
Rafa masuk ke kamar tamu. Berniat untuk mandi. Tapi kemudian dia malah meraih ponselnya.
"Halo, Om. Ini aku"
"Oh Rafa, ada apa?"
"Aku ada di apartement Om. Hanya mampir. Sebentar lagi ada flight ke Melbourne"
"Ada masalah?"
"Apa ada yang mencurigakan akhir-akhir ini?"
"Om rasa tidak ada. Kenapa?"
"Aku rasa ada yang mengawasi Lana"
"Benarkah?"
"Entah itu hanya perasaanku saja. Atau karena aku terlalu mengkhawatirkan Lana. Aku tidak tahu. Tapi tidak ada salahnya jika kita berjaga-jaga"
Hening sejenak.
"Baiklah. Akan Om ingatkan Rey untuk lebih waspada. Archie dan Riko mulai sibuk dengan pekerjaan mereka"
"Hemm, lebih baik seperti itu"
"Terima kasih atas perhatianmu Rafa"
"Tidak masalah Om. Lana adalah adikku. Apalagi Papa benar- benar sayang dengan Lana. Jadi jangan sampai terjadi apa-apa dengan Lana"
"Tentu saja"
**
"Bagaimana Rey?"
"Tidak ada pergerakan yang mencurigakan dari Bryan. Bisnisnya normal.Sejauh ini tidak ada yang perlu dikhawatirkan"
"Tetaplah waspada. Rafa merasa ada yang mengawasi Lana"
"Mengawasi Lana? Pak Bos, bagaimana jika itu Vi?"
"Vi?"
"Bukankah kita tahu akhir-akhir ini dia memang mengikuti Lana"
Hening sesaat.
"Apa aku perlu bicara padanya?"
"Tapi sepertinya Lana tidak terlalu terganggu. Lagipula sejauh yang saya tahu hubungan keduanya tidak baik. Lana selalu galak kepada Vi. Meski Vi tidak pernah melawan Lana"
"Kalau begitu, kita tunggu saja perkembangan selanjutnya. Tetap awasi Lana.Jangan sampai dia lepas dari pengawasan kita"
"Siap pak Bos"
**
"Kapan kita akan ketemu lagi, Mas" tanya Lana.
Mereka sudah berada di lift. Menuju lobi. Lana terus bergelayut manja di lengan Rafa.
"Tidak tahu" jawab Rafa santai.
"Nanti kalau pacar abal-abal mas Rafa ini rindu bagaimana?" tanya Lana manja.
Rafa tersenyum mendengar istilah yang digunakan Lana.
"Rindu ya telepon. Kok susah. Apa perlu dikirim pesawatnya Uncle Luis?" ledek Rafa.
"Aiisshh dibalik kata-kataku" keluh Lana.
Rafa kembali tertawa.
"Tidak mau mengantar?" tanya Rafa.
"Pengen sih"
"Ya sudah ayo"
"Tapi..."
"Nganter doang. Terus balik. Mas, kan langsung masuk. Ini tinggal satu jam ke flightnya. Tidak usah turun deh" bujuk Rafa.
Lana berpikir.
"Oke deh"
Tak lama, mobil yang dikendarai Lana mulai melandas di jalan raya. Lana pinjam mobil om Rey. Rafa ogah pakai Porche yang Lana bawa. Terlalu mencolok katanya.
"Ini dia" batin Rafa melirik spion mobilnya.
Dilihatnya sebuah taksi yang mengikuti mobil mereka. Rafa meraih ponselnya. Melirik nomor plat taksi itu. Menguliknya sejenak. Sesekali Rafa melirik Lana yang sedang fokus menyetir.
"Gotcha"
Ponsel Rafa langsung terhubung dengan kamera dashboard taksi yang mengikuti mobil Lana. Rafa jelas mewarisi kemampuan hacker papanya. Juga Nathan. Meski kemampuan Rafa adalah bakat sedangkan kemampuan Nathan adalah hasil pelatihan.
"Damm it"
Maki Rafa dalam hati. Penguntitnya memakai masker. Tanpa Lana tahu. Rafa mengambil foto penumpang taksi itu. Lantas mengirimkannya pada Jayden Lee.
"Om, ini foto orang yang mengikuti mobil Lana. Om bisa menyelidikinya"
Pesan yang dikirim oleh Rafa kepada Jayden
"Ok. Thank you"
Rafa tersenyum membaca balasan pesan dari Jayden.
Tak berapa lama. Mobil Lana mulai masuk ke bandara Juanda.
"Oke, mas turun dulu. Balik hati-hati. Jaga diri" pesan Rafa lantas mencium kening Lana hangat.
"Siap pak Bos" jawab Lana sumringah.
Rafa langsung turun. Membawa satu paperbag. Juga jaket yang dia pakai di luar mobil. Plus kacamata hitam yang sudah nangkring di hidung mancungnya.
Wis pokoke keren abis 😍😎😍😎
Rafa sesaat melambaikan tangannya pada Lana. Yang mulai memacu kendaraannya keluar dari bandara. Pria itu masih berdiri disana beberapa saat. Namun taksi yang mengikutinya tadi tidak nampak lagi.
"Semoga kamu baik-baik saja" batin Rafa.
Melangkah masuk ke dalam bandara. Check in. Lantas langsung masuk ke ruang tunggu VIP. Mengabaikan tatapan dari calon penumpang bandara yang menatapnya takjub.
