The Story Of "A"

The Story Of "A"
Tergantung Situasinya



Vi kembali masuk ke sebuah klub malam di jantung kota Surabaya. Seorang pengawal sudah menyambutnya di depan pintu. Ketika melihat tuannya, pria itu langsung menuntun Vi masuk ke dalam.


Kembali hingar bingar suasana klub malam menyambut kedatangan Vi. Suasana yang membuat pria itu benar-benar enggan berada di sana. Jika bukan karena ada Lana di tempat itu. Sudah Vi pastikan kalau dia tidak sudi menjejakkan kakinya di sana.


"Di mana dia?" bisik Vi di tengah dentuman musik yang dimainkan oleh seorang DJ yang begitu memekakkan telinga Vi.


Pengawalnya langsung menuntun Vi ke sebuah ruangan. Namun belum sempat masuk. Seorang pengawal Vi yang lain memberitahu.


"Tuan, Nona ada di sana" beritahu pria berpakaian hitam itu.


Mata Vi mengikuti arah yang ditunjuk oleh pengawal itu. Sejurus kemudian mata Vi melebar. Melihat Lana berada di antara lautan manusia di lantai dansa klub malam itu. Lebih mengejutkan lagi. Melihat bagaimana Lana menari bersama dengan pengunjung lain dengan seorang pria yang tampak menempel ketat di belakang tubuh Lana.


Bisa Vi lihat kalau pria itu beberapa kali mencari kesempatan untuk menyentuh tubuh seksi Lana. Karena gadis itu hanya memakai tank top dan juga hot pants saja. Membuat tubuh mulus Lana terekspose sempurna.


"Sial!"


Umpat Vi. Lantas ikut masuk ke dalam lautan manusia itu. Mendekat ke arah Lana. Yang tidak mengetahui keberadaan Vi di sana. Pria di belakang Lana tampak mulai meraba dada Lana. Ketika tangan Vi dengan cepat menepisnya.


"Sorry Bro, she's my girlfriend" ucap Vi tajam.


"But she said, she's free tonight" balas pria itu.


"Get out! Or my bodyguard will kick you out from this place!" ancam Vi melirik kepada dua pengawalnya yang berada di sebelah kiri mereka.


"Sial! Baru juga mau *****-*****" umpat pria itu kesal. Lantas menyingkir dari sana. Mencari mangsa baru.


Mengabaikan tangan-tangan usil yang mulai menyentuh tubuhnya. Vi mendekati Lana.


"Lana ayo pulang" bisik Vi tepat di belakang telinga Lana.


Membuat gadis itu berbalik dengan cepat. Lana tampak mengerutkan dahinya.


"Kamu di sini?" tanya Lana dengan wajah merah dan tubuh sempoyongan.


"Astaga! Kamu mabuk lagi?" tanya Vi tidak percaya.


"Duh bisa dihajar Om Jayden ini kalau tahu anak gadisnya berada di tempat beginian. Mana mabuk lagi" batin Vi.


Menarik tubuh Lana untuk keluar dari tempat yang membuat Vi benar-benar muak. Tapi Lana menolak.


"Lana ayo pulang!" ajak Vi tidak sabar.


"Ngapain kamu disini? Bukannya tadi kamu...kamu lagi bercinta sama cewek bayaran kamu" ucap Lana dengan tubuh yang limbung ke sana ke sini.


Hingga Vi dengan cepat merengkuh tubuh seksi Lana dalam pelukannya. Menghindari pria lain yang ingin sekali menyentuh Lana.


"Bercinta apa? Aku tidak berna*** pada wanita lain selain kamu" ucap Vi kesal karena Lana terus saja berontak dari pelukannya.


"Lepas Vi, kamu menyebalkan!" maki Lana.


"O bagus, ingat namaku. Sekarang ayo pulang!" lagi Vi menarik tubuh Lana.


"Nggak mau! Aku masih mau di sini! Kalau kamu mau pulang, pulang sana! Balik lagi ke cewek bayaran kamu!" pekik Lana.


"Kamu cemburu!" tanya Vi di tengah usahanya untuk menahan tubuh Lana yang terus berontak dari pelukan Vi.


"Iya aku cemburu! Aku tidak suka kamu disentuh cewek lain. Aku tidak suka kamu dicium cewek lain. Aku tidak suka!" teriak Lana yang tentu saja tidak didengar pengunjung lain yang terlalu asyik berjoget di tengah lagu yang dimainkan oleh sang DJ.


Vi langsung mengulum senyumnya. Mendengar ungkapan rasa cemburu yang keluar dari bibir seksi Lana. Lana mabuk tapi bukankah ucapan orang mabuk adalah ucapan paling jujur.


"Sudah pulang sana! Terusin bercinta sama cewek murahan itu!" usir Lana.


"Hei dengarkan aku. Aku tidak akan bercinta dengan wanita selain kamu!" bisik Vi keras di telinga Lana.


