
Rencana pernikahan Vi dan Lana sampai ke telinga Bryan. Membuat pria itu marah luar biasa. Dia masih di Surabaya. Memilih mengendalikan perusahaannya sendiri dari sana.
Sedang Vera sang istri masih di Sidney. Hubungannya keduanya agak memburuk sejak pertemuan terakhir mereka yang sebenarnya berubah menjadi sesi panas bagi keduanya.
"Sial! Berani sekali dia melangkahiku!" maki Bryan pada Vi, putra kandungnya sendiri.
Semakin marah ketika Vera justru mendukung keputusan sang putra.
"Aku tidak akan membiarkan mereka menikah!"
Ucap Bryan dengan tangan terkepal. Menahan amarah yang hampir meledak di kepalanya. Perlahan Bryan memejamkan matanya. Mencari cara untuk menggagalkan rencana pernikahan putranya sendiri. Gila, Bryan memang seperti orang gila.
Bukannya ikut senang dengan kebahagiaan putranya, tapi pria malah ingin menghancurkannya tanpa sisa. Aneh sekali bukan.
Setelah beberapa saat berpikir. Akhirnya Bryan membuka matanya. Satu rencana terlintas di kepalanya. Membuat pria itu mengulas senyum liciknya.
"Hanya satu orang yang bisa mengubah keputusanmu Vi" ucap Bryan penuh makna.
Bryan sendiri tahu. Kalau bukan Vera yang bisa mengendalikan putranya, Vi. Tapi orang lain yang dulu pernah singgah di hatinya.
"Sepertinya tidak buruk untuk sesekali bertemu dengan masa lalu" guman Bryan.
Mengusap pelan dagunya. Bersamaan dengan ponselnya yang berbunyi. Sebuah nomor yang tidak dikenal tertera di layar ponselnya. Sedikit mengerutkan dahinya. Namun pada akhirnya dia mengangkatnya juga.
"Halo..."
Senyum Bryan semakin terkembang. Mendengar suara si penelepon diujung sana.
"Kau sendiri yang datang padaku. Jadi jangan salahkan aku" ucap Bryan.
***
Bryan menatap tubuh seorang wanita yang tengah terlelap di ranjangnya. Rasa kagum jelas terpancar dari tatapan mata Bryan.
Bryan akui belum bisa sepenuhnya melupakan wanita yang kini tertidur akibat ulahnya. Yang mencampurkan obat tidur pada minuman wanita itu.
Pelan, Bryan duduk di sisi ranjangnya. Mengusap pelan wajah wanita itu. Menyingkirkan anak rambut yang menghalangi pandangan mata Bryan.
"Kamu semakin cantik saja. Pantas saja Vi begitu tergila-gila pada Lana" guman Bryan.
Ya, wanita yang kini meringkuk di ranjangnya itu adalah Tania. Beberapa waktu lalu, Tania menghubungi Bryan. Bermaksud berbicara soal pernikahan Vi dan Lana. Berharap pria itu bisa mengerti. Mau menerima pernikahan Lana dan Vi. Bisa hadir di pernikahan mereka yang sejatinya akan digelar akhir minggu depan.
Namun tindakan Tania yang menemui Bryan seorang diri ternyata salah. Pria itu ternyata punya rencana lain untuk dirinya. Tania langsung tertidur begitu minum, minuman yang telah dicampur obat tidur.
Tubuh Tania menggeliat pelan. Membuat Bryan semakin terpana pada tubuh Tania yang masih terlihat seksi di usia yang tak lagi muda.
"Dulu aku selalu gagal saat ingin menikmati tubuhmu" guman Bryan sambil memainkan rambut panjang Tania. Semakin penasaran.
Ditatapnya wajah Tania dengan pandangan yang sulit diartikan. Perlahan mulai menurunkan wajahnya. Mengikis jarak di antara dirinya dan Tania. Hingga "cup", satu ciuman mendarat di bibir pink Tania.
