The Story Of "A"

The Story Of "A"
You Make Me Crazy



Tidak berapa lama, Dika sudah berada di hadapan Lana.Pria itu sedikit terengah-engah karena harus berlari untuk memenuhi perintah Vi.


"Maaf, Lana. Om tidak tahu jika kamu datang" ucap Dika ramah.


Membuat dua resepsionis di belakang Dika kembali saling pandang. Melihat siapa Lana yang ternyata dekat asisten Dika. Orang paling penting nomor dua di Aditama Grup.


"Aku juga baru sampai kok Om" cengir Om.


Tidak enak ketika melihat Dika harus berlari untuk menjemputnya.


"Ayo naik. Tapi Vi sedang ada meeting. Sebentar lagi selesai" ajak Dika.


Membuat resepsionis itu kembali menundukkan kepalanya kala Lana dan asisten Dika berlalu begitu saja dari hadapan mereka.


Tiinng,


Pintu lift terbuka. Lana mengikuti langkah Dika. Menuju ke sebuah ruangan yang Lana yakin adalah ruang kerja Vi.


"Duduklah sebentar. Aku akan suruh bagian pantri membuatkanmu teh. Tidak lama, Vi akan datang" ucap Dika sesaat mengulum senyumnya. Lantas undur diri dari hadapan Lana.


Yang mulai menindai ruang kerja Vi.


"Dasar pria balok es. Ruang kerjanya saja sama lempengnya dengan wajahnya" gerutu Lana melihat ruang kerja Vi yang bernuansa abu-abu.


Lana membiarkan saja seorang office boy meletakkan secangkir teh untuknya. Mengacuhkan OB itu lantas sibuk dengan ponselnya. Sambil duduk di sofa.


Pintu dibuka. Vi yang masuk langsung membulatkan matanya melihat tampilan Lana. Apalagi Lana dengan santai meletakkan satu kakinya di atas kaki yang lainnya. Membuat paha Lana sedikit terekspose. Untung saja Dika langsung paham. Meninggalkan keduanya setelah melihat Vi masuk ke ruangannya.


"Sudah berapa kali kubilang Lana. Pakai baju yang benar" ucap Vi dingin. Membuat Lana seketika menatap ke arah Vi.


"Sudah selesai?" tanya Lana bukannya menjawab ucapan Vi.


"Tidak dengar yang aku ucapkan?" ulang Vi.


Lana melirik dirinya sendiri.


"Alah ini tidak terlalu pendek" kilah Lana.


"Itu pendek sekali Lana" ketus Vi.



Kredit Instagram.com


Lana merengut. Mereka pasti selalu berdebat soal pakaian yang Lana pakai.


"Posesif sekali" gerutu Lana.


"Hei, aku hanya tidak ingin kamu jadi bahan tontonan pria lain di luar sana" kesal Vi.


Membuat Lana juga kesal.


"Ahh selalu saja begini. Tiap kali bertemu pasti bertengkar" sungut Lana. Melipat tangan di depan dadanya.


Masih dengan posisi yang sama.Bahkan dengan posisi sekarang. Skirt Lana semakin terangkat naik. Membuat Vi pusing seketika.


"Lama tidak bertemu. Sekalinya bertemu kamu malah memancingku" gerutu Vi dalam hati.


"Lain kali gunakan rok yang agak panjang. Agar pahamu tidak kemana-mana" ucap Vi sambil melonggarkan dasinya. Mencoba mengurangi hawa panas yang mulai menyerang tubuhnya.


Lana hanya terdiam. Tidak ingin menanggapi ucapan Vi. Membuat Vi menarik nafasnya pelan. Cukup tahu betapa keras kepalanya gadis yang ada dihadapannya ini. Yang membuat Vi sendiri heran. Bagaiamana dia bisa cinta mati pada Lana.


"Ada apa kemari? Katanya ingin bicara?" tanya Vi dingin.


