The Story Of "A"

The Story Of "A"
Penyesalan Bryan



Dooorr!


"Arrgghhh"


Terdengar raungan menyakitkan yang cukup keras. Bersamaan dengan bunyi tembakan lain yang bukan berasal dari Bryan. Semua orang mencari sumber suara itu. Dan terperangah.


Melihat Vi berdiri di ambang pintu dengan sebuah Glock yang berada di tangannya. Menatap lurus ke depan. Ke arah sang Papa, Bryan yang kini jatuh terduduk sambil memegangi pergelangan tangannya yang berlumuran darah.


"Vi..."


"Kau....arrgghhhh...


Bryan tidak sanggup meneruskan kata-katanya. Rasa sakit di pergelangan tangannya sangat menyiksa.


"Sepertinya aku lupa bilang kepada Papa. Kalau Papa sedikit saja menyentuh mereka. Aku sendiri yang akan menghancurkan Papa" ucap Vi dingin dengan aura mengerikan mendominasi.


Membuat siapapun yang melihat Vi saat ini bisa dipastikan akan langsung kehilangan nyalinya.


"Kemarilah Ma" pinta Vi.


Membuat Tania bergerak cepat menjauh dari Bryan. Yang terus meringis karena luka dipergelangan tangannya.


"Vi...turunkan itu. Kamu membuat Mama takut" mohon Tania.


Vi langsung menurut. Menurunkan Glock-nya. Tanpa melepaskan pandangannya dari sang ayah.


"Aku akan menikahi Lana apapun yang terjadi. Kau suka atau tidak suka, aku tidak peduli. Jika kau masih atau pernah menganggapku anak, maka menyingkirlah, kalau kau hanya ingin membuat keributan. Tapi jika kau tetap mencari masalah. Aku tidak akan segan untuk melukaimu lebih dari itu. Meski kau Papa kandungku" ucap Vi tegas dengan tatapan setajam elang.


Menghunjam hati Bryan yang hanya bisa terdiam melihat sang putra lebih memilih keluarga lain. Dibanding dirinya yang notabene adalah ayah kandungnya.


Setelah sekian lama. Sebuah rasa iri timbul di hati Bryan. Melihat betapa hangatnya Vi saat bersama orang lain. Hatinya mencelos. Menyadari kalau dirinya sama sekali tidak dianggap oleh Vi.


"Om Rey tidak apa-apa?" tanya Vi panik.


Membantu Rey bangun setelah menyelipkan Glock di pinggangnya.


"Akan kuhubungi Riko, kita langsung ke sana" lagi Vi berucap panik.


Meraih ponselnya. Ketika mereka sudah masuk ke mobil Vi. Meninggalkan mobil Jayden yang memang akan kekurangan tempat jika keempatnya memaksa menggunakan mobil Jayden.


"Tidak perlu Vi. Ini hanya luka kecil" tolak Rey.


"Tidak Om. Setidaknya biar Riko memeriksanya dulu" bantah Vi.


Membuat Rey menurut. Apalagi melihat kode dari Tania dan juga Jayden. Ketiganya lantas menatap Vi yang fokus pada kemudinya setelah menghubungi Riko yang jelas langsung panik di ujung sana.


Vi tidak perlu waktu lama untuk melajukan mobilnya menuju rumah sakit milik Riko. Dimana ketika mereka sampai disana. Tampak Riko dan Kanaya sudah menunggu.


"Apa yang terjadi?" tanya Riko saat melihat sang ayah sudah didorong menggunakan kursi roda menuju ruang perawatan khusus.


"Nanti saja ceritanya. Periksa dulu Papamu" ucap Jayden. Membuat Riko menurut


Berdua dengan Kanaya. Mereka memeriksa luka Rey. Mereka bisa bernafas lega karena lukanya tidak terlalu parah. Peluru itu hanya menggores sedikit saja lengan Rey meski darah yang dikeluarkan cukup banyak.


Setelah memastikan semua oke dan tidak ada lagi terluka mereka berpindah ke ruang kerja Riko. Hari belum terlalu malam.


"Mau makan malam sekalian. Biar Aya pesankan?" tanya Kanaya.


"Boleh juga tu. Tante lapar sekali. Belum makan dari siang" cengir Tania.


Membuat yang lain menepuk pelan dahi masing-masing.


"Pamit makan siang kok tidak jadi makan siang" ledek Jayden.


"La gara-gara dia to aku nggak jadi maksi. Malah jadi ikutan syuting film ala mafia" keluh Tania.


Vi hanya diam tanpa ikut menanggapi ucapan yang lain.


***


Bryan masih tetap berada di tempatnya. Tidak bergerak sama sekali. Membiarkan darah di lukanya mengering dengan sendirinya. Pikirannya dipenuhi berbagai macam hal. Banyak hal yang mungkin dia lupakan dalam hidupnya.


Termasuk kenyataan bahwa dia sudah benar-benar mengabaikan keberadaan Vi. Putra kandungnya sendiri. Hingga pada akhirnya Vi lebih memilih keluarga lain dibanding dirinya. Tiba-tiba hatinya terasa sakit.


"Kau lihat sendirikan?" tanya sebuah suara yang tiba-tiba terdengar dari sisi kirinya.


"Kita benar-benar kehilangannya karena kesalahan kita sendiri, Bry" ucap suara itu yang tak lain adalah Vera.