"Rasanya masih sama seperti saat aku dulu menciummu"
Batin Bryan semakin memperdalam ciumannya. Disertai ******** juga pagutan yang tidak kunjung berhenti. Bryan semakin menggila saat mencium bibir Tania tanpa henti.
***
"Apa maksudmu kau kehilangan Tania?" tanya Jayden pada Rey, panik.
Jayden tahu Tania keluar untuk makan siang. Seperti biasa pengawal bayangan selalu Jayden siapkan untuk Tania dan Lana.
Namun hari ini menjelang sore. Dan tidak ada kabar dari Tania. Membuat pengawal bayangan itu melapor pada Rey. Yang langsung panik dibuatnya.
"Tania tidak terlihat keluar dari restoran itu" jawab Rey sama paniknya dengan Jayden.
Lama tidak ada apapun yang menganggu ketentraman keluarga Jayden. Bahkan rival bisnispun boleh dibilang tidak ada. Semua pebisnis akan berpikir ulang untuk berbuat licik pada keluarga Lee dan yang berhubungan dengan mereka. Mengingat ada tiga raksasa bisnis yang berdiri di belakang Jayden dan keluarganya.
Salah langkah atau membuat masalah. Bisa dipastikan karir atau bisnis mereka akan hancur dalam hitungan menit. Kejam bukan? Tapi begitulah aturan dalam dunia bisnis. Yang kuat akan selalu menang. Tidak ada kompromi sama sekali. Jadi bersikap profesional adalah pilihan yang mereka punya. Di luar itu, semua akan diselesaikan dengan cara lain.
Jayden dan Rey tampak berpikir. Hingga satu ide terlintas di kepalanya. Cepat, pria itu meraih laptopnya. Menguliknya sebentar. Sejurus kemudian Jayden mengerutkan dahinya.
"Vi apa kau tahu alamat itu ada di mana?" tanya Jayden.
"Itu rumah kakek David, Pa. Ada apa?" tanya Vi dari seberang.
Jayden sendiri secara terbuka telah menerima Vi sebagai menantunya. Dengan meminta Vi tidak lagi memanggilnya Om. Tapi Papa. Satu panggilan yang membuat Vi langsung memeluk Jayden erat. Jayden memang galak padanya tapi Vi tahu dengan jelas. Kalau pria itu sangat menyayangi dirinya. Berbeda dengan Papa kandungnya.
"Sial! Semoga saja yang kupikirkan tidak terjadi" batin Jayden cemas.
"Pa? Papa kenapa diam? Ada apa?" tanya Vi.
"Oh tidak. Hanya bertanya saja" jawab Jayden lantas menutup panggilannya.
"Rey ikut denganku. Si brengsek itu masih saja mencari masalah" gerutu Jayden.
Rey mengikuti langkah Jayden. Seolah tahu maksud perkataan Jayden.
Sementara itu, Vi yang baru saja menjemput Vera di bandara. Termenung, memikirkan ucapan Jayden.
"Apa ada masalah? Kenapa suara Papa Jayden terdengar cemas"batin Vi.
Lantas bangkit dari duduknya. Berjalan menuju pintu apartemennya.
"Vi keluar sebentar Ma. Ada urusan" jawab Vi.
"Hati-hati kalau begitu" pesan Vera. Yang dijawab anģgukan kepala oleh Vi.
****
Tania perlahan membuka matanya. Sedikit memicingkan mata. Menyesuaikan dengan pencahayaan kamar yang terang benderang. Pelan, menyentuh kepalanya yang terasa sedikit pusing.
"Ini dimana?" gumannya lirih.
Mencoba mengingat kejadian sebelum dia tidak sadarkan diri atau lebih tepatnya tertidur.
"Bryan!" ucapnya kesal.
Tania jelas mengingat kalau dia tidak sadarkan diri setelah meminum minuman yang diantarkan seorang pelayan setelah kedatangan Bryan.
"Apa maksudnya melakukan ini padaku?" lagi Tania berucap marah sambil turun dari ranjang besar. Menelisik pakaiannya sendiri yang masih utuh. Semoga tidak terjadi apa-apa di luar kendalinya.
