
Lana masih terus mengumpat kesal, bagaimana dia bisa bermimpi semesum itu dengan pria gila yang baru sekali dia temui. Berjalan sambil terus menggeleng-gelengkan kepalanya.
Niat hati yang tadinya ingin tidur seharian mendadak ambyar gegara mimpi erotis yang dia alami. Hingga akhirnya dia memutuskan untuk keluar jalan-jalan. Menghilangkan memori otaknya yang terkontaminasi part mesum.
Lana sudah berjalan keluar lobi ketika seseorang memanggilnya.
"Lana..." panggil suara.
Lana langsung mencari sumber suara yang terdengar familiar untuknya. Dan benar matanya berbinar cerah seketika. Melihat mas Rafanya tersenyum sambil melambaikan tangan ke arah dirinya.
"Mas Rafa..." teriak Lana langsung berlari menghambur ke pelukan kakak sepupunya.
Kredit Instagram @ binbin_soleil
Mas Rafa yang selalu bikin oleng author eh Lana 🤣🤣
"Sudah bangun?" tanya Rafa mengusap lembut kepala adik sepupunya itu.
"Lah memang mas Rafa nelepon?" tanya Lana.
Rafa menghela nafasnya.
"Nggak lihat berapa kali Mas nelepon. Hampir Mas mau hubungin om Rey biar bangunin kamu" ucap Rafa setengah menggerutu.
"Maaf deh. Tadinya Lana mau molor seharian. Eh ada insiden jadi Lana batalin deh molornya" jawab Lana sambil nyengir.
"Isshh cantik, cantik kok molor"
Lana terkekeh. Hilang sudah bayangan mimpi mesumnya, berganti dengan wajah Rafa yang selalu membuat Lana on fokus pada tampannya sang sepupu
"Duh, coba bukan kakak sepupu. Gue kejar juga ni orang sampe ujung dunia" batin Lana.
"Ya sudah Lana ganti jadi bocan. Bobok cantik" jawab Lana membuat Rafa tersenyum.
Lana benar-benar seperti orang yang jatuh cinta pada Rafa. Senyum tak pernah lekang dari wajah cantiknya kala menatap Rafa.
"Oh ya Mas, tumben ke sini? Ada bisniskah? Atau jadi wakil Pakdhe lagi?" tanya Lana.
"Mas lagi otw Melbourne, Mas pikir memang mau mampir kan memang ada transit di Juanda kalau mau ke sana. Eh ini malah flight-nya delay sampai nanti sore. Ya sudah Mas ke sini saja" jelas Rafa.
Membuat senyum Lana semakin lebar.
"Terus ini mau kemana? Mau jalan-jalan disini. Atau nyantai di sini atau mau ke rumah biar dimasakin Mama. Kan masih sampai nanti sore tu"
"Sini saja deh. Temenin Mas ya. Mas capek baru juga landing dari Shanghai kemarin. Eh sudah dilempar lagi ke sana" keluh Rafa.
"La mas Nathan gak bisa pergi?" tanya Lana menyebut nama adik Rafa.
"Schedule-nya Nathan sudah penuh. Ditambah dia kan lagi ngerjain tesisnya" jawab Rafa.
Rafa dan Nathan, dua beradik ini dianugerahi otak super encer. Diusia mereka yang masih 21 tahun, keduanya sudah bisa menyelesaikan program pendidikan S2 mereka. Seolah keduanya sudah dipersiapkan untuk mewarisi bisnis kedua orang tuanya yang mencakup tiga wilayah. Jakarta-Singapura-Shanghai.
Hal yang mungkin hanya bisa disamai oleh Hyun Ae yang menyelesaikan program S2nya diusia 20 tahun. Membuat Lia, sang saudara kembar merasa dianaktirikan. Kembar kok pembagian gen-nya tidak adil. Begitu Lia selalu protes pada papa dan mamanya. Lee Joon dan Nina. Membuat keduanya pusing seketika kalau putrinya itu sudah mengungkit-ungkit soal pembagian gen. Mau dijawab bagaimana coba.
"Mas Nathan sudah ngerjain tesisnya?" tanya Lana antusias.
"He em" jawab Rafa mulai menyandarkan tubuh tingginya di punggung sofa.
"Mas Rafa istirahat di atas saja deh. Capek banget kayaknya" saran Lana.
"Memang sih. Tapi kalau Mas terlepas flight gimana?"
"Meetingnya nggak sekarang kan? Alah sini Melbourne banyak flight yang lain. Apa perlu pakai pesawatnya uncle Luis?" tanya Lana.
"Iissh gak perlulah. Meeting masih besok. Tapi papa minta aku sekalian cek cabang yang ada di sana. Lana tahu kan itu masih baru banget. Jadi masih perlu perhatian ekstra"
"Mending istirahat dulu aja. Sambil tak pesenin makan. Lana jangan disuruh masak lagi malas"
"Boleh deh, kalau gitu. Ngantuk banget aku" ucap Rafa mulai menguap.
Keduanya lantas naik ke apartement Lana. Membawa dua paperbag ditangan Rafa. Pemandangan itu sontak membuat sepasang mata menatap marah ke arah keduanya.
***
"Mas tidur dulu ya" pamit Rafa langsung masuk ke kamar tamu.
"Oke" Lana mengiyakan.
"Oh ya Na, itu paperbag buat kamu. Oleh-oleh dari Shanghai" ucap Rafa sebelum menghilang di balik pintu.
