The Story Of "A"

The Story Of "A"
Cobaan



"Aku sudah bilang padanya untuk tetap dirumah. Tapi kenapa dia begitu keras kepala" ucap Vi marah sambil memukul kemudi mobilnya.


"Tenang Vi, ada Rahma disana dan para pegawai Lana" ucap Dika menenangkan.


"Bagaimana aku bisa tenang, Om. Aku benar-benar khawatir pada Lana. Kalau sampai terjadi apa-apa pada Lana. Lihat saja akan aku hancurkan wanita ular itu" tekad Vi sambil mengetatkan rahangnya. Menahan amarahnya.


Dengan kecepatan seperti itu. Tidak lama mobil Vi sampai di kantor Lana. Lana sudah membeli sebuah bangunan yang secara khusus ia jadikan kantor dan ruang produksi. Mengingat outlet miliknya yang semakin banyak.


Vi langsung melesat turun dari mobilnya. Membiarkan Dika yang mengurus parkirnya. Saat Vi masuk ke kantor Lana. Bersamaan dengan Stella yang sebenarnya keluar dari kantor sang istri. Namun karena saking cemasnya Vi. Dia tidak menyadari kehadiran Stella.


"Rahma, di mana Lana?" tanya Vi begitu melihat Rahma.


"Itu..Tuan...Bu Lana..."


Tidak sabar menunggu jawaban Rahma. Vi langsung menghambur masuk ke ruangan Lana.


"Lana apa yang terjadi? Apa dia...


"Haà bagus.....dua-duanya mau memberi klarifikasi. Sekarang katakan apa penjelasanmu?" salak Lana.


"Tunggu dulu. Aku tidak mengerti maksudmu. Penjelasan soal apa?" tanya Vi.


"Penjelasan soal ini!" Lana menyerahkan segepok foto antara dirinya dan Stella.


Vi sejenak terdiam. Ada sekelebat bayangan yang kembali mampir di kepalanya. Kemarahan Lana, ya Lana pernah marah seperti ini padanya.


"Dua kali kau melakukan ini padaku Vi. Yang pertama, oke aku maafkan. Kau dijebak. Tapi yang ini. Apa aku juga harus berpura-pura kau dijebak lagi"


"Yang pertama? Dijebak?" seketika kepala Vi terasa pusing dan sakit.


"Kenapa diam? Tidak bisa menjawab? Kau benar-benar membuatku marah Vi" ucap Lana berlalu dari hadapan Vi.


"Lana tunggu dulu...aaarrrgghhh" Vi meringis menahan sakit di kepalanya.


Berusaha berjalan menyusul Lana.


"Kau kenapa Vi?" tanya Dika yang bertemu Vi didepan ruangan Lana.


"Aaarrgghh kepalaku sakit Om. Lana dimana?" tanya Vi.


"Dia keluar...ada apa sebenarnya?"


"Om lihat sendiri didalam"


"Vi susul istrimu cepat" pinta Dika.


Vi kembali keluar dari kantor Lana. Tanpa dia sangka. Dia melihat bagaimana Stella dan Lana yang bertengkar di pinggir. Vi berlari ke arah mereka. Bersamaan dengan Stella yang mendorong tubuh Lana.


"Bu Lana hati-hati dengan bayinya" teriak Rahma tanpa sadar.


"Bayi? Lana hamil?" batin Vi semakin mendekat ke arah Lana.


Lana yang tubuhnya oleng karena dorongan Stella seolah tidak bisa menahan tubuhnya. Perlahan dia menyentuh perutnya.


"Jangan tinggalkan Mama boy. Tetaplah bersama Mama" batin Lana.


Seiring dengan tubuhnya yang ambruk ke aspal.


"Arrrgghhhh"


Terdengar ringisan juga teriakan. Namun itu bukan Lana. Sesaat Lana membuka matanya yang tadi dia pejamkan. Lana tidak merasakan sakit. Detik berikutnya dia sadar, Vi yang sudah menahan tubuhnya.


Pria itu jelas terluka di kepala.


"Kamu tidak apa-apa?" tanya Vi lirih.


Lana menggeleng. Namun detik berikutnya Lana ikut meringis.


"Ibu...." teriak Rahma.


Mata Lana nanar melihat darah yang mengalir di sepanjang betisnya.


"Tidak! Jangan tinggalkan Mama! Jangan pergi!" teriak Lana.


Vi jelas tergugu melihat pemandangan itu. Lana sang istri benar mengandung. Detik berikutnya tubuh Lana melemah langsung ambruk dalam pelukan Vi. Bersamaan dengan rasa pusing dan sakit yang menyerang kepala Vi. Perlahan semua menggelap.


"Pak Dika!!" teriak Rahma panik. Melihat dua majikannya pingsan berpelukan.


**


"Aarrgghhhh"


Terdengar ringisan yang keluar dari bibir Vi.


"Kau sadar Vi?" tanya satu suara yang Vi tahu itu adalah suara Dika.


