
Vi kembali melajukan mobilnya. Menuju ke sebuah hunian mewah di tengah kota Surabaya. Setelah beberapa saat yang lalu. Berhasil mendapatkan posisi Lana. Karena tidak satupun dari anak buahnya yang bisa menemukan Lana. Dan tentu saja, karena Vi tidak bisa menghubungi ponsel gadis itu.
"Akan kuberikan kode dari safir yang ada di gelang Lana. Hanya gelang itu yang selalu Lana pakai. Kakakku menanamkan chip GPS diatasnya" ucap Tania beberapa waktu yang lalu.
Membuat Vi dengan cepat meraih laptopnya. Membukanya lantas mulai bekerja.
"Ma, aku mohon jangan beritahu Om dulu. Aku akan menemukan Lana. Aku janji" ucap Vi.
Tania yang berada diujung sana, hanya berkata iya sambil mengangguk.
Tania langsung menutup panggilan dari Vi ketika sang suami keluar dari kamar mandi. Tentunya setelah mengirimkan kode safir di gelang Lana.
***
Vi langsung mengetuk pintu apartement itu. Sedikit berdebat dengan security yang bertugas. Karena tidak mengizinkan untuk naik ke lantai atas. Meski pada akhirnya Vi bisa mendapatkan akses masuk.
Vi langsung menekan bel apartemen itu. Beberapa kali. Hingga akhirnya sang pemilik membukakan pintu untuknya. Sang pemilik apartemen sedikit terkejut melihat kedatangan Vi.
"Apa yang kau lakukan di sini?" tanya suara itu dingin. Tidak seperti biasanya yang ramah dan juga humble.
"Aku mencari Lana?" jawab Vi cepat.
Dia tahu, pria yang ada di hadapannya ini pasti sedang marah.
"Tidak ada Lana di sini" lagi jawab pria itu. Tanpa ingin membiarkan Vi masuk.
"Arch, aku bisa jelaskan semuanya. Tapi biarkan aku masuk dulu" ucap Vi pada pemilik apartemen itu yang tak lain adalah Arch.
"Jelaskan soal apa?" tanya Arch dingin.
"Apapun yang ingin kalian tahu" jawab Vi cepat.
Vi tahu tidak hanya Arch yang ada di sana. Sesaat Arch terdiam.
"Berikan aku kesempatan untuk menjelaskan. Setelah itu terserah pada kalian mau melakukan apa padaku" pinta Vi.
Sesaat bola mata Arch menatap ke arah lain. Karena Vi tahu ada orang lain di sana. Hingga beberapa saat kemudian. Pintu itu terbuka. Membuat Vi dengan cepat masuk ke dalam.
Begitu dia masuk. Dilihatnya juga Riko yang ada di dalam sana. Menatap tajam ke arah dirinya sambil melipat tangannya di depan dadanya. Sedang Arch, pria itu langsung mendudukkan dirinya di sebelah Riko. Keduanya lebih seperti hakim yang tengah menginterogasi tersangka.
"Jadi apa yang ingin kau jelaskan? tanya Riko.
"Tunggu. Sebelumnya aku harus tahu dulu apa kesalahanku" jawab Vi.
"Cih!"
Arch berdecih kesal.
"Kau tidak tahu dimana kesalahanmu?" tanya Arch dingin.
"Ada salah paham dalam ini. Jadi aku perlu tahu hal apa yang dikatakannya pada Lana hingga membuatnya salah paham padaku" jawab Vi.
"Kau sungguh tidak tahu kesalahanmu?" cibir Riko.
Vi menggeleng. Sebenarnya apa sih yang sudah dikatakan papanya. Hingga tiga orang itu langsung memusuhi dirinya.
"Kau menyakiti hati Lana, apa kau tahu?" ucap Arch cepat penuh emosi.
"Tunggu, aku tidak pernah menyakiti Lana. Berpikirpun tidak" bantah Vi cepat.
"Lalu bisa kau ceritakan soal rekaman ini" ucap Riko. Meraih ponselnya. Lantas menyetel sebuah rekaman yang langsung membuat Vi membulatkan matanya.
"Jadi ini yang digunakan Papa untuk membuat Lana salah paham padaku" batin Vi.
"Ada yang ingin kamu jelaskan soal hal ini. Bisa-bisanya kamu menipu perasaan Lana. Membuatnya terluka" ucap Arch keras.
"Lalu apa kalian percaya begitu saja pada hal itu?" tanya Vi balik.
Membuat Arch dan Riko saling pandang. Melihat Vi begitu percaya diri mengatakan hal itu. Seolah menyangkal semua hal yang ada dalam rekaman itu.
"Bukankah itu adalah suara asli dirimu?" tanya Riko.
"Memang itu adalah suara asli diriku. Papaku yang memintaku melakukan itu semua. Tapi aku tidak menyetujuinya. Papaku memanipulasi rekaman itu" ucap Vi pada akhirnya.
Membuat Riko dan Arch kembali saling pandang.
"Yeah papa kandung rasa papa tiri. Satu hal yang pasti. Papaku tidak menyukai keluarga Lee. Lagipula apa kalian tidak bisa menilai diriku? Apa semua yang kulakukan untuk Lana hanyalah kepalsuan belaka. Mencintai Lana adalah hal paling membahagiakan untukku" jawab Vi menatap tajam pada Riko dan Arch.
