
Di sebuah kamar, di kota Sidney,
Vera tampak menatap sendu selembar foto. Foto Vi dan seorang gadis cantik. "Lana" begitu nama yang Vera dengar ketika dia tidak sengaja melewati ruang kerja sang suami.
Mendengar teriakan marah Bryan. Karena Vi menolak pulang.
"Alana Aira Lee"
Vera kembali berguman. Benarkah gadis cantik yang tengah digandeng Vi itu adalah putri Tania. Sahabat baiknya dulu.
Rasa sesak itu kembali hadir. Tapi kali ini tidak seperti dulu. Dulu dia begitu menyalahkan Tania. Begitu percaya pada suaminya. Tapi beberapa tahun terakhir ini, pikirannya sedikit berubah. Dia kini lebih menginginkan mendengar penjelasan dari sisi Tania.
Sepatah ucapan dari papa mertuanya sedikit membukakan pintu hatinya.
..."Kau dan Tania saling mengenal sudah lama. Jauh sebelum kau mengenal suamimu Bryan. Jauh sebelum Tania mengenal Jayden. Takkan kau tidak tahu bagaimana sifat asli Tania. Apa menurutmu dengan sifatnya itu, dia bisa melakukan hal yang kau tuduhkan padanya. Tidakkah kau berpikir sampai ke tahap itu. Mencintai dan mempercayai suami itu bagus tapi lihat juga situasi dan kondisinya"...
Ucapan David terus terngiang di telinganya. Dia mulai ragu dengan tuduhannya sendiri. Tapi disatu sisi apa dia juga harus mencurigai Bryan. Karena suaminyalah itu yang melontarkan tuduhan itu pada Tania.
"Apa aku salah menuduh Tania?" batin Vera.
Masih terus menggenggam foto Vi dan Lana. Dan sekarang apa yang akan terjadi jika seandainya benar, Vi putranya mencintai Lana, putri Tania. Tidak terasa air mata Vera menetes.
"Apakah ini salah satu bentuk karma untukku. Aku mati-matian membenci Tania untuk alasan yang sampai sekarang masih belum jelas. Sedang putraku jatuh cinta pada putri Tania" batin Vera.
Terlebih semalam dia mendengar sang suami menghubungi sang putra. Meminta Vi untuk melakukan hal yang membuat Vera semakin curiga dengan Bryan. Apa yang sebenarnya yang tengah direncanakan oleh Bryan.
***
Vi tampak menatap view kota Surabaya dari jendela kantornya. Dia baru saja selesai meeting dengan bagian marketing. Dia benar-benar binģung. Dalam semalam dia menerima dua perintah yang saling berlawanan dari dua orang yang berbeda.
Setelah kepergian Jayden, sang papa menghubunginya.
..."Satu hal Vi, dekati Alana Aira Lee, dan buat dia jatuh cinta padamu. Maka kau tidak perlu pulang ke Sidney dalam waktu dekat ini"...
"Apa yang sebenarnya diinginkan dua orang itu" guman Vi bingung.
Kredit Instagram @ xukai_empire
Vi nampak termenung di meja kerjanya.
Tanpa dia sadari, Dika sudah berada didepannya.
"Ada yang Anda pikirkan Tuan?" tanya Dika membuyarkan pikirannya.
"Ahh tidak Om" Vi menjawab cepat.
Dika mulai menyiapkan berkas-berkas yang harus diperiksa oleh Vi, juga ditandatangi. Sejenak Vi menatap Dika yang tengah bekerja. Hingga satu pikiran masuk ke pikirannya.
"Om, apakah Om kenal dekat dengan Jayden Lee" tanya Vi tiba-tiba.
Membuat Dika menghentikan pekerjaannya.
"Maksud Tuan?" tanya Dika kurang paham.
"Apa Om tahu permasalahan apa yang pernah terjadi di masa lalu. Antara Jayden Lee dan papaku?" tanya Vi.
Dika diam sejenak.
"Yang saya tahu, pernah ada kesalahpahaman di masa lalu antara keluarga Lee dan Aditama. Tapi lebih jelasnya saya kurang tahu" jawab Dika diplomatis.
Dika tahu akar permasalahannya. Tapi dia tidak berani memberitahukan kepada Vi. Bukan ranahnya. Dan Dika tidak ingin melanggar ranah itu. Akan ada masanya Vi tahu semuanya. Memang Vi seharusnya tahu.
"Apa Om tidak mau menceritakannya kepada saya" pinta Vi.
"Maaf Tuan saya tidak berani" ucap Dika.
Vi tentu kecewa dengan jawaban Dika. Tapi dia juga tidak mau memaksa Dika. Kalau begitu dia harus mencari sendiri jawabannya.
"Memangnya ada masalah apa Tuan?" tanya Dika kepo.
"Jayden Lee menemuiku. Dia memintaku menjauhi Lana" jawab Vi.
"Sudah kuduga. Tuan Lee takut putrinya akan terluka seperti istrinya dulu. Meski Vi tidak seperti Bryan" batin Dika.
"Yang saya dengar seperti itu. Pastinya saya tidak tahu" jawab Dika ambigu.
"Istri tuan Lee sampai depresi malahan. Bagaimana tidak parah"
Vi menghela nafasnya pelan.
