The Story Of "A"

The Story Of "A"
Googling Aja Sana



"Vi...buka pintunya Vi!" Riko mengetuk pintu kamar mandi.


"Dia tidak menjawabku dari tadi" Lana menyahut cemas.


"Ini tidak bisa dibiarkan!" Riko bersiap mendobrak pintu.


Braaakkkkk,


Pintu kamar mandi terbuka dengan paksa akibat tendangan Riko. Pria itu langsung berlari ke arah Vi yang sudah terduduk di lantai kamar mandi. Nafas tersengal, wajah merah. Sesaat mata Vi berkilat melihat Lana yang ikut masuk bersama Riko.


Sedang Lana langsung berbalik melihat keadaan Vi yang jelas-jelas naked.


"Astaga Vi!" pekik Lana.


Riko dengan cepat mengambil handuk kimono. Setelah mematikan showernya. Untuk menutupi tubuh bagian bawah Vi yang sempat membuat Lana bergidik ngeri. Ya, Lana sempat melihat milik Vi yang sudah menegang.


"Astaga apa itu tadi?" pikiran Lana langsung terkontaminasi hal yang tidak-tidak.


"Jauhkan dia dariku!" bisik Vi.


"Vi...tenang dulu!" Riko berusaha mengendalikan situasi.


"Jauhkan dia dariku Ko!" teriak Vi.


Has**t Vi benar-benar menggelora hanya melihat betis mulus Lana.


"Lana kau keluar dulu!" perintah Riko.


Pria itu tengah menyiapkan alat suntiknya. Mengambil serum dari sebuah botol kecil.


"Tapi Riko..." sahut Lana.


Dia kini bisa melihat tubuh polos Vi yang hanya tertutup di area intinya.


"Oh my God, tubuhnya benar-benar sempurna" batin Lana.


"Keluar sekarang Lana. Atau dia akan menyerangmu. Dan aku tidak akan bisa mencegahnya!" lagi Riko berteriak.


Riko tahu betapa berat rasa yang harus Vi lawan. Pria itu melihat Vi yang terus memejamkan mata. Menahan libidonya yang hampir meledak di ubun-ubun. Apalagi ditambah kehadiran Lana disana. Lana masih kekeuh berada di sana. Hingga Lana melihat Vi membuka matanya. Menatapnya dengan lapar dan penuh has***.


"Keluar atau aku akan memaksamu bercinta denganku!" satu ucapan Vi yang membuat Lana langsung kabur dari sana.


Seiring raungan Vi yang berteriak untuk melepaskan rasa frustrasinya. Bersamaan dengan jarum suntik yang menembus lengannya.


"Arrgghhhhhh"


Lana langsung berlari ke pintu yang langsung ia buka. Tubuhnya langsung disambut pelukan seseorang yanģ berdiri di depan pintu.


"Lana...."


"Pa.... Vi..." ucap Lana takut bercampur khawatir.


Jayden langsung melepaskan pelukannya pada putrinya. Yang berganti memeluk Tania.


"Aarrghhhh"


Kembali Vi berteriak dari kamar mandi. Membuat Jayden langsung berlari kesana.


"Bagaimana dia?" tanya Jayden pada Riko.


"Dia masih terus melawan. Padahal dia sudah dapat pelepasannya berkali-kali. Tapi obatnya masih terus bereaksi. Aku juga sudah memberikan antidot-nya. Sepertinya ini varian baru. Efeknya benar-benar mengerikan" sahut Riko.


Masih terus mengawasi Vi yang masih duduk memeluk lututnya di lantai kamar mandi. Masih bertahan untuk tidak melakukan hal yang disugestikan ke otaknya...bercinta.


Jayden menatap Vi dengan jutaàn rasa bersalahnya.


"Apa dia tidak akan apa-apa?" tanya Jayden cemas.


"Semoga saja syarafnya bisa bertahan. Om tahu kan bagaiamana susahnya menahan efek samping afro. Tidak terbayang aku jika Vi tidak bisa berpikir jernih. Terus menghubungiku. Minta penawar padaku. Kalau tidak habis Lana malam ini" ucap Riko menatap Lana yang hanya menatap balik bingung ke arah Riko dan papanya.


"Kurang ajar sekali dia berani melakukan hal pada Lana" ucap Jayden.


"Sudah menemukan pelakunya?" tanya Riko.


"Sudah. Dia menargetkan Lana sebenarnya" jawab Jayden.


"Whatt!" baik Lana maupun Riko berteriak bersamaan.


"Wah Lana kalau kamu yang kena..aku tidak bisa membayangkan kamu ..." Riko menirukan suara orang bersiul.


Membuat Jayden langsung mengeplak lengan Riko.


"Sakit Om!" protes Riko.


"Makanya kalau ngomong jangan ngaco" warning Jayden.


"Ya habisnya Om. Coba deh kalau Lana yang kena. Bisa-bisa dia perk*** Vi malam ini" seloroh Riko membuat Lana langsung mendelik mendengar ucapan sohibnya itu.


"Haishh kamu ini ngomongnya"


Riko cekikikan mendengar kekesalan Jayden. Lana mendekat ke arah Riko langsung mengeplaknya lengannya.


Plak,


"Enak saja kalau ngomong" seru Lana diikuti Tania yang juga mendekat.


"Eehh dia sudah mulai tenang itu" ucap Tania membuyarkan perdebatan tiga orang itu.


Semua langsung mengikuti arah pandangan Tania. Mereka lihat Vi sudah mulai tenang. Tubuhnya kini bersandar lemas di dinding kamar mandi.


"Vi...kamu oke?" tanya Riko.


Vi sejenak terdiam. Lantas menatap Riko.


"Jauhkan dia dariku!" bisik Vi.


