
Waktu terus berjalan. Sepertinya malam kian larut saja. Tidak tahu pasti. Pukul berapa saat itu, ketika Vi perlahan membuka matanya. Pusing hal pertama yang ia rasa. Vi menggerakkan tubuhnya pelan. Kenapa rasanya sakit semua.
Sebentar, dia sepertinya baru saja bermimpi memacu tubuhnya di atas tubuh Lana. Begitu nikmat dan aahh. Rasanya susah digambarkan dengan kata-kata.
Namun Vi segera menggelengkan kepalanya. Mengusir bayangan tubuh polos Lana yang baru saja ia nikmati dalam mimpinya.
"Aku pasti gila. Obat itu benar-benar membuatku tidak waras" pikir Vi.
Pria itu menatap sekelilingnya. Dia masih di kamar hotel. Kembali memindai. Hingga menemukan seseorang yang beberapa waktu lalu baru saja menjadi obyek fantasinya.
Lana, gadis itu tertidur di sofa tidak jauh dari ranjangnya. Wajahnya terlihat cantik. Membuat senyum Vi terkembang.
"Lihatlah wajah judesnya saja bisa membuatku mendapat pelepasan berkali-kali" batin Vi tersenyum.
Vi bangun dari tidurnya. Meraih gelas di atas nakasnya. Rasa haus serasa menyelimuti tenggorokannya. Hingga dua gelas langsung tandas Vi minum.
"Na...Lana.." panggil Vi. Dia pikir perlu bertanya di mana ponselnya.
"Lana..." Vi sedikit berteriak.
"Ah iya ada apa?" ucap Lana reflek.
Vi terkekeh melihat reaksi Lana.
"Kau latah juga" seru Lana.
"Ha? Kau sudah bangun?" Lana melompat dari sofa mendekat ke arah Vi.
Tapi kemudian buru-buru mundur kembali.
"Kenapa?" tanya Vi.
Wajah Lana memerah. Mengingat apa yang dia baca soal pe..le..pa.san dari mbah google. Yang bunyinya bla...bla...bla..cari ndiri ya...😁
"Aahh tidak apa-apa" jawab Lana gelagapan.
"Masih takut padaku?" tebak Vi.
Lana menggeleng. Perlahan menatap Vi. Namun buru-buru mengalihkan pandangannya. Melihat dada bidang Vi mengintip dari sela-sela handuk kimononya. Detik berikutnya Lana juga teringat jika Vi tidak mengenakan apapun di balik kimononya itu.
"Jangan berpikir yang aneh-aneh Lana, please" doa Lana dalam hati.
"Apa yang kau pikirkan? Kemana semua orang?" Seingat Vi tadi banyak orang dikamar itu. Sekarang kemana perginya.
"Oohh itu Riko" tunjuk Lana dengan dagunya. Menunjuk Riko yang ternyata tidur dengannya. Hanya saja Riko menggulung seluruh tubuhnya dengan selimut. Hingga tidak terlihat oleh Vi.
"Astaga aku tidur dengannya" teriak Vi.
"Tidur doang. Nggak ngapa-ngapain" seloroh Riko yang ternyata sudah bangun.
"Lalu Mama dan Om?" tanya Vi.
"Nyari baju buat kamu. Bajumu kan basah semua" lirih Lana. Mengingat baju Vi yang berserakan di lantai kamar mandi. Plus bokser Vi. Yang lagi-lagi membuat fantasi Lana bangkit kembali.
Vi ber-ooo ria.
"Ada makanan tidak? Aku lapar" ucap Vi sambil menggaruk kepalanya. Tidak enak.
"Ada kok. Tadi Mama pesan ke room service. Sebentar" jawab Lana.
"Lu habis bajak sawah ya. Kelaparan" seloroh Riko dari balik selimutnya.
"Bukan hanya bajak sawah Ko. Ini kayak orang hiking mendaki gunung, lewati lembah" jawab Vi.
