The Story Of "A"

The Story Of "A"
Malam Pertama



Vi mulai memacu dirinya diatas tubuh Lana. Mencoba membawa sang istri mengarungi nirwana. Mencari nikmatnya surga dunia. Lana jelas merasa perih di awal. Hingga perlahan rasa perih itu berkurang. Berganti menjadi rasa nikmat luar biasa. Sebuah rasa yang belum pernah ia rasa.


"Vi..." panggil Lana di sela-sela ******* yang lolos dari bibirnya.


"Ahhh jadi seperti ini rasanya. Pantas saja dulu teman-temannya selalu pamer kalau habis bercinta dengan pacar masing-masing. Sebab rasanya enak banget" batin Lana di tengah pompaan sang suami.


Vi sendiri tidak bisa menahan untuk tidak mendesah. Milik istrinya benar-benar nikmat. Ibarat makanan. Rasanya begitu legit dan lezat. Membuatnya selalu ingin memakannya terus.


Peluh mulai mengalir deras melalui pori-pori tubuh mereka. Has*** dan gairah keduanya seolah membaur menjadi satu. Menciptakan sebuah rasa yang membuat keduanya semakin hanyut dalam kenikmatan bercinta.


Pompaan demi pompaan, hentakan demi hentakan semakin bertambah cepat Vi lakukan. Bersamaan dengan gelenyar rasa syahdu yang mengalir melalui seluruh aliran darah keduanya.


Vi begitu pandai membawa Lana menyelami rasa. Dalam percintaan perdana mereka. Tak henti pria itu menghentak rumah milik sang istri sembari bibirnya tak tinggal diam. Terus mencium bibir maupun menyesap pucuk dada Lana yang menegang sempurna.


Tangan Lana pun bergerak manja meremas helaian rambut Vi, sang suami. Membuat Vi semakin bergairah memacu tubuhnya. Hingga beberapa waktu berlalu. Sesuatu seakan ingin meledak dari tubuh Lana. Membuat Lana mengencangkan cengkeraman tangannya pada lengan sang suami.


"Vi, aku..." ucap Lana ragu sambil menggigit bibir bawahnya. Semakin membuat wajah Lana terlihat sensual di mata Vi.


"Lepaskan saja. Jangan di tahan" bisik Vi diceruk leher sang istri.


Karena sebenarnya pelepasannyapun akan segera datang. Detik berikutnya, tubuh Lana menegang. Kala sesuatu benar-benar meledak dari inti tubuhnya. Menyiram milik Vi yang masih saja mengejar waktu untuk sampai puncaknya.


Tak berselang lama. Vi mengulum senyumnya. Semakin cepat memompa tubuh Lana. Membuat tubuh langsing itu bergetar hebat dengan pucuk dadanya yang bergerak seirama hentakan yang Vi buat.


Dan "aaahhhh" satu ******* panjang keluar dari bibir Vi. Bersamaan dengan pria itu menekan dalam miliknya hingga menyentuh titik terdalam rumah Lana. Di mana berbarengan dengan itu. Ledakan benih Vi di semburkan menuju persemaian di rahim Lana.


Nafas keduanya masih sama-sama memburu. Tersengal karena berusaha meraup oksigen yang seolah direnggut paksa dari paru-paru keduanya. Nikmat dan puas. Dua kata yang bisa digambarkan dari wajah sepasang suami istri itu. Keduanya menatap wajah masing-masing dengan seulas senyum tipis terukir di bibir masing-masing.


"Itu tadi yang namanya kli...maks atau pelepasan" ucap Vi membelai lembut wajah Lana. Menggunakan satu tangannya. Sedang tangan yang lainnya ia gunakan untuk menopang tubuhnya. Penyatuan mereka belum Vi lepas sama sekali.


Lana tersipu malu mendengar ucapan Vi. Teringat dulu, dia yang dengan polosnya langsung bertanya pada mbah Google apa itu pelepasan. Membuat dirinya jadi salah tingkah saat bertemu Vi di kemudian hari.


"Terima kasih By, benar-benar menjaganya untukku. Milikmu benar-benar sempit. Membuat milikku seolah tidak bisa bergerak. Tapi ini amazing. I love you, Lana" ucap Vi menatap dalam mata Lana.


"Aahhh itu karena milikmu yang kelewat gedhe" jawab Lana refleks.


Membuat detik berikutnya gadis itu eh salah wanita itu menutup mulutnya yang mulai ketularan somplaknya Young Jae kalau sudah bicara soal urusan ranjang.


"Kau mengakuinya?" tanya Vi.


"Ahh itu...itu..." Lana gelagapan. Bingung mau menjawab apa. Ingin mengakuinya tapi gengsi. Menghindar tapi nyatanya begitu. Milik Vi memang Lana akui besar dan panjang.


"Itu apa?" desak Vi.


"Aa turun dulu. Keluarkan itu dulu" rengek Lana.


Mencoba menggerakkan tubuhnya untuk melepas penyatuan mereka. Tanpa Lana sadari. Ulahnya itu membuat milik Vi yang tadinya mulai tertidur. Kini menggeliat bangun lagi di dalam rumahnya. Vi hanya diam saja. Membiarkan Lana melakukan apapun yang dia mau.


"Turun Vi..." rengek Lana lagi.


"Mau turun bagaimana kalau dia bangun lagi" celetuk Vi pada akhirnya.


