The Story Of "A"

The Story Of "A"
Calon Istri Saya



"Apa kamu sudah merasa lebih baik?" tanya Kanaya.


Keduanya baru saja menyelesaikan makan malam mereka. Kanaya yang memasak dan sedikit memaksa Lana untuk makan.


"Berpikir, menangis, bersedih, galau, menyelesaikan masalah. Semua perlu tenaga" cengir Kanaya.


Lana hampir meledakkan tawanya. Mendengar ucapan receh dari Kanaya.


"Apa aku terlihat sepayah itu?" tanya Lana.


"Yeah kau terlihat sedikit....menyedihkan" ledek Kanaya.


"Sialan kau!" maki Lana.


Meski Kanaya seumuran Riko yang berarti satu tahun lebih dari dirinya. Namun karena Kanaya adalah kekasih Riko. Membuat hubungan Lana dan Kanaya juga dekat. Seperti teman. Pun dengan Marina dan Caca, kekasih Young Jae.


"Lalu aku harus bagaimana?" tanya Lana.


"La kok malah nanya" jawab Kanaya.


Keduanya sudah duduk di sofa ruang tengah apartement Arch.


"Eike kagak nanya. Tapi minta pendapat" ucap Lana.


"Sama aja kali" seloroh Kanaya.


"Alah yang penting elu jawab" desak Lana.


Kanaya terdiam.


"Menurutku ya. Aku cukup mengenal Vi. Aku bisa lihat kalau dia tulus sama kamu.Bucin malahan" jawab Kanaya sambil menerawang.


Lana terdiam mendengar ucapan Kanaya. Di satu sisi dia bisa merasakan ketulusan Vi tapi ucapan Papa Vi sedikit membuatnya ragu. Lana bingung dan juga bimbang. Perlahan gadis itu menarik nafasnya pelan.


"Tidurlah dulu. Siapa tahu bangun nanti, pikiranmu bisa lebih jernih. Jangan mengambil keputusan tergesa-gesa. Pertimbangkan semua dengan baik-baik. Dengarkan kata hatimu" saran Kanaya.


Membuat Lana menatap wajah gadis itu. Lantas perlahan masuk ke kamar Arch.


"Aku di sini kalau membutuhkan sesuatu" lagi Kanaya berucap. Yang dijawab anggukan kepala oleh Lana.


***


"Ada apa?" tanya Riko.


Tanya pria itu ketika melihat wajah Satya yang terlihat panik.


"Eh itu ada laporan kalau banyak wartawan di lobi rumah sakit" jawab Satya cepat.


Riko baru saja melakukan visit ke pasien VIP. Di area VIP pasien, di sisi barat rumah sakit. Area yang kemarin pembangunannya di handle oleh Vi. Tempat paling jauh dari lobi utama rumah sakit. Karena tempat itu memiliki lobinya sendiri.


Bukan bermaksud membeda-bedakan. Tapi Riko hanya berusaha memberikan pelayanan terbaik untuk semua pasiennya baik dari kalangan atas, menengah ataupun bawah. Fasilitas untuk mereka sama. Hanya saja ruang perawatan yang sedikit berbeda.


Namun Riko memastikan kalau ruang perawatan untuk pasien dari kalangan bawah dan menengah sudah memenuhi standar.


"Apa ada artis yang dirawat di sana?" tanya Riko sambil merapikan sneli-nya.


Biasanya kalau ada artis yang dirawat di sana. Akan ada sedikit keributan. Banyak wartawan yang datang meliput atau mencari berita soal artis tersebut. Namun kemudian Riko berpikir. Biasanya kalau artis, akan mengambil kelas menengah atau VIP. Lalu kenapa keributannya terjadi di lobi utama.


"Ahh itu..bukan artis yang jadi pemberitaan. Tapi kamu" jawab Satya cepat.


Membuat Riko langsung menghentikan langkahnya.


"Soal apalagi sekarang?" tanya Riko penasaran.


Dia cukup pusing dengan pemberitaan yang beredar soal dirinya. Meski selama itu tidak merugikan dirinya. Atau menyinģgung privasi keluarga dan teman-temannya. Riko tidak mempermasalahkannya.


