
"Kau yakin akan meminta dia mengawal putrimu?" tanya Sean pada Jayden.
"Pilihan apalagi yang kupunya. Daripada mengirim dia pergi sendirian ke sana" jawab Jayden.
"Kau kan bisa menolak undangannya" saran Sean.
"Memang. Tapi dia menggunakan nama walikota di undangannya. Njelehi " maki Jayden.
Jayden sudah bersiap dengan setelan resminya. Mereka menunggu Tania dan Lana juga Vi yang tengah bersiap.
"Masalahnya meski satu undangan. Tapi pestanya dibagi dua. Formal untuk kami. Dan setelah acara pertunangan selesai. Mereka melanjutkan di ballroom sebelah. Yang sudah disulap menjadi diskotek. Aku nggak mungkin dong ngintilin Lana sampai ke sana" jelas Jayden.
"Harusnya Arch yang pergi" saran Sean.
"Iya tapi masalahnya wajah Arch sudah familiar di kalangan pebisnis. Mereka mengira aku mau besanan denganmu" seloroh Jayden.
"Ogah aku besanan sama kamu. Bisa darah tinggi aku. Gelut sama kamu tiap hari" oceh Sean.
Jayden terkekeh mendengar ocehan Sean.
"Berarti kamu mau dong besanan sama si brengsek itu" goda Sean.
"Nggak gitu juga kali" kilah Jayden.
"Sebenarnya yang tunangan siapa sih?" tanya Sean.
"Andre anaknya Hartanto yang juragan property" jawab Jayden.
"Wuih satu server tu sama Vi" timpal Sean.
"Iya sih sebenarnya" jawab Jayden.
"Om bisa biarkan mobilku masuk" pinta Vi dari arah belakang.
Pria itu rupanya sudah selesai bersiap. Jayden dan Sean sesaat terpana dengan penampilan Vi. Keduanya tidak mampu menampik kalau Vi memang punya pesona tersendiri.
"Wah kalau aku cewek aku pasti ngiler lihat kamu Le" seloroh Sean membuat Jayden merasa tertohok dengan ucapan Sean.
Kredit Instagram @xukai_empire
Mengenakan jas hitam sederhana. Namun aura Vi yang mempesona benar-benar terlihat.
"Kenapa kita tidak satu mobil?" tanya Jayden.
"Ogah jadi obat nyamuk buat Om" jawab Vi enteng.
Sean langsung terbawa terbawa terbahak-bahak mendengar jawaban Vi. Sedang Jayden langsung mencebik kesal.
"Bilang saja kau mau mesra-mesraan sama Lana" ketus Jayden.
"Itu kalau Lananya mau Om" jawab Vi santai.
"Pintar sekali kau ini menjawab"
"Aku kan agen perumahan jadi harus pandai ngomong"
"Agen perumahan gundulmu. Mana ada perumahan harganya di atas 10 M. Itu istana bukan perumahan" lagi Jayden hampir kehabisan kata-kata menghadapi Vi.
"Sudahlah Om. Mobilku dulu masukin" pinta Vi.
"Ambil ke depan sendiri. Sopirnya aku tidak mau memasukkannya"
"Siap Om" jawab Vi.
Detik berikutnya Vi menghubungi supir yang menghantarkan mobilnya.
"Pak, biarkan mobilnya masuk. Bapak tidak boleh masuk sama yang punya rumah" ucap Vi enteng. Membuat Jayden mendelik.
Kembali Sean tertawa terpingkal-pingkal di belakang punģgung Jayden.
"Aku rasa bukan bapaknya yang bikin kita darah tinggi. Anaknya saja sudah bisa buat kita stroke" kekeh Sean.
"Sudah siap?" tanya Tania dari belakang. Vi langsung membalikkan badannya. Wajahnya berbinar cerah melihat Lana, yang terlihat cantik dengan setelah semi formal berwarna baby blue.
Kredit Instagram @zgdxofficial
Simple sekaligus elegan. Lana pun tak kalah terpana dengan penampilan Vi yang serba hitam itu.
"Ehem" Jayden berdehem.
Membuyarkan sesi uwu diantara kedua insan yang suka ciuman tanpa status itu.
"Sudah nanti ilernya pada netes lho" seloroh Sean membuat Jayden menggelengkan kepalanya.
"Ayo berangkat" ajak Jayden.
"Aku sama papa ya" tanya Lana.
"Nggak bodyguardmu bawa mobil sendiri" ucap Jayden.
"Kamu punya mobil?" tanya Lana.
"Baru datang tadi siang" jawab Vi.
Sampai di depan pintu. Semua melongo melihat mobil sport hitam terparkir disana.
"Kau mau pamer ke aku ya?" tanya Jayden tajam. Melihat BMW i8 terparkir disana.
Kredit Google.com
"Boleh dong Om" jawab Vi santai.
"Ini mobil kamu?" tanya Lana tidak percaya.
"Nggak aku nyewa" jawab Vi.
"Aku serius" tanya Lana.
"Aku juga serius" jawab Vi.
Memberi kode pada Lana dengan kepalanya. Agar Lana masuk ke mobil. Karena Jayden dan Tania sudah mulai melandas di jalan raya.
Pada akhirnya Lana duduk juga di kursi penumpang. Disamping Vi.
"Aku lebih suka naik motor sebenarnya" guman Vi.
"Kenapa?" tanya Lana.
Vi mulai menghidupkan mesin mobilnya.
"Karena kau akan memelukku" jawab Vi santai.
"Apa?"
Lana terdiam, tidak jadi berucap.
"Tapi seperti ini juga tidak apa-apa. Karena aku bisa menciummu atau bahkan bisa bercin..."
