
Dua hari setelah kepulangan Vi. Pria itu mulai bekerja kembali. Lana tidak masalah dengan hal itu. Tidak mungkin juga kan dia mengurung Vi terus di rumah. Bosan iya, yang ada juga mereka semakin tidak karuan hubungannya.
Dua hari berlalu dan masih saja tidak ada perkembangan yang baik dari Vi soal ingatannya. Sikapnya juga masih sama. Dingin dan datar, kaku kayak triplek dimasukkan frezeer selama seminggu. Bahkan setelah acara testing ciuman segala.
"Bagaimana kabarmu Vi?" tanya Dika. Sang asisten juga Om-nya.
"Aku baik Om" jawab Vi.
"Ada yang aneh. Kamu ingat Om kan?" tanya Dika.
"Ingatlah. Masak Vi mau melupakan Om" jawab Vi mulai meraih berkas yang sudah Dika siapkan untuk ia kerjakan.
"Pekerjaan tidak lupa. Tapi istri sendiri lupa. Kau ini aneh Vi. Hilang ingatan kok ya milih istri yang dilupakan" batin Dika menatap Vi yang bekerja seperti biasanya.
Sementara itu, Lana terlihat begitu lemah. Pusing beberapa kali melandanya.
"Mbak Lana tidak apa-apa?" tanya Rahma.
"Aku tidak apa-apa, Ma" jawab Lana lirih.
"Serius Mbak. Mbak Lana pucat banget" lagi Rahma berucap.
"Aku stres Ma. Kurang tidur" jawab Lana.
"Kalau begitu Mbak istirahat saja dulu. Setelah ini tidak ada hal yang harus Mbak Lana handle. Saya bisa mengurusnya" ucap Rahma.
Lana mengangguk. Dia pikir dia memang perlu istirahat. Semalam dia tidak bisa tidur. Rahma menghela nafasnya. Dia tahu masalah yang dihadapi bosnya itu. Sejenak di tatapnya Lana yang mulai masuk ke kamar pribadinya.
"Apa perlu aku menghubungi tuan Aditama?" guman Rahma. Sebab dulu Vi sempat berpesan pada dirinya. Jika terjadi apa-apa pada Lana. Rahma harus mengabari dirinya.
Tanpa tahu betapa buruknya hubungan mereka sekarang. Rahma mengirim pesan pada Vi. Rahma hanya tahu Vi hilang ingatan soal Lana. Jadi Rahma pikir. Vi masih akan tetap perhatian pada Lana.
"Tuan Aditama, saya rasa Bu Lana sedang sakit. Apa tidak sebaiknya dibawa ke dokter?"
Pesan yang Rahma kirim. Langsung dibaca oleh Vi. Namun bukannya cemas. Malah rasa kesal yang Vi rasa. Menduga kalau itu hanya usaha Lana untuk mencari perhatian darinya.
"Bisa-bisanya menyuruh asistennya untuk mengarang cerita sakit segala" gerutu Vi.
Perasaan Vi lupa ingatan kok malah dia jadi benci dengan Lana ya. Vi sendiri tidak paham dengan perasaannya sendiri. Entah kenapa dia jadi begitu kesal tiap kali Lana berulah. Bahkan sejak mereka berciuman malam itu. Vi jadi geram tiap kali mengingatnya. Meski tidak dia pungkiri. Ada sesuatu yang mulai Vi rasa soal ciuman itu.
"Ada apa?" tanya Dika. Melihat raut wajah kesal Vi.
"Asistennya bilang dia sakit. Ciiih pintar sekali dia menarik perhatian orang" cibir Vi.
Dika jelas melongo mendengar ucapan Vi. Dulu Vi bucin berat pada Lana. Tapi sekarang.
"Vi..kau ini hilang ingatan atau tertukar otak" tanya Dika frontal.
"Memangnya kenapa?" tanya Vi.
"Apa kau tidak ingat. Istrimu itu bukan tipe tukang cari perhatian. Lagipula aku ini heran. Detail kontrak ingat semua tapi istri dia lupa" sindir Dika. Benar-benar tidak habis pikir dengan cara kerja otak Vi.
"Om jangan bicara yang aneh-aneh deh. Kalau tidak percaya. Om bisa lihat di CCTV. Lana baik-baik saja. Dia cuma bohong agar aku perhatian sama dia" ucap Vi sambil menyalakan laptopnya.
"Tu kan aneh lagi. CCTV tempat istri saja dia ingat. Tapi..."
"Sudah deh Om. Jangan mulai lagi" cegah Vi agar Dika tidak komen lagi.
Laptop menyala. Dan sesuai dugaan Dika. Tidak ada Lana di ruang kerjanya.
"Dia benaran sakit Vi" ucap Dika.
"Dia pasti tiduran di kamar pribadinya" ucap Vi santai. Ucapan Vi kembali membuat Dika melongo.
"Kau bahkan tahu ada kamar pribadi di sana. Apa jangan-jangan kalian pernah bercinta di sana?" tanya Dika tanpa basi-basi.
"Pernahlah....ehhhh"
Dika dan Vi saling pandang. Mendengar jawaban reflek dari Vi.
"Yakin kau tidak ingat dengan istrimu" tanya Dika. Membuat Vi terdiam. Sekelebat bayangan soal dia dan Lana yang sedang bercinta terlintas di kepalanya.
