depan tapi pintu penghubung. Vian baru saja bangun. Bermaksud membuat kopi ketika pintu itu terbuka.
"Sorry, kamu tidak menjawab. Jadi aku masuk saja" ucap Lana ceria.
"Kemana perginya si judes yang kemarin" batin Vian.
Vian hanya menatapnya sekilas. Lantas menuju dapur. Mencari apa yang dia perlukan untuk membuat kopi.
"Cih dasar gila, tidak tahu diri. Sudah dibaik-baikin juga masih saja tidak berterimakasih" Lana membatin.
Mereka berdua lantas asyik dengan kegiatannya sendiri. Tak lama keduanya sudah duduk di meja makan yang ada di dapur itu.
Vian dengan secangkir kopinya. Sedang Lana dengan susu almond dan sepiring sandwichnya.
"Minum susu seperti anak kecil. Dasar anak manja" batin Vian meremehkan.
Namun detik berikutnya, Vian dibuat sedikit terkesima setelah melihat bagaimana jari Lanabergerak lincah diatas laptop. Plus beberapa perintah yang keluar dari bibir pink alaminya.
"Ma, aku akan datang agak siang. Kamu cek dulu saja persediaan bahan yang ada. Aku mau masuk produksi hari ini"
Hening sebentar. Lana masih asyik dengan laptopnya. Dia bicara dengan Rahma melalui headset bluetoothnya.
"Rahma are you still there?" tanya Lana tanpa mengalihkan pandangan dari laptopnya.
"Oh iya Ma, apa pesanan Yellow diamonku-ku sudah datang? Mr Chen ingin memakainya di antingnya. Biar wow katanya" ucap Lana lagi.
"Dia bisnis berlian rupanya. Hebat juga" tanpa sadar Vian memuji dalam hati.
Sedikit memperhatikan Lana saat bekerja. Bisa serius juga ni anak. Em cantik lagi. Ehh kenapa juga dia bisa berpikir seperti itu.
Tak berapa lama Lana menutup laptopnya. Melepas headset bluetoothnya. Beralih pada kertas-kertas didepannya. Tangannya mulai menari di atas lembaran kertas itu. Merealisasikan ide yang tiba-tiba datang ke kepalanya.
"Dia designer perhiasan?" batin Vian sedikit terkejut.
Tidak menyangka jika gadis judes itu punya kemampuan yang luar biasa. Tak berapa lama, seulas senyum terukir di bibir seksi Lana. Bibir yang dari semalam tidak berhenti memaki Vian. Membuat Vian sebal. Namun kini bibir itu terlihat begitu menggoda tatkala pemiliknya tidak berhenti tersenyum.
"Gila kenapa tu bibir jadi begitu menggoda ya. Jadi pengen nyium" batin Vian yang langsung menggelengkan kepalanya.
Kenapa dia jadi berpikiran mesum pada gadis yang kini seolah berganti wujud menjadi seorang gadis yang ceria dan cantik. Catat ya cantik. Dan baru kali ini Vian punya keinginan untuk mencium seorang wanita.
"Ya, Pakdhe" ucap Lana membuat orang yang menghubunginya langsung mengumpat marah.
Kredit Instagram @lin_yi_my_love
Yang kangen sama Pakdhe Kai 🤣🤣🤣
"Jangan Pakdhe to, Lana" mohon suara itu yang tak lain adalah Kai.
Lana terkekeh.
"Kan unik, muka pakdhe yang Cina abis aku panggil pakdhe" jawab Lana cekikikan.
"Itu namanya penistaan, Na" cebik Kai diujung sana. Membuat Lana semakin keras tertawa.
"Haish malah ngakak. Sudah Om mau bicara bisnis ini. Dengarkan" titah Kai.
Membuat Lana langsung memasang mode serius.
"Ingat pameran perhiasan yang akan diadakan di Shanghai bulan depan?" tanya Kai.
Lana mengangguk seolah Kai bisa melihat tindakannya.
"Om ingin kamu mengikutinya. Karena ada rumor kalau berlian incaranmu akan muncul di sana"
Membuat Lana membulatkan matanya. "Heart Of The Ocean" tanpa sadar Lana berguman.
"Yap kamu benar. Jadi ikut saja. Siapa tahu nemu. Nambah relasi. Siapa juga bisa ketemu cowok antik supaya kamu berhenti ngidolain anak Om"
"Iih Pakdhe mah gitu. Sampai kapan juga mas Rafa itu tetap nomer satu"
"Rafa lagi? Siapa sih sebenarnya dia ini" batin Vian kesal mendengar nama Rafa untuk kesekian kalinya.
"Iya nomer satu tapi tetep ya usaha nyari cowok. Biar nggak jadi jomblo akut"
"Issh siapa yang bilang Lana jomblo akut"
"Papamulah"
"Papa ini. Bisa-bisanya ngatain anak sendiri jomblo akut" gerutu Lana.
Bibir Lana masih manyun lima senti meski panggilan itu sudah berakhir. Dia mengaduk susu almond-nya. Menatapnya tanpa minat.
"Minum!" akhirnya Vian bersuara.
Membuat Lana menghentikan kegiatan unfaedahnya.
"Diamlah!" raung Lana.