"Sepertinya ini akan sulit bagiku" batin Vi.
"Tuan.." panggil Dika.
"Ya?" sahut Vi.
"Boleh saya memberi saran?" tanya Dika sedikit sungkan. Vi memberi tanda untuk bicara pada Dika.
"Bisakah untuk sementara Tuan menjauhi Nona Lana dulu" ucap Dika takut-takut.
Dia takut kalau Vi menuruni sifat temperamental Bryan. Vi hanya diam mendengar ucapan Dika.
"Itu akan membuat Anda terlihat baik di mata tuan Lee. Dengan begitu tuan Lee bisa mengubah pandangannya kepada Anda" saran Dika.
Vi nampak terdiam. Mempertimbangkan saran dari Dika ada bagusnya juga. Sekaligus dia ingin mengetahui reaksi papanya. Bagaimana jika dia tidak menuruti permintaannya.
Vi jelas curiga dengan maksud papanya agar dirinya mendekati Lana. Membuat Lana jatuh cinta padanya. Padahal tanpa disuruh pun, Vi bakalan nguber tu cewek sampai ujung dunia kalau perlu.
Jika tujuannya baik, Vi tidak masalah. Tapi jika hanya untuk menyakiti Lana atau keluarganya. Vi tidak akan membiarkannya.
"Oke kalau begitu. Aku akan ambil saranmu. Kita lupakan Lana sebentar" putus Vi pada akhirnya.
Dika langsung bernafas lega. Vi berbeda dengan Bryan. Vi masih bisa diajak berpikir menggunakan logikanya. Tidak hanya mengandalkan emosinya saja.
"Lagipula kita akan sibuk sekali dalam beberapa waktu ke depan bukan?" tanya Vi.
"Benar sekali Tuan. Anda harus mengecek pembangunan rumah sakit milik tuan Riko. Karena ada beberapa masalah yang dilaporkan oleh manager disana" info Dika.
"Riko? Sepertinya namanya tidak asing" batin Vi.
Sementara itu disisi lain. Di rumah sakit yang pembangunannya ditangani oleh perusahaan konstruksi milik Vi. Pemiliknya sedang memijat pelan pelipisnya.
"Bagaimana bisa ada masalah seperti ini?" tanya Riko geram.
"Mereka melaporkan ada delay dalam pengiriman material Pak" jawab staf yang bertanggungjawab dalam pembangunan rumah sakit miliknya.
Sebenarnya bukan pembangunan dari nol. Tapi perluasan bangunan rumah sakit. Penambahan fasilitas disana sini membuat rumah sakit itu mulai kehabisan tempat. Padahal lahan masih luas. Karena itu pemiliknya memutuskan untuk menambah bangunan di kawasan rumah sakit miliknya.
Rumah sakit bernama AR Medical Centre itu dimiliki oleh putra Rey. Taufik Riko Armando dengan investasi dari Kaizo Aditya dan dukungan peralatan medis yang disupport oleh Huang Enterprise.
Membuat rumah sakit itu dalam waktu singkat menjadi rumah sakit swasta yang menjadi favorit sebagian warga Surabaya yang ingin berobat kala sakit mendera.
Riko dengan dukungan dari teman-teman dokternya mulai mengelola bisnis rumah sakit. Namun meskipun bisnis. Rumah sakit milik Riko tetap mengutamakan warga kurang mampu dalam pelayanannya. Salah satu nilai plus dari rumah sakit milik Riko.
Riko mulai menikmati perannya sebagai CEO muda sekaligus dokter bedah di rumah sakitnya sendiri. Meskipun dia harus mengorbankan sedikit waktunya, karena tidak lagi bisa hang out sewaktu-waktu bersama teman karibnya. Lana, Archie dan Young Jae.
Riko tampak mengamati beberapa lembar kertas berisi profile beberapa dokter yang akan masuk untuk bergabung di rumah sakitnya. Semakin banyak pasien yang datang. Semakin banyak dokter yang diperlukan. Apalagi beberapa bagian mulai mengeluhkan kekurangan tenaga medis dan juga dokter.
Membaca berkas itu satu persatu. Ia ingin mempekerjakan dokter yang benar-benar kompeten di bidangnya. Hingga para pasien bisa puas dengan pelayanan di rumah sakitnya. Dia hampir meremat berkas profile para dokter itu. Berpikir mereka semua tidak kompeten.
Hingga di berkas terakhir dia urung meremat kertas itu.
"Dokter Serafina Kanaya SpB"
"Cantik" guman Riko.
Kesan pertama yang Riko dapat dari foto profile dokter baru itu. Bukan hanya karena dia sedang membutuhkan dokter bedah. Tapi dalam CV dokter Serafina Kanaya ada surat rekomendasi dari salah seorang profesor di universitasnya dulu. Dan dia kenal baik dengan profesor itu.
"Halo, bisa kamu aturkan interviewku dengan dokter Serafina Kanaya?" tanya Riko pada Satya, asistennya.
"Siap pak dokter" jawab Satya di seberang.
"Sepertinya aku pernah bertemu dengannya" guman Riko menatap berkas dokter Kanaya, begitu dia dipanggil.
***