
"Jadi seperti ini namanya diskotek" guman Lana.
"Night club kerennya" bisik Vi.
Pria itu terus menempel pada Lana. Kemanapun Lana pergi tidak pernah lepas dari pengawasan Vi. Bahkan ketika beberapa kenalan Lana mengajaknyà mengobrol. Pria itu hanya sekedar mengambil jarak. Bergabung? Tidak, Vi cukup risih untuk berdekatan dengan wanita. Tapi tidak dengan Lana.
"Dia pacar barumu?" tanya seorang teman Lana.
"Ah bagaimana ya menjawabnya" Lana bingung dengan status hubungannya dengan Vi. Apakah hubungan keduanya bisa disebut pacaran.
"Masih pedekate?" tanya yang lain.
"Ya seperti itulah" jawab Lana ambigu.
"Wah berarti masih ada kesempatan dong buat kita. Kalau kamu gagal sama dia" timpal yang lain.
"La?" tanya Lana.
"Dia itu tampan banget. Kalau dilihat sepertinya bodynya hot banget. Beeuuhh pasti nikmat kalau diajak begituan" sahut yang lain lagi.
"Astaga kalian ini" umpat Lana.
"Uuppss sorry Na, kita lupa kalau elu masih virgin. Kenapa nggak coba sama dia. Nggak rugi kayaknya kalau elu ML sama dia" cerocos yang lain.
"Busyet deh kenapa omongan elu semua jadi ngaco begitu sih. Gegara lihat dia" Lana heran.
"Beeuuhh Na, keren abis. Reno aja lewat. Elu beneran belum pernah sentuh dia. Atau kiss mungkin?"
Kepala Lana auto mumet dengar celotehan teman-teman absurdnya. Yang obrolannya tidak jauh dari ML, ciuman dan hal liar yang ada di otak mesum mereka.
"Haish kalian bikin gue pusing aja" oceh Lana.
"Oh my God Lana. Pusing? Depan lu ada cowok sekece dia, sayang kalau nggak lu manfaatin" kompor seorang temannya lagi.
"Ini apa gue yang salah gaul ya. Kok teman gue isi kepalanya cuma s*** doang. Nggak ada yang lain apa?" gerutu Lana dalam hati.
"Oh ya Na, pernah ketemu Reno?" tanya seorang temannya. Setelah semua temannya melantai. Berjoget kesana kesini. Dengan cowok entah dari mana datangnya.
"Tidak kenapa?" tanya Lana.
"Gue rasa dia masih pengen balik sama elu. Kemarin teman gue ketemu. Dia nanyain elu" ucap teman Lana.
"Balikan? Sorry ya. Gue nggak mood balik sama cowok yang suka celup sana sini. Gue nggak bilang ya kalau gue itu baik. Tapi apa salahnya kalau gue minta dia setia sama gue. Emang gue salah" Lana memberi alasan.
"Elu tahu kan alasannya dia buat begitu" tanya teman Lana.
"Karena gue nggak mau diajak ML? Itu prinsip gue. Kalau dia tidak suka ya sudah. Just go away. Tapi jangan khianatin gue" kilah Lana.
Di meja seberang. Vi hanya terdiam mendengar setiap percakapan antara Lana dan temannya.
"So she still virgin. Hebat di zaman sekarang? Jayden Lee benar-benar menjaganya dengan baik" batin Vi.
"Putusin gue. Habis itu terserah jika mau duoble, triple or whatever. I don't care" tegas Lana.
Teman Lana hanya manggut-manggut. Meski teman Lana penganut free s***, tapi dia cukup menghormati Lana.
Lana menatap ke arah lantai dansa. Detik berikutnya, matanya membola. Sebab teman-temannya di lantai dansa sudah mulai bertingkah liar. Mereka berciuman, berpelukan. Bahkan Lana menduga kalau tangan mereka tidak diam saja. Pasti sudah bergerilya ke mana-mana. Lana bergidik ngeri membayangkannya.
"Apa klub malam seperti ini?" tanya Lana.
"Lebih parah Na. Mereka bisa ML disana jika sudah tidak tahan" jawab temannya santai.
"Whatt!!" Lana terpekik saking terkejutnya.
"Memang bisa?"
"Bisalah. Sensasinya lebih wow..." kompor temannya.
"Kau mengomporiku?" todong Lana.
"Tidak. Hanya sedikit memberimu pengetahuan. Bisa kamu praktekkan nanti...maybe after you're married" jawab temannya santai.
"Oh my God" Lana memijat kepalanya yang tiba-tiba pusing.
"Minum Mbak" tawar seorang pelayan.
"Saya tidak minum alkohol, maaf" ucap Lana sopan.
Sementara teman Lana sudah mengambil satu gelas wine mungkin...Lana hanya menduganya.
"Oh ini ada orange juice juga kok Mbak" ucap pelayan itu lagi.
"Nah kalau orange juice gue minum, Mas" timpal Lana sumringah. Mengambil segelas orange juice.
Lana baru saja akan meminumnya. Ketika Vi tiba-tiba merebutnya.
"Kamu minum yang ini" ucap Vi.
"Tapi Vi..." protes Lana.
"Sama-sama orange juice kan" balas Vi.
Sementara teman Lana memandang Vi dengan tatapan yang sulit diartikan. Membuat Vi risih.
"Masih belum mau balik" bisik Vi.
