
"Hah"
Suara nafas yang dihembuskan kasar oleh Arch. Membuat Marina menoleh. Menatap Arch dengan tatapan penasaran.
"Ada apa?" tanya Marina.
"Masalah itu akhirnya datang juga pada Vi dan Lana" jawab Arch sambil menatap ke jalanan di depan mereka.
Arch memilih berkencan menģgunakan mobilnya. Pria itu memarkirkan mobilnya di sebuah taman. Kencan ala-ala piknik di mobil gitu.
"Setiap orang pasti punya masalah dalam hidupnya. Tak terkecuali kita. Vi dan Lana. Riko dan Kanaya. Semua, tinggal tunggu waktunya datang" ucap Marina bijak.
Sejenak Arch menatap Marina. Dia pikir semakin ke sini. Gadis tomboy itu terlihat semakin menunjukkan sisi dewasanya. Tidak seperti saat pertama kali mereka bertemu dulu. Mereka saling memaki tanpa henti.
"Ada apa?" tanya Marina yang sadar kalau Arch tengah menatapnya.
"Kenapa kamu jadi menggemaskan sekali sih?" jawab Arch.
"Ha? Menggemaskan? Aku ini tomboy bagaimana bisa disebut menggemaskan" sangkal Marina.
"Tomboy? Gampang tinggal pakein dress jadi feminim. Rambut pendek? Banyak sekarang yang tampil feminim dengan rambut pendek" jelas Arch.
"Kamu tidak masalah aku tomboy?" tanya Marina.
"Tidak. Kenapa juga aku harus bermasalah. Wong aku tahu ********** kamu" ucap Arch enteng.
Marina langsung mendelik mendengar ucapan Arch. Marina memang tomboy. Tapi asetnya tidak tomboy sama sekali. Arch bahkan seringkali harus menelan salivanya susah payah. Karena kadang dia bisa melihat belahan dada Marina dibalik kemeja yang sering Marina pakai. Sebab gadis itu dengan cueknya tidak mengancingkan dua kancing kemeja teratasnya.
Atau seringkali Marina mengenakan celana jeans ketat. Hingga kedua bemper belakangnya, yang begitu padat dan sintal itu tercetak sempurna. Namun karena saat dirinya dinas. Bagian belakang tubuhnya akan tertutup oleh jas dokternya yang lumayan bisa menutupi tubuh bagian belakangnya.
Namun begitu tetap saja. Saat bersama Arch. Gadis itu tidak mengenakan jas dokternya. Membuat semua terpampang nyata didepan mata Arch. Hingga kadang pria itu harus berusaha mengendalikan dirinya.
"Kamu kalau ngomong sembarangan" sudut Marina.
"Sembarangan bagaimana? Apa perlu aku sebutkan ukurannya" goda Arch sambil menaikkan satu alisnya.
"Aiisshh, kenapa kamu mesum begini sih otaknya. Perasaan dokter Armando doang yang pikirannya lempeng" jawab Marina.
"Ha? Riko? Lempeng otaknya? Belum tahu aja kamu. Berapa kali Riko nyolong nyium Kanaya waktu dia tidur" batin Arch geli.
"Kenapa malah diam? Mengakui kalau dokter Armando pria lempeng?" tanya Marina.
"Ha? Lempeng? Itu kalau Kanaya melek matanya. Coba suruh Kanaya tutup mata. Habis dia dihajar sama Riko" jawab Arch enteng.
"Maksudnya? Dokter Armando juga suka berpikiran mesum?" tanya Marina.
"Halo Marina Sayang, aku jamin tidak ada satu pria pun yang akan berpikiran lempeng ketika bersama seorang wanita. Apalagi mereka cuma berdua. Aku jamin setidaknya ada hal mesum yang terlintas di pikiran pria itu" jelas Arch.
Sesaat Marina menatap Arch tajam.
"Lalu apa kamu berpikiran sama saat ini?" todong Marina. Membuat Arch gelagapan seketika.
"Aa...itu...itu..."
Arch memaki dirinya sendiri. Karena termakan omonganya sendiri.
"Kalau iya. Apa yang kamu pikirkan sekarang?" tantang Marina. Mulai mengubah posisi duduknya. Menghadap ke arah Arch.
"Sial!! Kenapa dia jadi begitu menggoda?" batin Arch.
Karena sekarang, belahan dada Marina seolah melambai-lambai dari balik kemeja baby blue yang Marina pakai. Marina suka sekali menggunakan kemeja saat bekerja.
"Aah, aku tidak berpikir apa-apa" jawab Arch cepat.
"Benarkah? Tadi kamu bilang semua pria akan berpikiran saat bersama seorang wanita. Aku wanita lo. Tulen, original, no oplas" ucap Marina yang bagi Arch malah seperti sebuah rayuan.
"Baahhh!! Kenapa malah seperti SPG klinik kecantikan. Tapi bikin penasaran sih omongannya" batin Riko antara kesal dan penasaran.
"Malah diam" ucap Marina membuat Arch tersentak.
Sesaat Arch menatap Marina yang kembali menghadap ke depan. Sejak memutuskan untuk pacaran. Arch belum pernah sekalipun menyentuh Marina. Bukan karena gadis itu tidak menarik. Justru karena saking menarik dan menggoda. Arch benar-benar ingin menyentuh Marina kala mereka sudah menikah.