"Aku dimana?" tanya Vi menyentuh pelan kepalanya.


"Rumah sakitlah. Mau dimana lagi" jawab Dika asal.


Vi sejenak terdiam. Mencoba mengingat yang terjadi.


"Lana? Dimana Lana?" tanya Vi.


"Tentu saja ingat. Dia kan istriku" jawab Vi berusaha turun dari ranjang pasiennya. Tapi Dika menahannya.


"Kau ingat benar atau hanya tahu Lana istrimu dari kami"


"Aku ingat dia istriku"


"Ingatanmu kembali?" tanya Dika sambil memicingkan mata.


"Memang kemarin aku hilang ingatan apa?" tanya Vi bingung.


"Apa warna favorit Lana"


"Biru"


"Berlian impiannya?"


"Heart of the Ocean. Eehhh itu bukan impianlah. Aku sudah membelikannya untuknya" jawab Vi cepat.


Dika mulai tersenyum.


"Last one. Berapa ukuran Lana?" tanya Dika dengan senyum usilnya.


"3.....haisssshhh kenapa kau tanya ukuran tubuhnya. Kau tidak boleh tahu" galak Vi.


Seketika Dika menghambur memeluk keponakannya itu.


"Welcome back, my nephew"


"Sebenarnya apa yang terjadi sih?"


Dika baru saja akan menjawab ketika tiba-tiba Vi memotong.


"Jawabnya nanti saja. Sekarang Lanaku dimana? Dia tadi berdarah-darah" tanya Vi. Senyum Dika memudar seketika.


"Dia....Lana....istrimu...."


***


Vi langsung terduduk lemas disamping ranjang pasien Lana. Di ruang ICU, rumah sakit milik Riko. Air mata tak henti mengalir dari mata Vi. Hatinya sakit juga merasa bersalah.


"Lana mengalami pendarahan hebat. Lana saat ini sedang mengandung tiga bulan jalan empat. Sudah masuk trimester kedua sebenarnya. Sampai


saat ini janinnya masih bisa bertahan, tapi Lana mengalami kekurangan darah sejak awal kehamilannya. Jadi ketika terjadi pendarahan sedikit saja langsung berakibat fatal padanya. Dia kini kritis"


Penjelasan Marina jelas seperti sebuah petir yang menyambar Vi tiba-tiba. Hamil? Lana hamil anaknya? Akhirnya setelah lama menunggu dia akhirnya datang juga.


Tapi kenapa keadaannya seperti ini. Tangis Vi semakin pilu. Diraihnya jemari Lana yang terasa dingin dan pucat. Diciumnya perlahan jemari itu.


"Maafkan aku, maafkan aku. Bangunlah aku mohon. Bangunlah" bisik Vi lirih.


"Bangun... agar kamu bisa marah padaku. Marahi aku ....aku yang begitu bodoh mengabaikanmu....baby" panggil Vi.


"Baby kamu dengar aku kan...aku mencintaimu...maafkan aku...maafkan aku"


Semua orang yang menatap dari luar jendela kaca, hanya bisa ikut menangis pilu. Tania bahkan sampai memeluk sang suami, Jayden karena tidak sanggup melihat Lana dan Vi.


"Apa salah kita Mas, kenapa cobaan Lana begitu besar?" tanya Tania sambil terisak.


"Jangan bicara seperti itu. Anggap saja ini cobaan untuk pernikahan mereka. Kita berdoa saja semoga ketiganya bisa bertahan" jawab Jayden menenangkan istrinya.


Semua orang tampak menunggu di ruang tunggu depan ICU. Hingga pelan pintu terbuka. Keluarlah Vi dengan wajah sembab juga tubuh yang lesu. Tidak bersemangat sama sekali.


"Maafkan Vi Ma...Pa..." ucap Vi bersimpuh dihadapan Jayden dan Tania.


"Vi....apa yang kamu lakukan?"


"Vi bersalah. Tidak bisa menjaga Lana. Tidak bisa melindungi Lana, malah menyakitinya" ucap Ve sendu.


"Baru sadar kamu!" bentak Jayden.


"Mas....


"Biarkan Ma... memang Vi salah. Vi tidak bisa jadi suami yang baik. Vi tidak bisa membuat Lana tersenyum...Vi....


Vi tidak sanggup lagi berkata-kata. Air matanya sejak tadi menganak sungai tidak mau berhenti.


"Bersabarlah Vi. Berdoalah. Agar Lana dan putramu bisa melalui ini dan bertahan"


"Putra?"


"Bu bos sejak awal selalu memanggil Boy pada bayinya" Rahma yang menjawab.


"Kamu tahu dia hamil, tapi tidak memberitahuku!" bentak Vi akhirnya bisa menemukan sasaran kemarahannya. Rahma langsung beringsut mundur. Takut pada kemarahan pak bosnya.


"Aku yang memintanya untuk merahasiakannya"


Kali ini tatapan Vi langsung menukik tajam pada Dika.


****