"Kali ini aku rasa cukup serius" kembali Satya menjawab sedikit panik.


"Soal?" tanya Riko sedikit mendesak Satya. Karena dari tadi, Riko merasa jawaban Satya hanya berputar-putar tidak jelas.


"Soal dirimu dan Kanaya" akhirnya Satya menjawab.


Jawaban Satya membuat Riko langsung menghentikan langkahnya. Menatap pada Satya. Yang langsung menyerahkan ponselnya. Sesaat Riko terdiam. Membaca berita di sebuah portal berita online. Sedetik kemudian wajah Riko berubah menjadi sama paniknya dengan Satya.


"Dia ada di mana?" tanya Riko.


Setengah berlari menuju lift. Diikuti Satya di belakangnya.


"Dia seharusnya sudah pulang. Tapi dari tadi aku menghubunginya. Dia tidak menjawabnya" jawab Satya menekan tombol 1 begitu masuk ke dalam lift.


"Kenapa jadi rumit begini?" tanya Riko panik.


"Ada wartawan yang menangkap fotomu saat kamu memakai cincinmu. Dia tahu cincinmu limited edition. Lantas dia mencari pasangan dari cincinmu. Kan Lana sudah memperingatkanmu soal GPS-nya" jelas Riko.


"Aku pikir aku tidak pernah menunjukkan cincinku pada mereka" kilah Riko.


"Ya mereka cari tahu Bambaanng, apa yang beda dengan dirimu. Itu kan tugas mereka. Mencari tahu yang tidak terlihat" jawab Satya.


"Elu kate nyari hantu" celetuk Riko.


"Eh pak dokter gue serius. Kalau mereka sampai nemuin Kanaya. Bisa diserang pacar kamu Riko" ucap Satya kesal.


Bagaimana bisa, Riko begitu santai saat Kanaya bisa saja dalam bahaya.


"Ya gue tinggal umumin kalau dia calon istri gue" jawab Riko enteng.


Ucapan Satya membuat Riko berpikir. Ada benarnya juga ucapan asistennya itu.


"Lalu gue harus gimana dong?" Riko malah balik bertanya.


"Masih nanya. Gaji tinggian elu tapi perasaan yang mikir berat gue" protes Satya.


"Kan gue udah keluar modal gedhe. Nah elu tinggal ngikutin gue" ucap Riko.


"Yah terserah apa kata elu lah. Kan elu bosnya" jawab Satya menyerah. Enggan berdebat dengan bos sekaligus sahabatnya itu.


"Lalu dimana dia sekarang?" tanya Riko mereka mulai masuk ke lobi utama.


"Masih dicari" jawab Satya singkat.


Sementara itu,


Suasana di lobi utama rumah sakit milik Riko, benar-benar kacau. Puluhan petugas keamanan yang Satya terjunkan seolah tidak mampu menahan puluhan wartawan yang mulai merangsek maju. Masuk ke dalam lobi. Hingga sampai ke depan resepsionis.


Gosip soal Riko yang sudah memiliki kekasih. Dan rumor kekasih Riko juga bekerja di rumah sakit yang sama dengannya. Membuat gosip itu semakin panas. Wartawan itu begitu penasaran dengan sosok wanita yang bisa mencuri hati seorang Taufiq Riko Armando.


Bersamaan dengan wartawan yang mulai merangsek masuk lebih dalam ke lobi. Kanaya juga mulai memasuki lobi. Sedikit heran dengan banyaknya wartawan yang ada di lobi. Namun dia kemudian menduga kalau ada artist yang jadi pasien di rumah sakit itu. Meski seingatnya tidak ada seorang pun rekan sejawatnya yang bercerita sedang merawat pasien seorang artis.


"Eh, mbak Kanaya. Sudah mau pulang?" tanya seorang resepsionis.


Karena Kanaya berhenti didepan meja resepsionis. Bermaksud membiarkan wartawan itu sedikit berkurang atau setidaknya dia bisa lewat.


"Iya. Itu ada apa ya? Ada artist yang lagi stay di sini?" tanya Kanaya mulai meraih ponselnya sembari menunggu waktu.


