
Lana duduk sambil memanyunkan bibirnya. Awalnya dia takut setelah tahu siapa Vi yang sebenarnya. Vi yang ternyata orang kaya. Tidak beda dengan dirinya. Namun rasa takut itu sirna kala dia kembali disuguhi wajah dingin nan menyebalkan itu.
Apalagi sekarang ini, dia terpaksa satu mobil dengan Vi. Karena Riko ada operasi mendadak. Pasien kecelakaan.
"Kenapa kau bohong padaku?" tanya Lana menahan rasa kesalnya.
"Soal?" jawab Vi singkat.
"Soal siapa kau. Apalagi" kesal Lana.
"Lalu apa bedanya kau tahu siapa aku dan kau tidak tahu siapa aku" tanya Vi.
"Duh ribet banget sih ngomongnya" keluh Lana.
Vi mengulum senyumnya.
"Kau itu selalu menyalahkanku. Padahal kau sendiri yang melakukan kesalahan" Vi berucap tajam.
"Aku salah?" tanya Lana menunjuk wajahnya sendiri.
"Iya, kau yang salah. Dengarkan aku. Apa kau pernah bertanya siapa aku?" Vi bertanya.
Lana tercekat. Iya, dia tidak pernah bertanya siapa Vi. Dia hanya sibuk memanggilnya buronan, penjahat, brengsek dan sederet umpatan lain yang kerap keluar dari bibirnya.
"Bagaimana sudah ingat?" tanya Vi lagi.
Lana terdiam. Mobil itu melaju tenang di jalanan kota Surabaya.
"Om, antarkan dia ke rumah utama" perintah Vi.
"Aku mau pulang ke apartemen" pinta Lana.
"Kau pulang ke rumah utama. Aku tidak mau disalahkan kali ini" ucap Vi ambigu.
"Apa maksudmu?" tanya Lana.
"Tidak ada" jawan Vi.
"Ggrrrhhhh"
Lana menggeram kesal.
"Turunkan aku didepan!" Lana berteriak.
"Maaf Nona. Nona harus pulang ke rumah utama" Dika menjawab.
Lana kembali mendengus kesal.
"Jangan marah-marah terus.Itu tidak baik untukmu" Vi berucap tanpa melihat ke arah Lana. Pria itu sejak tadi hanya memainkan ponselnya tanpa menatap Lana sedikitpun.
Mereka melanjutkan perjalanan dalam diam. Hingga mobil Dika mulai memasuki kawasan rumah Lana.
"Maaf aku hanya bisa mengantarmu sampai sini" Vi berucap ketika mobilnya berhenti di pintu gerbang tanpa gerbang.
"Kau menyuruhku berjalan ke sana" tanya Lana tidak percaya.
"Kau tahu mobilku tidak bisa masuk kan" ucap Vi.
Membuat Lana memejamkan matanya sejenak.
"Ini aku. Buka gerbangnya" perintah Lana melalui ponselnya.
Tak berapa lama terdengar bunyi "klik" samar.
"Sensor pendeteksi barang bergerak" batin Vi.
"Masuk Om" Lana meminta Dika membawa masuk mobilnya ke dalam kawasan rumahnya.
"Selain yang sudah terdaftar. Tidak ada yang bisa lolos dari scanner ini. Ini luar biasa" puji Vi.
"Apa kita perlu turun Vi" tanya Dika.
"Entahlah Om" jawab Vi ketika Lana langsung turun begitu saja dari mobil Vi. Tanpa berkata sepatah kata apapun.
"Kita langsung pulang saja Om" putus Vi tak lama kemudian.
Namun Dika baru saja akan menghidupkan mobilnya ketika Jayden tiba-tiba muncul di pintu.
"Kau tidak mendengarkan peringatanku Vi" ucap Jayden tajam juga dingin.
Membuat Vi memejamkan matanya. Menarik nafasnya. Lantas keluar dari mobilnya.
