The Story Of "A"

The Story Of "A"
Bahaya



Perlahan Vi mulai menciumi punggung mulus Lana. Membuat Lana memejamkan mata seketika. Menikmati sensasi yang belum pernah ia rasa sebelumnya.


"Vi..."


"Kamu yang menggodaku duluan" jawab Vi enteng. Perlahan tangan Vi mulai menyusuri lekuk indah tubuh Lana. Hinģga sampai ke dada Lana. Membuat si empunya melenguh nikmat.


"Ini mengagumkan, By" lirih Vi.


Pertama kali bagi Vi menyentuh tubuh wanita. Juga pertama kali bagi Lana. Tubuhnya disentuh oleh seorang pria. Vi membalikkan tubuh Lana. Bibirnya mulai menciumi leher Lana. Beberapa kali menghisapnya. Menciptakan tanda berwarna merah di sana.


Tubuh Lana meremang dengan tangan Lana yang reflek menyusup ke helaian rambut Vi yang tebal. Sedangkan bibir Vi mulai menciumi dada Lana.


Lana benar-benar menikmati setiap sentuhan Vi. ******* itu mulai lolos dari bibir Lana. Gadis itu jelas menginginkan lebih. Hingga...


"Lana pakai bathropemu! Nanti kamu kedinginan!" pinta Vi tepat di balik telinga Lana.


"Oh ****!!!"


Lana mengumpat kesal. Bagaimana bisa dia berpikir kalau Vi akan menyentuhnya sampai sejauh itu. Sesaat seperti ada musik konyol yang bermain di kepalanya. Meledek dirinya karena pikiran mesumnya. Lana memukul pelan kepalanya. Merutuki kebodohannya.


"Apa kau tidak menginginkanku?" tanya Lana sambil menggigit bibir bawahnya.


Pertanyaan Lana membuat Vi yang ingin keluar dari kamar mandi besar itu berhenti. Pria itu tampan berbalik. Ada sedikit rasa gusar dalam hati Vi mendengar pertanyaan Lana. Gadis itu tidak tahu apa. Sebesar apa usahanya untuk menahan diri agar tidak lepas kendali. Untuk menindih tubuh mulus dan seksi Lana yang terpampang nyata di hadapannya.


"Kamu pikir aku gay apa? Kau ingin aku menerkammu sekarang? Lalu Papamu tidak segan-segan menghajarku? Itu yang kamu mau?" tanya Vi tajam.


Lana terdiam.


"Pakai bathropemu dulu. Sebelum kau benar-benar membuatku gila" perintah Vi lagi.


Vi berlalu dari hadapan Lana. Namun entah apa yang merasuki Lana. Gadis itu malah bangkit lalu berlari mengejar Vi. Meraih tubuh Vi lantas dengan cepat melabuhkan bibirnya di atas bibir tipis Vi.


Membuat pria itu membulatkan matanya. Menerima serangan tidak terduga dari Lana. Jantung Vi langsung berdebar kencang. Seiring ciuman Lana yang semakin liar. Gadis itu *******. Memagut bahkan menyesap bibir Vi tanpa jeda.


Vi mendorong tubuh polos Lana. Menyudutkannya ke dinding kamar mandi miliknya.


"Kau benar-benar ingin aku menyentuhmu sekarang?" tanya Vi menatap wajah Lana.


Gadis itu menggigit bibir bawahnya. Tanda dirinya juga bimbang.


"Kau sendiri bimbang dengan keinginanmu. Lalu bagaimana aku bisa menidurimu sekarang?" tebak Vi.


Perlahan Vi meraih bathrope yang teronggok di lantai. Memakaikannya pada tubuh Lana.


"Apa kau tidak tertarik padaku? Apa kau tidak ingin menyentuhku?" tanya Lana.


Membuat Vi tersenyum. Dia pikir bagaimana bisa Lana bisa berpikir untuk bertanya hal konyol seperti itu padanya.


"Kau pikir aku ini gay apa? Aku normal Lana" jawab Vi.


"Lalu kenapa kau tidak tergoda padaku?" desak Lana.


"Siapa bilang aku tidak tergoda? Aku mati-matian menahan diriku. Juga dia. Aku mencintaimu. Aku menghormatimu. Aku ingin menjagamu, bukan ingin merusakmu. Aku beritahu satu hal. Untuk sekedar bercinta aku bisa melakukannya dengan wanita manapun. Sekali panggil mereka akan mengantri untuk tidur denganku. Tapi aku tidak mau mereka. Aku mau kamu. Hanya kamu. Dan aku percaya semua akan sampai pada saatnya nanti" jawab Vi menangkup kedua sisi wajah Lana.


"Lalu wanita itu?" tanya Lana.


Vi menghela nafasnya pelan.


"Dia kiriman Papaku. Sengaja ingin membuat hubungan kita semakin runyam" jawab Vi.


"Memang hubungan kitapun sudah runyam" jawab Lana ingin menundukkan wajahnya. Namun Vi seolah tidak mengizinkan gadis itu untuk melakukannya.


"Karena itu kau pergi ke klub malam. Bergaul dengan orang-orang yang tidak jelas. Minum alkohol, mabuk. Bahkan berpikir untuk bunuh diri?" cecar Vi.


Lana semakin ingin menundukkan kepalanya.


"Bagaimana kau tahu?" tanya Lana.


