
"Putrimu menginap di apartemenmu" ucap Tania pada Jayden sang suami.
Mereka sedang berada di ruang tengah. Sedang menonton TV. Ah tidak. TV yang menonton mereka. Karena keduanya asyik sendiri. Asyik bermesraaan. Mumpung keduanya anaknya tidak ada di rumah.
"Biarkan saja" ucap Jayden memainkan surai rambut istrinya. Tania membiarkan saja tingkah suaminya itu. Meski nanti dia sendiri yang akan menanggung akibatnya. Semakin tua, kemesuman Jayden malah semakin menjadi. Meski mereka tetap tahu tempat dan kondisi.
"Aku sedikit khawatir dengan Lana. Dia susah sekali disuruh melihat pria lain. Isi kepalanya hanya Rafa dan Hyun Ae" keluh Lana.
"Tenang saja. Nanti juga move on sendiri. Tidak ingat dulu aku seperti apa" lagi Jayden menenangkan istrinya.
"Apa karena dia kebanyakan gaul sama Archie dan Riko ya" Tania meluapkan perasaannya.
"Aku rasa bukan itu masalahnya. Mereka kan seperti bodyguard buat Lana"
"Justru karena itu Mas. Karena dia dijaga bodyguard yang tampan jadi pria lain enggan untuk mendekati putrimu"
"Kalau begitu berarti pria itu tidak punya nyali untuk memperjuangkan Lana. Mereka tidak ada kans bersanding dengan Lana kalau melihat Archie dan Riko saja mereka ciut. Bagaimana mau membuat Lana move on dari Rafa dan Hyun Ae"
"Iya juga ya" Tania mulai berpikir.
"Sudah jangan terlalu dipikirkan. Nanti akan datang juga pria yang tepat buat Lana. Aku yakin itu" ucap Jayden sambil menepuk-nepuk punggung istrinya.
Bersamaan dengan Young Jae yang masuk ke ruang tengah.
"Malam Pa, Ma" salam Young Jae mencium punggung tangan kedua orang tuanya.
"Dari mana kamu?" tanya Tania.
"Biasa Ma. Seleksi" jawab Young Jae sambil nyengir.
"Seleksi model bagaimana itu" Jayden bertanya sambil memicingkan mata.
"Idih Papa. Kayak tidak pernah muda. Tenang saja Young Jae tidak separah Papa" ledek Young Jae.
Lana dan Young Jae tahu masa lalu papa mereka. Yang seorang casanova akut sebelum bertemu mama mereka.
"Awas ya kalau kamu macam-macam" ancam Jayden.
"Nggak kok Pa. Young Jae cuma semacam aja" kekeh Young Jae.
Yang langsung mendapat lemparan bantal sofa dari papanya.
"Aih kalian ini malah bertengkar. Young Jae kamu tadi lihat kakakmu tidak?" tanya Tania.
"Lihat Ma. Tadi siang kita hang out bareng. Tapi habis itu Kak Lana pergi, katanya mau cari angin siapa tahu ketemu Xu Zhi Bin" jawab Young Jae.
"Ha..siapa lagi itu?"
"Ya mas Rafa yang aslilah. Yang ini lo" ucap Young Jae sambil memperlihatkan foto seorang pria yang tampilannya persis Rafa di ponselnya.
"Ini?" tanya Tania.
"Itu dia yang bikin Kakak nggak bisa meleng dari mas Rafa"
Kredit Instagram.com
Si Rafa yang selalu bikin Lana oleng nggak bisa meleng 🤣🤣
"Haduh mau cari di mana coba cowok yang bisa nandingin Rafa" ucap Tania masih memandangi foto ponakannya itu.
"Sini!" Young Jae mengambil ponselnya dari tangan mamanya. Setelah melihat kode dari papanya. Young Jae tahu papanya itu sangat posesif pada mamanya. Mamanya tidak boleh melihat pria lain selain papanya.
Hal yang kadang membuat Young Jae jengah.
"Sudah ah aku ke kamar. Kalian kalau mau mesra-mesraan di kamar sono. Jangan di sini. Bikin pengen" ketus Young Jae. Berlalu naik ke lantai dua dimana kamarnya berada.
"Astaga, putramu Mas!" ucap Tania.
"Tidak masalah. Yang penting dia kompeten saat bekerja" balas Jayden.
Young Jae memang baru 20 tahun. Tapi kinerjanya sudah mulai mendapatkan apresiasi dari banyak orang. Termasuk beberapa klien yang pernah di tangani oleh Young Jae.
Jayden sendiri sudah menyatakan tidak tertarik dengan perusahaan selain majalah fashionnya. Namun tidak tahu dengan anak-anaknya. Hanya saja Young Jae punya kebiasaan sering gonta ganti pacar. Meski masih dalam taraf aman terkendali.
Sedang Rafa dan adiknya, Nathan sudah mulai aktif, mengurusi perusahaan Kai yang bejibun saking banyaknya. Namun untuk klan Liu, Rafalah yang mulai ikut mengurusnya. Dengan bantuan Thomas tentunya. Karena itulah, anak itu sering wara wiri Jakarta-Singapura-Shanghai.