Lana langsung membulatkan matanya mendengar hal itu.


"Bangun lagi? Maksudnya dia mau lagi?" tanya Lana tidak percaya. Pantas saja dia kembali merasakan sesak di area intinya.


Vi mengulum senyumnya. Melihat reaksi Lana yang baginya terlihat menggemaskan itu.


"Kan kamu pernah bilang kalau milikku mengerikan. Nah sekarang akan aku tunjukkan, dia benar-benar mengerikan kalau sudah kau bangunkan" seringai Vi penuh arti.


"Ehh aku tidak membangunkannya. Dia bangun sendiri. Vi tunggu dulu. Aku lelah. Aku ..emmppttt..."


Semua rengekan manja Lana tenggelam dalam tautan bibir yang kembali Vi lakukan. Pria itu kembali memancing gairah Lana untuk memasuki putaran kedua sesi bercinta mereka. Yang sebenarnya mulai membuat keduanya ketagihan. Terutama Vi. Terlebih kini milik Lana mulai kembali mencengkeram milikknya. Membuat pria itu mendesah tertahan diantara ciuman mereka yang kembali memanas.


***


"Vi...aku capek" keluh Lana.


Pagi menjelang. Dan kala mentari mulai menyinari kubah transparan tepat diatas mereka. Sinarnya terasa hangat menyentuh kulit dua insan yang masih bergelung manis dibawah satu selimut itu. Lana tertidur begitu tenang. Setelah semalam, Vi benar-benar membelenggunya sampai pagi.


Suaminya itu baru melepaskan sang istri ketika pagi hampir menjelang. Bisa dibayangkan bagaimana rasa lelah yang Lana alami. Tubuhnya serasa remuk meski dirinya merasa puas.


Dan ketika Lana baru saja menikmati sesi tidurnya yang damai. Dia diusik dengan gerakan sang suami yang seolah memancing dirinya untuk bercinta lagi. Hingga keluhan itu terdengar dari bibir Lana.


"Aku capek. Jangan menggangguku. Memangnya kamu tidak capek aja semalaman ngerjain aku terus" kembali Lana mengoceh tanpa membuka matanya.


Membuat Vi yang sebenarnya hanya ingin menekan tombol untuk menutup dome diatas mereka jadi tersenyum mendengar omelan sang istri. Vi pikir. Apa yang dulu dia pikirkan akhirnya jadi kenyataan. Kalau dia akan mendengar omelan sang istri di pagi hari untuk seumur hidupnya.


"Padahal aku hanya ingin menutup dome itu. Kenapa kamu jadi berpikir kalau aku mau lagi. Atau jangan-jangan kamu yang menginginkannya lagi" bisik Vi setelah menutup dome diatas mereka.


Blush,


Rona merah langsung menghiasi wajah Lana, yang langsung membuka mata matanya. Malu, ketika dirinya ditodong dengan ucapan seperti itu. Meski itu adalah dari suaminya sendiri. Atau bahkan ketika mereka baru saja melewati sesi panas semalam penuh.


"Aku tidak bermaksud seperti itu" kilah Lana.


"Lalu maksudnya?" goda Vi.


"Maksudnya aku mau tidur lagi, Vi" ucap Lana.


Lana membalik tubuhnya. Menghadap sang suami. Langsung memeluk tubuh Vi. Membenamkan wajahnya di ceruk leher Vi.


"By, apa yang kamu lakukan?" tanya Vi setengah menggeram. Karena miliknya yang tanpa sengaja tersentuh kaki Lana, bangun lagi.


"Boleh kan aku tidur seperti ini?" tanya Lana polos.


"Boleh sih" guman Vi pelan.


"Ya sudah, lalu apa masalahnya?" tanya Lana.


"Tidak ada sih" jawab Vi. Yang membuat Lana langsung menempatkan wajahnya di atas dada bidang Vi.


"Ehh?"


"Masalahnya tubuhku sekarang begitu sensitif dengan sentuhanmu, Na. Senggol sedikit dia langsung bangun pengen masuk rumah" gerutu Vi dalam hati.


"By, apa kamu tidak ingin mandi dulu. Lalu sarapan. Ini sudah siang" bujuk Vi.


Lana membuka matanya. Menatap suaminya.


Iya juga ya. Tubuhnya lengket sekali setelah semalaman dia mengeluarkan peluhnya. Juga rasa lapar yang mulai mendemo perutnya.


"Tapi nggak bisa jalan" rengek Lana.


Lana mencoba menggerakkan kakinya dan hasilnya rasa perih luar biasa terasa di inti tubuhnya. Belum area pangkal paha yang terasa sakit akibat dia membuka kakinya hampir sepanjang malam. Juga karena beradu dengan paha Vi yang notabene lebih liat.


"Aku akan menyiapkannya. Jangan risau" ucap Vi antusias.


Dia pikir akan bisa membuat miliknya masuk rumah lagi saat mereka berendam di jacuzzi yang ada di kamar mandi mereka.


Vi dengan cepat bangun dari tidurnya. Berjalan keluar dari kelambu yang mengitari ranjang besar mereka. Lana langsung menutup matanya. Melihat tubuh polos Vi lengkap dengan ular naga panjangnya yang terekspose dengan sangat jelas.


"Cihh mentang-mentang body bagus plus itunya gedhe. Jadi narsis banget dia" gerutu Lana tanpa sadar memuji tubuh Vi.


***