The Story Of "A"

The Story Of "A"
Terciduk



"So...bagaimana selanjutnya?" tanya Lana.


"Bagaimana apanya?" tanya Vi.


Tinggal keduanya di apartement Vi. Dengan serentetan pesan dari Tania sebelum wanita itu meninggalkan mereka.


Duduk berdampingan. Namun masih berjarak.


"Hubungan kita, Vi" jawab Lana kesal.


Vi langsung menyandarkan tubuhnya di sandaran sofa. Sambil memejamkan mata.


"Vi..." panggil Lana.


"Apa?" tanya Vi.


Lana yang gemas. Langsung naik ke pangkuan Vi. Membuat Vi langsung membuka matanya.


"Astaga Lana. Jangan memancingku lagi" kesal Vi.


"Makanya jangan diam saja" salak Lana.


"Aku tergantung kamu" jawab Vi.


"Maksudnya?" tanya Lana.


"Turun dulu" pinta Vi.


"Tidak mau!" jawab Lana.


"Lana....jangan membuatku bertambah pusing" keluh Vi.


"Pusing tinggal minum obat" ucap Lana enteng.


"Kalau pusing kepala iya diobati. La kalau yang pusing bukan kepala yang itu" goda Vi.


"Maksudnya?" tanya Lana tidak paham.


Vi memutar matanya malas.


"Sudahlah kalau tidak paham" ucap Vi.


"Iihh ngambek" ledek Lana.


Vi diam. Membuat Lana ikut diam.


"Jadi kamu maunya bagaimana? Papamu tidak menerima lamaranku. Aku akan berjuang jika kamu mau berjuang bersamaku. Tapi kalau tidak, aku akan mundur. Bukan karena aku tidak mau memperjuangkan kamu. Tapi aku tidak mau memaksamu. Aku akan menyimpan rasa cintaku hanya untukmu, selamanya" ucap Vi, menatap dalam mata Lana.


Sejenak Lana terdiam. Hingga detik berikutnya, gadis itu mencium bibir Vi lembut. Membuat Vi langsung meraih tengkuk Lana. Membuat ciuman mereka semakin dalam. Sesaat keduanya larut dalam ciuman penuh cinta.


"Aku akan berjuang bersamamu. Hingga Papa menyetujui hubungan kita" ucap Lana lirih.


Vi langsung mengembangkan senyumnya, mendengar jawaban Lana.


"Apa aku harus menghamilimu dulu. Agar Papamu menyetujui hubungan kita?" usul Vi.


"Jangan gila kamu Vi!" tolak Lana.


"Kenapa? Itu cara tercepat, terefektif dan...ternikmat untuk mendapatkan restu" ucap Vi sambil menaikkan satu alisnya.


Dan plak,


Satu keplakan langsung mendarat di lengan kekar Vi dan satu cubitan di dada Vi.


"Ya ampun, Lana. Sakit!" ringis Vi megusap lengan juga dadanya yang berdenyut karena ulah Lana.


"Beneran gila ya kamu!" maki Lana.


"Hei, bagaimana aku tidak gila jika kamu terus saja menggodaku. Memancingku" ucap Vi.


"Tapi kan tidak sampai segitunya kali"


"Segitu kali apa?"


"Membuatku hamil" ucap Lana lirih.


Vi terbahak.


"Kamu pikir sekali buat bisa langsung jadi" ucap Vi.


Ucapan Vi membuat wajah Lana memerah. Secara tidak sadar, Lana sedang membicarakan mereka yang sedang bercinta.


"Kenapa wajahmu merah begitu?" goda Vi.


"Aahh tidak apa-apa" jawab Lana cepat.


Lana bermaksud turun dari pangkuan Vi tapi pria itu menahan pinggang Lana. Membuat Lana mendelik.


"Eittss, enak saja mau melarikan diri. Katanya kamu penasaran denganku yang hilang kendali" goda Vi kembali.


"Vi ..." rengek Lana.


"Kenapa? Aku bisa hilang kendali sekarang juga. Jadi bagaimana mau disini atau dikamarku" ucap Vi sambil menyeringai.