"Elu kate Ninja Hattori" bisik Riko.
"Capek banget rasanya" keluh Vi.
"Iyalah, berapa kali elu buang calon anak elu. Kalo elu suntikin ke Lana langsung tekdung tu anak" kembali Riko mengoceh tidak jelas. Kini ikut bangun, duduk di headboard ranjang Vi. Sambil memainkan ponselnya.
"Iya habis itu gue tinggal nama. Digantung sama bapaknya" timbal Vi.
Membuat Riko langsung cekikikan mendengarnya. Sedang Vi langsung menerima makanan dari Lana.
"Makanlah" suruh Lana.
"Kalian?" tanya Vi.
"Kami sudah, tenang saja" jawab Lana.
Vi mulai menyantap makanan. Saking laparnya, tak butuh waktu lama. Makanan di piring itu langsung tandas.
"Wuih kelaparan elu?" tanya Riko.
"Banget" sahut Vi.
"Mau lagi?" tanya Lana.
"Kalau kamu jadi dessert-nya mau nggak?" gurau Vi yang langsung mendapat keplakan di lengannya dari Lana.
"Sakit Na!" keluh Vi.
"Makanya kalau ngomong jangan ngaco" ucap Lana judes.
Riko langsung tertawa ngakak. Melihat dua orang yang asyik berseteru tidak ada habis-habisnya.
"Bisa tidak kalian itu akur sebentar saja" pinta Riko.
"Kita cuma bisa akur kalau lagi ML doang Ko" jawab Vi asal.
Dan kali ini tendangan yang mendarat di tulang kering Vi.
" Astaga belum apa-apa sudah KDRT" sungut Vi.
Sedang Lana langsung duduk di sofa di depan Vi sambil memanyunkan bibirnya.
"Sorry Na, bercanda doang" ucap Vi yang hanya mendapat lirikan judes dari Lana.
Vi manyun. Lana marah padanya.
"Kapok lu" ucap Riko.
"Seneng banget lihat gue menderita" gerutu Vi.
"Derita elu bahagia gue" seloroh Riko.
Ucapan Riko membuat Vi semakin manyun saja.
Hening sesaat.
"Itu" jawab Riko. Menunjuk ponsel Vi di atas nakas.
"Untung masih bisa selamat" ucap Riko lagi.
"Kalau nggak, ngalamat beli ponsel baru lagi" oceh Lana.
Tanpa melihat Vi. Matanya sibuk menatap layar ponselnya. Tersenyum membaca pesan dari Mas Rafa-nya.
^^^"Tiket sudah aku belikan. Sampai ketemu di Shanghai" ^^^
^^^Rafa^^^
Begitu pesan yang dikirim oleh Rafa. Lana kembali mengembangkan senyumnya. Membayangkan akan bertemu Rafa dalam tiga hari ke depan.
"Ah rasanya tidak sabar menunggu hari itu" batin Lana happy bukan kepalang.
"Kenapa dia?" tanya Vi heran. Riko hanya mengedikkan bahunya. Lantas memasang wajah cemberut.
"Kenapa elu?" tanya Vi.
"Gue suka sama ni cewek. Tapi susah banget ngedeketinnya" keluh Riko.
"Woo ada yang lagi kasmaran to" goda Vi.
"Kayak elu kagak aja" sahut Riko.
Vi langsung menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Seolah mengiyakan ucapan Riko.
"Ada usul buat dia dekat denganku?" mohon Riko.
Vi sejenak berpikir.
"Ikat dia dengan pekerjaan. Kalian kan satu tempat kerja nih. Jadi hal yang paling logis adalah membuatnya terikat soal pekerjaan denganmu" jawab Vi.
"Maksudmu?" tanya Riko tidak paham.
