
"Eh, dia sudah pergi" Lana celingak celinguk di ruang tengah. Mencari keberadaan Vi yang tidak dia lihat di manapun.
"Bagus deh kalau begitu" ucap Lana lega.
Lana melirik jam tangannya. Hampir makan siang. Melihat ke arah pintu kamar tamu. Mas Rafanya pasti belum bangun. Dia sendiri tidak akan berani masuk ke kamar Rafa. Dia tahu kebiasaan para sepupunya kalau tidur suka shirtless.
Yang lain mungkin tidak akan terlalu berpengaruh pada Lana. Tapi kalau Rafa atau Hyun Ae damage-nya besar banget ke Lana. Beneran bisa ngiler Lana kalau lihat abs Rafa dan Hyung-nya itu.
Meraih ponselnya. Lantas mulai memesan makan siang untuk mereka berdua. Selesai memesan, Lana kembali masuk ke kamarnya. Bersamaan dengan Rafa yang keluar dari kamar tamu.
"La? Kemana tu anak?" guman Rafa.
Berjalan menuju ke dapur. Mencari minum. Pria itu tampak berantakan, tampilan khas orang bangun tidur. Tapi apapun itu bagi Lana, Rafa selalu terlihat tampan apapun keadaannya.
Rafa masih berada didapur. Duduk di sana sambil menikmati susu almond yang dia jumpai di kulkas. Ketika Lana keluar dari kamarnya. Memakai kaos longgar meski bawahnya memakai hot pants favoritnya.
"Jangan pakai itu kalau keluar" Rafa memperingatkan Lana.
"Iishh mas Rafa itu seperti Archie sama Riko saja. Ini tidak boleh, itu tidak boleh" keluh Lana.
Rafa mengulum senyumnya.
"Lana kamu itu sudah besar. Body kamu bisa bikin cowok di luar sana ngiler" jelas Rafa cukup khawatir dengan kecuekan Lana.
"Iya-iya" jawab Lana cari jalan aman.
"Ini aku masih mending. Coba kalau kamu ketemu hyungmu. Dia lebih cerewet dari aku soal baju perempuan. Tidak heran kalau mbakmu Lia selalu gelut sama abangnya kalau mau ke pesta" seloroh Rafa.
"Ha? Masak sih?" tanya Lana tidak percaya.
"Aku pernah cerita belum? Yang Lia ngambek terus kabur ke rumah. Nah dia ngomongnya ke Nathan kalau mau nginep . Terus tidurnya di kamarku. Pas aku ke Singapura. Ya hebohlah semua orang. Dikiranya Lia beneran kabur bahkan diculik. Untungnya Om Kai bisa ngelacak cincinnya mbakmu. Jadi ketemu dikamarku" Rafa memulai ceritanya.
Lana melongo.
"Dan kamu tahu nggak kenapa dia ngambek lalu kabur?" tanya Rafa.
"Mas itu punyaku" rengek Lana melihat Rafa meneguk susu almondnya.
"He... he...nemu sih" cengir Rafa.
Lana memanyunkan bibirnya.
"Jadi diteruskan nggak nih dongengnya" sela Rafa mengalihkan kemanyunan Lana.
"Eehh iya kenapa?" tanya Lana melupakan masalah susu almondnya yang habis ditenggak sepupu tampannya itu.
Rafa mengulum senyumnya.
"Dia ngambek kalah gelut sama hyungnya soal baju. Kamu tahu kan mbakmu style-nya agak terbuka. Meski tidak terlalu. Tapi hyungmu menyuruh mbakmu pakai baju yang tertutup dari atas sampai bawah. Dia bilang kalau dipesta banyak undangan prianya"
"Ya mbakmu proteslah. Kata Lia, hyung ingin bungkus aku kayak lemper ya" Rafa meledakkan tawanya.
Disusul Lana yang juga tertawa terbahak-bahak.
"Hyung mah ada-ada saja" celetuk Lana.
"Makanya pakai baju yang bener kalau depan dia. Nanti kamu dibungkus kayak lemper baru tahu kamu" Rafa ikut berkomentar di sela-sela tawanya.
Ting tong,
Bel apartement berbunyi,
"Our food is coming" Lana berseru senang.
Beranjak ke pintu.
"Eh, aku saja. Tu paha ke mana-mana juga" gerutu Rafa.
