
"Apa penyelidikanmu valid?" tanya Rafa.
Pria itu sedang berada di kamarnya. Baru saja menyelesaikan sesi mandinya. Hanya memakai handuk di pinggangnya. Hingga tubuh seksinya terpampang nyata di depan mata.
Rafa perlahan berjalan menuju ke arah meja di kamar tidurnya.Ada banyak berkas di atas meja itu. Dia mengambil satu. Valerie Cassandra, satu nama yang akhir-akhir ini mengisi kepala Rafa.
Gadis yang ia cari. Gadis yang ia cium secara tidak sengaja. Dan gadis yang beberapa waktu lalu menghabiskan malam panas bersamanya. Melalui David Tan, yang ternyata adalah sahabatnya Rafa mendapat semua info mengenai Valerie.
Hanya saja, sekarang Rafa kembali kehilangan gadis itu. Karena setelah operasi jantung ayah Valerie, lalu melalui masa pemulihan. Gadis itu dan ayahnya menghilang. Bahkan David sendiri tidak tahu kemana perginya kedua orang itu.
"Kemana kamu pergi?" guman Rafa.
Satu panggilan masuk ke ponsel Rafa.
"Sudah kau dapatkan orangnya?" tanya Rafa.
"..."
"Baik akan aku lihat" ucap Rafa.
Meraih laptopnya lantas menghidupkannya.
"Hanya itu yang bisa dapat kami dapatkan"
Sebuah pesan masuk ke dalam ponselnya. Membuat Rafa mengerutkan dahinya. Sejenak matanya menatap pada layar laptopnya. Hingga senyum smirk terbit di bibirnya.
"Kau tahu cara bermain-main rupanya" guman Rafa.
Sejenak mengulik laptopnya.
"Oke kita bermain-main sebentar. Sudah lama aku tidak menjadi hacker" lagi pria tampan itu berguman. Kembali jemari lentiknya berselancar dengan lincah diatas keyboard laptopnya. Hingga beberapa waktu berlalu.
"Ternyata kau tidak semudah yang aku tebak" guman Rafa sambil tersenyum.
***
Lana benar-benar mengalami bad mood sejak kehilangan berlian incarannya. Heart of the Ocean. Dia sudah kembali ke Surabaya tiga hari yang lalu. Dan tiga hari yang itu dia hanya mengurung diri di kamar jika tidak pergi bekerja.
Jayden dan Tania hanya saling pandang melihat tingkah putri sulungnya itu. Mau bagaimana lagi. Lana jika sudah ngambek susah di bujuk.
"Mas sudah menemukan buyernya. Tapi Mas tidak yakin kalau dia mau menjualnya kembali. Tapi satu hal yang pasti. Mas yakin Heart ot the Ocean akan jadi milikmu suatu hari nanti. Bahkan tanpa kamu mengeluarkan biaya sepeserpun"
Ucapan dari Rafa sebelum dirinya pulang ke Surabaya. Membuat Lana semakin jengkel saja. Di kantor, Lana banyak diam. Membuat Rahma dan yang lainnya juga saling pandang.
Di sisi lain,
Vi sedang berada di puncak kesibukannya. Tidak ada istirahat yang cukup baginya. Vi tahu Lana sudah kembali ke Surabaya. Dia juga tahu gadis itu sedang marah. Tapi apa daya. Dia tidak punya waktu untuk menemui pujaan hatinya itu.
"Hah!"
Vi tampak menghembuskan nafasnya kasar. Pria itu sedang mengambil nafas di sela-sela meeting maraton yang kerap terjadi belakangan ini.
Kredit Instagram @minnietan98
Namun ada senyum tipis terukir di bibirnya. Dia baru saja melihat Lana. Meski sekilas. Namun itu cukup menjadi moodboster bagi Vi.
"Kamu semakin cantik saja" guman Vi.
Vi membuka brangkas kecil di laci mejanya. Mengeluarkan sebuah kotak kecil berisi sebuah benda yang membuat Lana kesal bukan kepalang. "Heart of the Ocean", Vi adalah buyer yang memenangkan lelang berlian itu. Mengalahkan Lana,membuat gadis itu jengkel sampai sekarang.
Menatap benda berkilau yang membuat Vi merogoh koceknya lumayan dalam. Meski harga berlian itu masih dibawah motor Kawasaki Ninja H2R atau BMW i8 miliknya. Tapi tetap saja membuat Vi geleng-geleng kepala.
Vi sedang menunggu waktu yang tepat untuk memberikannya pada Lana. Pria itu memang sengaja membelinya untuk dijadikan hadiah kala melamar gadis itu.
Vi sudah bertekad untuk menjadikan Lana miliknya. Tidak peduli salah paham apa yang terjadi di masa lalu antara dua keluarga mereka. Yang Vi tahu. Dia hanya menginginkan Lana. Tidak ingin gadis lain. Cintanya terlalu besar untuk Lana.
"Ya Arch" jawab Vi.
"Sibuk tidak? Ke rumah Lana yuk. Kata om Jayden dia ngambek berkepanjangan sejak dari Shanghai" ajak Arch dari seberang sana.
"Siang ini aku tidak bisa Arch. Scheduleku penuh" keluh Vi.