Hening sejenak.
"Aku sama sekali tidak peduli pada omong kosong yang papaku sampaikan. Aku hanya peduli pada perasaan Lana. Jadi izinkan aku menemui Lana" pinta Vi.
"Tunggu dulu. Kau pikir kami percaya dengan ucapanmu?" tanya Riko.
"Aku tidak minta pada kalian untuk mempercayaiku. Karena itu semua tidak penting!" balas Vi cepat.
Membuat emosi Arch meledak seketika. Dan "bugh" satu pukulan mendarat di wajah Vi. Membuat Vi meringis seketika. Vi sama sekali tidak membalas. Toh itu tidak akan membantu. Arch yang sedang marah. Tidak mungkin akan mendengar ucapannya. Jadi biarkan saja Arch menjadikan dirinya samsak tinju. Daripada berdebat yang belum tentu ada hasilnya. Nanti kalau Arch lelah pasti dia berhenti sendiri.
Dan benar saja. Baru dua kali Arch melayangkan pukulannya ke wajah tampan Vi. Pria sudah menghentikan aksinya.
"Kenapa kau tidak melawan?" tanya Arch.
"Memang ada gunanya aku melawan? Yang ada kita semua akan babak belur. Tanpa masalah kita terselesaikan" jawab Vi.
Membuat Arch menarik kembali kepalan tangannya. Sedang Riko langsung terkesiap mendengar ucapan Vi.
"Pria ini benar-benar dewasa. Vi begitu tenang menghadapi masalah ini" batin Riko.
Sedang Arch langsung menghempaskan tubuhnya di samping Riko. Meski dia belum puas menghajar Vi.
"Apa kau mengakui telah menipu perasaan Lana?" tanya Riko.
"Aku tidak pernah menipu Lana. Sudah aku katakan kalau Papaku memang menyuruhku mendekati Lana. Aku memang mendekati Lana. Tapi bukan karena perintah Papaku. Tapi karena aku memang tertarik pada Lana. Aku tidak pernah berniat menuruti perintah Papaku. Karena aku memang mencintai Lana. Aku sama sekali tidak ingin menyakiti Lana" jelas Vi panjang lebar.
Sementara itu Lana yang berada di balik pintu kamar Arch. Hanya bisa menangis tertahan. Saat Vi mengatakan semuanya. Vi sendiri tahu, Lana berada di kamar Arch. Hingga dia sengaja mengeraskan suaranya. Agar Lana bisa mendengarnya.
"Lalu yang mana yang harus aku percayai?" teriak Lana. Keluar dari kamar Arch.
"Lana...." panggil Vi lirih. Hati Vi sakit melihat bagaimana Lana menangis hingga mata gadis itu bengkak.
Tanpa kata, Vi langsung memeluk Lana. Membuat gadis itu seketika ingin berontak. Namun Vi semakin mengeratkan pelukannya.
"Maafkan aku. Membuatmu menangis, Na" bisik Vi.
Membuat tangis Lana kembali pecah. Lana menangis pilu dalam pelukan Vi.
"Kenapa kau jahat padaku? Kenapa kau menipuku? Menipu cintaku" ucap Lana.
"Siapa yang jahat padamu? Siapa yang menipumu? Siapa yang menipu cinta seorang Lana?" tanya Vi.
Membuat Lana langsung melepaskan diri dari pelukan Vi.
"Kaulah pria brengsek itu!" maki Lana.
"Kamu pikir aku gila apa? Menipu gadis secantik kamu meski judesnya minta ampun" ucap Vi enteng.
Lana langsung mendelik mendengar ucapan Vi.
"Kenapa masih menyangkal kalau kamu itu putri judes. Apa kamu tahu aku pernah ingin memeriksakan diriku sendiri ke dokter jiwa karena aku pikir diriku gila. Bisa jatuh cinta padamu. Judes, galak, tapi cantik sekali. Membuatku begitu merindukanmu saat aku jauh darimu" ucap Vi lembut, menatap dalam pada mata Lana.
Sesaat Lana terdiam. Sedang dua pria di belakang Vi langsung memutar matanya malas.
"Gombal amoh!" teriak Arch membuat Riko terbahak.
"Hei apa kalian pernah mendengar aku merayu putri judes ini?" tanya Vi.
"Aku tidak tahu harus percaya pada siapa Vi" keluh Lana.
Vi mengulum senyumnya. Mengusap lembut air mata yang masih mengalir di wajah Lana.
"Aku tidak memintamu percaya padaku. Tapi aku ingin hatimu menilaiku. Apakah selama ini aku menipumu? Apakah rasa cintaku padamu adalah palsu? Apakah semua yang kulakukan untukmu adalah bohong belaka? Jawab itu dulu. Setelah itu baru kau putuskan. Percaya padaku atau pada ucapan Papaku" ucap Vi.
Sesaat kemudian Vi mencium lembut kening Lana. Lama. Hingga perlahan Vi mengurainya. Lantas berjalan keluar dari apartement Arch. Membuat Lana hanya terdiam. Pun dengan Arch dan Riko.
"Percayalah padaku aku mohon" batin Vi sebelum benar-benar keluar dari apartemen Arch.
****