The Story Of "A"

The Story Of "A"
Arya Dan Lia



Vi terlihat masuk ke dalam rumah sakit tergesa-gesa. Dia kesal sekali. Gara-gara acara meetingnya yang mletre. Dia terlambat mengikuti pemeriksaan USG yang rencananya akan dilakukan pagi ini.


"Gara-gara Om sih. Aku tidak jadi kenalan sama Boy" gerutu Vi.


Dika hanya diam mendengarkan omelan sang ponakan sekaligus bosnya itu. Padahal bukan salahnya tapi salah Vi yang bangun kesiangan hingga meetingnya mletre, diundur.


Ketika sampai di kamar Lana. Pria itu langsung menghentikan langkahnya. Dia mendengar Lana yang tertawa terbahak-bahak dari dalam sana. Bukan masalah Lananya tapi setelah suara Lana ada suara seorang pria yang tidak Vi kenal.


Pria itu langsung mendobrak masuk. Dan langsung membulatkan matanya melihat Lana yang digendong oleh seorang pria.


"Turunkan dia, brengsek!" ucap Vi dengan kemarahan yang mencapai ubun-ubunnya.


Pelan pria itu menurunkan Lana di tempat tidurnya. Setelahnya pria itu langsung terkejut karena Vi sudah mencengkeram kerah kemeja pria itu.


"Vi apa yang kamu lakukan?" pekik Lana melihat sikap Vi.


"Apa yang kau lakukan pada istriku?" tanya Vi tidak mempedulikan teriakan Lana.


"Aku hanya membantunya" jawab pria itu dengan nafas tersengal. Vi hampir mencekiknya.


"Bohong! Kalau mau menolong kenapa sampai harus menggendongnya! Siapa kau?" teriak Vi.


"Vi hentikan! Ini salah paham!"


"Kau membelanya By?" tanya Vi tidak percaya. Lana membela pria itu.


"Tentu saja, dia itu sepupuku! Anaknya Om Jo dan Tante Nindy. Suaminya mbak Lia. Tahu nggak kamu!" teriak Lana.


***


"Minta maaf!" perintah Lana.


"Maaf..." ucap Vi lirih.


Pria itu berdiri sambil menundukkan kepalanya. Tidak berani menatap semua orang. Baru kali ini Vi merasa tidak punya muka menghadapi semua orang.


"Yang keras!" perintah Lana.


"Baby...." rengek Vi.


"Sudahlah Lana. Itu suamimu. Jangan begitu" ucap Lia menenangkan Lana.


"Iihh habisnya kesel banget Mbak. Cemburu kok nggak lihat sikon" gerutu Lana.


"Ya aku mana tahu itu Mas Arya. Orang kamu nggak pernah ngasih lihat fotonya. Kalau mbak Lia aku tahu" kilah Vi.


Sementara yang dibicarakan namanya hanya mengulum senyumnya. Lucu, melihat Vi yang disebut dingin dan kaku oleh Hyun Ae. Sekarang seperti kambing congek. Kalah oleh istrinya yang memang terkenal galak dan judes.


"Sudahlah Na. Kamu nggak kasihan apa sama suamimu. Satu jam lo dia berdiri. Nanti dia kecapekan kamu yang repot" ucap Arya yang kini duduk bersama Dika. Sesekali saling melempar senyum melihat ke arah Vi.


"Bodo! Mas, itu tadi Mas Arya. Lana nggak kebayang kalau orang lain yang nolong Lana"


"Tak hajar to kalau orang lain" potong Vi cepat.


"Mbak Lia dengar sendiri to. Dua bulan dia nggak ingat sama aku. Sekarang saja sok-sok an cemburu. Kenapa nggak kemarin-kemarin aja aku bikin dia cemburu. Kalau dia respon baguslah. Kalau nggak ya bablas dilanjutin" ucap Lana semakin ngawur.


"Baby...kamu tega ya sama aku" renget Vi.


"Tega nggak tega. Kamu nggak tahu apa rasanya aku tu gimana dua bulan kemarin. Sudah hamil, suami nggak ingat. Untung dokternya tiap aku kontrol selalu ngingetin buat nggak mikir yang nggak-nggak" tambah Lana.


Vi langsung menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Perasaan kemarin sudah berdamai. Kenapa sekarang masih diungkit-ungkit lagi" batin Vi melirik ke arah Lia. Yang hanya mengedikkan bahunya.


"Duduk kamu!" perintah Lana akhirnya.


Bukannya langsung duduk di sofa. Vi malah langsung ngeprok di lantai.


"Nggak apa-apa Vi?" tanya Dika.


"Nggak Om. Cuma capek doang" jawab Vi menarik nafasnya dalam-dalam.


"Kamu harus lebih sabar ngadepin wanita hamil. Moodnya kayak rollercoaster. Pagi baik siang amburadul" nasehat Arya. Setelah akhirnya Vi duduk di sofa antara Dika dan Arya.


