
Dalam beberapa hari rumah baru Vi mulai ada penghuninya. Penghuni perabot maksudnya. Tidak kosong melompong seperti rumah tidak berpenghuni. Jayden dan Tania sendiri tidak masalah ketika Vi meminta izin untuk mengajak Lana tinggal di rumah baru mereka.
Keduaya sadar. Putra dan putri mereka sudah menikah. Sudah selayaknya punya kehidupan sendiri. Jayden cukup puas dengan sikap Vi, yang benar-benar mempersiapkan diri dengan matang saat menikahi Lana.
Cukup terkejut ketika tahu, Vi bahkan sudah membangun rumah untuk Lana. Sesuai keinginan Lana. Hal yang membuat hati Jayden tenang, menyerahkan Lana ke tangan Vi.
Meski Green Hill cukup jauh dari tempat keduanya bekerja. Tapi itu tidak masalah. Justru jalanan yang mengarah ke tempat mereka bekerja tidak terlalu ramai. Membuat keduanya lebih cepat sampai ke tempat mereka bekerja.
Vi tidak melarang apapun yang disukai Lana. Termasuk bekerja. Vi benar-benar tipe pria yang membebaskan wanitanya untuk berkarya asal sesuai koridornya sebagai istri. Komunikasi keduanya berjalan sangat baik. Karena Vi memang dari awal yang selalu ngemong Lana.
Selalu menuruti keinginan sang istri. Namun itu tadi asal semua sesuai dengan jalurnya. Urusan ranjang jangan ditanya. Keduanya semakin candu dengan tubuh masing-masing. Jika diawal pernikahan mereka. Vi yang selalu agresif meminta dan memimpin permainan.
Memasuki bulan ketiga. Lana mulai berani meminta. Menunjukkan kalau dia juga sangat menginginkan suaminya itu. Tak jarang Vi yang sudah lelah dengan urusan pekerjaannya. Dirumah harus disibukkan dengan urusan kepuasan ranjang sang istri. Meski begitu, Vi malah menyukainya.
Seperti kali ini. Lana sudah lebih dulu sampai ke rumah karena hari ini dia membawa mobil sendiri. Sebab Vi ada meeting dengan klien sampai sore. Takutnya Vi tidak bisa menjemput Lana saat wanita itu sudah selesai bekerja.
Vi masuk ke rumah disambut oleh bi Inem. ART yang dipekerjakan oleh Vi bersama sang suami Mang Ujang namanya. Sengaja Vi memilih dua pasang suami istri untuk bekerja di rumahnya. Untuk menghindari adanya pelakor maupun pebinor yang marak berkeliaran di luar sana.
Di samping itu ada juga Mang Udin dan Bi Ijah. Supir yang Vi sediakan jika Lana sedang tidak ingin mengemudi sendiri. Sedang Bi Ijah kebagian bersih-bersih. Yang juga sering dibantu oleh Bi Inem.
"Sudah pulang Tuan?" tanya Bi Inem, perempuan berusia hampir empat puluhan itu tersenyum melihat majikannya pulang.
Bi Inem lebih memandang Vi sebagai putranya ketimbang majikannya. Sebab usia Vi memang seusia putra mereka yang tinggal di kampung.
"Hemm" Vi hanya berhem- ria.
"Lana sudah pulang Bik?" tanya Vi.
"Sudah Tuan. Bahkan sudah masak tadi. Mau tak siapin?" tanya Bi Inem.
"Ya sudah siapkan saja. Tapi tidak usah menunggu saya turun. Biar Lana yang melayani saya. Kalian istirahat saja" ucap Vi.
"Njih Tuan" jawab Bi Inem patuh. Lantas berlalu dari hadapan Vi.
Sedang pria itu langsung menuju lift. Lelah membuat Vi malas naik tangga untuk menuju kamarnya.
"By, aku pulang" ucap Vi ketika sudah masuk ke kamarnya.
Sunyi tidak ada jawaban. Kamar luas itu terasa hening. Tanpa kehadiran sang istri.
"Katanya sudah pulang. Mandi dulu sajalah" guman Vi.
Lantas mulai berjalan masuk ke kamar mandinya. Melucuti pakaiannya sendiri. Lantas mengguyur tubuh menggodanya di bawah guyuran shower.
Tanpa Vi tahu sepasang menatap lapar pada tubuh Vi. Pikiran Lana berkelana ke mana-mana. Apalagi siang tadi dia bertemu Marina. Si dokter obgyn somplak. Bagaimana tidak somplak. Sejak menikah dengan Arch beberapa hari yang lalu. Wanita itu bertambah mesum setengah mati.
Saat bertemu siang tadi. Tanpa ragu. Marina memberitahukan info soal beberapa gaya bercinta yang bisa membuat sensasi bercinta makinn wow gitu.
Dan gegara video ihik-ihik itu. Wanita itu langsung ngibrit pulang. Karena pikirannya langsung tertuju pada Vi sang suami. Yang selalu menggoda di mata Lana.