Namun sepertinya angan itu, hanya tinggal angan saja. Karena sekarang saja. Arch ingin sekali menyerang Marina. Gadis yang begitu cuek soal penampilan juga perasaan.
"Jadi masalah apa yang dihadapi Vi sama Lana" tanya Marina.
Membuka satu kotak besar es krim yang dia beli di kantin rumah sakit. Menyuapkannya perlahan ke dalam mulutnya. Membuat bibir Marina bergerak pelan. Menikmati rasa vanila dari es krim tersebut. Arch kembali harus menelan salivanya susah payah.
"Malah diam lagi" ucap Marina. Masih asyik menikmati es krimnya.
"Ahh, itu Papa Vi datang membuat salah paham antara keduanya" jelas Arch singkat.
"Salah paham hanya bisa diselesaikan dengan kepercayaan. Jika keduanya saling percaya semua itu bukan masalah lagi" ucap Marina santai.
"Lalu apa kamu percaya denganku?" tanya Arch.
"Tentu saja" jawab Marina yakin.
"Lalu apa kamu percaya jika aku memintanya sekarang?" tanya Arch mendekatkan wajahnya ke arah wajah Marina.
"Ehh tentu saja tidak. Aku wanita yang menjunjung tinggi pernikahan jadi menjauh saja jika kamu cuma mau tidur denganku" lagi Marina berucap santai.
"Berarti aku harus berusaha keras untuk merayumu ya" tanya Arch.
"Coba saja. Aku memang tidak pernah pacaran. Tapi aku sudah kenyang dengan segala jenis rayuan" ucap Marina menatap dalam mata Arch.
"Itu kan orang lain. Bukan aku. Lagipula aku tidak suka merayu. Aku lebih suka bertindak langsung. To the point"
Marina mengerutkan dahinya. Tidak paham dengan ucapan Arch.
"Contohnya?" tanya Marina.
"Seperti ini" jawab Arch.
Perlahan mendekatkan bibirnya ke bibir Marina. Sejurus kemudian. Bibir keduanya sudah saling menempel. Marina langsung membulatkan matanya. Begitu bibir Arch mulai menari diatas bibirnya.
Pria itu menggerakkan bibirnya begitu lembut. Satu tangan Arch berada di telinga Marina. Mengusapnya pelan. Menambah sensasi merinding di tubuh Marinà.
Detik berikutnya, Marina sudah mulai memejamkan matanya. Mulai menikmati ciuman Arch. Perlahan pula Marina membalas ciuman Arch meski masih kaku.
"Ini bukanlah ciuman pertamaku. Tapi ciuman Arch benar-benar membuatku terlena. He's a good kisser. Benar-benar luar biasa" batin Marina.
"Bibirnya benar-benar lembut. Manis. Benar-benar membuatku ketagihan. This is amazing" batin Arch.
Keduanya masih terus menikmati sesi ciuman mereka. Meski sesekali harus berhenti untuk mengambil nafas. Namun seolah tidak puas. Keduanya terus saja saling memagut. Bahkan tanpa sadar posisi Arch sudah berada di atas tubuh Marina.
Dengan tangan Arch secara reflek menurunkan kursi Marina. Membuat tubuh Marina setengah rebahan. Dengan Arch yang mulai menindih tubuh gadis itu.
"Arch"
Panggil Marina sensual. Membuat has*** Arch mulai menggila.Tangan Arch mulai tidak bisa dikondisikan. Menyentuh apapun yang bisa disentuhnya. Bahkan kemeja Marina sudah hampir terbuka. Membuat dada sintal Marina menggoda Arch.
Hampir saja tangan Arch menyentuh bagian itu. Ketika tangan Marina menahannya.
"Cukup Arch. Tidak sekarang kamu menikmatinya" ucap Marina.
Membuat has*** Arch menguap seketika. Pria itu langsung menhentikan aksinya.
"Sial! Bagaimana dia bisa keluar dari jeratan sentuhanku" batin Arch kesal.
"Oh come on Marina. Kamu mau menyiksaku?" tanya Arch setengah kecewa. Pria itu belum beralih dari atas tubuh Marina.
"Kan kamu yang mulai. Jadi harusnya kamu sudah siap dengan resikonya. Gagal atau berhasil. Bukankah aku bilang kalau aku sudah kenyang dengan rayuan gombal para pria" ucap Marina santai.
Gadis itu belum juga membenahi kemejanya yang terbuka.
"Marina Alesandra..." bisik Arch.
"Apa Archie Nevada Huang" jawab Marina.
"Gadis ini bisa membuatku gila" batin Arch.
Merangkak turun dari tubuh Marina.
"Kamu benar-benar keterlaluan Marina" umpat Arch.
"Apa kamu tidak?" balas Marina.
Arch mendengus kesal. Menatap tajam pada Marina.
"Marah ya?" goda Marina.
Membenahi kemejanya. Lantas menatap pada Arch. Yang memilih mengalihkan pandangannya ke depan. Enggan menatap pada Marina. Bukannya apa. Pria itu sedang menahan gejolak pada tubuh bagian bawahnya.
"Sial!! Malah dia ikut bangun lagi" batin Arch.
Pria itu masih menahan rasa kesal. Hingga sebuah kecupan mendarat di pipi Arch.
"Tanda minta maaf. Peace" ucap Marina sambil nyengir.
Arch langsung mengusap pipinya. Bekas ciuman Marina. Seulas senyum terukir di bibir Arch.
***