"Tidak, tidak..Vi lepaskan aku" Lana berusaha turun dan melepaskan diri dari jeratan Vi.


Tapi pria itu masih ingin menggoda kekasihnya itu. Meskipun tubuh bagian bawah Vi benar-benar mulai bereaksi karena gerakan Lana yang tidak beraturan.


"Oh my God, Lana kamu membangunkannya" keluh Vi.


Ucapan Vi membuat Lana langsung berhenti bergerak. Menatap Vi yang juga menatapnya. Lana pernah melihat bagaimana milik Vi, yang dilihatnya tanpa sengaja. Saat pria itu nyaris naked karena pengaruh afro, membuat Vi memilih mandi air dingin.


"Tidak, membayangkan saja sudah mengerikan. Bagaimana jika benda itu benar-benar memasuki diriku" batin Lana bergidik ngeri.


Membuat Vi mengerutkan dahinya.


"Apa yang kamu pikirkan?" tanya Vi.


"Aahh tidak-tidak" jawab Lana gelagapan.


Perlahan Lana turun dari pangkuan Vi. Dan kali ini Vi tidak lagi menahannya. Membiarkan Lana duduk kembali disampingnya.


"Jangan khawatir, aku tidak akan menyentuhmu sebelum waktunya" ucap Vi lembut. Perlahan merengkuh Lana ke dalam pelukannya.


Lana menurut saja. Kala wajahnya tenggelam dalam dada bidang Vi. Membuat perasaan Lana nyaman seketika.


"Padahal aku sangat ingin melakukannya sekarang" ucap Vi sambil tersenyum. Membuat Lana tanpa pikir panjang, menggigit dada Vi yang tertutup kaos.


"Lana....." pekik Vi.


***


Beberapa waktu berlalu. Dan selama itu Vi tidak berhenti untuk menemui Jayden. Melakukan hal yang sama. Meminta Jayden menyetujui hubungan mereka. Walaupun jawaban Jayden tetap sama.


Namun begitu Vi tidak putus asa. Dia percaya jika tidak ada yang sia-sia selama dia mau berusaha.


Mereka tidak lagi segan menunjukkan hubungannya mereka di depan umum. Kadang mereka mengadakan double date dengan Riko dan Kanaya meski Riko dan Kanaya belum mengatakan kalau mereka berpacaran.


Dan hal itu membuat Arch kesal. Karena dia sendiri yang masih jomblo. Membuat Arch tanpa berpikir panjang menerima tawaran kencan buta dari Young Jae.


Siang itu, Arch nampak duduk di sebuah kafe menunggu seorang wanita yang telah disiapkan oleh Young Jae.


"Lama sekali sih dia" gerutu Arch.


Arch bukan tipe pria yang suka menunggu. Baik di bisnis maupun didunia percintaan.


"Haiiisshh kenapa juga aku harus menunggu perempuan yang jelas tidak bisa menghargai waktu" lagi Arch menggerutu.


Pria tampan itu bermaksud berdiri. Ketika seorang pelayan tiba-tiba berteriak dari arah belakangnya.


"Awas, Tuan" teriak pelayan itu.


Dan byurrr,


Segelas orange juice langsung menyiram kemeja Arch.


"Oohh shitt!" umpat Arch seketika.


"Maafkan aku, Tuan" kali ini bukan suara pelayan itu yang Arch dengar.


Arch langsung mencari sumber suara itu. Dan ketika dua pasang mata itu saling bersirobok. Keduanya spontan berteriak.


"Kamu!!!"


Teriak keduanya.


***


Pluk!


"Apa yang kau lakukan?!" pekik gadis itu. Arch melempar kemeja lamanya tepat ke atas kepala gadis itu.


"Terserah mau kau apakan kemeja itu!" ucap Arch ketus.


Dua kali bertemu dengan gadis itu. Dua kali pula Arch harus membeli kemeja baru.


"Akan kubuang seperti yang waktu itu" ucap gadis itu dingin.


Lantas tanpa ragu, gadis itu membuang kemeja Arch di tong sampah outlet pakaian yang cukup terkenal. Tindakan gadis itu, membuat beberapa pelayan toko yang melihatnya, langsung mendelik. Mereka tahu harga sehelai kemeja Arch yang baru saja berakhir di tempat sampah.


