
Vi nampak menatap beberapa foto di layar Macbook-nya. Beberapa kali dia menggeser layar benda persegi itu.
"Jadi mereka adalah teman di masa lalu. Mamaku dan mama Lana berteman lama bahkan sebelum mereka bertemu papaku dan Tuan Lee" Vi berguman sendiri.
Wajah pria itu nampak serius. Foto mamanya, mama Lana, Tuan Lee, ada asisten Rey. Seorang pria beraksen Cina, yang Vi duga papa Arch. Kemudian dua wanita yang kemungkinan adalah mama Riko dan mama Arch.
Semuanya nampak bahagia di foto itu. Hanya saja tidak ada foto papanya disana.
Jadi Riko anaknya asisten Rey. Dan Archie pastilah putra pria beraksen Cina itu. Mengingat wajah Arch yang Cina banget.
Kalau mereka terlihat bahagia dalam foto ini. Lalu kenapa sekarang mereka tidak bersama lagi. Ah salah, yang tidak ada dalam foto terbaru mereka. Hanyalah mamanya.
Jadi benar, kesalahpahaman itu benar terjadi diantara mereka dengan mamanya. Tapi apa yang menyebabkan kesalahpahaman itu. Vi berusaha keras menebaknya. Tapi nihil. Tidak ada satu idepun yang terlintas dikepalanya. Maklum, Vi yang minim berteman. Mana punya pengalaman menghadapi masalah dalam berteman.
"Braakk!"
Vi menutup layar Macbooknya sedikit kasar. Memijat pelipisnya pelan. Masalah perasaan dia bukan ahlinya. Tapi suruh Vi menghitung biaya membuat gedung sekelas Burj Khalifa. Dengan cepat dia bisa menghitungnya.
"Aarrggghhh"
Vi menjambak rambutnya kasar. Kalau begini caranya. Kapan masalah soal hubungannya dengan Lana bisa selesai.
***
Vi nampak menatap sekelilingnya. Dia berada di ruang kerja Lana yang bernuansa putih.
Kredit Google.com
Dia sendirian. Karena Rahma harus mengurus sesuatu. Dan Lana, gadis cantik minus judes itu masih meeting. Vi tersenyum menatap lukisan di belakang meja kerja Lana. Kenapa? Karena disanalah kamera tersembunyi itu berada.
"Rekamlah dan kau tidak akan mendapat apa-apa" Vi berguman lirih.
Yang Vi khawatirkan adalah kalau ada perekam rahasia di ruang itu. Penyadap atau sejenisnya. Beeuuhh, jagain anak perempuan kayak jagaian tahanan koruptor puluhan trilyun.
"Mbak Lana sudah selesai" terdengar suara dari arah luar. Menandakan kalau ruangan itu tidak kedap suara.
"Iya, aku sudah selesai. Uuhh panas sekali Ma" keluh Lana.
Masuk ke ruangan dan tanpa ba bi bu langsung melepas blazernya. Menyisakan inner yang lebih mirip tank top seperti yang Lana pakai waktu itu. Sontak hal itu membuat baik Rahma maupun Vi membulatkan mata masing-masing.
"Mbak...." Rahma berteriak hampir histeris.
Bagaimana tidak. Dada mulus itu kini terpampang jelas.
"Apa sih Ma. Sama-sama perempuan kok ribut. Kamu punya, aku punya. Paling beda di ukuran saja" oceh Lana.
Berdiri menghadap Rahma. Membelakangi Vi.
"Bukan itu Mbak..tapi..."
"Kau tidak naked sekalian" terdengar suara baritone dari arah belakang.
Deg,
Suara itu. Lana berbalik cepat. Dan jantungnya langsung mencelos. Melihat Vi menatapnya dengan seringai mesum di wajahnya.
"Pakai ini" ucap Rahma cepat.
Memakaikan kembali blazer Lana.
"Kenapa kamu tidak bilang kalau ada di sini" desis Tania pada Rahma yang masih merapikan blazer Tania.
"Saya sudah bilang ada tamu" lirih Rahma.
"Aku pikir tamunya perempuan" desis Lana lagi.
"Eheemmm" Vi berdehem.
"Apa?" ucap Lana judes.
"Kenapa dipakai lagi?" ledek Vi.
Lana baru saja akan menjawab. Ketika pintu di ketuk.
"Ya?"
"Mbak Rahma dicari pak Budi" seoarang staf berbicara.
Lana dan Rahma saling pandang.
"Sudah sana pergi" titah Lana.
"Tapi dia?" bisik Rahma.
"Jangan khawatir. Dia tidak akan berani kurang ajar padaku" bisik Lana.
Ceklek,
Pintu ditutup.
"Ada apa kemari?" tanya Lana.
Perlahan mendekat ke arah sofa. Mengambil duduk di sebelah Vi meski masih memasang jarak aman. Rok yang Lana pakai otomatis terangkat. Kala Lana mendudukkan dirinya di sofa. Membuat paha mulus itu terpampang nyata di depan Vi.
"Apa kau selalu berpakaian semacam ini jika ke kantor" tanya Vi dingin.
"Pakaian semacam ini? Maksudmu?" Lana balik bertanya.
"Kau tidak lihat. Skirt-mu tidak bisa menutupi pahamu. Kau ingin pamer?" galak Vi.
Lana menatap ke arah bawah. Di mana pahanya memang terekspose.
"Kan modelnya memang begini" jawab Lana santai.
"Alana!!" desis Vi.
"Apa?!" tanya Lana.
"Ganti!" pinta Vi.
"Tidak mau!" tolak Lana.
"Tidak mau?" tanya Vi.
