
Kehebohan terjadi ketika Tania mengetuk pintu kamar pengantin Vi dan Lana. Heran karena tidak ada jawaban ataupun tanda-tanda orang didalam. Ibu dua orang anak itu, meminta pihak hotel untuk membuka kamar pengantin itu.
Alangkah terkejutnya Tania. Karena kamar itu kosong. Tidak ada tanda-tanda kalau Vi dan Lana menginap di sana.
Langsung hebohlah wanita itu. Tanpa bertanya pada anak-anaknya. Tania langsung heboh, takut terjadi apa-apa. Ponsel Rafa berdering berulang kali. Padahal pria itu juga sangat lelah karena dia dan Valerie semalam juga baru saja melewati sesi panas mereka.
Namun melihat nama Tante Tania tertera di layar ponselnya. Pria itu terpaksa menerima panggilan dari Tania. Sedang Tania langsung menghubungi Rafa karena menganggap Rafalah yang paling bisa diandalkan. Tania lupa ada Hyun Ae yang masih lajang. Yang pastinya tidak kelelahan karena aktifitas panas.
"Ya, Tante" sapa Rafa dengan suara seraknya. Khas bangun tidur.
"Rafa, Vi dan Lana hilang!" ucap Tania dari ujung sana.
"Hilang?"
Sesaat pikiran Rafa ngeblank. Menatap ke arah Valerie yang baru saja keluar dari kamar mandi. Valerie turut mengerutkan dahinya. Mendengar kata "hilang" terucap dari bibir Rafa.
Perlahan Rafa mendudukkan dirinya. Dengan tubuh polosnya, Rafa terus mendengarkan ucapan Tania diujung sana.
"Tolong cari mereka Rafa. Tante takut kalau terjadi apa-apa pada mereka" ucap Tania diakhir kalimatnya.
"Ya, Tante"
Hanya itu yang bisa Rafa katakan. Apalagi. Rafa termenung. Nyawanya belum terkumpul sepenuhnya. Eh, sudah disuruh mencari pengantin baru yang dikabarkan "hilang". Rafa masih terbayang malam panas antara dirinya dan Valerie.
"Siapa yang hilang?" tanya Valerie. Mendekat ke arah sang suami. Yang langsung memeluk erat tubuh Valerie.
"Mandi dulu" ucap Valerie.
"Mandiin" rengek Rafa.
Boleh deh kalian para readers ketawa. Ngelihat pemilik Liu Corp yang terkenal angkuh dan dingin. Bisa bersikap manja pada Valerie. Wanita yang hanya dengan tiga kali pertemuan, mampu mengikat hati seorang Rafael Deandra Liu. Hingga Rafael berani mengambil keputusan untuk menikahi Valerie.
Kaizo, sang ayah jelas mencak-mencak. Ketika sang putra menghubungi dirinya. Hanya berkata,
"Pa, datanglah ke Shanghai bersama Mama. Ajak Radit atau siapapun yang bisa kalian ajak. Aku akan menikah besok. Pesawat sudah stand by di Soetta"
Begitu sampai di rumah utama keluarga Liu, pria itu langsung menjitak kepala sang putra. Mengira kalau sang putra sudah keluar jalur dengan menghamili anak gadis orang.
"Enak saja ngamilin anak orang. Rafa juga pilih-pilih Pa kalau mau bercocok tanam" elak Rafa karena sang Papa sudah bersiap untuk kembali menjitak kepala Rafa.
"Sudah deh. Restuin atau Rafa jadi jomblo akut" ancam Rafa.
Hingga pada akhirnya Kaizo menyetujui pilihan Rafa setelah Leo memberikan konfirmasi tentang identitas Valerie, yang memang gadis baik-baik.
"Mandi sendirilah. Nanti acaranya nggak cuma mandi aja kalau sudah masuk ke sana berdua" tolak Valerie.
"Jahat" cebik Rafa.
Valerie mengulum senyumnya.
"Selesaikan dulu urusan si pengantin baru. Nanti tak kasih ekstra service" ucap Valerie sambil mengedipkan sebelah matanya. Genit.
"Beneran ekstra service" tanya Rafa sumringah.
"Benerlah full service plus ekstra service" tegas Valerie.
Membuat Rafa dengan cepat melempar selimut tebal yang membalut tubuh polosnya. Hingga tubuh atletis nan seksi milik Rafa terpampang jelas di depan mata Valerie. Hingga Valerie seketika menutup matanya. Menghindari debaran jantung yang berpacu bak balapan F1 di sirkuit yang kecepatannya bisa membunuh orang.
"Tidak tergoda" goda Rafa sengaja mengecup bibir Valerie.
Valerie mencebikkan bibirnya, kesal. Suaminya itu paling tahu isi hatinya. Melihat bibir sang istri yang manyun. Membuat Rafa tersenyum.
"Tolong dikondisikan tu bibir" bisik Rafa.
"Mandi dulu sana. Nanti kena marah Tante" ucap Valerie sambil mendorong tubuh telan..jang sang suami ke kamar mandi.
Tidak berapa lama. Dengan wajah setengah ditekuk. Rafa masuk ke kamar Tania. Dimana semua orang sudah berkumpul. Menatap cemas ke arah Rafa yang langsung mengubah wajahnya ke serius mode on.
