The Story Of "A"

The Story Of "A"
Kekhawatiran Jayden



Lana sejak tadi mengulum senyumnya. Menatap pada pria yang sedang memegang kemudi di sampingnya. Vi ngotot ingin mengantar Lana kembali ke kantornya. Padahal gadis itu sudah mengatakan kalau dia bisa pulang sendiri.


"Kenapa senyum-senyum?" tanya Vi dingin.


"Idih yang mesra dikit napa? Galak-galak amat. Kan sudah pacaran" seloroh Lana.


Vi hanya diam. Keduanya pada akhirnya memutuskan untuk memulai hubungan mereka ke tahap pacaran. Meski Vi berkata akam melamar Lana akhir minggu ini. Membuat Lana melompat saking senangnya.


"Kenapa kamu begitu senang aku lamar? Kemarin judesnya minta ampun" ejek Vi.


"Sudah penasaran sama kamu yang lepas kendali" bisik Lana.


"Aishhh, kenapa jadi mikirnya ke sana?" tanya Vi.


"Apalagi? Setelah nikah pasti kan MP terus ML" oceh Lana.


Vi memutar matanya malas.


"Kenapa dia jadi mesum begini?" batin Vi.


"Kenapa diam?" tanya Lana.


"Tidak ada" jawab Vi dingin.


"Vi..." panggil Lana.


"Apa?" jawab Vi sambil terus fokus pada kemudinya.


"Iihh jangan dingin-dingin napa. Nanti aku bakar lo" ancam Lana.


"Bakar? Bakar bagaimana?" tanya Vi.


"Bakar pakai ini?" ucap Lana.


Langsung meraih bibir Vi, menciumnya penuh na****.


"Hei, kamu ngapain lagi sih?" tanya Vi.


Baru tadi pagi dia bersusah payah melepaskan diri dari jeratan has*** yang membelenggu keduanya saat masih di kantor Vi. Sekarang gadis itu sudah kembali memancing ha****nya lagi.


"Haisshh kenapa Lana berubah jadi agresif gini?" batin Vi lagi.


"Vi...?" panggil Lana.


Yang merasa kesal karena Vi menolak ciumannya.


"Hemmm" jawab Vi membetulkan kemejanya yang berantakan gara-gara Lana yang main tarik dirinya.


"Astaga Vi, mesra dikit dong" pinta Lana.


"Alana Aira Lee, kamu tahu kan aku orangnya seperti apa?" tanya Lana.


"Pria balok es" sungut Lana.


"Nah tu tahu. Lalu kalau kamu minta aku mesra sama kamu. Aku harus belajar dulu, putri judes" ucap Vi.


"Putri judes?" tanya Lana.


"Kan mamamu memanggilmu seperti itu" jawab Vi.


"Kan dia mamamu juga"


"Mama angkat yang lebih dari mama angkat. Dia ada saat aku benar-benar kesepian" kenang Vi.


Keduanya masih ada di parkiran Pakuwon Mall.


"Apa kamu pernah bertemu mama? Aku pikir mama tidak pernah pergi ke Sidney"


"Kami hanya berhubungan lewat telepon. Aku hanya hafal suara mamamu tapi tidak tahu wajahnya"


"Kamu pasti menderita saat itu"


"Kesepian, sendirian. Diabaikan itu yang kurasa"


Lana menatap iba pada Vi.


"Jangan mengasihaniku. Aku tidak suka"


"Bukan kasihan tapi simpati. Kamu pasti tidak punya teman di sana"


Vi menggelengkan kepalanya.


"Isshh kenapa kau banyak bertanya. Membuatku banyak bicara" keluh Vi.


"Kamu lupa aku putri judes"


"Putri judes galak, bukan cerewet" sangkal Vi.


"Kan aku dua-duanya" balas Lana.


"Astaga kenapa aku bisa tergila-gila padamu" keluh Vi.


"Karena aku cantik dan menarik" jawab Lana narsis.


Vi langsung memijat pelipisnya yang tiba-tiba saja sakit.


***


Lana pulang ke rumah dengan wajah sumringah. Membuat sang papa heran.


"Kamu kenapa, Lana?" tanya Jayden begitu melihat putrinya itu memasuki rumah sambil melompat-lompat kecil.


"Lana lagi senang Pa" jawab Lana.


"Kenapa tokomu lagi banjir orderan atau rancanganmu jadi best seller" tanya. Jayden.


"Iss Papa mau tahu aja" jawab Lana sok misterius.


"Jangan buat Papa kepo, Lana" ucap Jayden.


"Yang kepo kan Papa. Oh ya Pa, weekend ini Vi mau datang. Mau bicara serius ke Papa" info Lana.


"Vi? Bicara serius? Soal apa?" tanya Jayden.


"Nanti Papa juga tahu" sahut Lana berlalu, naik ke lantai dua, menuju kamarnya.


Ucapan Lana membuat Jayden mengerutkan dahinya.


"Ada apa Mas?" tanya Tania yang tiba-tiba muncul dari arah dapur.


"Putra angkatmu mau datang weekend ini" jawab Jayden.


Jayden mendudukkan dirinya di sofa. Disusul Tania yang meletakkan secangkir teh untuk Jayden.


"Ya biarkan saja. Mungkin mereka janjian lagi main game. Biasa juga seperti itu" jawab Tania.


"Tapi Lana bilang kalau Vi ingin bicara serius denganku" ucap Jayden.


"Entahlah" jawab Jayden.