Lana mengangguk. Memang dia tidak punya ganti pun. Vi mendekat ke arah Lana.
"Hei kau mau apa?" tanya Lana beringsut mundur.
"Akan aku tunjukkan. Apa yang akan pria mesum lakukan di luar sana jika mereka melihat paha mulusmu" bisik Vi.
Kredit Instagram.com
Lebih kurang seperti ini ya guys..
Jarak di antara mereka tidak seberapa. Lana jelas gelagapan dengan posisi itu.
"Kau mau apa?" tanya Lana gugup.
"Kau tahu? Apa yang mereka lakukan jiķa melihatmu dengan pakaian seperti ini" Vi kembali mengulangi pertanyaannya.
"Apa yang...."
Lana langsung memejamkan matanya. Tidak jadi meneruskan kata-katanya. Hawa panas langsung terasa di sekujur tubuhnya. Saat Vi mengusap lembut kulit pahanya. Semakin naik ke atas. Menelusup ke dalam mini skirtnya.
"Kau menyukainya" goda Vi.
Membuat Lana sadar. Langsung menahan tangan Vi agar tidak bertindak lebih jauh.
"Hentikan Vi" ucap Lana.
"Kenapa? Bukankah kalian para perempuan suka memancing pria dengan pakaian kalian yang terbuka"
"Vi..."
"Aku hanya menunjukkan seperti inilah yang ada di otak mesum mereka jika melihat kalian, para wanita pamer paha dan juga dada" ucap Vi dingin.
"Menyingkir dariku Vi!"
Perlahan Vi bangkit dari atas tubuh Lana. Membuat Lana langsung menarik nafasnya lega.
"Ganti skirt-mu!" perintah Vi.
Namun Lana hanya terdiam. Menatap wajah Vi.
"Apa?!" tanya Vi.
"Berarti otak mesummu juga berpikir seperti itu" ledek Lana.
"Kau bilang apa? Otakku mesum?" desis Vi.
"Iya, kau bilang semua pria mesum diluar sana. Itu termasuk kamu kan?" lagi Lana meledek Vi.
Terlebih Lana dengan sengaja menaikkan satu kakinya. Membuat paha mulus itu semakin menggoda untuk disentuh.
"Kau tidak kapok aku cium waktu itu" ancam Vi.
"Kau kan hanya menggertakku saat itu" jawab Lana enteng.
"Ooh kau ingin yang betulan...
Tanpa aba-aba, Vi langsung menyergap bibir ranum pink yang sejak tadi tidak berhenti menggodanya itu. Membuat pemiliknya langsung terjengkang ke belakang. Hingga tubuh keduanya kini berbaring diatas sofa ruang kerja Lana.
Vi mencium Lana tanpa ampun. Membuat gadis itu berusaha mendorong dada bidang Vi menjauh.
"Kau gila ya?" pekik Lana.
"Jangan berteriak. Kau ingin stafmu tahu kau dan aku bercin..ta disini" desis Vi.
"Ruangan ini akan kedap suara otomatis begitu aku masuk ke sini" ucap Lana tanpa sadar. Membuat Vi menyeringai menang.
"Kau memberiku kode?" tanya Vi.
"Kode apa?" tanya Lana. Gadis itu terus bergerak liar. Membuat mini skirt itu naik ke pangkal paha Lana. Memperlihatkan hot pants berwarna hitam yang sangat kontras dengan kulit putih Lana.
"Oh shi**! Lana" maki Vi dalam hati.
"Kode untuk kita bisa bercinta di sini. Karena ruangan ini kedap suara" jawab Vi cepat.
"What!" pekik Lana.
Berikutnya Vi sudah kembali mencium bibir Lana. Namun kali ini tidak hanya bibir Vi yang bekerja. Satu tangan Vi kembali mengusap lembut paha Lana. Sedang satu tangannya lagi mulai mere*** dada Lana.
Vi benar-benar menindih tubuh Lana.
"Tidak...pria ini benar-benar gila. Aku tidak mau dia menyentuhku" batin Lana.
Hingga detik berikutnya. Lana mendorong kuat tubuh Vi dari atas tubuhnya. Membuat Vi hampir terjatuh dari sofa.
"Kau melecehkanku pria gila!" teriak Lana.
Disaat yang bersamaan air mata Lana lolos begitu saja. Tanpa Lana minta. Vi yang masih shock karena dorongan Lana. Langsung mencelos hatinya. Melihat Lana menangis.
"Maafkan aku" bisik Vi.
Berusaha mendekat ke arah Lana.
"Pergi kau! Berapa gadis yang sudah jadi korbanmu ha?!" jerit Lana pilu.
"Maafkan aku. Maafkan aku. Aku tidak pernah menyentuh gadis lain selain kamu" jawab Vi tanpa sadar.
Berusaha merengkuh Lana dalam pelukannya.
"Dasar pembohong" jerit Lana di dada bidang Vi.
"Aku tidak pernah berbohong saat bicara padamu" ucap Vi datar.
"Aku tidak percaya" jawab Lana.
"Tidak percaya ya sudah" ucap Vi melerai pelukannya pada Lana.
"Hei kau mau kemana?" tanya Lana melihat Vi berjalan keluar dari ruangannya.
"Membelikan celana panjang untukmu. Paha mulusmu benar-benar menyiksaku" ucap Vi sebelum menghilang di balik pintu.
"Eh?"
**
Kira-kira bajunya ayang Lana kayak gini ya guys..
Kredit Instagram.com
Memang bikin paha mulus ayang Lana kemana-mana. Bikin ayang Vi kelabakan..🤭🤭🤭
***-