
Jayden menatap Vi yang bingung. Keduanya ada di ruang kerja sang papa mertua. Saking bingung dan shocknya. Vi tidak tahu harus berbuat apa. Hingga dia memutuskan. Untuk meminta saran pada papa mertuanya.
"Ini apa maksudnya?" tanya Jayden.
Setelah makan malam. Vi meminta Jayden untuk berbicara sebentar.
"Itu dia Pa. Vi tidak tahu karepnya Papaku itu bagaimana" jawab Vi ambigu.
"Kamu takut kalau udang dibalik bakwan" ucap Jayden.
"Ah Papa kenapa sekarang jadi receh begini sih. Udang dibalik bakwan ya dimakan mau diapain" kesal Vi. Dia serius, Jayden malah bercanda.
"Biar awet muda Vi. Pengen lama momong cucunya" jawab Jayden. Membuat Vi kicep seketika.
Diusia pernikahan mereka yang menginjak 3 bulan. Belum ada tanda-tanda Lana hamil. Padahal Kanaya dan Marina yang menikah belakangan malah sudah pada hamil satu bulan. Padahal tiap malam boleh dibilang. Vi selalu datang ke rumah Lana.
Seolah tahu kerisauan Vi. Jayden pun sedikit menghibur.
"Jangan khawatir soal momongan. Dia akan hadir di waktu yang tepat. Papa dulu juga lama bisa dapat Lana. Padahal tiap malam Papa lembur sama Mamamu" seloroh Jayden.
"Itu kan Mama stres berat gegara Papaku yang gendeng. Tapi Lana kan tidak" curhat Vi.
"Sudah jangan terlalu dipikirkan. Nanti kalian stres malah lebih lama lagi hamilnya. Nikmati saja waktu kalian. Anggap pacaran tanpa batas setelah menikah. Atau kalian mau bulan madu ke mana gitu. Shanghai? Sekalian nengok Rafa atau kemana terserah" saran Jayden.
Vi sejenak berpikir.
"Boleh deh Pa. Nanti Vi bicarakan sama Lana" putus Vi akhirnya.
Jayden mengangguk paham.
"So...back to topic now. Ini terus kamu maunya bagaimana?" tanya Jayden.
"Bisa tidak dokumen itu diperiksa lagi. Siapa tahu ada pasal yang bisa menikung Vi dilain hari. Vi tidak mau itu kejadian" pinta Vi.
"Boleh saja. Papa akan minta pengacara Papa untuk menganalisanya"
***
"Bahagia?" tanya Tania.
Mereka masih berada di ruang keluarga. Lana mengangguk mantap.
"Syukurlah" ucap Tania.
"Apa Vi baik padamu?" tanya Tania meski sebenarnya ia sangat tahu jawabannya. Tapi dia ingin mendengar sendiri jawaban dari bibir Lana.
"Baik. Sangat baik. Terima kasih sudah menyiapkan jodoh yang baik buat Lana. Bahkan ketika Lana belum lahir" jawab Lana berkaca-kaca.
Tania terharu mendengar jawaban Lana. Tidak salah dia memberikan putri tercintanya pada Vi.
***
"Mau bicara apa sih?" tanya Vi ketika Young Jae menarik tangannya menuju taman belakang.
"Saja. Tidak ingin elu ngamar mulu ma kakak gue" jawab Young Jae asal.
"Iri bilang Bos" Vi mencebik kesal mendengar jawaban Young Jae yang sengaja membuatnya tidak bisa segera masuk ke kamar Lana.
"Ada dia merepotkan elu? Kakak gue maksudnya" tanya Young Jae ketika keduanya sudah duduk di bangku taman.
"Tidak. Sama sekali tidak. Justru kehadirannya anugerah buat gue" jawab Vi menatap dalam wajah adik iparnya.
Mendengar ucapan Vi, Young Jae tersenyum. Merasa lega, kakaknya berada di tangan yang tepat.
"Gue bersyukur kalau begitu. Kakak gue nggak salah milih elu. Juga bonyok gue. Meski Papa suka sekali buat drama sama kamu" kata Young Jae.
"Justru gue seneng didramain sama Papa. Berasa dia perhatian dan sayang sama gue. Elu tahu kan, gue anak yang kurang kasih sayang" jawab sendu.
Young Jae menatap Vi yang menundukkan wajahnya.
"Mulai sekarang elu nggak sendiri lagi. Elu punya kita semua sebagai keluarga juga teman-teman. Jangan sedih lagi. Nanti ponakan gue gak otewe-otewe" ucap Young Jae.
Kini gantian Vi yang menatap Young Jae.
"Thank you, Brother" ucap Vi sambil memeluk Young Jae.
"Jagain kakak gue baik-baik. Meski gue tahu dia kadang menyebalkan" jawab Young Jae berkaca-kaca.
"Pasti. Sudahlah, gue mau balik kamar. Mau mandi. Terus otewe bikin ponakan sesuai request elu" ucap Vi sambil kabur dari hadapan Young Jae.
"Modus aja elu. Bilang aja elu bucin sama kakak gue" teriak Young Jae. Karena Vi sudah menghilang dari pandangan Young Jae.
"Aahh kakak gue yang judes bin galak. Ada juga akhirnya yang mau nerima elu apa adanya. Bucin berat lagi" monolog Young Jae seorang diri. Dengan mata berkaca-kaca. Menatap ke arah jendela kamar sang kakak di lantai dua.
***
"Semua yang tertulis di dokumen itu fine-fine saja. Tidak ada pasal ataupun ayat yang akan merugikan kamu di masa yang akan datang" ucap Jayden beberapa hari kemudian.
