The Story Of "A"

The Story Of "A"
Cinta Kok Pake Drama



Keesokan harinya, Lana pergi ke kantor Vi. Bukan ingin bertemu pria tampan itu. Tapi untuk mengembalikan Heart Of The Ocean. Namun, Lana tidak menemui Vi langsung. Gadis cantik itu hanya menitipkan kotak perhiasan itu kepada resepsionis di lobi bawah.


Setelah itu Lana langsung pergi. Setelah menitipkan pesan pada resepsionis di sana. Untuk memberikan barang itu pada Vi, saat pria itu datang. Karena Lana yakin, kalau Vi belum datang ke kantornya.


"Permainkan emosinya dulu. Buat seakan elu menerima perpisahan kalian"


"Tapi gue gak mau pisah dari Vi" protes Lana.


"Gue kata seakan. Bodo amat sih"


Satu toyoran langsung mendarat di kepala Young Jae.


Dan di sinilah Lana. Sengaja menunggu Vi datang. Ingin melihat reaksi Vi saat dia mengembalikan berlian itu. Begitu Vi menerima kotak itu. Dengan cepat Vi kembali berlari keluar. Bersamaan dengan mobil Lana yang melaju kencang keluar dari kantor Aditama Group.


Lana bisa melihat ekspresi kesal Vi, saat gagal mengejar mobil Lana. Sejurus kemudian ponsel Lana berdering. Nama Vi tertera di sana.


"Abaikan semua panggilan darinya"


Lagi Young Jae memberikan idenya. Dan benar saja. Diujung sana, Vi langsung mengumpat kesal karena Lana sama sekali tidak mau mengangkat panggilannya.


"One step closer" batin Lana.


***


Vi tampak menatap berlian kecil di tangannya. Pikirannya melayang pada Lana. Hari ini, dua hari setelah kejadian Lana mengembalikan berlian berharga fantastis itu. Masih teringat jelas bagaimana wajah sedih Lana saat Vi melihatnya melajukan mobil begitu kencang. Dia tahu benar bagaimana cerobohnya Lana kala gadis itu sedang marah atau bad mood.


"Sial!! Aku ingin melupakannya. Tapi semakin aku ingin melupakannya. Semakin dia terbayang-bayang di mataku" umpat Vi dalam hati.


Pintu ruang kerjanya terbuka. Tepat ketika Vi sudah mengunçi brangkas rahasianya.


"Ada apa Papa kemari?" tanya Vi dingin.


Dia pikir kenapa pria itu masih ada di sini.


"Kalem boy, aku ini Papamu.Wajar kan kalau aku mengunjungimu" jawab Bryan kalem.


Vi berdecih kesal. Hubungannya dengan Papanya memang tidak membaik sama sekali. Sejak pria itu dengan jelas membuat berbagai trik untuk membuat banyak kesalahpahaman bagi orang-orang di sekelilingnya termasuk dirinya.


"Papa dengar kau benar-benar putus dari Lana" tanya Bryan pada sang putra.


"Bukan urusan Papa" jawab Vi ketus.


Bryan tersenyum penuh kemenangan mendengar jawaban kesal sang putra.


"Cara yang baik untuk melupakan adalah dengan mencari ganti. Barang baru, rasa baru" ucap Bryan dengan seringai licik di wajahnya.


Vi kembali berdecih kesal.


"Aku bukan dirimu. Jadi jangan pernah berpikir kalau kita sama" ucap Vi tegas.


"Tentu saja kita sama. Kau adalah putraku" ucap Bryan santai.


"Aku ingin sekali menyangkal kalau aku ini putramu. Tapi sepertinya tidak bisa. Padahal aku ingin sekali terlahir tanpa ada campur tangan dirimu di dalamnya" satu jawaban Vi yang benar-benar menusuk sudut hati Bryan.


"Sayangnya kau tidak bisa memilih kan. Jadi nikmati saja menjadi putra seorang Bryan Aditama" seringai Bryan penuh kemenangan.


"Pria paling brengsek yang pernah ada di muka bumi" balas Vi telak.


"Alvian....." teriak Bryan.


"Keluar jika memang Papa tidak punya urusan" usir Vi.


Lagi-lagi membuat Bryan kesal bukan kepalang.


"Oke Papa akan pergi. Tapi Papa punya kejutan untukmu" ucap Bryan.


"Aku tidak mau. Bawa pergi lagi kejutanmu itu" balas Vi cepat.


"Oohh kejutannya tidak sekarang tapi nanti kau tunggu saja" ucap Bryan sambil melangkah keluar dari ruangan Vi.


"Dan Papa yakin kali ini kau akan menyukai kejutan dariku" kembali Bryan berucap sebelum menghilang di balik pintu.


***


Malam hari, di hotel XX kota Surabaya. Vi mengumpat kesal.


"Maaf Vi, aku tidak tahu jika mereka merubah tempat pertemuannya menjadi di sini. Fajar terlambat memberitahuku. Jadi ya terpaksa kita harus mengikuti kemauan klien ini" jelas Dika.


Vi menarik nafasnya pelan. Mengusir semua kekesalan yang ada di hatinya. Soal pekerjaan. Soal Lana. Semua membuat kepalanya serasa ingin pecah.


