The Story Of "A"

The Story Of "A"
Untung Cuma Mimpi



Lana jelas terkejut plus gelagapan menerima ciuman dari Vian.


"Ciuman pertamaku" batin Lana.


Berusaha melepaskan diri dari ciuman Vian.


"Ini adalah ciuman pertamaku. Dan aku tidak percaya. Kalau yang sedang kucium adalah seorang gadis yang begitu judes dan galak. Tapi bibirnya...manis sekali" batin Vian.


"Brengsek!" maki Lana tanpa filter.


Vian hanya mengulum senyumnya mendengar makian Lana.


"Maki saja. Toh aku sudah berhasil menciummu" jawab Vian dingin.


"Kau benar-benar kurang ajar. Dasar penjahat wanita"kembali Lana memaki. Namun kali ini tidak hanya memaki. Tangan Lana ikut andil memukul tubuh Vian.


Vian hanya bergeming menerima pukulan Lana. Hingga beberapa lama Lana masih terus memukuli Vian. Meski tenaganya tidak seberapa tapi yang membuat Vian benar-benar terganggu adalah tubuh Lana yang hampir terekspose sempurna.


"Kau ini benar-benar ingin menggodaku atau bagaimana?" tanya Vian.


Menahan dua tangan Lana yang masih ingin memukulinya. Tatapan Vian kini tertuju pada belahan dada Lana yang terlihat jelas. Seolah tank top yang dia kenakan tidak mampu menutupi keindahan yang tersembunyi dibaliknya. Begitu kenyal dan padat.


Lana menatap Vian. Lantas mengikuti kearah mana pria itu memandang. Detik berikutnya Lana langsung berteriak. Melihat dirinya yang hanya memakai tank top dan juga hot pants ketat.


"Terlambat. Aku sudah melihat semuanya" ucap Vian dingin plus seringai mengerikan di wajahnya.


Sumpah demi apapun Lana begitu malu sekaligus takut. Baru kali ini ada pria asing melihat dirinya seperti ini. Bahkan Riko dan Archie saja tidak pernah melihat dirinya hanya memakai tank top. Dan parahnya lagi kali ini Lana melepas branya. Membuat aset kembarnya terpampang nyata didepan Vian.


"Kau...kau..mau apa?" tanya Lana takut. Kali ini Lana benar-benar ketakutan. Takut kalau Vian adalah seorang penjahat wanita sungguhan.


"Apalagi? Kau menampilkannya tepat didepan wajahku. Pilihan apalagi yang kupunya selain...menikmatinya" bisik Vian.


Membuat Lana membulatkan matanya. Karena detik berikutnya. Vian kembali menyambar bibirnya. Menciumnya penuh naf**. Melum**nya penuh has***. Lana jelas berusaha melawan. Tapi dengan Vian yang sudah diliputi kabut gai***, tenaga Lana tidak ada apa-apanya.


Vian semakin menghimpit tubuh Lana. Membawanya ke sofa. Lantas mulai merebahkan tubuh seksi itu disana. Satu tangan Vi sibuk menahan dua tangan Lana yang berusaha ingin melepaskan diri. Separuh tubuh Vi sudah menindih tubuh Lana. Bisa Vi rasakan betapa kenyalnya aset kembar Lana kala beradu dengan dada bidangnya. Meski masih terhalang kaos dan tank top yang masih mereka kenakan.


Vi melepaskan ciumannya. Kala merasa Lana sudah kehabisan nafas. Masih tidak beranjak dari atas tubuh Lana. Vi menatap sayu wajah Lana.


"Lepaskan aku Vi. Aku mohon jangan lakukan apapun padaku" mohon Lana lirih.


Vian tersenyum untuk pertama kalinya. Membuat Lana sedikit terpana.


"Si gila ini kalau tersenyum cakep juga. Apalagi ciumannya tadi...bikin nagih" batin Lana.


"Siapa suruh pamer tubuh depan orang" ucap Vi dingin.


"Aku mana tahu kamu datang?" kilah Lana.


"Oh kalau dengan orang lain kau seperti ini" todong Vi.


"Mana ada? Ini hanya karena aku baru bangun tidur" kembali Lana beralasan.


Vian menyeringai.


"Jadi kalau tidur kau hanya memakai pakaian ini...tidak naked sekalian" goda Vian.


Kembali memindai tubuh Lana. Dada Lana terlihat tumpah ruah meski tanpa bra. Belum dengan paha mulusnya yang tepat berada dibawah himpitan paha Vian. Membuat sesuatu dibawah sana mulai bergejolak.


"Sembarangan kalau ngomong. Cepat lepaskan aku!" teriak Lana.


"Kalau aku tidak mau?" ucap Vian.


Semakin mendekatkan tubuhnya ke arah tubuh Lana.


