
"Kamu belum jawab pertanyaanku Vi. Kenapa kamu mau putus waktu itu?" kejar Lana.
Keduanya sudah ada di dapur. Lana menunggu Vi yang sedang membuatkan makanan untuknya. Lana mengeluh lapar. Lana memakai kemeja oversize milik Vi untuk menggantikan bathrope yang Lana pakai.
Sambil menunggu pakaian Lana datang.
"Vi..." rengek Lana dari atas kursinya.
"Apa sih?" jawab Vi kesal.
Karena Lana ngeyel tetap mau pakai kemeja Vi daripada bathrope. Kemeja Vi hanya bisa menutup tubuh Lana sebatas paha saja. Sedang bathrope lebih panjang.
"Suka sekali menggoda orang" gerutu Vi dalam hati.
"Jawab pertanyaanku!" pinta Lana.
"Makan dulu" potong Vi.
Lana langsung berbinar melihat makanan di depannya.
"Wah nampaknya enak banget" ucap antusias. Lantas mulai memakan pancake buatan Vi plus saus dan buah-buahan segar.
Kredit Instagram @lealeefood
"Cepat katakan kenapa kamu mutusin aku waktu itu" desak Lana sambil menyuapkannya ke dalam mulutnya.
Vi ikut duduk di depan Lana. Ikut makan bergantian dengan Lana.
"Sudah aku bilang aku tidak pantas untukmu" jawab Vi.
"Jawab yang benar. Aku tidak paham" desak Lana.
Vi menatap Lana lama.
"Katakan saja" ucap Lana seolah tahu Vi ragu untuk mengatakan alasannya. Pelan Vi menarik nafasnya.
"Kamu tahu kenapa Papamu tidak menyetujui hubungan kita?"
"Takut kau menyakitiku"
"Bukan itu sebenarnya. Papamu takut Papaku menyakitimu. Dan sudah terbukti kan.Papaku memang ingin menyakitimu seperti dia pernah menyakiti mamamu" jawab Vi.
Lana berhenti makan.
"Papamu kenal Mama?" tanya Lana.
"Kenallah. Mamamu dan Mamaku teman baik awalnya. Tapi gara-gara Papaku mereka jadi salah paham. Lalu bertengkar sampai aku harus diajak pindah ke Sidney" jelas Vi.
"Ha? Jadi mereka teman dekat" ucap Lana tidak percaya.
"Orang tua kita adalah teman pada awalnya" Vi menegaskan.
"Lalu kenapa kau pikir kau tidak pantas untukku" tanya Lana.
Lana menatap Vi. Apa dulu jika orang tua Vi tidak membawa Vi ke Sidney dia tetap akan jatuh cinta pada pria di depannya ini. Secara mereka akan saling mengenal dari kecil.
"Aku banyak berhutang pada Mamamu. Aku pikir aku tidak akan bisa membayarnya" ucap Vi lesu.
"Karena itu kau merasa tidak pantas untukku?"
Vi mengangguk.
"Hutangmu berapa sih?" tanya Lana polos.
Vi langsung mendongak menatap wajah Lana.
"Ini bukan soal uang Lana. Kalau hutang uang. Berapapun aku bisa bayar. La wong kamu aja bisa kalah sama aku saat lelang. Kamu pikir aku ini kere apa?" sungut Vi kesal dikira tidak bisa bayar hutang dalam bentuk uang.
Sedang Lana langsung melongo mendengar omelan Vi.
"Terus hutangmu apa pada Mama?" tanya Lana lagi.
"Hutang yang nggak bisa dibayar. Kamu pikir sendiri" ucap Vi kesal.
Melangkah ke pintu. Untuk mengambil pesanan Lana. Vi mengerutkan dahinya menerima dua paperbag. Dengan logo brand yang cukup menguras kantong para pria.
"Haiiss dalaman saja harganya selangit. Padahal aku robek sekali saja sudah jadi sampah" dengus Vi menatap paperbag berlogo VS itu.
"Cepat ganti baju sana. Masuk angin baru tahu rasa kamu!" suruh Vi.
Lana dengan ceria menerima paperbag itu. Senang sekali karena Vi yang membayarnya. Hingga Lana bisa membeli produk keluaran terbaru dari dua brand yang sangat ia suka.
"Jadi berasa suami bayarin belanjaan istri" guman Vi meneruskan acara makannya.
Namun lama ia menunggu. Lana tak kunjung keluar dari kamarnya. Kembali hal itu membuat Vi kesal.
"Dia ngapain sih? Lama amat. Nggak bisa pakai atau gimana?" gerutu Vi.
Perlahan masuk ke kamarnya. Betapa terkejutnya ia ketika mendapati Lana yang kembali tidur di atas ranjangnya. Tanpa mengganti bajunya. Masih memakai kemeja oversize-nya. Gadis itu dengan santai tidur memeluk guling yang biasa Vi peluk.
"Astaga! Bukannya mengganti baju. Malah langsung botik" gerutu Vi menirukan ucapan Lana menyebut kata tidur untuknya.
Menghela nafasnya pelan. Jam empat pagi. Pelan Vi menyingkirkan paperbag dari atas ranjangnya. Lalu merangkak naik ke atas ranjangnya. Menyingkirkan guling yang Lana peluk.