"Rafa..." ucap Tania panik.
"Tante jangan khawatir. Setidaknya Lana bersama Vi. Aku jamin Vi akan melindungi Lana" ucap Rafa menenangkan.
Tania mengangguk pelan. Lantas kembali duduk di samping Jayden.
"Kalian sudah mencari ke mana saja?" tanya Rafa sambil membuka laptopnya.
"Bukankah kemarin kita masih berbalas pesan ketika tahu mereka kabur dari pesta" ucap Arch.
"Iya. Aku juga sempat mengirim pesan pada Vi" timpal Rafa.
"Aku pikir mereka kembali ke kamar" guman Riko. Yang diangguki oleh yang lain.
"Tidak ada. Mereka tidak kembali ke sana" jawab Jayden.
"Mereka pergi dengan mobil Vi" ucap Rafa setelah berhasil meretas CCTV hotel itu.
"Mereka pergi kemana?" tanya Tania.
"Sebentar, Tan" ucap Rafa.
Hening sejenak.
"Apa Vi punya properti di Green Hill?" tanya Rafa.
Semua menggelengkan kepala tidak tahu. Rafa mengangkat wajahnya. Menatap wajah semua orang.
"Mobil Vi hilang saat memasuki Green Hill" ucap Rafa.
"Maksudmu hilang itu bagaimana?" tanya Marina yang ikut ada disana.
"Jangan bilang kecelakaan atau sejenisnya" duga Jayden. Membuat Tania histeris.
"Bukan seperti itu maksud Rafa, Tante. Maksud Rafa, mobil Vi hilang karena begitu sampai di Green Hill. Kawasan itu steril. Tidak bisa ditembus dengan jaringan internet atau sejenisnya" jelas Rafa.
Hening sejenak.
"Apa sih maksudmu aku tidak paham" ucap Arch mulai kesal.
"Maksudku begini pak Huang...( Arch langsung mencebik kesal mendengar panggilan Rafa untuknya. Yang lain ngakak sejenak)...jika kawasan itu milik Vi. Bisa jadi dia membuat kawasan itu memiliki firewall. Hingga aku sendiri tidak bisa menembusnya" jelas Rafa.
"Kamu tidak bisa menembusnya?" tanya Riko.
"Vi termasuk genius jika kalian ingin tahu. Aku saja sempat kewalahan ketika Lana memintaku untuk mencari siapa pembeli Heart of the Ocean waktu itu. Dan ketika aku berhasil memecahkan firewallnya. Dia hanya meninggalkan pesan...jika kamu bisa menembus ini berarti kamu tahu siapa aku...dan itu dalam bahasa Jerman"
"Biar kau berpikir kalau dia orang Jerman" tebak Riko.
"Bingo...tapi setelah aku cek lagi dari IP addressnya yang sangat, sangat susah di hack. Aku tahu itu dia" Rafa mengakhiri penyelidikannya.
"Lalu ini endingnya bagaimana?" tanya Young Jae yang dari tadi hanya diam, menyimak.
"Mau tahu endingnya? Hubungi Dika, tanya dia apa bosnya punya aset disana. Aku sedang malas menembus firewallnya Vi yang kayak labirin, bikin mumet aja?" usul Rafa.
Dan disinilah Dika, berdiri di depan Tania dan yang lainnya. Membuat Dika hanya bisa menelan ludahnya besar. Niat hati ingin menemui Vi, sekedar bertanya jika ada hal yang bosnya itu inginkan. Eh apes nasibnya Dika, malah dirinya yang disidang gegara sang bos dikabarkan raib bersama sang istri.
"Dika cukup jawab pertanyaan kami" pinta Jayden.
"Soal?" tanya Dika heran.
"Apa Bosmu punya rumah atau properti di Green Hill?" kali ini Rafa yang bertanya.
Dika sedikit mengingat-ingat.
Green Hill? Dika pikir pernah mendengar Fajar menyebut kawasan itu saat berbicara melalui telepon. Tapi sungguh dia tidak tahu pasti soal hal itu.
"Saya kurang pasti. Karena asisten Vi tidak hanya saya. Bisa jadi asistennya yang lain yang mengurusnya. Saya tidak mengurusi soal Green Hill" jawab Dika apa adanya.
"Kalau begitu hubungi Fajar. Tanyakan padanya soal Green Hill" desak Rafa.
Dika menciut nyalinya saat berhadapan dengan Rafa. Aura Rafa lebih mendominasi dan kuat. Tidak seperti Vi yang lebih santai dan hanya di saat tertentu saja mendominasi suasana.
Perlahan, Dika menghubungi Fajar.
"Ya pak Dika" sapa Fajar diujung sana.
"Apa Vi pemilik Green Hill?" tanya Dika to the poin.
Lama terdengar jawaban dari ujung sana. Hingga ketika Fajar selesai menjawab. Semua orang menahan rasa kesalnya. Bisa-bisanya ini terjadi pada mereka.
***
Bonus pict,
Kredit Instagram @xuzhibin94
Tu dapat bunga dari mas Rafa..😍🤗
***