"Baby...ke atas yuk" ajak Jayden.
"Ngapain?" meski Tania tahu apa yang diinginkan suaminya itu.
"Merealisaikan usulan Young Jae" bisik Jayden.
"Alah ngomong saja pengen ML" sahut Tania cepat.
"Nah tu tahu. Ayo cepat" ajak Jayden. Menarik tangan Tania menuju kamar mereka di lantai tiga.
***
"Masuklah" ucap Lana judes.
Vian mengikuti langkah Lana masuk ke apartemen papanya. Setelah sedikit mengendap-endap. Karena tidak ingin ketahuan Om Rey, dirinya membawa masuk seorang pria untuk menginap di apartemen papanya. Bisa habis dia kalau asisten kepercayaan papanya itu ngadu.
Vian tampak tidak terkejut dengan kemewahan apartemen milik papa Lana. Yang membuat dia terkejut adalah papa Lana yang memiliki apartemen di Grand Samaya. Vian yang pebisnis property dan real estate, tentu tahu berapa harga satu unit apartemen di sana. Belum lagi kenaikan harga yang pasti akan terjadi tiap tahunnya. Sebuah investasi yang menjanjikan jika bisa memiliki unit di Grand Samaya.
Bisa dipastikan papa Lana bukanlah orang sembarangan. Membuat Vian penasaran siapa Lana sebenarnya.
"Emm kamu bisa pakai kamar tamu. Tapi kalau baju ganti. Ada punya adikku tapi..
"Akan kusuruh orang hotel mengantarkannya ke sini" potong Vian cepat.
"Tapi hati-hati dengan Om Rey yang tinggal di unit depan. Dia asisten Papa. Bisa habis aku jika dia ngadu ke Papa aku bawa kamu nginep disini" curhat Lana.
"Aku akan keluar besok" ucap Vian cepat.
"Bagus deh kalau gitu. Aku pergi ke sebelah dulu" pamit Lana.
"Sebelah?" guman Vian.
Melihat Lana berjalan menuju ke pintu yang ternyata sebuah pintu ke unit sebelah. Lana menghilang di balik pintu setelah membukanya menggunakan passcode juga scan sidik jari.
Membuat Vian sedikit terkejut. Siapa papa Lana yang bahkan bisa punya dua unit apartement yang bersebelahan. Dengan kelas penthouse pula. Vian menggelengkan kepalanya. Mengusir rasa penasarannya.
Berjalan menuju telepon yang ada di ruang tengah. Mendial nomor seseorang.
"Halo Om, bisa tolong handle urusanku di hotel" ucap Vian begitu panggilannya tersambung.
"..."
"Bisa antarkan barang-barangku ke nomor telepon ini" lagi Vian memberi perintah.
"..."
"Dan satu lagi. Uruskan pembelian unit di Grand Samaya. Tidak peduli lantai berapa. Yang penting aku mau tinggal di Grand Samaya"
Membuat orang diujung sana mengerutkan dahinya. Namun detik berikutnya pria itu tersenyum arti.
"Apa kau tertarik dengan Lana? Jika iya maka bersiaplah, akan ada banyak orang yang kebakaran jenggot dengan hubungan kalian" guman pria itu yang tak lain adalah Dika.
Tidak masalah jika malam ini dia harus lembur. Melakukan perintah bos barunya. Yang penting, besok. Beban pekerjaannya akan sedikit berkurang. Karena pemilik yang sebenarnya sudah kembali.
Dika tahu jika root perusahaan Aditama Group sudah di alihkan kepemilikannya kepada Vian. Cucu satu-satunya dari bos Dika, Tuan David Mattew Aditama yang sudah meninggal lima tahun lalu. Membuat Dika ikut hanyut dalam kedukaan yang teramat dalam. Terlebih amanah yang diemban Dika sesudah David meninggal.
..."Bantulah Vian ketika dia membutuhkan bantuan. Kamu tahu bagaimana anak itu hidup selama ini. Dia begitu tertekan. Akan tiba masanya dia akan memberontak melawan ayahnya. Juga jagalah dia. Kau sudah tahu bagaimana Bryan. Aku hanya takut dia akan melukai Vian. Seperti dia dulu tega melakukannya pada ibunya. Meski ibunya sampai sekarang tidak tahu. Bantu aku Dika"...
Bola mata Dika berkaca-kaca mengingat bagaimana menyesalnya David. Harus menyerah pada takdir. Padahal dia masih ingin melihat Vian, cucu satu-satunya bisa tersenyum.
"Akan kubantu tuan muda Vian semampu saya tuan David" janji Dika di depan foto David yang terpajang di ruang kerjanya.
Lantas mulai menghubungi orang-orangnya.Untuk melakukan perintah tuan mudanya.
"Semoga ini menjadi awal baru untuk hidupmu yang lebih baik Tuan Muda" doa Dika.
***