Lana nyengir, membiarkan Rafa mengambil pesanan makanan mereka. Sedikit lama, karena Rafa sedikit mencurigai kurirnya. Kurirnya tampak bukan seperti kurir biasa. Insting Rafa yang kuat membuatnya waspada.
"Lama sekali" gerutu Lana.
"Memastikan sesuatu. Kurirnya mencurigakan. Kamu tidak merasa diikuti akhir-akhir ini?" tanya Rafa.
Mulai menyiapkan makan siang mereka.
"Enggak kenapa?" tanya Lana mengambil piring dari dalam lemari di kitchen set.
"Aku bilang kurirnya mencurigakan" Rafa mengulangi ucapannya.
"Mas, yang nganterin orang bagian lobi. Kurir dari restoran mah tidak bisa naik ke sini. Mereka hanya bisa mengantar sampai lobi" jelas Lana.
"Tetap saja mencurigakan" ucap Rafa.
"Tapi makanannya aman kok ini. Masih utuh. Segelan" analisa Lana.
"Makanannya aman. Aku hanya takut mereka mengincar kamu waktu kamu sendirian. Tahu sendiri banyak orang yang menargetkan kita. Apalagi kamu keponakan langsung dari papa. Papa itu paling khawatir sama kamu" jelas Rafa.
"Kan aku punya bodyguard banyak disini. Mas Rafa tenang saja" ucap Lana menenangkan.
Rafa menarik nafasnya dalam. Sejauh ini memang tidak ada indikasi yang menunjukkan seseorang menargetkan mereka. Tapi mereka harus tetap waspada.
Tak berapa lama, makanan sudah terhidang di meja. Chinesse food.
Kredit Instagram@ xuzhibin94
Mari makan bareng Mas Rafa, sorry ya Mas Rafanya gak puasa ππ
"Ini enak. Hampir sama rasanya dengan aslinya" puji Rafa menyantap ikan steam-nya.
Lana tersenyum mendengar pujian Rafa.
"Kamu pinter milih restonya. Bisa masak ini nggak" tanya Rafa.
"Enggak" jawab Lana.
Rafa menatap Lana.
"Nggak bisa bersihin ikannya, Mas. Licin" keluh Lana.
"Ya minta dibersihin sekalian dong waktu beli" saran Rafa.
"Iya-iya. Kapan-kapan kalo lagi mood" jawab Lana.
Rafa menyukai masakan Lana. Lana cukup berbakat dalam memasak. Masakannya lebih enak daripada Tania, sang mama. Rupanya bakat memasak Jayden menurun pada Lana.
"Tapi kan mas Rafa nggak tahu kapan ke sini lagi" ucap Lana.
"Kamu dong sekali-kali main ke Jakarta. Yang lain rindu sama kamu. Tapi mereka sibuk. Tidak sempat ke mari. Apalagi mbakmu Lia" seloroh Rafa.
"Ehe, kangen ngemall bareng" timpal Lana.
"Ngabisin duit bapaknya" seloroh Rafa.
"Perempuan kalau lihat mall. Pacar aja kalah" gerutu Rafa.
"Sok tahu, emang pacar mas Rafa begitu" tanya Lana.
"Jomblo woi" keluh Rafa.
"Sama..."
Tawa keduanya pecah seketika. Menertawakan diri sendiri yang jomblo akut.
"Perasaan Young Jae saja yang punya pengalaman pacaran" seloroh Rafa.
"Emang Mas Nathan tidak" tanya Lana.
"Pernah sekali itu dia pacaran. Tapi dia putusin. Katanya pacarnya ribet. Kata Nathan, gue pacaran buat cari ketenangan jiwa. Biar nggak disebut jomblo akut. Eh ternyata eh ternyata"
"Cuma bikin pusing kepala" tebak Lana.
Rafa mengangguk. Kembali keduanya tertawa cekikikan.
"Ya paling enggak bibirnya mas Nathan sudah nggak perjaka lagi. Seenggaknya dia pasti pernah ciuman sama pacarnya" seloroh Lana.
"Kamu meledekku ya" todong Rafa.
"Ehh enggak. Emang mas Rafa sudah pernah ciuman" tanya Lana.