"Mbakmu dulu parah. Dia yang ngidam. Tapi tiap sudah dapat makanannya. Aku yang disuruh makan. Mana dia kalau minta belinya 2 atau 3 porsi. Mampus nggak tu aku ngabisinya. Mana harus aku yang menghabiskan. Nggak boleh dibantu orang lain. Nah kamu lihat kan. Aku masih harus turun 10 kilo lagi" cerita Arya sambil menunjuk tubuhnya sendiri.


"Pantesan Mas Arya gemukan sekarang. Meski belum pernah ketemu. Pasti dulu mas Arya nggak setembem itu pipinya" canda Vi.


"Ya itu gara-gara Mbakmu aku naik hampir 20 kilo. Sedang sekarang waktuku ngegym nggak seperti dulu. Dulu nurunin 20 kilo enteng aja. Sekarang rebutan sama anak" sambung Arya.


"Tapi senang kan?" tanya Vi.


"Banget. Punya Arka itu anugerah terbesar dalam hidupku. Setelah ibunya tentunya" jawab Arya sambil tersenyum.


Vi ikut tersenyum. Teringat cerita cinta Arya dan Lia juga penuh liku. Arya harus berjuang untuk mendapatkan Lia karena waktu itu saingannya adalah Alex Liu. Sepupu Rafael. Meski pada akhirnya Arya berhasil meluluhkan hati Lia. Eh salah Lia yang meluluhkan hati Arya.


"Tapi kan kamu akan dapat keuntungan lain kalau istrimu hamil" ucap Arya dengan senyum misteri.


"Ha? Apa Mas?" tanya Ve penasaran.


"Mau tahu. Sini" jawab Arya. Memberi kode Vi untuk mendekat.


Beberapa saat kemudian,


"Ha? Yang benar Mas?" tanya Vi tidak percaya.


"Tidak percaya? Buktikan saja. Semakin tua semakin hot lo" goda Arya.


Vi hanya tersenyum mendengar godaan dari Arya.


"Oh ya Arka kok nggak ikut Mas?" tanya Vi setelah otaknya selesai traveling kemana-mana.


"Biasa kalau ke sini, Arka ya di monopoli mbahnya yang sini. Kalau pas pulang ke Jakarta ya dimonopoli sama eyangnya"


"Bikin lagi saja" seloroh Vi.


"Kamu pikir buat mendoan apa. Digoreng langsung jadi. Kamu aja nunggu enam bulan kecebongmu baru ada yang nyangkut" ledek Arya.


"Iya juga ya" mengakui kalau tidak mudah menghamili istri.


"Apapun itu mari lakukan setiap saat ada kesempatan. Hasil pikir keri. Betul tidak?"


Vi manggut-manggut mendengar ucapan Arya. Membenarkan.


"Woi Papa dan calon Papa. Para istri lapar ini" teriak Lia.


"Lana bentar lagi makanannya datang" jawab Vi.


"Nggak mau makanan rumah sakit. Mau ayan geprek yang pedes. Ya mbak Lia ya" jawab Lana.


"Nggak boleh makan pedes By" jawab Vi.


"Beliin nggak. Kalau nggak aku pesen di Grab ni" ancam Lana.


"Iya. Iya berangkat ini" jawab Vi.


"Aku ikut. Nanti nggak tahu lagi seleranya Lia" ucap Arya ikut berdiri.


"Kamu jangan galak-galak dong sama suami kamu. Nanti turun ke anak lo" Lia memperingatkan.


"Abisnya kesal Mbak Lia"


"Tahu kamu kesal. Tapi sabarnya orang ada batasnya. Kesal sama marah boleh. Tapi secukupnya saja. Suami itu akan mulai jajan di luar kalau di rumah dia kurang perhatian dan belaian. Kamu mau suamimu di ambil pelakor. Terus kamu menyalahkan suami kamu. Padahal kamu juga salah dalam hal ini" ceramah Lia.


Lana terdiam. Mencoba mencerna petuah Lia. Lana jelas tidak mau kehilangan Vi. Hanya saja dia suka kesal kalau ingat Vi yang lupa padanya. Padahal itu lupa ingatan. Bukan disengaja.


"Paham dengan yang Mbak ucapkan. Secinta-cintanya suami pada kita. Kalau kita tidak memupuk rasa itu terus menerus. Rasa itu lama-lama akan hilang. Kamu mau Vi pergi ninggalin kamu?" tanya Lia.


Lana menggeleng.


"Kalau begitu mulailah untuk memperbaiki diri. Berusaha. Aku tidak berkata harus. Tidak ada usaha yang sia-sia" tambah Lia sambil tersenyum.


Senyum yang disambut oleh Lana dengan senyum bahagia. Mengingat petuah Lia yang akan selalu dia ingat. Lana tidak ingin kehilangan sang suami, Vi.


****