"Kenapa Satya menghubungiku banyak sekali" guman Kanaya.


Bermaksud menghubungi kembali Satya. Mungkin ada hal penting yang ingin disampaikan. Meski dia sedikit ragu pada Satya. Karena Satya terkadang hanya disuruh Riko untuk mengerjainya.


"Kenapa kamu telepon aku?" tanya Kanaya begitu sambungan ponselnya diangkat.


"Kamu dimana?" tanya Riko membuat Kanaya mengerutkan dahinya. Kenapa Riko menggunakan ponsel Satya.


"Kenapa kamu...


"Kamu dimana?" potong Riko cepat.


Ulah Riko membuat Kanaya semakin heran.


"Aku ada di lobi"


Tanpa Kanaya sadari, gadis itu menggunakan tangan kanannya saat menggunakan ponselnya. Membuat cincin mungilnya tertangkap kamera wartawan. Kamera wartawan yang langsung terhubung dengan seorang pengamat perhiasan di ruang kontrol, berkedip cepat. Mengidentifikasi cincin milik Kanaya.


Kehebohan langsung saja terjadi. Ketika wartawan itu berteriak.


"Dia kekasih Riko Armando!"


Sontak wartawan itu langsung menyerbu ke arah Kanaya yang terkejut.


"Mbak, apa benar mbak kekasih Riko Armando?"


"Berapa lama kalian berpacaran?"


Dan banyak sekali pertanyaan lain yang membuat Kanaya bingung. Panik, bingung, terkejut. Semua menjadi satu. Sementara di ujung sana. Riko semakin mempercepat larinya. Begitu takut jika Kanaya terluka. Mendengar dari ponsel Satya yang masih dalam genggamannya. Betapa kacaunya suasana lobi.


Si lain tempat, Kanaya semakin gugup, panik. Ketika puluhan kamera wartawan menyorot ke arah dirinya. Semakin menyudutkannya. Tubuh Kanaya mulai bergetar hebat. Lemas mulai menguasai kakinya.


Wartawan itu seolah ingin menelan dirinya hidup-hidup. Dengan banyaknya pertanyaan yang diajukan oleh mereka. Semua semakin merangsek maju. Berlomba-lomba ingin mendapatkan jawaban dari Kanaya.


Pandangan mata Kanaya semakin kabur. Membuat Kanaya dengan cepat menggunakan kedua tangannya untuk menutupi wajahnya. Kerlipan blitz kamera wartawan itu membuat silau mata Kanaya.


"Apa lagi ini?" guman Kanaya lirih.


Kanaya cukup terkejut mendengar pertanyaan wartawan itu.


"Apa mereka sudah mengetahui hubungannya dengan Riko? Apa yang harus aku katakan? Jawaban apa yang harus kuberi?" batin Kanaya frustrasi.


"Mbak, kenapa Mbak diam saja? Apa benar Mbak punya hubungan dengan tuan Riko Armando?" desak seorang wartawati yang paling dekat dengan Kanaya.


Dia begitu kesal karena sejak tadi, Kanaya hanya diam saja. Tanpa sepatah katapun terucap dari bibir Kanaya.


"Mbak, apa hubungan Anda dengan tuan Riko Armando?" lagi seorang wartawan mengulangi pertanyaan yang sama.


Bisa dibayangkan, bagaimana pucatnya wajah Kanaya. Mendengar semua pertanyaan para pemburu berita itu. Dia yang tidak punya pengalaman berhadapan dengan para pemburu berita. Jelas tidak tahu berbuat apa. Tubuh Kanaya hampir ambruk ketika tiba-tiba satu suara terdengar.


"Dia adalah calon istri saya!" teriak suara itu.


Menatap lurus pada Kanaya. Yang juga menatapnya dengan tatapan tidak percaya.


"Kamu tidak sedang berbohong kan?" tanya Kanaya melalui tatapan matanya.


***


Maaf slow up ya readers. Baru balik mudik. Capekkk buannget sist, bro....


Harap maklum ya...😁😁🙏🙏


****