"Maaf tuan Lee pertemuan kali ini tidak disengaja. Saya yakin Anda sudah tahu" jawab Vi tanpa takut.
Keduanya hanya berdiri di luar pintu utama rumah besar itu.
"Dia benar-benar berani" batin Jayden.
"Maaf jika saya mengabaikan peringatan Anda. Tapi saya rasa, saya melakukan hal yang benar dengan mengantarkan Lana pulang ke rumah" tambah Vi.
Jayden terdiam. Hening sesaat.
"Jika tidak ada yang perlu dibicarakan lagi. Saya undur diri" pamit Vi. Lantas masuk ke dalam mobilnya. Meninggalkan Jayden berdiri mematung.
***
"Lana...Lana..ini Papa. Boleh Papa masuk?" tanya Jayden melalui monitor penghubung.
Sunyi, tidak ada jawaban.
"Kenapa Pa?" tanya Young Jae yang baru pulang.
"Hei dari mana kamu?" tanya Jayden curiga.
"Nongki sama Archie, apa lagi" jawab Young Jae santai.
Jayden memindai penampilan sang putra. Melihat tidak ada yang mencurigakan. Dia membiarkan putra bungsunya itu masuk ke kamarnya.
"Papa kalau mau bicara sama kak Lana masuk saja. Dia kalau sudah di tempat favoritnya tidak bakalan dengar biarpun Papa panggil pakai toa juga" ucap Young Jae sebelum masuk ke kamarnya.
Jayden terdiam. Lantas mulai membuka kamar Lana menggunakan sidik jarinya. Dan benar saja. Begitu dia masuk. Dilihatnya sang putri sedang asyik menikmati langit malam di spot favoritnya.
Lana tidak mendengar panggilan Jayden karena dikupingnya sudah ada air pods yang menutupi pendengarannya.
"Wuih nyamannya" ucap Jayden ikut naik ke kasur bulat milik Lana.
"Eh Papa. Tumben ke sini. Mau bicara apa" tanya Lana to the point.
"Wah nggak ada basa-basinya sama sekali kamu" kekeh Jayden.
"Buang waktu Pa basa basi" jawab Lana.
Jayden menarik nafasnya. Sejenak ikut menikmati pemandangan langit malam di depannya.
"Vi? Vian maksud Papa?"
Jayden mengangguk.
"Tidak ada hubungan apa-apa. Hanya kebetulan bertemu"
"Kalau dia menyukaimu?" todong Jayden.
"Tidak mungkin Pa. Wong kita nek ketemu mesti berantem" jawab Lana.
"Yang ngajakin berantem kamu atau dia?"
Lana berpikir. Iya juga. Selama ini dia yang selalu memancing kemarahan Vi.
"Lana" jawab Lana nyengir.
Jayden mendelik mendengar jawaban Lana.
"Kamu tahu siapa Vi?" tanya Jayden.
"Pewaris Aditama Group"
"Apa kamu menyukainya?"
"Tidak?" jawab Lana tegas.
"Kalau dia menyukaimu?" lagi Jayden berkata.
"Papa, tidak mungkinlah" lagi Lana menegaskan.
"Dari mana kamu tahu dia tidak menyukaimu. Lana...ada tipe pria yang suka mengekspresikan rasa sukanya dengan kata-kata...
"Gombal..Lana tidak suka yang model begituan. Omong doang" potong Lana cepat.
"Lana.."
"Sorry Pa, sorry"
"Lalu ada yang suka mengekspresikan dengan tindakan. Lalu menurut kamu Vi itu model yang mana?" tanya Jayden.
"Tidak tahu. Lagian kenapa jadi ngebahas si kaku itu sih" protes Lana tidak suka membahas soal Vi.
Jayden menghela nafasnya. Susah bener ngomong sama anak wedok 🤣🤣
"Karena Vi sepertinya suka sama kamu"
"Tapi Lana enggak" potong Lana lagi.