"Kumat lagi judes bin galaknya" batin Vian.
"Wah, baru lagi tu" seloroh Lana.
Vian hanya melirik ke arah Lana. Membuat gadis itu mencebik kesal. Sedang Vian mulai sibuk berbalas pesan dengan Dika.
"Aku akan keluar setelah makan siang" ucap Vian setelah dia membaca pesan dari Dika.
"Bagus deh" jawab Lana mulai meminum susu almondnya.
Jarinya masih sibuk dengan kertas designnya. Sambil sesekali minum susu almondnya juga mencomot sandwich-nya. Semua itu tidak lepas dari pengawasan Vian.
"Kenapa dia jadi terlihat berbeda hari ini" batin Vian.
"Ya, Arch" kembali Lana menjawab panggilan dari ponselnya.
"..."
"Riko ada operasi mendadak? Terus?"
"Siapa lagi itu?" batin Vian.
Kenapa ada banyak nama laki-laki di sekeliling gadis judes ini.
"Ya padahal lagi pengen pencerahan" keluh Lana.
"..."
"Nggak kalau sama elu bukan pencerahan yang gue dapat tapi ajaran sesat"
".."
"Elu yang sekate-kate"
"...."
"Iya-iya aku turun sekarang" ucap Lana pada akhirnya.
Memberesi kertas designnya. Memasukkannya ke portable safety box. Lantas meraih sling bagnya. Berlalu tanpa kata dari depan Vian. Mengganti sandal rumahnya dengan heels tujuh senti. Membuat kaki jenjang Lana semakin terlihat seksi. Karena kembali gadis itu memakai setelan kerja berwarn pink. Dengan bawahan selututnya. Membuatnya terlihat manis, imut dan cantik sekaligus.
Kredit Instagram @chessman_smiling_14k
Alana Aira Lee ya guys 😍😍
Sesaat Vian terpana pada keseluruhan penampilan Lana hari ini. Dibalik judes bin galaknya Lana. Ada kecantikan memukau yang tersembunyi.
Ceklek, bunyi pintu yang ditutup. Membuat lamunan Vian buyar.
"Dia pergi" ucap Vian pada seseorang melalui ponselnya.
"...."
"Aku akan turun kalau begitu. Ah tidak antarkan saja ke atas" Vian kembali bicara.
Kalau dia keluar bisa dipastikan kalau dia tidak akan bisa masuk lagi ke apartemen itu. Dengan sistem keamanan yang Grand Samaya punya, dia yang tidak terdaftar di finger print tidak akan bisa membuka pintu apartement itu.
Tak berapa lama terdengar ketukan pintu. Vian hanya membuka pintu, menerima dua paperbag. Lantas menutupnya kembali.
Membuka laptopnya. Lantas mulai berselancar mencari informasi tentang hal yang sejak semalam membuatnya penasaran.
"Aa jadi kamu putri Jayden Lee, pemilik apartement ini" guman Vian.
Semakin lama mata tajam Vian semakin menyipit membaca setiap info yang menyangkut Lana dan keluarganya.
"Mereka menutupi banyak hal" guman Vian.
Tapi itu wajar. Bagi keluarga orang kaya. Tidak mengekspose detail informasi keluarga mereka. Vian paham itu. Karena hal itu bisa sangat berbahaya.
Sejenak Vian terdiam. Dia melihat gelangnya sendiri. Vian sempat melihat Lana memakai gelang yang sepintas mirip dengan miliknya. Hanya saja permata Lana berwarna biru sedang miliknya berwarna merah. Namun detik berikutnya dia menepis anggapan itu. Bukankah ada jutaan gelang yang sama ada didunia ini.
Di sisi lain, Bryan nampak tertegun. Menatap foto sang putra yang terlihat berlari menggenggam tangan seorang gadis. Dia tidak pernah tahu kalau putranya punya teman wanita. Karena tidak pernah ada laporan seperti itu dari anak buahnya.
"Tahu siapa dia?" tanya Bryan.
Menunjuk foto Lana dengan dagunya.
"Namanya Alana Aira Lee. Hanya info itu yang bisa kami dapatkan mengenai gadis itu. Aksesnya dibatasi" lapor anak buahnya.
Bryan langsung menatap anak buahnya.
"Lee? Apakah dia..."
Bryan menyeringai licik. Setelah 20 tahun lebih berlalu. Apa kini dia punya kesempatan untuk melukai mereka lagi. Ternyata Bryan tidak cukup puas dengan kejadian di masa lalu.
Karena setelah membawa Vera pergi. Justru keluarga Jayden terlihat semakin bahagia. Dia memang pernah melihat pemberitaan kalau Jayden Lee memiliki sepasang putra dan putri. Tapi detailnya dia tidak tahu. Juga bisnis keluarga itu semakin berkembang pesat. Bersama dengan keluarga Huang. Keduanya menjadi keluarga dengan reputasi yang begitu baik di kalangan pebisnis di Surabaya.
Jika benar putri Jayden Lee bersama putranya. Dia akan menggunakan kesempatan ini untuk sekali lagi ingin melukai keluarga itu.
"Mari kita buat kejutan yang manis untukmu, Tania" guman Bryan dengan seringai liciknya"
****