
Minggu itu berlalu. Dan hari yang ditunggu-tunggu akhirnya datang juga. Hari pernikahan Vi dan Lana. Lana sendiri menjadi gugup sejak beberapa hari yang lalu. Menikah? Oh my God pada akhirnya dia akan menikah. Dengan Vi, pria yang sama sekali tidak pernah terlintas dalam benaknya.
Pertemuan yang tidak mereka sengaja beberapa bulan lalu. Mengikat takdir keduanya dalam sebuah pernikahan. Yang entah sadar atau tidak, sudah dimulai sejak Lana belum terlahir ke dunia.
Vi, pria dingin dan tertutup. Yang oleh Lana sering dipanggil pria balok es. Perlahan mulai menghangat saat dia seringkali harus bertahan saat menghadapi sikap judes dan galak Lana. Vi yang kurang kasih sayang semakin terbuka ketika mengetahui kalau dirinya dan Mama Tania sudah mengenal jauh sebelum pertemuan mereka saat Vi harus terluka ketika melindunΔ£i Lana.
"Senyum napa neng" seloroh Marina yang memang paling konyol diantara mereka.
"Gue gugup, Na" jawab Lana tanpa basa basi.
"Alah gugupnya entar malam kalau udah mau ketemuan sama itunya Vi" ceplos Marina.
Membuat Caca langsung mengeplak lengan Marina.
"Apo sih?" geram Marina.
"Kita tahu elu dokter obgyn. Lihat kayak begituan sudah biasa buat elu. Tapi kita..please deh tolong ngertiin kita-kita" rengek Caca.
"La bukannya cepat atau lambat elu semua bakal ketemuan sama milik suami elu. Jadi sekalian tak edukasi kan nggak apa-apa" jawab Marina enteng.
"Malah tambah somplak dianya" keluh Kanaya.
Dan obrolan itu malah membuat Lana semakin gugup. Dia teringat pernah melihat milik Vi beberapa kali. Bahkan dalam beberapa kesempatan. Dia bisa merasakan besarnya milik Vi. Saat benda itu menegang karena hasr** Vi yang sering kali naik meski hanya berciuman dengan dirinya.
Bisa Lana bayangkan betapa sakitnya kalau benda sebesar itu memasuki dirinya.
"Na..." bisik Lana memanggil Marina. Dirinya sudah selesai dimake up. Sedang yang lain sudah keluar lebih dulu dari kamar hotel tempat pesta akan digelar.
"Apa?" tanya Marina ikut berbisik.
"Memang bener ya, waktu pertama kali akan sakit" tanya Lana ragu.
"Sakit..sakit banget malah kata pasien aku tapi...
"Mending gue nggak jadi nikah aja kali ya. Ogah gue kalau rasanya sakit" keluh Lana yang langsung mendapat toyoran di kepala Lana yang sudah disanggul rapi.
"Aduh, rusak rambut gue" ketus Lana
"Busyet gue belum selesai ngomong putri judes" potong Marina cepat.
"Tapi apa dong..."
"Kata pasien gue emang sakit banget tapi abis enak banget bisa bikin elu lupa ma tagihan kartu kredit" jawab Marina sumringah.
"Gue nggak punya kartu kredit ya asal tahu elu tahu"
"Perumpamaan putri judes. Itu kata pasien gue lo ya. Jangan tanya gue soalnya gue belum testing ma Arch"
"Astaga itu mulut enteng banget ngomong. Belum testing sama Arch. Jangan testing-testingan aja. Langsung tubruk aja besok kalau sudah nikah"
Marina terkekeh. Detik berikutnya, Marina membisikkan sesuatu ke telinga Lana. Membuat mata gadis itu membulat.
"Mama...." pekik Lana dalam hati ketika Marina beranjak pergi menyusul yang lain yang menunggu di depan pintu. Selagi sang MUA akan memberikan final touch pada wajah dan tampilan Lana.
***
Di venue pernikahan. Tampak Vi yang juga terlihat gugup. Berusaha menutupi kegugupannya. Dia baru saja diajak berkeliling dan dikenalkan pada anggota keluarga besar Lana. Yang baru datang semalam.