"Bentar lagi" Lana meminum minumannya.
Begitu juga dengan Vi.
"Maaf sudah sold out" jawab Vi dingin.
Membuat teman Lana cemberut seketika. Lana mengulum senyumnya. Senang karena Vi menolak godaan temannya.
Beberapa waktu berlalu. Vi mulai merasa ada yang aneh dengan tubuhnya. Tubuhnya tiba-tiba terasa panas. Pandangannya mulai kabur seiring rasa pusing yang mendera kepalanya. Dan satu yang membuat Vi langsung waspada, adalah hasr** se**nya melambung seketika.
"Lana ayo kita keluar dari sini" ajak Vi setengah menyeret Lana.
"Bersihkan jalanku" ucap Vi.
Seperti dugaannya beberapa orang berusaha menghalangi jalan keluar Vi dan Lana dari ballroom berupa klub malam itu. Namun mereka berhasil disingkirkan oleh orang-orang berpakaian hitam.
"Vi ada apa?" tanya Lana panik melihat perubahan wajah Vi.
Namun Vi hanya diam saja. Dia cukup tahu dengan keadaannya.
"Berikan aku kamar atas nama Mahardika Pratama" ucap Vi di resepsionis.
Resepsionis itu langsung memberikan keycard pada Vi. Yang langsung berlari ke arah lift.
"Kamarnya" ucap Vi langsung bersandar di dinding lift. Menjauh dari Lana.
Lana dengan cepat meraih keycard yang Vi ulurkan. Menekan angka lift. Lana sedikit panik melihat keadaan Vi.
"Kau tidak apa-apa Vi?" tanya Lana mendekat ke arah Vi.
"Jangan menyentuhku Lana" cegah Vi.
"Tapi Vi.."
"Halo Riko.." ucap Vi melalui ponselnya. Hawa panas semakin menyerangnya.
"Rasanya segila ini" batin Vi.
"..."
"Datanglah ke hotel XX kamar ...Vi melirik keycard yang Lana pegang....5601. Bawakan aku penawar afro" ucap Vi cepat.
"Akan kujelaskan nanti. Masalahnya aku bersama Lana. Cepatlah sebelum aku menerkamnya" ucap Vi lagi.
"..."
"Vi..."
"Menjauhlah dariku" ucap Vi.
"Carilah tuan Jayden Lee. Jelaskan padanya apa yang terjadi. Aku tidak akan bisa menghandlenya. Tunjukkan siapa orangnya dan berikan buktinya. Dia tahu harus berbuat apa" perintah Vi panjang lebar melalui ear piece-nya.
Vi menghela nafasnya dalam. Lantas melepas ear piece-nya. Sejenak menatap Lana yang menatap bingung ke arahnya.
"Oh my God. Rasanya aku ingin sekali menyerang gadis dihadapanku ini" batin Vi semakin kelabakan menahan libidonya yang semakin meroket naik.
Tiingg,
Lift terbuka. Vi keluar lebih dulu. Disusul Lana.
"Kamarnya Na" ucap Vi berjalan sempoyongan.
"Sebentar...ini kamarnya"
Ceklek, pintu kamarnya terbuka. Dan Vi langsung menghambur masuk ke kamar mandi. Menguncinya dari dalam.
"Vi...apa yang terjadi? Vi...jawab aku. Jangan membuatku takut...Vi...Vian" panggil Lana terus mengetuk pintu kamar mandi.
Sementara di dalam kamar mandi. Vi sudah naked. Bajunya sudah berserakan di lantai kamar mandi. Mengguyur tubuh atletisnya dibawah guyuran shower bersuhu paling dingin yang bisa ia rasakan.
Berusaha mendapatkan pelepasannya. Agar libidonya bisa menurun secepatnya. Hingga akhirnya untuk pertama kalinya Vi bisa mendapatkan pelepasannya.
"Aaarggghhhh"
Vi meraung tertahan di bawah guyuran shower itu. Vi pikir setelah mendapat pelepasannya. Rasanya akan berkurang. Ternyata dia salah. Hasratnya malah semakin melambung tinggi tidak terkendali.
"Ohh ****!!!" maki Vi.
"Apa yang sebenarnya dia berikan padaku, ah salah pada Lana" batin Vi.
Vi semakin tersiksa dengan keadaannya. Pelepasan tidak cukup untuk memuaskan dirinya. Sementara suara Lana yang terus memanggilnya. Semakin menggodanya.
"Riko cepatlah datang. Jika tidak aku tidak tahu apa yang akan terjadi pada Lana nanti" ucap Vi.
Semakin mengguyur kepalanya dengan air dingin sebanyak-banyaknya. Posisinya semakin luruh ke lantai kamar mandi. Nafasnya memburu. Menahan hasratnya juga menekan otaknya agar terus sadar dan bisa berpikir jernih.
"Vi...Vi...." Lana terus memanggil dari luar kamar mandi.
Begitu khawatir, karena dari tadi Vi sama sekali tidak menyahut panggilannya.
Lana baru mau meraih ponselnya. Ingin mencari pertolongan. Ketika pintu kamar hotel, diketuk eh salah digedor dari luar.
"Vi...Lana...ini aku" teriak Riko.
Membuat Lana langsung menghambur ke pintu. Membukanya. Wajah Lana begitu senang.
"Pertolongan datang"
****