"Dia tidak akan berani mendekatimu. Takut kau hajar sampai pagi" ucap Riko enteng.


"Riko gila!" pekik Lana dari luar kamar mandi. Menjauh dari sana.


"Sudah lebih tenang?" tanya Riko.


Vi mengangguk.


"Bisa mengendalikannya?" kembali Riko bertanya.


Kembali Vi mengangguk. Jayden langsung menarik nafas lega mendengar hal itu.


"Riko..." desis Jayden.


"Hebat sekali kamu bisa melawan efek afrodisiak varian baru itu. Efeknya mengerikan. Aku harus menginfokan ini ke bagian obat" ucap Riko. Membantu Vi berdiri.


"Astaga kau berat sekali!" keluh Riko.


Membuat Jayden ikut membantu, memapah tubuh Vi keluar dari kamar mandi.


"Aku punya basic pernafasan yoga" bisik Vi.


"Kau berlatih yoga juga" tanya Riko.


Vi mengangguk. Jayden yang mendengar hal itu jadi tahu. Darimana Vi mampu menghindari semua tekanan yang bisa membuat stres pria itu.


"Astaga kau makan apa Vi. Dua orang kewalahan membawa tubuhmu" keluh Jayden.


"Makan hati Om" cengir Vi.


"Masih bisa bercanda kamu ya" heran Jayden.


Sejenak mata Vi menangkap sosok Lana yang berada disisi tempat tidur.


"Jauhkan dia dariku" lagi Vi berucap hal yang sama.


"Alah sudah lemas juga. Bisa apa kamu?" ledek Jayden.


"Om, aku masih bisa menghajar Lana sampai besok pagi lo. Tidak percaya? Bisa dicoba" tantang Vi.


Membuat Jayden langsung melempar Vi ke atas ranjang mewah kamar itu.


"Benar-benar anaknya Bryan. Bikin kesal saja!" maki Jayden.


Vi hanya tersenyum mendengar makian Jayden. Sejenak menatap Lana yang bersembunýi di balik punggung mamanya. Sementara Tania mendekat. Langsung mengusap lembut kepala Vi.


"Terima kasih. Sudah menjaga anak Mama" ucap Tania.


Vi tersenyum mendengar ucapan Tania. Perlahan mata hitam itu mulai terpejam. Vi kembali tersenyum menatap Lana yang juga menatap dirinya penuh kecemasan.


"Setidaknya aku tidak menyentuhmu karena pengaruh afro" batin Vi sesaat sebelum kegelapan menguasai dirinya.


"Apa dia tidur?" tanya Lana.


"He e dia tidur. Untung Vi bisa menghandle efek afro-nya dengan baik. Kalau tidak....habis kau" ucap Riko pada Lana.


"Memangnya dia kenapa sih?" tanya Lana polos.


"Aduh gini amat punya sohib polosnya gak ketulungan" keluh Riko.


Lana mendelik mendengar ucapan Riko.


"Dia terkena efek afrosidiak" ucap Riko.


"Apa itu?" tanya Lana tidak paham.


"Tidak tahu juga?" tanya Riko.


Lana menggeleng.


"Apa sih yang kamu tahu selain 4C, Cut, Colour, Clarity, Carat ( standar penilaian berlian )" ledek Riko.


"Aku tanya betul-betul Riko" tanya Lana.


"Aku juga jawab betul, betul, betul" jawab Riko sambil terkekeh.


Mereka tinggal berempat dengan Vi yang sudah tertidur pulas. Sedang Jayden sudah keluar dari kamar itu untuk membereskan orang yang bermaksud menjebak Lana.


"Ayo dong jelasin pak dokter" bujuk Lana.


Riko menghela nafasnya.


"Afrosidiak. Obat perangsang sek****. Obat yang membuatmu ingin bercinta tanpa henti tergantung dosis yang diberikan" jelas Riko singkat.


Lana bergidik ngeri mendengar hal itu.


"Ada ya obat seperti itu" ucap Lana.


"Adalah. Untuk yang Vi minum. Yang harusnya kamu minum. Efeknya cukup mengerikan. Biasanya jika sudah diberi penawar atau mendapat pelepasan. Efek obatnya akan berkurang. Tapi Vi tidak" jelas Riko.


Membuat Lana geleng-geleng kepala.


"Lalu pelepasan itu apa?" tanya Lana polos.


Gubrak!


Ingin rasanya Riko menjitak kepala Lana. Dia pikir kenapa sohibnya ini jadi nol besar soal begituan. Tapi tidak mungkin juga. Secara Tante Tania-nya masih ada di sana.


"Ampun deh Tante. Gimana sih Lana ini. Kamu sekolah belajar biologi nggak?" tanya Riko gemas.


"Belajar, terus apa hubungannya biologi sama itu? Pakai ilmu biologi baru bisa merasakan itu begitu" lagi kepala Riko hampir meledak mendengar pertanyaan absurd dari sohibnya yang nyata kepolosannya tidak diragukan lagi.


"Nggak gitu juga kali Lana" pekik Riko.


Perasaan kok lebih susah menjelaskan hal begituan ke Lana. Daripada menghandle Vi yang keadaannya cukup parah gegara minum afro tanpa sengaja.


"Googling aja deh Na. Googling aja sana. Tanya sama mbah Google. Siapa tahu dia punya cara yang lebih jitu untuk menjelaskan padamu soal pertanyaanmu" ucap Riko pada akhirnya. Pusing tujuh keliling Riko rasanya.


***


Wk wk wk, Lana polos amir yak..


Ini ni pak dokter ganteng yang dibuat puyeng oleh Lana dan juga Vi..



Kredit Instagram @heluoluo.s


Yang ini Vi, yang kecapekan gegara keminum afro tidak sengaja..



Kredit Instagram @xukai_my love


***