The Story Of "A"

The Story Of "A"
Bukan Orang Sembarangan



"Selamat siang tuan Armando" ucap Dika memberi salam.


"Selamat siang, pak Dika" balas Riko.


"Maaf tuan Aditama masih ada di lapangan. Ada beberapa hal yang harus dia pastikan lagi. Jadi dia mengutus saya untuk menemui Anda terlebih dulu" jelas Dika.


"Tidak masalah. Sepertinya bos pak Dika kali ini berbeda" ucap Riko mulai bersikap santai.


"Ah iya, dia cucu dari pendiri Aditama Group" ucap Dika.


"Wah pewaris yang hilang itu sudah kembali" canda Riko.


"Dia tidak hilang pak Riko. Hanya sedikit menjalani "tahanan" rumah di Sidney" Dika ikut bercanda padahal memang kenyataannya begitu.


"Anda bisa saja pak Dika" jawab Riko.


"Jadi back to topic. Apa ada yang ingin Anda rubah soal desainnya. Mumpung masih di tahap awal" ucap Dika memulai membicarakan bisnis.


"Desain tidak ada yang ingin saya rubah. Hanya saja saya ingin mengubahnya menjadi lantai dua sementara. Emm maksud saya, ada kemungkinan suatu saat nanti akan saya tambahi lagi satu lantai di atasnya lagi" jelas Riko.


"Oke saya mengerti. Dengan begitu kita bisa memperkuat fondasinya. Juga rangka besinya" ucap Dika menambahkannya di kertas kerjanya.


Setelah beberapa waktu berlalu. Vi datang dari arah luar diantar Satya.


"Silahkan tuan Aditama" Satya mempersilahkan.


"Terima kasih" ucap Vi.


Masuk ke ruang kerja Riko. Langsung disambut Dika dan Riko.


"Tidak tersesat kan?" canda Dika.


Vi menģgeleng.


"Perkenalkan tuan Armando. Ini tuan Aditama" Dika mengenalkan keduanya. Saling berjabat tangan.


"Aku pikir pewaris Aditama sudah berumur. Ternyata masih muda" seloroh Riko.


"Aku rasa kalian seumuran" timpal Dika.


"Aku rasa iya" balas Riko.


Sedang Vi hanya diam. Kembali ke habibat asal. Apalagi dibawah dia baru saja ngamuk. Ada pegawainya yang sengaja mencuri material bahan bangunan. Hingga material pembangunan untuk rumah sakit milik Riko selalu terkendala. Dan pihak supplier yang disalahkan.


"Ada yang mengganggumu?" tanya Dika.


Vi menggeleng. Dari situ Riko berpendapat kalau Vi adalah orang yang begitu dingin dan kaku.


"Ada yang diperbaharui dengan konstruksinya" tanya Vi pada Dika.


"Tuan Riko ingin menambah lantainya" ucap Dika.


Dan pembicaraan mereka terus bergulir hingga makan siang tiba.


" Kita bisa makan siang bersama jika Anda berkenan" tawar Riko.


Meski Vi orangnya dingin dan kaku. Tapi Riko sangat menyukainya kala tengah membahas pekerjaan. Sangat detail, teliti juga cepat.


"Bagaimana Tuan?" tanya Dika.


"Tidak masalah" jawab Vi datar.


Mereka baru saja akan beranjak dari sofa mereka ketika terdengar suara ribut di pintu.


"Aduh mbak Lana jangan masuk dulu. Pak dokter masih ada tamu" cegah Satya.


"Aduh mas Tya. Aku cuma sebentar doang" kilah suara seorang wanita yang langsung membuat Vi tersenyum tipis.


"Tidak kusangka akan bertemu denganmu disini" batin Vi.


Beberapa hari tidak bertemu. Nyata rasa rindu terasa di hati Vi. Dika yang melihat Lana disana langsung melongo.


"Aku bahkan sudah menyuruhnya menghindarinya. Masih ketemu juga" gerutu Dika dalam hati.


"Apa iya keduanya adalah jodoh" batin Dika lagi.


"Aduh jangan panggil aku Tya dong, kayak cewek tahu" protes Satya.


"Oo kamu lebih suka tak panggil bang Sat? Biar kayak di novel-novel itu" Lana tetep kekeuh dengan panggilannya.


"Ya jangan bang Sat juga kali" Satya masih saja protes.


"Hei kalian bisa tidak sekali saja tidak bertengkar kalau bertemu" Riko melerai.


Mendengar suara Riko. Lana langsung berlari ke arah Riko.


"Aaahh pak kyai. Lama tidak bertemu" ucap Lana langsung memeluk manja lengan Riko seperti biasa.


Vi jelas membulatkan mata melihat hal itu. Sedang Dika langsung menepuk dahinya sendiri.


"Semoga tidak ada perang dunia ketiga" batin Dika.


"Lana aku masih punya tamu" desis Riko.


Membuat Lana langsung melepaskan pegangan tangannya di lengan Riko.


"Maaf tidak tahu. Loh Om Dika disini. Sama siapa...kamu?" Lana hampir berteriak melihat Vi duduk dengan santai di depannya.


"Kamu kenal dia?" tanya Riko.


"Kenallah. Orang gila..buronan. Kurang ajar. Brengsek" Lana memaki Vi sambil berbisik di telinga Riko. Sedang Riko langsung membulatkan matanya mendengar semua makian yang keluar dari bibir Lana.