Lana baru mau menginjak pedal gasnya. Ketika tiba-tiba seseorang masuk ke dalam mobilnya. Terkejut, Lana hampir berteriak. Namun orang itu langsung membekap mulut Lana.
"Hmmpppttt"
Lana berusaha berteriak. Namun tidak bisa.
"Ini aku, jangan berteriak" ucap orang itu yang tidak lain adalah Vi.
"Ha kamu? Ngapain kamu disini orang gila" pekik Lana.
"Jalan-jalan gratislah. Apalagi" jawab Vi datar.
"Tapi kenapa kau ada di bandara?" tanya Lana kepo.
"Jalan dulu" Vi mengingatkan.
"Eh..."
Lana buru-buru menginjak pedal gasnya. Karena bunýi klakson mulai terdengar dari deretan mobil di belakang Lana.
"Jawab dulu. Ngapain kamu di bandara? Mau balik ke Sidney?" kepo Lana.
"Idih ogah. Susah-susah bisa kabur. Ngapain balik lagi" lagi jawaban datar yang keluar dari bibir Vi.
"Kirain mau balik Sidney. Gitu bisa bareng sepupuku. Dia mau ke Melbourne tapi"
"Tahulah. Aku kan ngikutin kamu supaya tahu kamu kemana. Ternyata ke bandara doang" batin Vi.
"Hei, ini terus mau kemana? Aku capek mau pulang. Mau tidur"
"Muter-muter dulu cari makan. Aku lapar" jawab Vi.
"Issshh nggak modal. Dasar buronan" ledek Lana.
"Nah karena aku buronan. Aku nggak punya duit. Jadi bayarin aku makan"
"Modus! Heii dimana-mana orang minta traktiran itu mintanya yang baik-baik. Kalau perlu pakai acara ngerayu segala" protes Lana.
"Aku tidak minta. Aku malak" jawaban Vi membuat Lana mendengus geram.
"Dasar buronan" maki Lana.
"Oh, kamu mau dirayu. Dirayu yang model bagaimana? Peluk? Cium? Atau langsung ke ranjang?" ledek Vi.
Yang langsung mendapat cubitan keras dari Lana karena mereka sedang berada di lampu merah.
"Kamu pikir aku cewek apa? Murahan? Turun sana!" usir Lana.
"Woi marah....kalem bro. Kalau tidak merasa ya tidak usah marah" jawab Vi santai. Meski Lana mencak-mencak tidak karuan.
"Brengsek!" maki Lana.
"Kau lupa ucapanku? Maki aku lagi. Kucium kau!" ancam Vi.
"Tidak takut!" jawab Lana spontan. Terbawa perasaan marah karena Vi menyebutnya murahan.
Sejurus kemudian, bibir Vi benar-benar sudah menempel di bibir Lana. Lana membulatkan matanya. Tidak menyangka kalau Vi akan berani menciumnya. Ciuman itu tidak lama. Karena Vi perlahan mengurai ciumannya. Meninggalkan sedikit ******* di bibir Lana. Membuat Lana menjengit kaget.
"Kurang ajar! Berani kau mengambil ciuman pertamaku! Aahhhh kau benar-benar brengsek!" Lana kesal luar biasa.
"Itu ciuman kedua kita, Na"
Nafas Lana tersengal. Saking marahnya. Ingin sekali dia menghajar pria berwajah dingin di hadapannya itu.
"Sudah kapok belum?" tanya Vi enteng.
"Kau....."
"Kau marah kenapa? Yang bilang murahan itu bibir kamu sendiri. Aku tidak pernah menyebutmu murahan. Ingat tidak?" lagi Vi berucap dengan santainya.
Lana masih menahan amarahnya yang hampir meledak lagi. Ketika kemudian dia mengingat setiap perkataan Vi.
"Astaga..dia tidak pernah menyebutku murahan" batin Lana.
Lana menggigit bibir bawahnya. Saking malunya.
"Sudah ingat?"
Lana diam.
"Makanya sebelum memaki, pikir-pikir dulu" sindir Vi.
"Kau yang rugi kan?" lagi Vi menyindir Lana.
Lana mendelik mendengar ucapan sarkas Vi. Rasa kesalnya sudah sampai diubun-ubun.
Sementara itu,
"Pak Bos, sesuai dugaan kita" ucap Rey.
Menunjukkan layar laptopnya pada Jayden.
"Kurang ajar. Di mana mereka?" tanya Jayden.
"Mereka sedang makan di restoran XX" Rey menjawab pertanyaan Jayden sambil mengulik laptopnya. Berusaha meretas CCTV restoran itu.
Jayden dan Rey berada di ruang kerja yang ada di apartemennya.
"Mereka hanya makan saja" Rey berujar.
"Tapi Lana terlihat marah" tambah Rey.
"Bisa kau lihat CCTV mobilmu" ucap Jayden.
Sejenak Rey kembali asyik dengan laptopnya.
"Ooo, ..."
"Ada apa?" tanya Jayden. Meraih laptop yang Rey pakai.
"Brengsek!" umpat Jayden.
"Sabar pak Bos" Rey berusaha menenangkan.
"Aku akan menemuinya. Aku ingin Vi menjauhi Lana" tekad Jayden.
Rey hanya diam mendengar ucapan Jayden. Dia juga berpikir akan melakukan hal yang sama jika ada di posisi Jayden.
"Susahnya punya anak perempuan. Semoga saja Anis-nya tidak aneh-aneh" doa Rey dalam hati untuk adik Riko.
****