Jika Bryan hanya terdiam. Mata Vera sudah berkaca-kaca. Penuh dengan air mata yang siap diturunkan.


"Berhentilah mengganggu Vi dan yang lainnya. Biarkan mereka bahagia. Sikap Vi sekarang karena kita yang tidak pernah mempedulikannya. Kita selalu mengabaikannya. Kita tidak pernah menunjukkan kalau kita menyayanginya. Kita orang tua paling buruk yang pernah ada, Bry" tangis Vera benar-benar pecah saat mengucapkan penyesalan yang kini ia rasa.


Penyesalan, sebuah kata yang menggambarkan betapa terlambatnya kita menyadari sesuatu hingga membuat kita kehilangan hal tersebut tanpa bisa kita raih kembali. Tidak peduli bagaimanapun cara dan kerasnya usaha kita untuk mendapatkannya lagi. Pada akhirnya kita akan tetap kehilangan hal itu.


Bryan masih tetap tidak bergeming. Meski sang istri sudah berbicara panjang lebar untuk membuatnya bicara ataupun untuk sekedar mengatakan sesuatu.


"Bry, apa kau mendengarku?" tanya Vera melihat sang suami yang sama sekali tidak merespon ucapannya.


Hingga Vera selesai membersihkan luka di pergelangan tangan Bryan. Lantas membalutnya dengan rapi.


"Bry, bisakah aku minta sesuatu padamu?" tanya Vera ikut duduk bersimpuh di depan sang suami.


"Aku tidak akan mengganggu mereka lagi" Bryan akhirnya berucap juga.


Hal itu membuat Vera senang. Apalagi ketika Bryan menatap wajahnya dalam. Bryan seakan baru sadar. Bahwa Veralah, wanita yang selalu ada untuknya. Tidak peduli keadaannya. Tidak peduli seberapa besar kesalahan yang dia buat. Vera tidak terpengaruh dengan itu semua.


Tiba-tiba sebuah rasa bersalah menyelinap di hati kecil Bryan. Teringat dia pernah mengkhianati Vera satu kali. Ketika dia tidak tahan dengan godaan wanita malam yang ia kirim untuk Vi. Bermaksud membuat hubungan Lana dan Vi berantakan namun malah berbalik pada dirinya. Dirinya yang dengan buasnya menikmati tubuh seksi wanita itu.


"Maafkan aku" bisik Bryan lirih.


Namun masih bisa didengar oleh Vera. Membuat wanita itu mengembangkan senyumnya. Baginya satu kata itu sudah menggambarkan kalau sang suami akan melupakan semua kejadian buruk di masa lalu. Dan berharap mau memulai kehidupan baru yang lebih baik. Bersamanya.


"Mari mengambil liburan setelah pernikahan Vi dan Lana. Kita sudah lama tidak melakukannya" ucap Vera penuh harap.


Sesaat Bryan menatap wajah Vera. Bryan akui wajah Vera masih terlihat cantik di usianya yang sudah memasuki kepala lima. Wanita yang setia menemaninya. Berada di sisinya. Tidak peduli apapun yang dia lakukan.Tidak peduli berapa banyak kesalahan yang sudah dia buat.


Bahkan ketika Bryan menciptakan sebuah kesalahpahaman yang sangat fatal. Diantara istrinya dan Tania. Wanita tetap mempercayainya. Meski dia tahu akan kehilangan sahabat terbaik dalam hidupnya, Tania.


"Baik. Mari pergi liburan" jawab Bryan akhirnya.


Kali ini senyum mengembang sempurna di bibir Vera.


***


"Apa kamu baik-baik saja, Vi" tanya Tania.


Mereka sudah pulang ke rumahnya. Tania meminta Vi untuk menginap saja. Meski malam belum terlalu larut. Namun wanita itu sedikit risau untuk membiarkan Vi sendirian di apartementnya.


Vi hanya menoleh pada Tania ketika wanita itu bertanya. Lantas menundukkan wajahnya. Menghindari tatapan mata Tania. Yang jelas ingin menginterogasi dirinya.


"Aku memang bisa menembak, Ma. Aku punya lisensi menembak. Juga izin kepemilikan senjata api, untuk Glockku" jelas Vi.


"Mama tidak tanya soal itu. Mama tahu kamu melakukan semua untuk mengalihkan rasa sedihmu. Menembak, berkuda, taekwondo. Krav maga" ucap Tania.


Membuat Vi semakin menundukkan wajahnya.


"Mama tanya apa kamu baik-baik saja setelah menembak Papamu?" tanya Tania memperjelas maksudnya.


"Aku tidak menembaknya, Ma. Hanya membuatnya terserempet peluruku agar dia terkejut dan melepaskan Glock miliknya" jelas Vi.


"Terima kasih Vi" ucap Tania membuat Vi mengangkat wajahnya.


Hingga mata berkaca-kaca Vi terlihat jelas di mata Tania.


"Apa kamu baik-baik saja?" tanya Tania lagi sambil mengusap pelan lengan Vi yang hanya mengenakan kaos berwarna hitam.


Sejurus kemudian tangis Vi pecah, tidak dapat dia tahan lagi. Pelan Tania merengkuh calon menantunya itu dalam pelukannya.


"Vi tidak baik-baik saja Ma. Vi tidak..." ucap Vi tanpa bisa menyelesaikan kalimatnya.


***



Kredit Instagram @xukai_th_fanclub


Abang Vi yang lagi tidak baik-baik saja 😫😫😫


***