Yang pada akhirnya, melepas dasi dan membuangnya entah ke mana. Setelah membuka kancing kemejanya. Lana yang masih dongkol. Memilih untuk diam. Tidak menjawab pertanyaan Vi. Membuat Vi perlahan memijat pelipisnya. Tahu kalau gadis dihadapannya ini marah padanya.


Perlahan Vi mendekati Lana. Duduk disamping gadis itu. Lana hanya sekilas melirik Vi ketika pria itu sudah duduk disampingnya.


"Marah?" tanya Vi.


Lana diam. Vi perlahan menarik nafasnya. Perlu ekstra kesabaran menghadapi Lana.


"Sekarang aku tanya? Aku mungkin orang lain bagimu. Tapi apa kamu rela orang di luar sana apalagi perempuan melihat abs-ku?" pancing Vi.


Membuat Lana langsung menatap Vi. Lana pikir pertanyaan apa itu. Tentu saja dia tidak rela. Melihat tubuh Vi yang hot dilihat para perempuan mesum di luar sana.


"Tentu saja tidak boleh" jawab Lana spontan.


Jawaban Lana membuat Vi tersenyum. Ada sedikit rasa bahagia yang Vi rasa. Saat Lana mengucapkan hal itu.


"Kenapa?" tanya Vi lagi.


"Karena itu milikku. Hanya aku yang boleh melihat dan menyentuhnya....uppss" Lana baru sadar keceplosan.


Kali ini senyum sempurna terkembang di wajah Vi.


"Kalau begitu aku juga. Semua yang ada didirimu adalah milikku. Tidak ada orang lain yang boleh melihatnya apalagi menyentuhnya selain aku" bisik Vi ditelinga Lana.


"Sudah paham rasanya" ucap Vi lirih.


Lana menggigit bibir bawahnya. Membuat Vi gemas.


"Jangan menggigitnya. Nanti terluka" ledek Vi.


"Aisshh kau ini. Apa-apa tidak boleh" gerutu Lana.


"Boleh asal aku yang menggigitnya" goda Vi.


Ucapan Vi langsung membuat Lana menatap wajah pria yang kini begitu dekat dengannya. Wajah tampan yang akhir-akhir ini begitu sabar menghadapi kejudesannya. Wajah tampan yang sebenarnya bisa membuat wanita manapun akan takhluk padanya. Tàpi Vi, lebih memilih menghadapi dirinya yang selalu saja menguji kesabaran Vi.


Dari jarak sedekat ini. Lana baru menyadari dan mengakui kalau wajah Vi memanglah tampan. Apalagi bibir Vi yang tidak pernah lekang melengkungkan senyum untuknya. Tidak peduli semarah apapun pria itu padanya.


Entah kenapa, mengingat itu semua. Lana jadi begitu ingin menciumnya. Hingga sejurus kemudian, bibir Lana sudah menempel di bibir Vi. Membuat Vi membulatkan matanya. Vi sungguh tidak percaya. Jika Lana berinisiatif mencium dirinya lebih dulu. Pasalnya selama ini Vi yang selalu bergerak lebih dulu.


Sesaat Vi hanya membiarkan Lana yang bergerak. Membiarkan gadis itu melakukan apa saja yang dia suka pada bibirnya. Vi pikir itu hanya akan jadi ciuman biasa tanpa ada tindak lanjutnya.


Namun ternyata, Vi salah. Ciuman Lana semakin lama semakin liar. Bahkan tangan Lana sudah berada di tengkuk Vi. Menahan leher kokoh itu sekaligus membuat ciuman Lana makin diam.


"Hei...apa yang kamu lakukan?" tanya Vi mendorong tubuh Lana agar melepas pagutannya.


Bisa Vi lihat wajah Lana yang memerah. Juga nafasnya yang memburu. Tubuh Lana sudah berada diatas tubuh Vi. Hampir menindih tubuh kekar Vi. Sebentar lagi bisa dipastikan jika Vi akan tergoda. Karena skirt yang Lana pakai sudah naik ke paha atas gadis itu.