Sementara Vi hanya menatap tajam pada Lana. Sama dengan Dika yang hanya jadi pengamat. Kira-kira apa yang akan terjadi kemudian.


"Kamu kenal dia?" tanya Riko.


Lana mengangguk.


"Bagaimana kamu kenal dia. Dia baru kembali dari Sidney" sangkal Riko.


"Iya baru balik dari Sidney sejak tahun kemarin" judes mode on.


"Lana mbok yo jangan judes-judes amat. Kamu kenal di mana sama tuan Aditama" tanya Riko.


"Aditama? Kamu kerja sama om Dika?" tanya Lana.


"Aaa mbak Lana..." Dika ingin bicara tapi Vi mengkode untuk diam.


"Kerjalah biar punya duit" jawab Vi datar.


Sedang Vi hanya mengulum senyumnya.


Riko yang tidak paham situasinya hanya bisa garuk-garuk kepala.


"Ikut makan siang mau?" tanya Riko pada Lana.


"Mau banget. Lama nggak ditraktir pak CEO" ledek Lana.


"Ealah orang aku ini anak buah pakdhemu lo" kilah Riko.


"Tapi kan tetap pangkatnya CEO, Chief Executive Officer merangkap owner" ucap Lana kembali manja pada Riko.


Membuat Riko sedikit risih pada Vi.


"Ehh maaf tuan Aditama. Adik saya yang satu ini memang kadang seperti ini" ucap Riko meminta maaf.


"Tidak masalah tuan Armando. Asal tidak sembarangan saja manjanya" jawab Vi dingin.


"Hei apa maksudnya sembarangan" Lana mulai meradang.


"Nemplok pada siapa saja yang dijumpai" jawab Vi cepat.


"Iihh kau ini...tiap ketemu pasti cuma bikin emosi" kesal Lana.


"Aiiisshh sudah-sudah. Bagaimana juga tuan Aditama ini tamuku. Klien aku. Kamu harus hormati ya, please" mohon Riko.


Lana mendengus kesal. Menatap nyalang pada Vi yang tersenyum mengejek padanya.


"Awas kau!" batin Lana kesal.


Akhirnya mereka makan siang dalam diam. Eh salah, Lana doang yang diam. Sedang Vi dan Riko sesekali masih membahas bisnis.


"Apa Anda seorang arsitek juga" tanya Riko.


"Basic saya memang arsitek" jawab Vi.


"What?! Dia seorang arsitek?" batin Lana tidak percaya.


"Kalau begitu bisa saya minta Anda merancang ulang rumah saya maksudnya rumah orang tua saya?" tanya Riko.


"Renovasi?" tanya Vi.


"Lebih kurang seperti itu. Hanya saja tidak seratus persen. Saya ingin mengubahnya ke arah yang lebih modern tapi nuansa kunonya masih ada" jelas Riko.


"Tidak masalah" jawab Vi.


"Heran kenapa mereka bisa akrab sekali" batin Lana sambil manyun.


"Nanti kalau ada waktu kita lihat lokasinya" ujar Riko.


Vi hanya mengangguk.


"Lana dimakan. Jangan dimainin makanannya" ucap Riko pada Lana.


"Dia lagi ngambek kayaknya" ucap Vi datar.


Membuat Lana mendelik.


"Lana..." desis Riko.


Kembali mereka makan dalam diam. Namun ditengah-tengah acara makan itu. Ponsel Dika berdering.


"Ya?"


"..."


"Urgent sekali?"


"..."


"Bawa kemari kalau begitu" ucap Dika akhirnya.


"Tuan, ada berkas yang harus Anda tanda tangani sekarang" ucap Dika ragu.


"Soal?" tanya Vi.


"Kerjasama dengan B Construction. Ownernya akan ke LA jam dua. Dan mereka minta teken kontraknya sekarang" jelas Dika.


"Semua sudah dicek ulang?" tanya Vi.


Aura Vi benar-benar berbeda kala sudah berbicara soal pekerjaan.


"Itu berkas yang terakhir kali Tuan periksa. Yang Tuan bertanya siapa owner-nya" lagi Dika menjelaskan.


Vi hanya ber-ooo ria. Tak lama orang dari kantor Aditama Group datang. Vi langsung masuk ke ruang VIP di restoran itu.


"Pak kyai memang dia itu sebenarnya siapa?" Lana kepo juga pada akhirnya. Vi terlihat berbeda saat ini.


"La kamu maki dia sesuka hatimu. Kamu tidak tahu siapa dia. La kamu tahunya dia siapa" Riko balik bertanya.


"Aku cuma tahu namanya Vian" jawab Lana santai.


"Kamu mau tahu dia?" tanya Riko lagi.


Lana mengangguk antusias.


"Namanya Alvian Andrew Aditama. Pewaris Aditama Group" ucap Riko.


"What?!!!"


Lana tidak percaya. Orang selama ini dia panggil buronan, orang gila. Dia katai brengsek. Kurang ajar. Ternyata seorang CEO.


"Aduh gawat ini. Ternyata dia bukan orang sembarangan" batin Lana.


Bagaimana kalau Vi tidak terima dengan semua makiannya. Lalu menuntutnya. Ahh papanya bisa marah besar padanya.


Lana terus menatap cemas ke arah pintu ruang VIP dimana Vi dan rekan bisnisnya berada.


***



Kredit Instagram.com


Vi yang ternyata seorang CEO membuat Lana cemas bukan main. Takut diaduin ke polisi mungkin 🤭🤭🤭


***