Cukup terintimidasi dengan kehadiran Rafa dan Hyun Ae. Mengingat nama dua pria itu yang sering terlontar dari bibir Lana. Meski kedua pria tampan itu kini menggandeng pasangan masing-masing. Rafa dengan sang istri Valerie. Juga Hyun Ae dengan sang kekasih Karen.
Vi cukup sulit menghafal sepupu Lana yang tidak seberapa itu. Yang sebagian besar adalah pria. Hanya beberapa orang saja yang berhasil Vi ingat. Lain embuh. Efek saking gugupnya.
Riko menghampiri, memberitahu kalau dirinya harus bersiap karena sebentar lagi Lana akan tiba. Rasa gugup semakin menerpa. Jantungnya seolah bermaraton ria. Saat suara musik mengalun merdu. Bersamaan dengan pintu ballroom yang dibuka.
Mata Vi langsung bersitatap dengan mata Lana. Meski jarak mereka cukup jauh. Jantung Vi yang tadinya bermaraton ria kini seolah berhenti berdetak. Melihat Lana, si putri judes yang kini terlihat sangat cantik di mata Vi. Gadis galak yang dalam beberapa waktu ke depan akan resmi menjadi istrinya.
Mata Vi tak berkedip saat Lana berjalan mendekat ke arahnya didampingi sang papa Jayden. Yang meskipun tersenyum. Tapi Vi tahu ada rasa haru yang bisa ia rasa.
Jayden pelan memindahkan tangan Lana dari genggamannya menuju telapak tangan Vi yang terbuka. Bersiap menyambut tangan Lana.
"Jaga putri Papa satu-satunya. Jangan buat dia menangis. Jangan menyakiti hatinya. Awas kalau sampai kau menyakitinya. Tak tolak kamu masuk rumah" ucap Jayden yang pada awalnya serius berubah receh diakhir. Membuat yang hadir mengulum senyum mereka.
"Siap Pa!" jawab Vi tegas meski bibirnya bergetar saat menjawab ucapan Jayden.
Lana mencium Papanya sekilas. Lantas menatap Vi yang balik menatapnya dengan jutaan rasa bahagia yang membuncah di dada.
Acara pernikahan Vi dan Lana berlangsung meriah. Semua keluarga besar bisa berkumpul di sana. Ada Kai dan Natasya. Nadya dan Justin. Serta Andra dan Azka, putra Nadya dan Justin.
Ada Lee Joon dan Nina. Serta Lee Jae Ha dan Sofia. Hyun Ae yang datang dengan Karen langsung jadi bahan ledekan karena dia yang paling tua. Tapi belum menikah juga.
"Santai Bro. Aku kan gentlemen. Jadi lady's first" ucap Hyun Ae menyanggah semua tuduhan para sepupu jahilnya.
"Alah ngomong aja baru nemu jodoh sekarang" ledek Arch yang memang paling tengil di antara mereka.
"Kayak elu kagak aja" ledek yang lain.
"So bagaimana kalau habis ini kita adain nikah massal aja. Kan Vi sama Lana sudah opening ni. Selanjutnya kita barengan aja" usul Arch yang memang kacau.
"Gue ogah. Gue masih mampu buat nyewa gedung buat gue resepesi nanti" celetuk Rafa judes.
Pria satu itu memang seperti itu kalau sudah keluar suaranya. Judes seperti Lana. Tak heran jika keduanya banyak cocoknya.
"Sepupumu banyak ya" bisik Vi dari pelaminannya.
"Banyak, jahil, tengil lagi" balas Lana.
Tidak percaya jika gadis itu kini benar-benar jadi istrinya. Istri? Pikiran Vi langsung mengarah ke kamar mereka yang berada di lantai paling atas hotel ini. Membuat Vi jadi tidak sabar untuk masuk ke sana.
"Yang paling tengil di Jakarta ya Andra. Heran deh sama Hani, semoga dia betah ngadepin tengilnya Andra" ucap Lana yang tidak terlalu digubris Vi.
Suasana jadi semakin meriah karena pesta itu hanya bersifat private party. Hanya keluarga dan beberapa kerabat dekat saja yang diundang. Namun ruangan ballroom itu sudah terisi penuh.