Sedang pelakunya dengan santai langsung menuju ke kasir. Mengeluarkan kartunya. Langsung membayarnya.


"Itung-itung ngurangin tabungan" batin gadis itu.


Setelah membayar, gadis berpenampilan tomboy meski masih terlihat cantik itu, langsung melesat keluar dari toko itu. Tapi di depan pintu. Arch menghadang.


"Kau mau kemana?" tanya Arch.


"Aku ada janji di kafe itu. Minggir!" ucap gadis itu dingin.


Sejenak Arch terdiam.


"Apa kau Marina Alesandra?" tanya Arch.


Gadis mengerutkan dahinya.


"Bagaimana kau tahu namaku? Tunggu apa kau Archie Nevada?" tanya gadis itu yang ternyata adalah Marina. Teman Kanaya.


"Jadi kau yang dikirim Young Jae untuk berkencan denganku? Ciiiihh benar-benar bukan tipeku" jawab Arch tajam.


"Kalau tahu kamu pria itu. Ogah aku capek-capek ke sini. Lebih baik aku tidur di rumahku" balas Marina tidak kalah ketus.


"Kau...!" geram Arch merasa diremehkan oleh Marina.


"Apa? Urusan kita selesai. Jadi tidak perlu diperpanjang lagi. Menyesal aku menerima tawaran Young Jae" tambah Marina.


Berjalan menjauh dari Arch.


"Huh! Aku pikir bisa mendapat pacar untuk meredam rumor kalau aku dan Kanaya tidak normal. Tapi kalau prianya dia, lebih baik aku jomblo selamanya. Toh Kanaya sudah sama dokter Armando" batin Marina kesal.


Marina sudah berusaha datang secepat yang Marina bisa. Gegara ada operasi caesar mendadak. Tapi ternyata yang dia temui adalah pria yang dua kali membuat Marina emosi. Juga menguras tabungannya.


"Hei kau mau kemana? Berhenti! Aku bilang berhenti!" ucap Arch mengejar langkah lebar Marina. Lantas mencekal tangan gadis itu begitu Arch bisa mengejar Marina.


"Apa yang kau lakukan? Lepas!" ucap Marina berusaha melepaskan diri dari cekalan tangan Arch.


Tapi pria itu bergeming. Arch tidak melepaskan cekalan tangannya. Entah kenapa Arch jadi berpikir kalau pertemuannya dengan Marina bukanlah kebetulan semata.


"Lepas brengsek!" umpat Marina.


Untungnya beberapa orang yang lewat, tidak memperdulikan keduanya.


"Kau mengumpatku?!" ucap Arch kesal.


Baru kali ini ada yang berani mengumpatnya. Terlebih itu seorang gadis.


"Memang aku salah? Kau mencekal tanganku. Tidak melepaskannya. Apa kalau bukan brengsek namanya" lagi Marina berucap pedas.


"Kau....!" desis Arch sambil mendekat ke arah wajah Marina.


"Hei apa yang kau lakukan?" tanya Marina panik.


Marina belum pernah berada sedekat ini dengan pria manapun.


"Membungkam mulut pedasmu itu!" ucap Arch semakin mendekatkan wajahnya ke wajah Marina.


Marina panik bukan kepalang. Hingga ketika hidung Arch mulai menyentuh hidung Marina. Sebuah suara membuyarkan segalanya.


"Arch? Apa itu kamu?" tanya suara itu.


Arch langsung menjauhkan wajahnya. Berbalik ke arah suara yang sangat ia kenal.


"Alamak! Kenapa juga dia datang di saat tidak tepat begini. Lagi tanggung juga" gerutu Arch dalam hati.


Sedang Marina langsung terpana melihat seorang wanita cantik yang berdiri di depan mereka.


"Siapa dia? Cantik sekali" batin Marina.


Menatap Arch dan wanita itu yang saling pandang dalam diam. Marina benar-benar terpesona dengan kecantikan wanita itu, yang kini menatap tajam pada dirinya.


***


Bonus pict Vi dan Lana,



Kredit Instagram @dramabite


****