
"Ini apa maksudnya?" tanya Jayden menatap sebuah amplop.
"Vi ada disini" jawab Rey cepat.
Mendengar hal itu. Jayden langsung meraih amplop itu. Amplop yang berisi foto-foto Vi waktu di bandara dan hotel.
"Dan ini, oh my God, Rey...
"Dia bertemu Lana. Dan parahnya, Vi-lah pria yang menginap di apartementmu"
"What!!!!" Jayden langsung berdiri dari duduknya.
"Apa maksudmu...
"Dia tidur di apartemenmu. Lana tidur di apartement Lia. Jadi so far masih aman" cengir Rey.
"Aman darimananya? Vi ketemu Lana atau Vi sengaja mencari Lana" Jayden mulai panik.
"Lihat ini dulu. Baru kita simpulkan" ucap Rey menyalakan laptop miliknya. Menampilkan sebuah rekaman CCTV. Sejak dari kejadian Lana dan Vi bertemu tidak sengaja. Hingga keduanya dikejar orang-orang berpakaian hitam. Termasuk percakapan Vi dengan Bryan sang papa.
"So..."
"Mereka tidak sengaja bertemu"
"Dan mereka tidak mengenal satu sama lain" tambah Rey.
"Tapi Rey tetap saja Vi itu anak Bryan" ucap Jayden hampir merengek seperti anak kecil.
"Terus pak Bos apa masalahnya? Di sini kita dengar, kalau Vi jelas menentang papanya"
"Tapi Rey..."
"Pak Bos, kita sendiri tahu kehidupan Vi itu seperti apa. Vi memang anak Bryan tapi dia didikan tuan David seratus persen. Bahkan wajah saja tidak nyerempet Bryan sama sekali. Vi ini anak Bryan atau anak tuan David. Wajahnya lebih condong ke tuan David" Rey mulai menganalisa.
Jayden mulai ikut mengamati wajah Vi.
Kredit Instagram.com
Alvian Andrew Aditama ya guys
"Iya juga ya" Jayden mulai menyadari kalau wajah Vi tidak mirip sama sekali dengan Bryan.
"Lagipula track recordnya bagus sekali. Tidak seperti bapaknya dan pak bos" Rey melirik bos singanya takut-takut.
"Maksudmu apa?" tanya Jayden tajam.
"Tidak ada" jawab Rey cepat. Menghindari masalah yang lebih rumit. Jayden sejenak menatap asistennya itu tajam.
Rey hanya diam. Tidak berani membalas tatapan mata bos singanya itu.
"Kita harus semakin mengetatkan pengawasan kita pada Lana" ucap Jayden. Yang langsung diangguki oleh Rey.
"Meski saya rasa, Vi tidak punya niat jahat pada Lana. Tapi kita patut waspada. Aku sudah bicara pada Sean. Dan dia akan bicara pada Archie untuk lebih intens berkomunikasi dengan Lana" tambah Rey.
Ya secara hanya Archie yang bisa bergerak bebas. Sebab Riko masih harus berkutat dengan jadwal operasi dan juga tugas kedokterannya.
"Maaf, Riko tidak bisa membantu banyak dalam hal ini" Rey berucap penuh penyesalan.
"Hey kenapa kau berkata seperti itu. Riko bisa jadi tameng hati bagi Lana" ucap Jayden.
"Maksudnya?" tanya Rey tidak paham.
Dulu yang dipuji kalem Sean, tapi Archie sang anak justru punya sikap yang sedikit urakan. Meski tetap terkontrol.Sedang Rey yang dulu dianggap lebih beringas. Tapi sang anak, Riko justru memiliki kekaleman yang membuat Lana selalu nurut dengan setiap perkataan Riko.
Riko sendiri agak keluar jalur dalam hal karier. Sebab dia tidak ikut berkarier di dunia bisnis. Riko memilih menjadi seorang dokter. Dan spesialis bedah menjadi pilihannya. Namun dia juga memiliki naluri bisnis dalam darahnya.
Hingga akhirnya dengan dukungan investasi dari Kai dan juga bekerjasama dengan Huang Enterprise, Riko sekarang mempunyai sebuah rumah sakit sendiri. Meski belum lama berkecimpung di dunia rumah sakit. Namun Riko cukup lihai dalam mengelola rumah sakitnya.
"Jadi sekarang di mana Vi" tanya Jayden.
"Aa itu..dia membeli unit di bawah kita" ucap Rey kembali sambil nyengir.
"What!!!!" kembali Jayden hampir berteriak.
"Sabar Pak Bos, sabar" Rey berusaha menenangkan Jayden yang memang suka kalang kabut jika sudah menyangkut putrinya itu.
"Aduh Rey, maksudnya Vi itu apa coba?" tanya Jayden bingung.
"Saya juga tidak tahu. Apa tidak sebaiknya kita bicara dengan Dika" usul Rey.
"Usul bagus. Aku akan menghubunginya nanti. Pasti Dika sekarang juga sedang sibuk ngurusi tuan mudanya itu" ucap Jayden. Yang diangguki oleh Rey.
"Ini kalau Tania sampai tahu Vi ada disini. Dia pasti sangat bahagia" batin Jayden.