Sesaat Lana menggeram kesal dalam tidurnya karena kehilangan pelukan. Namun ketika Vi menggantikan posisi bantal guling itu. Lana terdiam seketika. Gadis itu memeluk Vi erat. Melesakkan wajahnya ke ceruk leher Vi.
"Hah! Gadis ini benar-benar bisa membuatku gila!" gerutu Vi.
Pelan memeluk balik Lana. Lalu mulai ikut memejamkan mata.
***
"Turun yuk" ajak Lana.
Keesokan harinya Vi mengantar Lana pulang. Dengan motornya. Karena Lana memintanya.
"Aku langsung pulang saja" tolak Vi.
Dia masih enggan untuk menginjakkan kakinya di rumah itu.
"Kenapa takut Papa? Dia nggak nggigit kok" seloroh Lana.
"Wah hebat dong kayak Scott, temennya Wolverin di film X Men" canda Lana.
Vi mencebik kesal.
"Aku pulang saja. Lagi ogah berdebat sama Papamu. Lagi nggak punya muka" jawab Vi jujur.
"Nah itu muka di kemanain?" Lana masih kekeuh membujuk Vi untuk mampir.
Hubungan keduanya membaik tadi pagi. Saat Lana meminta Vi untuk menarik kata putus yang Vi ucapkan kala itu. Vi langsung mengiyakan. Sebab itu janjinya jika Lana bisa bernafas kembali saat menenggelamkan diri di bath upnya.
Selain itu juga karena Lana mengancam, akan pergi ke klub malam setiap hari. Agar Vi mencarinya terus. Sontak membuat Vi kesal.
"Kenapa kamu jadi suka pergi ke klub sih? Papamu tahu, kena marah aku tidak tanggung" tanya Vi kesal.
"Tetap saja Papa akan marah padamu. Papa pikir kau tidak bisa menjagaku" jawab Lana cepat.
"Lalu kamu senang aku diomeli Papamu" tanya Vi.
"Mestilah. Siapa lagi yang bisa imbang melawan Papa kalau bukan kamu" cengir Lana.
"Astaga kamu ini"
"Vi itu kamu?" tanya sebuah suara di belakang Lana.
Vi menatap Tania yang berjalan menuju ke arahnya.
"Tidak rindu dengan Mama?" tanya Tania.
Vi menunduk. Rindu? Jelas dia rindu pada Tania. Rindu melebihi rindu pada mamanya sendiri. Pelan Vi mengangguk.
"Turun. Mama buat cake enak lo. Nanti kalau ketahuan Young Jae kamu nggak kebagian lo" bujuk Tania.
Vi masih terdiam. Hingga satu tarikan tangan Tania menggerakkan tubuh Vi.
"Ma aku belum parkir motor" rengek Vi.
"Biarin aja di sana" jawab Tania tidak peduli.
"Nanti Om marah" lagi Vi beralasan.
"Ya tinggal kamu lawan. Masak kalah lawan Om-mu" lagi Tania menjawab asal.
"Haissshh"
Vi menggeram kesal. Membuat Lana terpingkal-pingkal.
"Kenapa sih dari kemarin aku asyik menggerutu terus" keluh Vi begitu dia mendudukkan dirinya di ruang tengah.
Menunggu Tania yang tengah menyiapkan cake buatanya.
"Tumben cake Mama enak" celotehan Lana dari dapur.
"Ngeledek nih anak. Mentang-mentang situ lebih pintar masak dari Mama" gerutu Tania.
Lana terkekeh mendengar gerutuan sang Mama. Dan hal itu membuat Vi ikut tersenyum. Dia suka sekali mendengar pertengkaran manis keluarga ini. Membuat Vi selalu merindukan kehangatan keluarga Lana.
"Tapi kalau sama Vi. Lana nggak perlu masak. Vi jago masak" ucap Lana lagi masih di dapur.
Vi tersenyum mendengar pujian Lana.
"Iya tapi kalau sudah menikah. Tetap kamu yang usaha buat masakin dia. Kan dia suami kamu. Biarpun dia lebih pinter masak dari kamu" nasehat Tania.
"Menikah? Suami?" Vi berguman sendiri.
"Kayak Papa sama Mama. Biar rasa masakan Mama nggak ngalor nggak ngidul. Nggak jelas deh pokoknya" jawab Lana cepat.
"Ngeledek lagi" gerutu Tania.
Lana terkekeh mendengar kekesalan sang Mama.
Vi menyandarkan tubuhnya di sofa. Menatap langit-langit ruang keluarga milik keluarga Lana.
"Ini kuenya" ucap Tania girang.
"Wah enak nih kayaknya" sambut Vi girang.
Kredit Instagram.com
Vi baru saja menikmati kue itu yang ternyata memang enak.
"Rasanya enak secantik tampilannya. Mama hebat. Nanti kita bikin sama-sama ya Ma?" pinta Vi.
Tania jelas senang bukan kepalang.
"Vi pinter buat pastry Ma" Lana berujar.
"Masak?" tanya Tania.
Lana mengangguk. Detik berikutnya mereka tertawa bersama. Hingga satu suara menghentikan tawa mereka.
"Wa...si biang kerok datang nih" seloroh suara itu.
***
Bonus pict abang Vi
Kredit Instagram @ xukai_ empire
Dan ini neng Lana
Kredit Instagram @chessman_smilling_04
***