**


Weekend tiba,


"Lana suruh dia jangan bawa mobil baru lagi. Malas Papa bukain invisible gate kita" ucap Jayden dari ruang tengah.


"Dia bawa motor Pa, katanya" jawab Lana dari dapur.


Dia sedang membantu sang Mama memasak.


"Hanya Vi saja?" tanya Tania.


Lana mengangguk.


"Yang lain tidak datang?"


Lana menggeleng.


"Pada sibuk Ma"


Tania ber-oo ria.


Pukul setengah tujuh Vi tampak memasuki rumah Lana. Tania langsung menyambut kedatangan putra angkatnya itu.


"Aiih putra Mama. Makin tampan saja kamu" puji Tania.


"Masih kalah sama Young Jae" ucap Vi merendah.


"Kalian sama tampannya cuma berbeda kadar" ucap Tania.


"Emas kali beda kadar" seloroh Lana dari belakang Tania yang datang sambil memeluk lengan sang ayah.


Baik Vi maupun Lana langsung sumringah melihat wajah masing-masing. Membuat Jayden curiga.


"Kalian kenapa?" tanya Jayden.


"Kenapa apanya?" tanya Lana.


"Kalian tampak berbeda" ucap Jayden.


"Berbeda di mananya Om?" tanya Vi.


"Entahlah" jawab Jayden.


"Aahh sudah curiga-curigaannya. Ayo makan dulu" ajak Tania.


"Young Jae mana Ma?" tanya Vi ketika keempatnya sudah duduk di meja makan.


"Biasa mau malmingan. Masih dikamar dandan" seloroh Tania.


Membuat Lana dan Vi tergelak.


Makan malam mereka lalui dengan hangat. Meski Jayden lebih banyak diam. Tapi bagi Vi tetap tidak mengurangi kehangatan makan malam itu.


"Bagaimana pekerjaanmu?" tanya Jayden basa basi.


"Baik Om. Semua lancar" jawab Vi.


"Kamu ada kerjasama dengan Riko?"


"Iya, tapi tinggal proses finishing saja. Tapi aku sedang mengerjakan renovasi rumah Om Rey" jelas Vi.


Jayden hanya berhem ria.


Makan malam selesai. Bersamaan dengan Young Jae yang turun dari lantai dua.


"Woi, ada elu" seloroh Young Jae.


Memberi salam ala mereka. Membuat ketiga orang lainnya memutar matanya malas.


"Sudah tua juga masih seperti anak kecil" ledek Jayden.


"Lah kan kita cuma mengikuti Papa. Umur tua tapi semangat muda" balas Young Jae.


"Bisa-bisanya bilang Papa tua" sangkal Jayden.


"Lah apa namanya kalau bukan tuà. Punya anak, mungkin sebentar lagi punya cucu" oceh Young Jae melirik ke arah Lana.


"Enak saja gue nggak hamil ya. Masih segelan ini" jawab Lana asal.


Membuat Vi hampir tersedak di buatnya. Berapa kali Vi hampir saja membobol Lana. Namun beruntungnya dia selalu bisa menahan diri.


"Gue nggak bilang elu hamil, Kak. Gue cuma mau bilang siapa tahu bentar lagi ada cowok yang berani ngelamar elu. Secara kejudesan sama keceriaan elu yang di atas rata-rata. Sejauh ini cuma Vi yang tahan sama kejudesan elu. Siapa tahu dia berani ngelamar elu" ledek Young Jae.


Dan ucapan Young Jae kali ini benar-benar membuat Vi tersedak.


"Uhuuk...uhuk" Vi terbatuk setelah tersedak.


"Becanda lu gak asyik" umpat Vi.


"Lah salah ya. Lagian gue lebih rela kakak gue, elu yang kelonin. Bye..." ucap Young Jae. Seraya pamit.


Membuat semua orang mendelik mendengar ucapan absurd Young Jae.


"Ngeloni elu" bahasa apa tu" ucap Jayden sambil memicingkan mata.


"Alah Young Jae bercanda, Mas.Tahu kan anakmu itu bagaimana?" ucap Tania mencegah sang suami berpikir yang tidak-tidak.


Namun Vi dan Lana saling bertukar pandang penuh arti.


"Apa yang ingin kamu bicarakan?" tanya Jayden.


Mereka sudah berada di ruang kerja Jayden. Vi meminta tempat yang lebih private untuk berbicara dengan Jayden.


Vi terdiam mendengar pertanyaan Jayden. Keberanian yang tadi begitu besar kini seolah hilang, menguap entah kemana. Seiring tatapan Jayden yang seolah menusuk jantung Vi. Membunuh keberanian Vi tanpa kata.


Berulang kali Vi menarik nafasnya. Lantas menghembuskannya lagi. Tapi tetap saja tidak bisa msngembalikan keberanian Vi.


"Alvian...apa yang ingin kau bicarakan? Lana bilang kau ingin bicara serius dengan Om" tanya Jayden lagi.


Kali ini Vi memberanikan diri. Menatap balik wajah dingin Jayden.


"Saya ingin memberitahu Om, kalau saya mencintai Alana Aira Lee, putri Om. Dan malam ini saya ingin melamar putri Om, Lana untuk menjadi istri saya. Izinkan saya menikahi Lana" ucap Vi dalam satu tarikan nafas.


Deg,...


Jantung Jayden seolah berhenti mendengar ucapan Vi.


"Akhirnya apa yang aku takutkan terjadi juga. Akankah kisah lalu berulang kembali" batin Jayden menatap tajam pada Vi.


"Aku benar-benar khawatir jika itu terjadi" batin Jayden lagi.


***