"Ada lowongan pekerjaan yang kosong, yang berhubungan langsung denganmu. Misal kau pasti punya dokter pribadi kan? Buat dia jadi dokter pribadimu atau konsultan kesehatanmu. Dengan begitu kalian akan semakin dekat. Kamu bisa gunakan kesempatan itu buat modusin dia" jelas Vi yang langsung membuat Riko tersenyum.
"Wahh ternyata kau bisa jadi konsultan masalah cinta juga ya" seloroh Riko.
"Cuma lagi ada ide aja" jawab Vi enteng.
"Kebetulan konsultan kesehatan gue memang mengundurkan diri. Mau menikmati masa tuanya. Maklum sudah memasuki masa pensiun. Pensiun dini"
"Nah itu ada kesempatan"
Riko senyum-senyum sendiri.
"Tapi jangan tanya kalau dia marah nanti. Itu bukan bidangnya kan sebenarnya" tanya Vi.
"Tidak masalah. Asalkan sebulan sekali aku bisa ngedate berdua dengannya. Ahh tidak sabar nunggu hari esok" ucap Riko.
"Ehh udah pagi tahu. Dasar gila" seloroh Lana yang ternyata sejak tadi menyimak percakapan kedua pria itu.
"Eh elu nyimak to Non" seloroh Riko.
Namun Lana tidak menanggapinya. Masih asyik berbalas pesan dengan Rafa.
Hingga ketukan pintu membuyarkan ketiganya.
"Sudah dapat?" tanya Lana.
"Pada akhirnya kami harus pulang. Nggak ada toko buka jam segini" gerutu Jayden.
"Ini pakai bajumu sana" ucap Tania lembut. Menyerahkan paperbag pada Vi. Yang langsung disambut Vi sumringah.
"Terima kasih Ma"
Tania tersenyum.
"Cepetan pakai sana. Kasihan itumu kedinginan dari tadi" seloroh Jayden membuat semua orang menatap ke arah Jayden.
Jayden hanya cuek mendapat tatapan aneh dari semua orang. Sedang Vi langsung melesat masuk ke kamar mandi. Malu bukan kepalang. Bisa dipastikan kalau semua orang sudah melihat miliknya. Pasalnya Vi benar-benar melepas semua pakaiannya saat masuk ke kamar mandi. Termasuk boksernya.
Tak berapa lama Vi sudah selesai memakai bajunya.
Kredit Instagram @ xukai_empire
"Ini terus mau bagaiaman? Pulang atau stay disini" tanya Tania.
Melirik jam tangannya. Pukul dua pagi.
"Tidur sini saja. Bukakan satu kamar untukku" perintah Jayden pada Vi.
"Tapi Pa..kasihan Vi" cegah Tania.
"Kenapa kasihan. Hotel ini kan miliknya. Jadi boleh dong dia kasih gratisan ke kita" ucap Jayden santai.
"Whatt!!!!" teriak semua orang. Langsung menatap tidak percaya pada Vi.
"Iya Om aku bukain satu kamar buat kalian" ucap Vi sambil menggaruk kepalanya.
Menghubungi seseorang melalui ponselnya.
"Sebentar, tunggu kuncinya" ucap Vi kemudian.
"Seriously Vi, ini punyamu?" tanya Riko.
"Iya ini punyaku" jawab Vi singkat.
"OMG aset elu ada berapa banyak sih" ucap Riko tidak percaya.
"Ya ada deh" jawab Vi tidak enak.
"Pantes saja.Resepsionis langsung memberikan kunci. Hotel sendiri" batin Lana menatap Vi.
Yang juga tengah menatapnya.
"Ada banyak hal yang tidak kamu ketahui tentangku Na. Tentang masa lalu orang tua kita. Tentang hal yang membuatku berpikir apa kamu bisa menerimaku atau tidak" batin Vi tiba-tiba insecure dengan dirinya sendiri.
Ada satu hal yang membuat Vi takut akan kehilangan Lana. Jika Lana tahu.
***