"Sudahlah Om. Tidak masalah. Anggap saja sedikit liburan" ucap Vi, tahu jika kejadian hari ini di luar kendali Dika.


Di mana klien mereka, secara tiba-tiba merubah waktu dan tempat pertemuan melalui Fajar, asisten Vi yang lain. Membuat Vi dan Dika harus menginap di hotel malam ini.


"Istirahatlah dulu kalau begitu" ucap Dika sembari melangkah keluar dari kamar Dika.


Vi hanya berhemm ria, mendengar ucapan Dika.


Vi memberikan kode "oke" dengan tangannya. Setelah Dika keluar dari kamarnya. Vi meraih ponselnya.


"Dimana dia?" tanya Vi.


"..."


"Bagus kalau begitu. Awasi dia terus" perintah Vi lantas menutup panggilan ponselnya.


Perlahan Vi memijat pelan pelipisnya.


"Tuan, Nona Lana ada di club XX" beritahu seorang anak buahnya.


Vi langsung menggebrak mejanya kala itu.


"Awasi dia terus. Aku akan ke sana" jawab Vi.


Kata putus memang keluar dari bibir Vi. Tapi melepaskan pengawasan pada Lana sepenuhnya, tidak. Vi memerintahkan anak buahnya untuk selalu mengawasi Lana. Apalagi sejak putus dari Vi. Gadis itu berubah liar. Suka pergi ke klub malam. Bergaul dengan orang-orang yang bagi Vi tidak jelas.


"Bagaimana bisa Om Jayden membiarkan Lana berada di tempat seperti itu" guman Vi tidak percaya. Mengingat betapa berbahayanya tempat itu bagi Lana.


Vi langsung mengikuti anak buahnya. Begitu dirinya sampai di tempat yanf sebenarnya enggan sekali dia kunjungi. Masuk ke dalam suasana remang-remang khas klub malam. Yang membuat Vi rasanya ingin muntah. Bau rokok, alkohol, minuman keras. Belum dengan pemandangan yang benar-benar menguji iman seseorang jika berada di sana. Wanita seksi dengan balutan pakaian minim bertebaran di mana-mana. Melambaikan tangan mereka. Menggoda setiap pria yang masuk ke sana. Agar tergoda pada nikmat dunia.


Seorang pria langsung membuka pintu. Begitu Vi sampai di depannya. Perlahan Vi melangkah masuk. Membiarkan anak buahnya menutup pintunya.


"Haishh, sebenarnya apa sih yang ada di kepalamu?" tanya Vi heran.


Melangkah mendekat ke arah Lana yang sudah terkapar tidak berdaya. Tubuh Vi menegang seketika saat melihat Lana yang hanya memakai tank top saja. Setelah gadis itu melepas blazeenya.


"Kau ini benar-benar mengujiku, Lana" bisik Vi didepan wajah Lana. Berjongkok di sisi tubuh Lana.


Perlahan pria itu mencium lembut bibir Lana. Lama tidak bertemu. Nyata rindu itu terasa. Bibir Lana yang lembut dan manis, seolah membuat Vi tidak ingin berhenti mencium bibir Lana. Ciuman Vi semakin lama semakin intens dan dalam. Apalagi ketika Lana yang setengah mabuk malah ikut membalas ciuman Vi. Membuat keduanya sesaat begitu menikmati ciuman mereka.


***


Arch langsung membuka pintu apartemennya. Ketika bel berbunyi.


"Bagaimana bisa kalian melepas pengawasan kalian pada putri judes ini" gerutu Vi begitu Arch membuka pintu.


"Kan ada kamu yang bakal stan by buat dia 24 jam" cengir Arch.


"Dia kenapa?" tanya Marina pacar Arch.


Melihat Lana yang tertidur dalam gendongan Vi.


"Mabuk!" jawab Vi singkat. Membawa Lana masuk ke kamar tamu.


"Ha? Bagaimana bisa?" tanya Marina kepo. Sedang Arch langsung menggelengkan kepalanya.Tidak tahu.


"Kau benar-benar merepotkan!" gerutu Vi.


Merebahkan tubuh Lana di atas ranjang. Lantas melepaskan sepatu gadis itu. Menatap lembut pada Lana.


"Aku pergi!" ucap Vi begitu keluar dari kamar Arch.


"Tidak duduk dulu?" tawar Arch.


"Tidak. Nanti dia bangun. Lihat aku masih di sini. Bisa GeeR dia nanti. Dikiranya aku masih perhatian lagi sama dia" tolak Vi.


"Lah bukannya memang kau masih perhatian sama dia?" tanya Arch.


"Aku hanya menjaganya di saat kalian lengah" kilah Vi.


Lantas berlalu keluar dari apartement Arch.


"Alah masih cinta saja pakai acara drama segala. Bikin pusing yang baca" gerutu Arch.


Tiba-tiba pintu kamar tamu Arch terbuka. Dan terlihatlah Lana yang tampak baik-baik saja.


"Bagaimana aktingku?"


Eh?


La?


🙄😑😑


***



Kredit Instagram @presentyougot_17_7


Neng Lana yang lagi caper...


***