
Vi memeluk kedua orang tuanya penuh haru. Entah apa yang akan terjadi jika Dika tidak memberitahukan soal keberangkatan orang tuanya ke Swiss untuk berlibur. Mungkin Vi tidak akan bisa bertemu Vera dan Bryan.
Dika juga telah memberitahukan bahwa Vera dan Bryan secara pribadi telah menemui Jayden dan Tania juga yang lainnya. Untuk meminta maaf. Mengakui semua kesalahan di masa lalu. Dan berjanji untuk membuka lembaran hidup baru. Setelah mereka kembali dari liburan mereka ke Swiss.
Satu kenyataan yang membuat Vi terkejut. Dika meyakinkan Vi. Jika Vera dan Bryan sudah berubah. Berusaha memperbaiki diri. Dan tidak ingin mengulangi kesalahan yang sama.
"Kenapa tidak bilang kalau berangkat hari ini?" tanya Vi.
Satu pertanyaan yang membuat semua orang terharu. Pada akhirnya semuanya berakhir baik. Seperti awal pertemuan mereka. Hubungan anak dan orang tua itu mulai mencair.
"Kami pikir kamu tidak mungkin mau mengantar kami. Ataupun melihat kami" jawab Vera sendu.
Dia cukup tahu diri. Ingin diperhatikan tapi tidak pernah memperhatikan. Ingin dicintai tapi tidak pernah berusaha untuk mencintai.
"Tentu saja Vi akan mengantar. Vi akan melihat kalian pergi" jawab Vi berkaca-kaca.
"Vi....." ucapan Vera tercekat di kerongkongannya. Tiba-tiba saja tenggorokannya menjadi kering tiba-tiba.
"Maafkan kami. Maafkan semua kesalahan kami. Kami membuatmu menderita. Kami mengabaikanmu. Kami....sungguh bukan orang tua yang baik untukmu. Kami melakukan banyak kesalahan di masa lalu" ucap Bryan.
"Tapi kalian tidak akan melakukannya lagi kan?" potong Vi cepat.
"Ya?" Kedua orang itu melongo mendengar pertanyaan Vi.
"Vi tanya. Apa kalian akan melakukan kesalahan itu lagi?" tanya Vi
Semua orang saling pandang. Tanpa semua orang tahu. Sebuah keputusan sudah Vi ambil. Atas saran dari Dika, juga pertimbangan banyak hal.
"Maafkan mereka. Mereka benar-benar menyesal kali ini. Om melihat kesungguhan dan ketulusan ketika mereka mengatakan bahwa mereka ingin berubah. Mereka sudah mencoba memperbaiki diri. Bagaimana denganmu? Apa kamu ingin membiarkan selamanya hatimu dikuasai oleh rasa benci, sakit hati dan tidak puas hati?"
"Berilah kesempatan pada diri kalian masing-masing untuk berubah. Nikmati hidup kalian yang indah selagi bisa. Jangan menyia-nyiakan kesempatan yang datang. Karena mungkin kesempatan itu tidak datang dua kali. Jangan sampai menyesal apabila sudah terlambat"
Satu wejangan dari Dika. Sang asisten sekaligus satu-satunya keluarga kakeknya yang masih hidup.
Tidak. Vi tidak ingin ada penyesalan dalam hidupnya. Akhirnya setelah berkutat panjang dengan pikirannya sendiri. Pria tampan itu akhirnya mengambil keputusan. Memberi dirinya dan orang tuanya kesempatan untuk berubah menjadi lebih baik.
"Kami akan berusaha menjadi lebih baik. Tidak mengulangi kesalahan lagi. Jadi berikan kami kesempatan. Kami ingin menebus kesalahan kami" ucap Vera bersungguh-sunguh. Ucapan yang juga diangguki oleh Bryan.
"Maafkan Papa, Vi" ucap Bryan dengan bibir bergetar menahan sesak di dada.
Baru kali ini dia berada sedekat ini dengan sang putra. Seulas senyum terukir di bibir Vi untuk sang Papa. Pertama kali dalam hidupnya Vi tersenyum pada Bryan. Dalam hatinya Vi benar-benar berusaha memaafkan kedua orang tuanya.
Hati Bryan menghangat melihat senyum Vi. Sungguh pemandangan yang sangat indah bagi Bryan. Apalagi ketika detik berikutnya. Vi memeluk Bryan. Bryan sampai melongo tidak percaya.
"Vi...." ucap Bryan dengan tangis tertahan.
"Ya, Pa" jawab Vi tak kalah terharu.
"Maafkan Papa Vi. Maafkan Papa" ucap Bryan berkali-kali.
Sejenak keduanya menikmati moment itu. Membuat semua orang kompak mengusap air mata mereka yang mengalir berjamaah di pipi masing-masing.