Jayden tahu sang istri sangat merindukan Vi. Tania sudah menganggap Vi seperti anak sendiri. Bahkan sejak dalam kandungan Vera.
Tania sempat menjalin hubungan dengan Vi via telepon. Kala itu,David yang menjembatani hubungan itu. Hampir setiap weekend, Tania menghubungi David untuk bisa bicara dengan Vi. Jadi bisa dikatakan jika Tania sering bicara dengan Vi tapi tidak pernah bertemu.
David mengenalkan Tania sebagai tantenya yang tinggal di Surabaya. Hingga komunikasi itu terjalin intens. Vi yang kurang mendapatkan kasih sayang dari Vera dan Bryan. Merasa diperhatikan oleh Tania. Hingga Vi yang pada awalnya memanggil Tania, Tante meminta izin pada Tania dan kakeknya untuk memanggil Tania, Mama.
Karena melihat Vi selalu terlihat bahagia saat bicara pada Tania, akhirnya David mengizinkan Vi memanggil Mama pada Tania. Hingga komunikasi yang dijalin sembunyi-sembunyi itu akhirnya terbongkar. Bryan marah besar pada sang ayah. Lantas memutuskan hubungan Tania dan Vi.
Bryan mengancam papanya jika sang papa masih membiarkan Tania bicara pada Vi. Dia tidak akan segan-segan mengirim Vi sekolah jauh di luar negeri, agar David tidak bisa bertemu Vi lagi. Ketakutan akan berpisah dengan Vi, membuat David tidak berpikir untuk melawan Bryan kala itu. Hingga akhirnya jalinan komunikasi itu benar-benar terputus. Meski diakhir pembicaraan mereka. Tania sempat menjanjikan akan menjemput Vi. Karena anak itu selalu merengek ingin pergi dari sana. Dia selalu mengeluh kesepian. Tidak bebas.Tidak diperhatikan.
Namun sampai sekarang, hal itu tidak pernah terwujud. Karena Bryan ternyata juga menghubungi Tania. Dengan ancaman yang sama, dia melarang Tania menghubungi Vi lagi. Kalau tidak, Bryan menjamin Tania tidak akan pernah bertemu Vi lagi.
Lagi, ancaman Bryan ampuh membuat Tania tunduk pada perintah Bryan. Sejak saat itu pengawasan pada Vi semakin ketat. Membuat Vi semakin tertekan di usia remajanya. Beruntungnya David selalu mendampingi Vi. Hingga Vi tidak sampai depresi.
Namun berbeda dengan Tania. Rasa bersalah karena tidak bisa menepati janji pada Vi membuat Tania tertekan. Hingga mengakibatkan depresi meski masih dalam tahap awal. Sebab Jayden langsung membawa ke psikiater untuk berkonsultasi. Dan semuanya bisa diatasi dengan catatan Jayden harus selalu memperhatikan Tania. Mengalihkan perhatian Tania dari perasaan bersalahnya pada Vi.
Waktu itu usia Lana dan Young Jae masih belasan tahun. Jadi mereka tidak terlalu paham dengan perubahan sikap mamanya. Sebab ketika bersama anak-anak.Tania tidak menunjukkan keanehan apa-apa. Namun jika sudah sendiri. Perasaan bersalah itu mula menghampiri. Membuatnya kadang menangis seorang diri.
Jayden butuh usaha keras untuk bisa mengatasi depresi Tania. Hingga akhirnya usaha Jayden dibantu Maura, Sean dan Nita membuahkan hasil. Sekarang Tania sudah bisa menerima keadaan. Perasaan bersalah masih menghantui. Tapi Jayden selalu berkata kalau Vi baik-baik saja. Juga tumbuh dengan baik. Membuat Tania lega. Hingga tidak bertemu pun tidak apa-apa asal Vi baik-baik saja.
"Kamu pasti akan sangat bahagia kalau melihat Vi sekarang. Dia tumbuh jadi seorang pria yang tampan" batin Jayden kembali menatap foto-foto Vi diatas mejanya.
Bahkan Jayden pun harus mengakui kalau Vi memang tampan. Ditambah dengan analisa Thomas kemarin saat mereka bertemu di Singapura. Kemampuan Vi terhitung luar biasa. Dia bisa jadi pebisnis yang hebat di masa depan.
"Andai kau bukan anak si brengsek itu. Sudah kujodohkan kau dengan Lana. Aku rasa Vi bisa menang kalau tanding melawan Rafa. Bisa jadi calon mantu idaman kamu. Tapi sayang ada darah si brengsek itu di tubuhmu. Jadi aku tidak mau berurusan dengan bapakmu itu" Jayden bicara sendiri pada foto Vi.
Bersamaan dengan pintu ruangan yang terbuka. Membuat Jayden gelagapan seketika. Lantas secara sembarangan meraih semua foto Vi yang ada diatas meja.
***
Kredit Instagram @chaeunwoo_ibr
Bonus pict, papa Jayden yang lagi cari mantu idaman. Ada yang mau jadi pacarnya mbak Lana ðŸ¤ðŸ¤
***