"Kau pikir aku bisa hidup tenang tanpa mengawasimu. Putri judes, ceroboh, nekad. Aku heran bagaimana bisa kamu sukses sebagai pengusaha perhiasan padahal sikapmu itu menyebalkan sekali" ledek Vi.


"Kau mengawasiku?" tanya Lana antusias mengabaikan cibiran Vi soal sikapnya.


"Sudah aku bilang aku tidak bisa tenang tanpa mengawasimu" jawab Vi.


"Kau mencintaiku?" tanya Lana kali sambil tersenyum.


"Sangat Alana. Aku sangat mencintaimu" jawab Vi.


Heran sekali. Ribuan kali Vi mengatakan hal yang sama tapi Lana masih saja sering bertanya. Apa memang seperti itu sifat semua perempuan. Tidak percayaan.


"Kalau kau cinta padaku? Kenapa hari itu kau minta putus" tanya Lana.


Kini mendekatkan jaraknya pada Vi.


"Benarkah?" tanya Lana semakin getol menggoda Vi.


"Lana...Lana...jangan mendekat!"


"Jawab pertanyaanku dulu" tantang Vi.


Lana malah dengan berani memeluk Vi. Menempelkan dadanya pada tubuh Vi. Membuat pria itu memejamkan mata menahan hasr**nya.


"Ayo jawab!" pinta Lana. Tangan Lana mulai merayap di punggung kekar Vi. Masuk ke dalam kaos yang Vi pakai.


"Kau benar-benar menantangku Lana" detik berikutnya. Vi mere*** bokong Lana yang padat berisi. Membuat Lana yang balik membulatkan matanya.


"Vi..." rengek Lana.


"Apa? Aku hanya membalasnya. Pinggang 28 tapi inimu benar-benar ...beuuhh"


"Vi...." teriak Lana.


Merasa dikerjai oleh Vi. Vi tertawa melihat wajah Lana.


"Yang depan pula 36 cup B. Pas banget di tangan aku" goda Vi lagi. Membuat Lana menggigit dada Vi.


"Aahhh ****!! Sakit Lana!" teriak Vi.


"Kapok! Main sebut-sebut ukuran orang saja" sungut Lana.


Masih memeluk erat tubuh Vi. Hingga sesuatu terasa mengeras di bawah sana. Menusuk diantara dua paha Lana.


"Eh itu apa?" tanya Lana mendongak menatap wajah Vi.


"Kau menggodaku ya dia bangun. See...aku normal kan? tanya Vi santai.


Padahal yang dibawah sesaknya bukan main ingin segera dikeluarkan dari sangkarnya. Agar bisa bertemu rumahnya. Tapi tidak mungkin juga kan Vi memasukkannya sekarang. Meski lawannya sudah ada dan siap.


"Lalu itu mau diapain?" tanya Lana polos.


"Jangan tanya. Memangnya kamu bisa memberikannya kalau aku minta" tantang Vi.


"Memangnya apa?" lagi Lana terus mendesaknya.


Vi lantas membisikkan sesuatu ke telinga Lana. Yang langsung membuat Lana membulatkan matanya begitu mendengarnya.


"Iihh gak mau. Sakit kalau masuk" tolak Lana langsung.


"Bagaimana kamu tahu kalau itu sakit" selidik Vi.


"Ya jelaslah punyamu kan besar...uppss..."


Lana langsung menutup mulutnya, keceplosan.


"Darimana kamu tahu? Kapan kamu melihatnya?" desak Vi.


Perasaan dia tidak pernah menunjukkan asetnya pada siapapun. Termasuk Lana.


"Aahh itu aku tidak sengaja melihatnya bangun saat kau terkena afro dulu" cengir Lana.


Lantas detik berikutnya gadis itu langsung kabur dari hadapan Vi. Keluar dari kamar mandi. Masuk kembali ke kamar Vi.


"Mama takut. Punya Vi mengerikan!" teriak Lana.


Membuat Vi mendengus kesal.


"Sial!! Bagaimana bisa dia mengatakan milikku mengerikan? Belum tahu dia rasanya diserang torpedo ukuran jumbo" gerutu Vi.


Memilih masuk ke bilik showernya. Dia harus menghandle miliknya dulu. Sebelum menghandle si putri judes itu. Yang kini semakin menyebalkan saja.


Vi tersenyum sambil melucuti pakaiannya. Mengingat dia yang sempat melihat dan menyentuh properti utama milik Lana. Yang menurutnya semakin menggoda saja. Apalagi dirinya juga sempat melihat milik Lana yang benar-benar membuat Vi penasaran.


"Ahh pasti akan nikmat sekali jika sekarang aku bisa menembus batas nirwana milik Lana"


Batin Vi terus mendesah sambil menuntaskan hasr**nya. Otaknya benar-benar mesum sekarang. Semua gara-gara Lana yang main pamer body di depan matanya.


"Putri judes kau benar-benar bahaya sekarang. Ah salah dari dulu kau selalu berbahaya" gerutu Vi.


Mulai ritual mandinya tidak peduli waktu sudah masuk dini hari.


**


Sabar ya kenapa jadi muter-muter gitu? Soale Vi lagi ngemong Lana yang lagi gesrek otak mesumnya. Jadi nikmati aja dulu ya readers...peace ✌✌✌


***