"Kau sudah bangun?" tanya Bryan santai. Dari arah pintu kamar.
"Maumu apa sih? Pakai acara kasih aku obat tidur segala" gerutu Tania.
Gerutuan Tania membuat Bryan tertawa.
"Kau sama sekali tidak berubah" ucap Bryan.
Tania mendengus kesal mendengar ucapan Bryan.
"Apa maumu?" tanya Tania lagi.
Dia pikir berapa lama dia tidur. Pukul berapa sekarang? Ahh pasti Jayden sedang bingung mencarinya. Berbagai pikiran berkecamuk di benak Tania.
"Slow down Baby. Mari sedikit mengingat masa lalu" ucap Bryan santai.
"Aku tidak lagi mengurusi masa lalu. Lebih penting mengurusi masa depan putramu" ketus Tania.
Mendengar nama Vi disinggung. Bryan mengepalkan kedua tangannya.
"Karena itulah kau di sini. Aku ingin kau membuat Vi membatalkan pernikahannya" ucap Bryan to the point.
Ucapan Bryan membuat Tania membulatkan matanya. Tidak percaya dengan apa yang didengarnya dari mulut Bryan.
"Apa kau gila? Vi dan Lana menikah minggu depan. Dan kau ingin Vi membatalkannya?" cecar Tania.
"Anggap saja seperti itu..aku gila. Tapi aku tidak ingin Vi menikah dengan Lana" ucap Bryan santai.
"Apa alasannya?" tanya Tania.
"Entahlah. Mungkin karena....aku tidak suka" kembali Bryan menjawab santai.
"Kau benar-benar tidak waras Bry. Vi itu anakmu. Anak kandungmu. Sudah cukup kau mengabaikannya sejak kecil. Tidak menyayanginya sama sekali. Sekarang kau tidak boleh menghalangi kebahagiaannya" tegas Tania.
"Kalau aku tidak mau" jawab Bryan tidak kalah tegasnya.
Tania mengeratkan rahangnya. Menahan amarahnya sendiri. Masih berharap kalau Bryan berubah pikiran.
"Buat Vi membatalkan pernikahannya. Itu yang aku inginkan" ucap Bryan serius.
"Aku tidak mau!" tolak Tania tegas.
"Aku akan membuatmu melakukannya" ucap Bryan merangsek maju. Menyudutkan Tania ke tembok kamar.
"Kau mau apa Bry?!" tanya Tania panik.
"Kupikir tidak masalah jika kita bercinta meski hanya sekali. Mungkin dulu aku tidak sempat menyentuhmu. Tapi sekarang apa salahnya kita mencoba" ucap Bryan sambil berusaha menyentuh tubuh Tania.
"Hei apa yang kau lakukan Bry?" pekik Tania.
"Bercinta denganmu. Karena kau tidak mau menuruti kemauanku"
"Kemauan gilamu itu! Jangan mimpi!"
"Kalau begitu kau memilih bercinta denganku"
"Jangan kurang ajar kamu ya!"
"Oh come on Tania. Aku juga tidak kalah dengan suamimu" ledek Bryan.
"Jangan mendekat Bry!"
Tania panik saat Bryan semakin mendekati tubuhnya. Mengikis jarak diantara mereka. Pria itu mengurung tubuh langsing Tania dengan kedua lengan kekarnya. Sementara Bryan berusaha untuk mencium Tania. Tania kian panik. Berusaha menahan tubuh Bryan agar tidak semakin menghimpit tubuhnya. Bibir Bryan hampir menjangkau bibir Tania ketika suara mobil terdengar masuk ke halaman rumah itu.
Diiringi suara gedoran pintu dan teriakan dari luar pintu. Bryan langsung mendengus kesal. Kesempatan itu tidak disia-siakan oleh Tania. Tania mendorong jauh tubuh Bryan. Berusaha melarikan diri. Tapi sia-sia saja. Karena dengan sigap Bryan menangkap tubuh Tania. Membuat ibu dua anak itu tidak bisa bergerak.
"Sial! Siapa sih mengganggu saja!" maki Bryan dalam hati.
***