"Yakin?" tanya Jayden.
"Banget!" jawab Lana mantab.
"Tidak menyesal dia diambil cewek lain?" tanya Jayden lagi.
"Ti...." Lana terdiam di tengah jawabannya.
Sebenarnya beberapa hari tidak bertemu. Ada rasa kehilangan di hati Lana. Seperti ada yang kurang dalam hidupnya. Tapi Lana tidak terlalu memikirkannya. Tapi ketika ditanya, jika Vi jalan sama cewek lain. Kok ada rasa tidak rela ya, galau mode on 😁
Sedang Jayden yang melihat putrinya terdiam, kembali menghela nafasnya.
"Kamu juga ada sedikit rasa sama anak itu" batin Jayden menatap putrinya yang tengah menatap langit-langit kamarnya.
Jayden sendiri sebenarnya keberatan kalau Lana dengan Vi. Kalau bisa, dia ingin yang lain untuk putrinya. Tapi kalau misalnya keduanya saling mencintai seperti kata Vi, dia bisa apa.
Lagipula sejauh ini, Jayden lihat hanya Vi saja yang mampu bertahan dengan sikap judes dan galak Lana. Karena memang seperti itu sikap Lana kepada orang luar. Padahal aslinya tidak. Lana tipe ceria dan ramah.
Jayden sudah menonton rekaman beberapa kamera tersembunyi. Yang menunjukkan betapa galak dan judesnya Lana pada Vi. Tapi Jayden lihat Vi hanya diam.Tidak melawan atau membantah omongan Lana. Meski terkadang Vi juga mampu membalikkan kata-kata Lana yang super pedas. Membuat Lana tidak berkutik untuk menjawab.
"Akan jadi apa keadaan ini" batin Jayden.
Ikut memejamkan mata di samping Lana.
***
"Jadi Riko itu putra Reyhan Armando. Asisten Jayden Lee?" tanya Vi beberapa hari kemudian.
Dika mengangguk.
"Dia salah satu bodyguard-nya Lana" info Dika lagi.
"Pantes manjanya tidak ketulungan sama Riko" batin Vi.
Vi kembali termenung setelah Dika keluar dari ruangannya. Menarik nafasnya dalam.
..."Kenapa kau malah berhenti mendekatinya?" tanya Bryan semalam melalui sambungan telepon....
..."Dia tidak menyukaiku" jawab Vi....
..."Makanya usaha dong biar dia suka denganmu" desak Bryan....
..."Aku tidak mau memaksa orang untuk menyukaiku" lagi Vi menjawab tegas....
..."Kau...."...
Sepenggal percakapan dengan sang papa semalam. Membuat Vi semakin curiga kenapa papanya begitu ngotot ingin dia mendekati Lana.
Seolah teringat sesuatu. Vi membuka laptopnya yang lain. Laptop khusus. Membukanya. Lantas mulai berselancar diatas keyboardnya.
Beberapa waktu berlalu. Hingga dua matanya melebar saking terkejutnya.
"Jadi mereka memang pernah dekat di masa lalu" guman Vi sambil mengusap ujung dagunya.
***
Maaf ye para readers tercintah, akibat kesalahan teknis. Bab sebelumnya terkirim dua kali. Jadi yang satu boleh diskip aja 🙏🙏😁😁
Buat tanda permintaan maaf author,author kasih bonus pict Ayang Vi, yang mulai buat galau ayang Lana, 😍
Alah modus, bilang aja nemu gambar ayang Vi yang cucok meong terus mau author pamerin di sini 🙄🙄
Ehh tahu aja, 🤭🤭
Jadi ini foto ayang Vi yang lagi ngubek-ngubek masa lalu, eh nyari masa lalu kedua keluarganya..
Kredit Instagram @xoxoxukai_mm
Enjoy reading ya guys 🤗🤗
***