Vi sengaja mendatangi kantor sang mertua. Ketika Jayden memberitahu bahwa analisa dari pengacara keluarganya sudah selesai dilakukan.
"Papa yakin?" tanya Vi memastikan.
"Pengacara Papa bilang begitu. Lagipula pengacara Papa kenal Hendra Nasution. Reputasinya bagus. Dan hampir tidak dan belum pernah terlibat skandal atau apapun itu" tambah Jayden.
Hening sejenak.
"Mau mendengarkan sedikit saran dari Papa" tanya Jayden.
"Temui mereka. Bicaralah. Bagaimanapun mereka orang tuamu. Oke, mereka mengabaikanmu. Tapi jika bukan karena mereka kamu tidak mungkin ada. Pikirkan dititik itu" ucap Jayden.
Vi hanya terdiam mendengar saran Jayden.
***
Ucapan Jayden benar-benar mengganggu pikiran Vi. Dua hari sejak percakapan terakhir mereka. Dan hari ini, Vi benar-benar gelisah luar biasa.
"Om Dika, bisa minta nomer ponsel ayahku atau mamaku. Aku menghapusnya kemarin waktu aku marah pada mereka" pinta Vi pada Dika.
Sejenak Dika terpaku. Dia bingung harus menjawab apa.
"Om, punya tidak?" tanya Vi lagi.
"Ah itu...itu...
"Itu apa?" desak Vi.
Dika menarik nafasnya dalam.
"Vi, sebenarnya Papa dan Mamamu....
****
"Maaf merepotkan" ucap Vera.
"Tentu saja tidak" ucap Tania.
Vera menatap Tania dan juga Jayden bergantian. Mata wanita itu senantiasa berkaca-kaca.
"Maafkan aku. Maafkan kami. Kami banyak berbuat salah pada kalian" lirih Vera.
Tania memeluk Vera. Menepuk-nepuk pelan punggung sahabatnya itu.
"Tidak, kamu tidak berbuat banyak salah. Salahmu cuma satu. Kabur ke Sidney ikut si brengsek itu" canda Tania.
Ucapan Tania membuat Bryan menundukkan kepalanya. Merasa bersalah.
"Sudahlah. Mari lupakan masa lalu. Bukankah kalian ingin mulai hidup baru. Jika iya mulailah dengan menghilangkan rasa bersalah kalian" ucap Rey yang juga ada disana bersama Maura. Tak ketinggalan Sean dan juga Nita.
"Andai kalian tidak kabur ke Sidney waktu itu. Pasti kita bisa piknik sama-sama...bisa...aah banyaklah yang bisa kita kerjakan" seloroh Sean.
"Tidak masalah. Selesaikan liburan kalian. Lalu kembalilah. Kita bisa sama-sama momong cucu kita" ucap Jayden akhirnya buka suara.
Dan semua ucapan itu membuat Vera dan Bryan semakin terharu. Keduanya tidak bisa berkata-kata lagi. Mengingat banyaknya kesalahan yang mereka buat.
"Lupakan masa lalu. Dan mulailah hidup baru" lagi Jayden berucap.
Pelan Vera dan Bryan mengangguk.
"Apa dia belum mau menandatanganinya?" tanya Bryan.
"Sampai saat ini belum. Dia jelas perlu pertimbangan untuk menerima itu semua" jawab Rey.
"Tidak. Dia pasti curiga kalau aku akan menjebaknya lagi. Dia tipe yang begitu teliti. Tidak mau jatuh ke lubang yang sama" ucap Bryan.
Rey dan Jayden saling berpandangan.
"Nah itu tahu. Sabar saja. Nanti dia juga akan tanda tangan" seloroh Sean.
Hening sejenak.
"Kalau begitu kami masuk dulu. Sudah waktunya check in" ucap Vera beralasan.
Semakin lama di sana. Semakin membuat Vera merasa bersalah. Bahkan di keberangkatannya kali ini. Semua temannya hadir untuk mengantarkan.
Sebuah tamparan yang begitu keras untuk Vera dan Bryan. Sebuah tamparan yang langsung menyadarkan keduanya. Bahwa semua temannya begitu tulus kepada mereka. Dan mereka sadar telah menyia-nyiakan sahabat sebaik mereka.
"Penerbangan kalian masih satu jam lagi" ucap Nita.
"Ada beberapa hal yang harus kami urus" ucap Bryan beralasan. Diapun merasa sesak di dada jika berlama-lama berada di sana.
Sebenarnya baik Vera maupun Bryan ingin melihat wajah Vi sebelum liburan panjang mereka. Tapi mereka tidak berani berharap lebih. Cukup tahu, jika Vi begitu kecewa pada mereka.
Setelah berpelukan dengan semua pengantar mereka. Keduanya melangkah menuju ke pintu check in penerbangan internasional.
Namun baru mau melangkah masuk. Keduanya berbalik ketika mendengar satu suara yang begitu mereka harapkan.
"Pa....Ma....tunggu" teriak Vi.
Vera dan Bryan langsung menoleh ke sumber suara. Air mata keduanya langsung mengalir. Melihat Vi yang berlari ke arah mereka. Tidak bisa dibayangkan betapa bahagianya Vera dan Bryan.
Sungguh benar adanya, sebuah ungkapan yang berbunyi, jika bahagia itu sederhana.
***
Karya author yang baru sudah launching harap diantisipasi 😁😁
Nah lo nongol, dikepoin ya meski baru satu bab yang di up 😁😁
Happy reading everyone 🤗🤗🤗
***