Vera sendiri sudah menangis tersedu-sedu dalam pelukan Vera dan Nita.
"Jangan ulangi kesalahan Papa lagi. Atau aku tidak segan-segan untuk menghabisi Papa dengan Glock-ku. Punyaku legal Pa" ancam Vi setengah bercanda.
"Tentu. Bunuh Papa jika Papa berbuat kesalahan lagi" jawab Bryan serius.
"Aku bercanda, Pa" cengir Vi.
Seketika tawa meledak di tempat itu.
"Tidak ingin menyusul?" tanya Bryan.
"Eemm, tanya Lana dulu. Tapi ogah ah. Honeymoon bareng ortu. Nggak seru" jawab Vi.
Bryan mendelik mendengar jawaban Vi.
"Kau benar-benar memberikan pengaruh buruk pada Vi, Jayden" tuduh Bryan.
"Enak saja. Itu karena dia berteman dengan Young Jae. Jadi kacau begitu. Lagipula aku lebih suka mengerjainya daripada mengajarinya hal-hal yang unfaedah" kilah Jayden.
"Ngaku juga dia" seloroh Sean.
Vi hanya nyengir mendengar ucapan receh semua orang. Hingga panggilan check in terakhir untuk penerbangan ke Swiss terdengar.
"Kami pergi dulu" ucap Vera pada akhirnya. Sebenarnya dia enggan untuk pergi setelah berbaikan dengan Vi dan semua.
Tapi Bryan memberinya kode untuk masuk.
"Kapan pulang?" tanya Vi.
"Tidak tahu. Ooh, tanda tangani berkas itu. Supaya kami bisa bebas liburan selama yang kami mau" pinta Bryan.
"Akan aku pikirkan lagi" jawab Vi.
"Kebanyakan pertimbangan kamu" ledek Sean.
"Itu penting Om" jawab Vi lagi.
"Cepatlah pulang. Kini kalian punya rumah untuk kalian singgahi" ucap Tania.
"Yaah, mungkin sembilan bulan lagi. Siapa tahu ada yang menghubungi kami untuk minta bantuan menggendong anak" ucap Vera melirik Vi.
"Kode Vi..kode Vi" pancing Rey.
"Iisshh kalian ini pada ngeledek Vi saja. Mentang-mentang Vi doang yang belum berhasil bercocok tanam" jawab Vi kesal.
"Astaga, bahasa apa itu Vi" tanya Bryan.
"Haaa ini ortu kurang update. Besok pulang biar dia kursus bahasa gaul sama Young Jae" seloroh Jayden.
Bryan langsung mendelik ke arah Jayden.
"Sudah sana. Cepat berangkat, cepat pulang" usir Nita. Yang sebenarnya sudah tidak tahan dengan momen haru itu.
"Kami pergi dulu. Salam buat Lana. Itu juga kalau dia bersedia memaafkan kami" kembali raut wajah sendu tergambar di wajah Vera dan Bryan.
"Vi akan bicara dan bujuk dia" ucap Vi.
"Jangan dipaksa kalau tidak mau" pinta Vera.
"Tentu saja"
Setelah kembali memeluk Vi cukup lama. Akhirnya dengan berat hati Vera dan Bryan masuk juga ke area check in keberangkatan internasional. Sesaat melambaikan tangan ke semua orang yang mengantar. Hingga tubuh keduanya hilang dari pandangan mereka.
Semua orang menarik nafasnya lega. Detik berikutnya mereka semua tertawa. Seolah memiliki pemikiran yang sama. Beban yang mengganjal di hati mereka sudah hilang.
"Serius dengan ucapanmu?" tanya Jayden.
"Vi mencoba, Pa. Tidak mudah bagi Vi melupakan sikap mereka selama ini. Tapi setidaknya Vi mencoba memaafkan. Masak iya selamanya mau sakit hati terus. Kan udah mau jadi ayah" ucap Vi.
"Memang Lana sudah hamil" tanya Maura.
"Belum sih, Tan. Masih otewe" cengir Vi.
"Nggak niat kali kamunya" seloroh Rey.
"Banget Om. Tapi belum ada yang nyangkut. Mau gimana coba" jawab Vi.
"Gass poll terus kalau begitu" usul Sean.
"Pastinya Om" jawab Vi semangat.
"Tu kan malah kalian yang ngajarin ni anak yang nggak-nggak" celetuk Jayden.
"Bukan hal aneh. Hanya petuah berdasar pengalaman" bela Rey.
"Sama saja kali" cebik Jayden.
Kembali gelak tawa terdengar. Sungguh suasana yang membuat Vi dan semua bahagia. Salah paham selama hampir dua puluh lima tahun ini akhirnya selesai sudah. Semua merasa lega.
***