"Mari kita mulai semua dari awal" ucap Lana dengan nafas tersengal. Tangan Lana berada di samping kiri dan kanan kepala Vi.


"Maksudnya?" tanya Vi bingung.


Lana menatap kesal pada Vi karena tidak paham dengan ucapannya.


"Ayo kita pacaran atau menikah sekalian" ucap Lana didepan wajah Vi.


Membuat Vi terkejut bukan main.


"Hei kamu tidak sedang sakit kan? Jangan bercanda denganku" ucap Vi.


Kali ini Lana benar-benar kesal. Dia sudah serius tapi Vi malah menganggapnya bercanda. Lana dengan cepat naik ke atas tubuh Vi. Gadis itu benar-benar menindih tubuh Vi sekarang.


"Lana, jangan menggodaku" bisik Vi parau.


Posisi mereka jelas membuat Vi kelabakan. Dimana tubuh mereka saling menempel. Dengan pakaian Lana seperti itu, membuat Vi bisa melihat sebagian dada Lana yang tertutup bra berwarna hitam. Begitu menggoda.


"Kalau begitu aku juga iya" bisik Lana sensual.


Membuat has*** Vi terpancing seketika. Tapi Vi tetaplah Vi, dia tidak akan menyentuh Lana melebihi batasannya. Sebesar apapun keinginan itu. Vi tetap akan menekannya kuat-kuat.


"Katakan padaku alasannya?" tanya Vi tajam.


Lana terkesiap. Apa yang membuatnya ingin memberi Vi kesempatan. Juga dirinya. Hingga kemudian satu kata muncul di benaknya.


"Aku rasa, aku mulai menyukaimu" ucap Lana lirih.


"Aku tidak dengar Lana" pura-pura Vi. Padahal hatinya sudah berbunga-bunga mendengar ucapan Lana.


"Aku rasa aku mulai mencintaimu, Vi. Haissshh apa sih..hmmppptt


Ucapan Lana langsung terpotong ketika Vi sudah membungkam bibir Lana dengan bibirnya. Mencium Lana penuh cinta. Vi pikir berapa lama dia menunggu untuk mendengar hal itu terucap dari bibir judes Lana.


Awalnya Vi hanya berniat mencium Lana karena pria itu sangat bahagia. Namun siapa sangka, Lana membalasnya begitu agresif. Hingga tidak lama keduanya sudah saling menikmati ciuman mereka yang sudah berbalut gai*** yang mulai membuncah.


"Lana...stop it. Stop it" ucap Vi ketika tangan Lana sudah mulai menyentuh dada dan perutnya karena gadis itu sudah membuka semua kancing kemeja Vi.


Lana yang sudah melepas blazernya. Menyisakan inner berwarna putih itu langsung berhenti dari aksinya yang mulai bergerilya diatas tubuh Vi.


"Lana berhenti atau aku tidak akan bisa menahan diriku. Dan kita akan membuat kesalahan" Vi memperingatkan. Nafas pria itu mulai tersengal. Dada bidang itu naik turun dengan cepat.


Mendengar ucapan Vi, Lana bukannya menjauh dari tubuh Vi. Justru gadis itu semakin menempelkan dadanyà di dada Vi yang sudah terbuka.


"Oh my God, Lana!" pekik Vi.


Sesuatu dibawah sana jelas mulai bergejolak.


"And then let's make a beautifull mistake"


Mendengar hal itu, Vi tidak lagi bisa menahan dirinya.


"Jangan menyalahkanku jika kamu habis hari ini" ucap Vi penuh penekanan.


"Aku jadi penasaran" goda Lana.


"Ooh Alana Aira Lee, you make crazy" pekik Vi.


Seiring dengan dua bibir yang kembali menyatu dalam pagutan yang dipenuhi api gai*** yang mulai membara.


****