"Siang ini aku juga tidak bisa. Aku ngajaknya nanti malam, bambang" ucap Arch gemas.
"Hei kau tidak bilang nanti malam, bambang" balas Vi.
"Cih"
Keduanya berdecih bersamaan.
"Kalau malam aku bisa. Tapi jam delapan aku baru selesai" Vi berucap.
"Kita bertemu disana" Arch berucap.
"Siap, bambang!" ledek Vi.
"Enak saja panggil bambang!" marah Arch.
Vi cekikikan sambil menutup panggilan ponselnya. Sejurus kemudian Vi tersenyum.
"See you tonight, Lana" batin Vi.
Malam datang,
Sebuah mobil jenis Pajero Sport Black Series tampak memasuki rumah Lana.
Kredit Google.com
Setelah menghubungi Om-nya minta izin untuk memasukkan mobilnya.
"Memang mobilnya ada berapa sih?" gerutu Jayden kesal.
"Malam Om" sapa Vi.
"Apa?" salak Jayden.
"Peace Om, peace Om" cengir Vi.
Jayden memutar matanya jengah. Membiarkan Vi masuk ke ruang tengah. Dimana Arch, Riko dan Young Jae sudah disana. Bermain game seperti biasa.
"What's up Bro" sapa Vi.
Membuat yang lain langsung menyambutnya.
"Datang juga. Kirain nggak jadi datang" seloroh Riko.
"Jadi dong. Kangen sama tu" canda Vi menunjuk kamar Lana dengan dagunya.
"Dasar bucin" ledek Arch.
"Dasar jomblo akut" balas Vi.
"Setidaknya masih ada Riko" jawab Arch santai.
"Eits, jangan salah. Riko otewe punya pacar lo" sahut Vi.
"What!!!" teriak Arch tidak percaya.
"Are you serious?" lagi Arch bertanya tidak percaya.
"Aku punya gebetan" cengir Riko.
Membuat Arch mendengus kesal. Berarti dia sendiri yang jomblo. Young Jae jangan ditanya. Dia pakarnya dalam pacaran. Pakar saking banyaknya gonta ganti pacar.
"Mau aku kenalin? Aku punya kenalan yang girlfriend material banget buat kak Arch" tawar Young Jae.
Arch sedikit berpikir. Dirinya benar-benar kesal mengetahui semua temannya sudah punya incaran.
"Boleh deh. Aku memang tidak punya waktu untuk memilih" Arch akhirnya menerima tawaran Young Jae.
Membuat Riko dan Vi saling pandang.
"Carikan yang baik, Young Jae" Vi memperingatkan.
"Siap pak Bos" seloroh Young Jae.
"Kalian sudah bertemu dengannya?" tanya Vi.
Arch dan Riko menggelengkan kepalanya.
"Ngambek beneran dia" ucap Riko sambil memainkan joystick-nya.
"Kau coba deh bujuk dia. Biasanya kau yang paling tahan banting dengan Lana" oceh Arch.
"Om mana. Mau minta izin. Nanti nggak minta izin digantung aku" tukas Vi.
"Ada di ruang keluarga. Nonton TV sama Mama" sahut Young Jae.
"Aku ke sana dulu kalau begitu" pamit Vi. Ketiganya hanya mengangguk mengiyakan.
"Ma...Mama" panggil Vi.
"Uuppss, sorry mengganggu" ucap Vi tidak enak. Melihay Jayden dan Tania yang berciuman.
"Ganggu saja kau!" kesal Jayden.
"Alah dipause dulu. Nanti dilanjut lagi" ucap Vi santai.
"Kau ini....mau apa?" tanya Jayden galak. Sedang Tania langsung memasang wajah manisnya.
"Sudah makan Vi?" tanya Tania.
"Sudah Ma, Vi mau minta izin ke kamar Lana" ucap Vi.
"Mau apa?" tanya Jayden.
"Aissh Om ini. Kangenlah pengen ketemu" goda Vi.
"Kenapa harus ke kamar?" selidik Jayden.
"Ya kalau begitu bujuk Lana keluar kamar" tantang Vi.
"Kau...."
"Alah Om Vi nggak bakal ngapa-ngapain Lana. Kalau pun iya besok Vi langsung nikahi Lana"
"Sembarangan kalau ngomong" bentak Jayden.
"Mas...." Tania memberikan tatapan intimidasinya. Membuat Jayden kicep seketika.
Vi langsung mengulum senyumnya melihat tingkah Jayden. Yang bucin berat ke Tania.
"Naik saja. Kalau dia tidak mau membuka pintu. Passwordnya tanggal lahir Lana" ucap Tania.
"Tahu Ma" jawab Vi asal. Melangkah naik ke lantai dua. Meninggalkan dua sejoli yang masih mesra meski umur tak lagi muda.
"Silahkan di to be continue part yang tadi belum tamat" seloroh Vi di ujung tangga.
"Alvian!!" geram Jayden.
Membuat Vi tertawa terbahak-bahak. Dia suka menggoda Jayden. Entah kenapa. Meski Jayden selalu galak pada Vi. Tapi Vi bisa lihat kalau Jayden juga menyayanginya. Bersama Jayden. Vi seolah menemukan sosok ayah yang sangat didambanya. Begitu perhatian dan hangat.
****