Lana langsung sumringah mendengar ucapan Rafa.
"Aahh mas Rafa aku padamu" pekik Lana.
Namun Rafa sudah memperingatkan Lana sejak awal lagi. Kalau mereka berdua adalah sepupu dekat. Jadi jangan berharap lebih dengan hubungan mereka. Karena hubungan mereka tidak akan lebih dari hubungan saudara.
Rafa sendiri memang menyayangi Lana sebagai adiknya. Mengingat dia hanya berdua dengan Nathan sang adik. Tanpa ada saudara perempuan. Juga Andra, putra Nadya dan Justin juga hanya berdua dengan Azka. Tidak ada saudara perempuan juga.
Hal ini menjadikan Lana begitu dimanja oleh kakak sepupu laki-lakinya itu. Dia seperti seorang putri dengan bodyguard tampan di sekelilingnya. Tidak di sini, tidak di Jakarta.
Lana tampak begitu senang dengan oleh-oleh yang Rafa belikan. Sebuah bola kristal berwarna ungu.
Kredit Google.com
Sedang paperbag satunya lagi berisi sebuah gaun cantik berwarna biru muda. Mas Rafanya memang paling tahu apa yang dia mau. Gadis itu masih senyum-senyum sendiri sambil memeluk bola kristal ungunya.
Lana menyukai bola kristal sejak lama. Namun cukup susah untuk mendapatkannya di dalam negeri. Hingga para sepupunya yang kadang membelikannya untuk dirinya. Yang paling sering ya Rafa. Secara dia yang paling sering ngeluyur ke luar negeri.
Lana masih senyum-senyum sendiri ketika bel apartemennya berbunyi. Lana mengerutkan dahinya. Siapa? Dia pikir belum memesan makanan. Berjalan malas ke arah pintu.
Matanya membulat melihat siapa yang berada didepan pintu apartemennya.
"Kamu?" ucap Lana sambil berusaha menutup pintu kembali.
Tapi orang itu mengganjal pintu menggunakan kakinya. Membuat Lana tidak bisa menutupnya.
"Kamu mau apa?" tanya Lana ketika Vi berhasil memaksa masuk.
Ya, orang itu adalah Vi yang marah karena Lana membawa Rafa ke apartemennya. Sedang Lana sedikit takut, dejavu dengan mimpinya sendiri.
"Kenapa aku tidak boleh kemari? Agar kau bisa berbuat sèenaknya dengan orang lain" desis Vi.
Yang membuat Vi merasa cukup lega, Lana memakai kaos dan celana jeans. Meski kaos itu cukup ketat membalut tubuh seksi Lana. Membuat dua aset kembar Lana terlihat begitu menggoda.
"Tubuhnya benar-benar membuatku ingin kembali menyentuhnya" batin Vi menatap tajam ke arah Lana.
Sedang Lana langsung memasang tampang judes mode on-nya.
"Ngapa-ngapain apa maksudmu?" tanya Lana galak.
Dia benar-benar merutuki dirinya yang bahkan saat ini kembali teringat dengan mimpi mesumnya. Teringat bagaimana liar dan manisnya ciuman Vi dalam mimpinya.
"Haisshh aku pasti sudah gila" batin Lana marah pada dirinya sendiri.
"Kau membawa masuk pria ke sini kan? Apa lagi kalau tidak melakukan apa-apa?" todong Vi.
"Pria? Dia sepupuku. Kau pikir aku akan berbuat apa dengan sepupuku sendiri?" Lana balik bertanya.
Lana begitu kesal dengan Vi yang menuduhnya sembarangan.
"Tetap saja dia seorang pria" jawab Vi enteng.
"Hei kau mau kemana?" desis Lana yang melihat Vi malah berjalan menuju sofa. lantas duduk disana.
"Aku akan jadi polisi disini. Mengawasi kalian berdua" modus Vi.
"Mas Rafa pria, kamu juga pria. Lalu kalian bedanya apa? Sudah keluar sana aku tidak perlu polisi di sini. Kau mengganggu saja. Sana pergi" usir Lana.
"Ooo, jadi itu yang namanya Rafa" batin Vi.
"Bedanya? Dia sepupumu. Aku orang lain" jawab Vi.
Membuat Lana mengerutkan dahinya.
"Lalu?" tanya Lana.
"Dia tidak bisa melakukan apa-apa padamu. Tapi aku bisa" seringai Vi.
Lana menatap waspada pada Vi.
"Jangan bertindak macam-macam di sini" ancam Lana.
"Kalau begitu duduklah, dan diam disitu" ucap Vi menunjuk sofa didepannya dengan dagunya.
"Iish ngapain juga aku harus nurut padamu. Daripada disini, mending aku bocan di kamar" ucap Lana berlalu menuju kamarnya. Membuat Vi mengulum senyumnya.
Mengingat bagaimana dia hampir kebablasan tadi pagi. Sesaat bayangan bagaimana ia begitu berna*** kala mencium Lana tadi pagi melintas di kepalanya.
"Bagaimana dia berpikir kalau itu hanyalah mimpi.Itu nyata, Lana" batin Vi kembali menyentuh bibirnya sendiri.
***
So, itu nyata ya guys. Lana doang yang menganggapnya mimpi. Soalnya dia masih merem. Waktu Vi nyiumin dia 🤧🤧
***