Rafa terdiam. Ingatannya melayang ke dua bulan yang lalu. Kala dia berada di Shanghai. Waktu itu dia tidak sengaja mencium seorang gadis yang sedang mabuk.
"Mau aku ceritakan rahasiaku" bisik Rafa.
Membuat Lana kepo.
"Ha? Rahasia apa? Mas Rafa pernah ML?" tebak Lana.
"Sembarangan. Ganteng-ganteng begini aku masih perjaka" kilah Rafa.
Lana menepuk jidatnya. Tidak percaya jika Rafa ternyata narsis juga.
"Iya, iya ganteng seklan Liu. Siapa itu anaknya Uncle Luis saja kalah"
"Alex?"
"He e, Alex"
"Dia kirim salam, aku lupa bilang. Dia bilang kirim salam ke sepupumu yang cantik. Aku rindu padanya"
"Huwek..."Lana menirukan gerakan orang muntah.
Rafa tertawa terbahak-bahak.
"Ogah sama Alex. Playboy akut dari klan Liu. Mending sama Kenzo" seloroh Lana.
"Yeah, Alex memang parah. Uncle Luis benar-benar pusing mikirin Alex. Kalau Kenzo jangan ditanya. Mletre sedikit saja Uncle Steve bisa mengirimnya ke kutub utara. Mantan marinir, jangan ditanya tegasnya kaya apa" tambah Rafa.
Lana manggut-manggut mendengar cerita Rafa soal sepupunya dari klan Liu.
"Oh ya tadi katanya mau cerita "top secret" tagih Lana.
Rafa menarik nafasnya dalam. Lantas mulai bercerita.
"Mas, sudah pernah ciuman" Rafa membuka ceritanya.
"Wah, seriously? Siapa dia?" kepo Lana.
Lana memang termehek-mehek dengan Rafa dan Hyun Ae. Tapi Lana juga sadar kalau mereka hanya sepupu. Jadi sebisa mungkin Lana tidak akan cemburu atau kecewa jika kedua sepupunya itu pada akhirnya jatuh cinta atau punya pacar.
"No idea" jawab Rafa ambigu.
"Ha? Bagaimana bisa?" Lana semakin penasaran.
Rafa mengedikkan bahunya.
"Hanya ciuman atau sampai ML?" desak Lana.
"Ck, ciuman doang. Meski ya sempat ni tangan gerilya ke mana-mana" Rafa berdecak kesal mendengar tuduhan Lana.
Lana mendelik mendengar jawaban Rafa.
"Dia mabuk woi. Dia yang mancing duluan..
"Terus Mas Rafa main sosor aja" tebak Lana.
"Ya iyalah. Ada kesempatan. Mana dia cantik. Seksi lagi...aduuh sakit, Na" ringis Rafa ketika Lana mengeplak lengannya.
"Tu bibir pake filter dong kalo ngomong" protes Lana.
Rafa hanya tersenyum mendengar protes Lana.
"Terus sudah ketemu lagi sama tu cewek" tanya Lana.
Rafa menggelengkan kepalanya.
"Wahh rahasia mas Rafa ada sama aku" ucap Lana tersenyum smirk.
"Alah, itu rahasia kecil. Tapi aku jadi penasaran sama tu cewek"
"Cari dong. Bos klan Liu cari cewek satu seantero Shanghai kok gak bisa" ledek Lana.
"Masalahnya yang tahu wajahnya cuma aku. Aku cari di semua CCTV klub itu tidak ketemu" jawab Rafa.
"Mas Rafa suka sama tu cewek" tanya Lana lagi.
Lagi-lagi Rafa hanya mengedikkan bahunya.
"Aku penasaran dengan cewek itu" batin Rafa.
"Lalu bagaimana mas Rafa akan mencarinya"
"Aku tidak berniat mencarinya. Tapi aku bisa mengenalinya dengan mudah jika dia ada didekatku" jawab Rafa sambil melamunkan satu wajah yang terkadang memenuhi pikirannya.
Seorang gadis yang menjadi first kiss-nya seorang Rafael Deandra Liu.
**
Minta maaf ya akhir-akhir ini, author lagi oleng sama visualnya Rafa. Gegara reels-nya yang banyak bertebaran di IG author,
Author kan pecinta look oriental meski tidak menampik pesona bule jika ada yang cucok meong ππ
Jadi nikmati sajalah selama masih bebas dipandangππππ
***