"Stop Vi. Kamu ini mesum sekali sih" protes Lana.
"Apa salahnya mesum. Kita sudah sama-sama dewasa. Itu wajar untuk kita" jawab Vi.
Membuat Lana memutar matanya malas. Malas berdebat dengan Vi. Lana memilih membuang pandangannya ke luar. Menikmati jalanan malam hari ketika Vi mulai melajukan mobilnya.
"Lana..." panggil Vi.
"Hem" jawab Lana.
"Lana...
"Apa sih...
Cup,
Vi mencium bibir Lana sekilas.
"Moodboster" cengir Vi.
"Vi..."
"Lipsticknya tidak rusak kok"
"Memang tidak. Ini transferproof"
"Apa itu?"
"Tidak luntur. Tidak menempel ketika aku menyentuhnya"
"Wah itu artinya aku bisa menciummu sesuka hatiku dong"
"Tidak begitu juga kali. Kau pikir aku ini apa. Suka sekali menciumku" gerutu Lana.
"Lalu kau ingin seperti apa? Pacaran? Menikah?" tanya Vi.
"Sebenarnya apa sih yang kau rasakan padaku? Kau mencintaiku atau tidak?" todong Lana.
Lana jelas bingung dengan Vi. Pria itu suka sekali menciumnya. Panas, intens. Hingga membuat seluruh tubuhnya panas dingin. Belum sikap perhatian yang Vi miliki.
"Entahlah. Yang jelas aku suka semua yang ada didirimu. Bibirmu, tubuhmu, aromamu semua sungguh memabukkan" jawab Vi.
"Kau hanya berna*** padaku. Hanya ingin menikmati tubuhku saja. Aku benci pria seperti itu. Mau enaknya saja" ucap Lana kesal.
"Lana..bukan seperti itu maksudku. Aku juga ingin..
"Cukup Vi. Aku tidak ingin mendengar apapun lagi...
"Lana...
Perdebatan mereka berhenti karena ada panggilan dari ear piecenya. Sejenak keduanya terdiam. Lana jelas heran kenapa Vi memakai ear piece segala.
"Baik aku mengerti" ucap Vi.
"Apa pestanya diadakan di hotel XX" tanya Vi.
"Iya. Astaga dari tadi kau hanya berputar kesana kesini. Tanpa tahu hotelnya dimana" Lana berucap tidak percaya.
"Kan sekalian test drive" jawab Vi enteng.
Lana mencebik kesal.
"Jangan manyun. Kita sudah sampai. Tunggu sebentar" ucap Vi. Keluar dari mobilnya. Membuka pintu mobilnya untuk Lana.
"Lama sekali" ucap Jayden ketus.
"Dia tidak tahu tempatnya disini Pa" gerutu Lana.
"Test drive Om, test drive" cengir Vi.
Membuat Jayden kesal.
"Sudah Mas. Ayo kita masuk" ajak Tania.
Menggandeng lengan suaminya. Masuk ke dalam hotel.
"Aku masuk" lirih Vi melalui ear piece-nya.
Vi langsung mencekal tangan Lana. Memberi kode agar gadis itu melakukan hal sama seperti yang Tania lakukan.
"Haruskah?" tanya Lana.
"Haruslah. Kan aku bodyguard sekaligus pacarmu" jawab Vi.
"Pacar? Ogah aku punya pacar mesum kayak kamu" tolak Lana.
"Lalu maunya yang bagaimana? Mesum doang tidak mau. Apa perlu ditest diatas?" goda Vi menaikkan satu alisnya.
"Astaga kenapa di otakmu itu isinya itu saja. Tidak ada yang lain apa" gerutu Lana.
Namun tanpa sadar melingkarkan tangannya ke lengan Vi. Membuat Vi tersenyum. Mengikuti langkah Jayden dan Tania masuk ke dalam hotel.
"Isinya yang lain ya strategi pemasaran. Konsep bangunan, lainnya...dirimu" ucap Vi.
Mulai masuk ke ballroom hotel dimana pesta sudah dimulai. Beberapa orang nampak menyapa Lana. Maklum Lana lumayan terkenal dikalangan pebisnis. Muda, berbakat, cantik, kaya. Semua kriteria pacar atau bahkan istri ada pada Lana.
Namun malam itu, sepertinya para pebisnis itu harus mengurungkan niatnya untuk mendekati Lana. Mengingat di samping Lana berdiri Vi. Yang selalu menampilkan wajah dinginnya. Namun justru itulah yang membuat para wanita tertarik pada Vi.
"Aku pikir dia akan datang dengan Arch. Siapa pria yang datang bersama Lana?" ucap seorang pria. Yang sejak tadi memperhatikan Lana dan Vi.
"Aku tidak tahu" jawab temannya.
"Tidak masalah. Karena siapapun bodyguardmu. Malam ini kupastikan kau akan jadi milikku" ucap pria itu.
"No, aku tidak ikut campur lo. Aku tidak mau Jayden Lee membunuhku"
"Dia tidak akan bisa membunuhku. Bagaimana dia mau membunuh menantunya sendiri" ucap pria berpakaian hitam itu.
"Terserah. Yang penting aku sudah mengingatkanmu. Kau tanggung sendiri akibatnya oke?" ucap temannya. Menepuk pelan bahu pria berpakaian hitam itu. Lantas meninggalkannya.
"Kau akan jadi milikku malam ini. Alana Aira Lee" ucap pria itu lantas meminum habis red wine digelasnya.
"Kami menemukannya Tuan" ucap seseorang di ear piece Vi. Pria itu hanya mengikuti Lana kemana gadis itu membawanya.
"Bagus. Kau pikir siapa? Ingin bermain-main denganku. Jangan harap!" batin Vi geram.
****