"Itu pasti hanya bayangan saja. Tidak mungkin nyata" batin Vi masih coba mengingkari.
"Vi...Vi..." panggil Dika.
"Ah terserah kamulah. Sekarang kau melupakannya. Tapi kalau suatu hari ingatanmu kembali. Om jamin, kau akan meminta maaf ribuan kali ke istrimu" ucap Dika geram.
Lantas keluar dari ruang kerja Vi.
"Halo Rahma. Ini aku Dika, asisten tuan Aditama. Bagaimana keadaan Lana? Apa sakitnya serius?" cerocos Dika.
"Tadi sih cuma bilang lemas sama pusing. Mukanya juga pucat gitu. Tapi mbak Lana cuma bilang kalau lagi stres sama semalam tidak bisa tidur. Apa tuan Aditama mau kemari. Saya pikir akan lebih baik jika dibawa ke dokter" ucap Rahma.
"Kali ini kau keterlaluan Vi" batin Dika.
Dika melesat keluar dari kantor Aditama Group. Menuju kantor Lana.
***
"Selamat Bu, Ibu hamil 4 minggu" ucap sang dokter pada Lana.
Lana melongo. Detik berikutnya dia terisak. Tidak peduli dia ada di depan seorang dokter. Lana bersikeras masuk sendiri ketika akan diperiksa. Dika berhasil memaksa Lana untuk dibawa ke dokter.
"Kenapa Ibu menangis? Apa Ibu tidak bahagia? Apa maaf, Ibu tidak bersuami?" tanya dokter itu lembut.
Lana semakin terisak. Dia bahagia. Sangat bahagia. Akhirnya keinginan Vi untuk punya anak akan segera terwujud. Ada sebuah kehidupan kecil yang kini hidup di rahimnya. Buah cintanya dengan Vi, suaminya tercinta.
"Saya sangat bahagia Dok. Saya dan suami saya cukup lama menunggu kehadirannya. Hanya saja saat ini. Hubungan kami sedang bermasalah. Dan saya tidak mungkin memberitahukan kehamilan ini pada suami saya" curhat Lana.
"Mungkin ini adalah salah satu cara agar hubungan Ibu dan suami Ibu bisa membaik. Anak biasanya hadir di waktu tepat. Coba saja Ibu beritahukan soal kehamilan Ibu pada suami Ibu. Siapa tahu suami Ibu bisa berubah. Dan hubungan kalian bisa membaik" saran dokter itu.
Lana terdiam sejenak. Menimbang saran dari dokter itu. Sang dokter tersenyum menatap Lana.
"Apapun masalahnya. Anak adalah anugerah paling membahagiakan pada orang tuanya. Mulai saat ini jaga diri Ibu dan anak Ibu. Dia berhak melihat dunia. Jangan hanya kalian bermasalah. Lalu Ibu berpikir yang tidak-tidak"
"Tidak Dok. Saya sangat mengingingkan kehadirannya. Saya akan menjaganya" ucap Lana pelan menghapus air matanya.
"Bagus kalau begitu. Saya akan memberikan resep vitamin juga penguat kandungan. Kandungan Ibu masih rawan di trimester pertama ini. Ibu juga jangan terlalu lelah. Saya lihat Ibu seorang wanita karir. Hindari stres juga. Meski saya tahu jika itu susah. Mengingat hubungan Ibu dan suami Ibu yang sedang bermasalah" saran dokter itu panjang lebar.
"Akan saya usahakan Bu. Tapi tolong rahasiakan kehamilan saya. Sementara sampai hubungan saya dan suami saya membaik" pinta Lana.
"Tidak masalah, Bu. Selamat atas kehamilannya. Semoga keadaan cepat membaik" doa dokter itu.
"Terima kasih dok. Saya permisi kalau begitu" pamit Lana.
"Silahkan"
Lana keluar dari ruang dokter. Dia berusaha biasa saja. Agar tidak menimbulkan kecurigaan Rahma dan Dika.
"Maafkan Mama Nak. Bukan maksud Mama ingin menyembunyikanmu dari dunia. Tapi karena Papamu sedang marah pada Mama. Jadi kita belum bisa berkenalan dengan Papa. Tunggu sebentar ya Nak ya" batin Lana. Pelan mengusap perut ratanya.
"Bagaimana Bu?" tanya Rahma.
"Hanya kecapekan dan stres saja. Seperti ucapanku" jawab Lana biasa.
Rahma ber-ooo ria. Tapi tidak dengan Dika. Dika yang sudah berpengalaman dalam hidup. Tentu bisa melihat kebohongan di mata Lana. Tapi sementara dia akan diam dulu. Melihat situasinya dulu.
Kalau dugaannya benar. Baru dia akan bertindak.
"Akan kuhajar kau Vi jika dugaanku benar" batin Dika.
Sementara Lana nampak biasa saja. Meski hatinya bahagia. Akhirnya yang ditunggu datang juga. Anugerah terbesar dalam hidup Lana. Sedang berkembang dalam rahimnya.
***
Bonus pict,
Kredit Instagram @ cotton_pink
Kredit Instagram @ chengxiao_0715
Abang Vi ma neng Lana yang otewe jadi Papa Mama 😍😍
***