Vi menyelesaikan ritual mandinya. Seperti biasa. Pria tampan itu hanya memakai handuk sebatas pinggangnya. Maksud hati ingin langsung mengganti pakaian di walk in closetnya. Tapi ponselnya tiba-tiba berdering. Membuat Vi mendudukkan dirinya di sofa. Sambil mengangkat panggilan dari Fajar sang asisten.
Hanya sebentar, sang asisten menghubunginya. Karena tidak berapa lama panggilan itu selesai. Masih memeriksa ponselnya ketika tiba-tiba, Lana sang istri sudah duduk di pangkuannya.
"Eh...." Vi jelas terkejut melihat kelakuan sang istri.
Melihat tingkah istrinya yang tidak seperti biasanya. Lana hanya menatap Vi dalam diam. Hatinya berdesir hebat melihat tubuh setengah basah Vi yang terlihat seksi di matanya. Jantungnya mulai bermaraton ria.
"Kamu menginginkan sesuatu?" tanya Vi lagi. Yang ditanya malah menggigit bibir bawahnya. Terlihat begitu menggoda di mata Vi.
"Vi...." panggil Lana. Pelan jemarinya mulai meyentuh dada bidang suaminya. Membuat darah Vi memanas seketika.
"Jangan menggoda jika tidak ingin kuserang" bisik Vi.
Hilang sudah rasa lelah Vi. Berganti dengan has*** yang mulai terpancing. Apalagi ketika Lana dengan gerakan yang begitu sensual. Mulai merapatkan dirinya. Menempelkan dadanya ke dada Vi.
"Kalau begitu biar aku yang menyerang" balas Lana dengan berbisik pula.
Sejurus kemudian, wanita itu langsung menautkan bibirnya ke bibir suaminya. Tanpa menunggu, Vi langsung membalas ciuman Lana. Sama panasnya. Hingga kemudian yang terdengar hanyalah decapan dan sesapan yang begitu syahdu memenuhi kamar luas itu.
Tanpa basa basi, tangan Lana langsung mengurai handuk di pinggang Vi. Membuat isinya terlihat tanpa terhalang lagi. Isi yang sudah tegak menjulang tinggi. Siap mengoyak batas nirwana, entah untuk yang kesekian kalinya.
Awalnya Vi ingin memberikan foreplay yang cukup lama untuk Lana. Namun tanpa Vi duga. Lana dengan cepat melucuti pakaiannya sendiri. Membuat tubuhnya polos seketika.
Terlebih ketika dengan tiba-tiba, Lana melakukan penyatuan tanpa aba-aba.
"By, itu pasti sakit" bisik Vi cemas.
Sedikit tahu jika foreplay kurang lama. Cairan pelumas alami tidak akan keluar dengan maksimal. Hingga akan menimbulkan rasa perih, sakit atau panas. Saat penyatuan dimulai.
Bukannya menjawab. Lana malah tersenyum. Lagi-lagi kembali menggigit bibirnya. Seiring sebuah ******* lolos dari bibir Lana kala dirinya sudah menyatu dengan suaminya.
"Apa kamu menginginkannya sejak tadi?" tanya Vi.
Lana menundukkan wajahnya. Malu untuk mengakuinya. Tingkah Lana membuat Vi gemas.
"Katakan jika kamu menginginkannya, By" ucap Vi menggigit pucuk dada sang istri. Membuat Lana melenguh seketika.
"Vi...." rengek Lana. Dia jelas merasa tersiksa. Si tamu sudah masuk rumah. Tapi hanya diam saja. Tidak mau bergerak. Padahal miliknya sudah berdenyut sejak tadi. Ingin diobrak-abrik oleh si tamu yang super panjang dan besar.
"Katakan..." pinta Vi. Semakin liar menyerang dada sang istri. Membuat Lana langsung belingsatan tidak karuan. Vi berusaha menahan diri. Padahal dirinya pun sudah tidak tahan ingin mengobrak-abrik rumah yang sudah berhasil ia masuki. Agar surga dunia segera ia kecap nikmatnya.
"Ayolah Vi..." rengek Lana mulai kesal. Lana pikir apa ia harus mengikuti video yang siang tadi ia lihat bersama Marina. Sedang Vi malah mengulum senyumnya. Melihat kekesalan sang istri.
"Kan kamu yang mulai, By" batin Vi. Terus saja mencumbu tubuh Lana tanpa mau menggerakkan bagian bawah tubuhnya.
Hingga saking kesalnya. Lana langsung menghentakkan miliknya. Membuat Vi langsung mendesis nikmat.
"Aaah By" desah Vi.
Pria langsung mendongakkan kepalanya. Menikmati pergerakan Lana yang membuat miliknya serasa dijepit nikmat.
"Move, Baby...move" ucap Vi seraya memegang pinggul Lana. Membuat gerakan Lana semakin cepat.
Hingga akhirnya senja itu menjadi senja paling indah dan nikmat bagi sepasang suami istri itu.
***