"Kau jangan kurang ajar ya" ancam Lana.


"Aku hanya penasaran dengan ini" ucap Vian.


Lantas menciumi leher jenjang Lana. Membuat tubuh Lana menegang seketika. Tubuhnya seakan tersengat aliran listrik jutaan volt kala Vian mulai menelusuri setiap inci leher Lana.


"Vi...stop it Vi...stop it...please" pinta Lana.


"A minute more.." lirih Vian.


Bukannya berhenti Vian justru mulai menciumi area dada Lana. Membuat Lana mende*** seketika.


Sesaat Vi masih bermain disana. Menyesapnya beberapa kali. Baru perlahan dia menjauhkan tubuhnya dari atas tubuh Lana. Keduanya saling menatap dengan nafas yang memburu.


"Do you want it?" tanya Vian.


"I ask you Lana. Do you wanna make a love with me?"


(Aku bertanya padamu Lana. Apa kamu kau ingin bercinta denganku)


Kembali Lana terdiam. Detik berikutnya dia menggeleng. Dia masih cukup waras untuk tidak terbuai dengan **** bebas ataupun **** before married.


"Bagus. Cause if you say yes I'll eat you now. Dan aku tidak menjamin akan melepasmu hingga besok pagi" lagi Vian berucap vulgar.


"Kau maniac ya?" tuduh Lana.


Vian mengedikkan bahunya.


"Bercinta saja belum pernah. Mana aku tahu aku ini maniak **** atau bukan. Tapi melihat tubuh seksimu. Aku rasa aku benar-benar bisa menghajarmu sampai pagi" batin Vian masih menatap wajah Lana.


"Berhenti memandangku dengan tatapan menjijikkan seperti itu" galak mode on.


"Oh come on Lana. I've seen everything. Dengan pakaian seperti ini...ini sama saja naked untukku" ejek Vian.


"Brengsek...!"


"Ssstt kau maki aku sekali lagi. Aku robek hot pantsmu ini" ancam Vian membuat Lana kicep seketika.


"Sukanya main ancam saja" guman Lana.


"I heard it" jawab Vian. Perlahan bangun dari atas tubuh Lana.


Membuat Lana langsung menarik nafasnya dalam-dalam. Rasa lega langsung memenuhi dadanya.


"Damm it. Kau membangunkannya" umpat Vian. Membuat Lana mengerutkan dahinya.


"Mandilah. Lima belas menit waktumu" titah Vian.


"Tidak mau!" tolak Lana. Mendudukkan dirinya.


"Kau tidak takut aku serang lagi" tanya Vian.


Lana mengedikkan bahunya.


"Kau jangan menantangku, Lana" ucap Vian penuh penekanan.


Namun Lana masih diam ditempatnya.


"Mandi atau aku robek tank topmu!" ancam Vian. Tangannya sudah terulur ingin meraih tank top Lana.


"Iya...iya aku mandi" ucap Lana akhirnya menyerah daripada harus berdebat lagi dengan Vian. Atau merasakan panas dingin akibat serangan Vian.


Lana baru saja akan berdiri ketika Vian menarik kembali tubuh Lana. Membuatnya jatuh kembali ke sofa. Lantas kembali melum** bibir sek** Lana yang sepertinya akan membuatnya Vi ketagihan.


Sesaat keduanya saling menikmati ciuman itu. Kedua mata mereka saling terpejam. Menggambarkan kalau ciuman itu begitu nikmat dan telah membuat keduanya ketagihan.


Hingga.....


Gedubrak...


"Arrggghhhh"


"Aduh sakiitnya" ucap Lana mengusap bokongnya yang terjatuh di lantai keramik yang lumayan keras.


"Astaga....bagaimana bisa aku mimpi mesuum dengan pria gila itu" maki Lana. Perlahan bangkit sambil terus mengusap bokongnya yang masih terasa ngilu.


Padahal memikirkannya pun tidak. Bagaimana aku bisa mimpi seperti itu. Pikir Lana sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Untung cuma mimpi kalau beneran aduuhhh aku tidak tahu harus bagaimana" Lana bergidik ngeri teringat kembali bagaimana ganasnya ciuman Vi di mimpinya.


"Hiiiii, sumpah gak mau-mau lagi, aku dekat-dekat tu pria gila" makian dan umpatan masih keluar dari bibir Lana.


Meski gadis itu sudah memulai ritual mandinya.


Tanpa Lana tahu, seorang pria berjalan keluar dari apartement Lana dengan senyum terkembang di bibirnya. Sambil sesekali jari pria itu menyentuh bibirnya.


"Rasanya manis...sungguh manis. Membuatku tidak ingin berhenti untuk mencicipinya" batin pria itu.


***


Hayo tebak itu beneran apa mimpi...🤫🤫


***