"Selamat ya Vi" ucap Rafa. Menjabat tangan Vi lantas memeluk tubuh Vi.
"Terima kasih sudah jauh-jauh datang. Menyempatkan diri ke sini" jawab Vi.
"No problem. Kenalkan Valerie. Istriku" ucap Rafa memperkenalkan sang istri yang masih sibuk berpelukan dengan Lana.
Valerie setengah Cina, setengah bule. Perpaduan sempurna yang mampu membuat hati Rafa meleleh bak es krim kena panas.
"Salam kenal. Panggil saja Val" sapa Valerie.
"Mas Rafa..." rengek Lana. Menengadahkan tangannya. Meminta sesuatu pada Rafa.
"Apa maumu?" tanya Rafa seolah tahu keinginan sang sepupu.
"Belum kepikiran" jawab Lana usil.
"Ngerjain Mas ya. La wong aku nikah aja, aku nggak minta hadiah kok" sungut Rafa.
"Situ duit dah banyak. Nggak perlu sumbangan dari kita-kita" jawab Lana enteng.
"Alah kayak aku nggak tahu kekayaan suami kamu aja" ucap Rafa mengedipkan mata ke arah Vi yang langsung tersenyum kikuk.
"Setidaknya aku masih bisa ngasih Lana makan tiga kali sehari, Mas" jawab Vi merendah.
"Haish kenapa jadi tidak pede begitu sih"
"Ya gimana jadi pede. La wong situ lo pemilik Liu Corp. Raksasa bisnis yang kalau gue berulah bisa langsung dipithes sampai habis" gelak Vi.
"Bisa aja elu becandanya. Seneng deh gue, elu nggak sekaku dulu waktu jadi kurir makanan"
"Eh?"
Vi menatap Rafa yang mulai menjauh sambil menggandeng sang istri. Mengabaikan wajah kepo Vi soal ucapan Rafa.
"Kurir makanan? Kamu pernah jadi kurir makanan?" tanya Lana kepo.
"Pernah dulu buat ngilangin bosen" jawab Vi asal.
Percakapan mereka terhenti ketika seorang pria dengan wajah seiras Rafa mendekat.
"Kak Kenzo.." pekik Lana.
"Satu lagi ni biang kerok pembuat rusuh suasana gegara tampang yang mirip artis" gerutu Vi dalam hati.
"Kak Alex nggak ikut?" tanya Lana.
"Masih berani ketemu Alex?" tanya Kenzo.
"Agak takut sih" cengir Lana.
"Nah tu tahu. Selamat ya Vi semoga bisa sabar menghadapi rengekan Lana" ucap Kenzo penuh makna.
"Maksudnya?"
"Alah pikir keri. Sudah ah. Mau pedekate sama camer dulu sama kakak ipar" ucap Kenzo sambil berlalu.
Vi dan Lana menatap punggung Kenzo yang menjauh menuju ke keluarga Armando berada.
"Dia beneran serius mentok sama Anis?" tanya Vi.
"Kayaknya sih iya. Nggak tahu deh hasilnya apa nanti" ucap Lana ikut prihatin jika memang jalan itu yang dipilih Kenzo.
Lana pikir akan sulit jalan yang ditempuh oleh Kenzo untuk bisa meraih Anis.
Lana mendengar kedua keluarga besar tidak masalah dengan hubungan Anis dan Kenzo. Keduanya sama-sama sudah dewasa. Bisa memutuskan mana yang baik untuk diri mereka sendiri.
Termasuk untuk agama. Steven Liu dan Lin Qian, orang tua Kenzo tidak masalah dengan hubungan ini. Mereka tidak akan menentang apapun keputusan sang putra nanti. Asal Kenzo bahagia. Mereka paham tidak ada yang bisa melawan takdir. Jadi prinsip mereka tinggal ikuti saja alurnya.
***
Kredit Instagram @ xukai_empire
Si pengantin pria abang Vi, πππ€΅π€΅
Kredit Instagram@chessman_smilling_04
Si pengantin wanita neng Lana πππ°π°
Happy wedding ya ππππ
***