"Bohong! Nyatanya kamu dan wanita itu...


"Aku tidak menyentuhnya!" potong Vi cepat.


Vi tahu bicara dengan Lan yang tengah mabuk sebenarnya tidak ada gunanya. Tapi entah kenapa dia benar-benar ingin menjelaskan kalau tidak terjadi apa-apa antara dirinya dan wanita bayaran kiriman papa brengseknya itu.


Mendengar ucapan Vi, Lana berhenti meronta. Menatap dalam pada wajah Vi yang juga menatapnya. Detik berikutnya, Lana dengan cepat mencium bibir Vi. Membuat Vi terkejut.


Bagaimana bisa Lana mencium dirinya di tengah hingar bingar lantai dansa tanpa mempedulikan keadaan sekelilingnya. Meski memang ya, tampaknya tidak ada yang peduli pada mereka. Karena semua sibuk dengan kegiatan yang hampir sama dengan dirinya.


Ciuman Lana semakin intens dan menuntut. Seolah menginginkan lebih dari sekedar ciuman. Dengan tangan Lana yang sudah berada di leher kokoh Vi. Dan tubuh mereka yang saling menempel.


"Haishh, susah payah aku lepas dari wanita tadi. Sekarang Lana pula yang mengujiku. Ini berkah atau musibah ya" gerutu Vi dalam hati di tengah ciuman Lana yang semakin liar.


Gadis itu semakin liar kala mencium Vi. Bahkan Lana dengan berani memulai French kiss-nya. Membuat akal Vi sesaat menghilang. Menikmati sensasi belitan lidah Lana dan juga sesapan bibir Lana yang benar-benar membuat Vi gila.


Ditambah tangan Lana yang mulai masuk ke dalam kaos yang Vi pakai. Meraba punggung kekar Vi. Hingga Vi semakin tidak bisa menahan dirinya.


"Lana ayo keluar dari sini!" bisik Vi kala bibir Lana mulai menyerang leher Vi.


Lana tidak menggubris ucapan Vi. Gadis itu malah menggigit gemas leher Vi.


"Aarrgghh Lana!" Vi meringis.


Secepat kilat Vi membawa tubuh Lana keluar dari sana. Memastikan kalau mereka akan mencari tempat lain asal tidak di sana. Lana jelas memberontak ketika Vi mengganggu kesenangannya.


"Vi...." rengek Lana.


"Kita cari tempat lain!" jawab Vi cepat. Seorang pengawal Vi langsung memberikan mantel panjang pada Vi. Yang dengan cepat memakaikannya pada tubuh Lana yang bersandar pada tubuhnya.


"Aaaahhhh" Lana protes ketika Vi memakaikan mantel panjang itu ke tubuh Lana.


Senyum Lana terkembang.


"He...he....hadiah? Yang besar ....ya..." ucap Lana ngawur.


"Pakai panjang tidak?" goda Vi.


Kenapa juga otak Vi jadi ikutan sengklek. Sudah tahu Lana mabuk. Masih juga digoda.


"Hemmm besar...panjang..." sahut Lana.


"Ehhh masih nyambung" bisik Vi.


Membawa Lana berjalan menuju pintu keluar. Dengan bantuan dua bodyguard Vi. Pria itu dengan mudah keluar dari tempat itu.


"Istirahatlah dulu. Dia aman bersamaku. Aku akan menghubungi kalian lagi jika perlu bantuan. Terima kasih" ucap Vi pada dua bodyguardnya.


"Siap Tuan" jawab dua bodyguard itu kompak.


"Vi....." panggil Lana yang bersandar pada tubuhnya.


"Hemm" jawab Vi.


Perlahan memasukkan Lana ke mobilnya. Lantas memacu mobilnya keluar dari kawasan klub malam itu.


"Vi....." panggil Lana.


"Apa?" tanya Vi yang mencoba fokus pada kemudinya. Karena tubuh Lana yang berada di sampingnya benar-benar menggoda dirinya.


"Gila! kenapa Lana malah semakin seksi sejak terakhir kali aku menyentuhnya" batin Vi melirik ke arah dada Lana yang tampak begitu kenyal dan sintal.


"Vi....ayo bercinta sekarang" guman Lana antara sadar dan tidak.


"Kamu itu mabuk beneran atau bohongan sih" tanya Vi asal pada Lana.


"Aku tidak mabuk ya!" sangkal Lana.


"Eh masih dengar to" jawab Vi sambil tersenyum.


Mobil Vi masuk ke parkiran apartement miliknya. Tempat paling aman untuk keduanya.


"Aku sudah menemukannya"


Vi menulis pesan kepada Arch. Agar dua orang itu tidak lagi khawatir pada Lana.


"Bagus kalau begitu. Kau bawa kemana dia?" tanya Arch.


"Ke apartemenku. Dia mabuk"


"Beneran mabuk?"


"Iya"


"Awas kalau kau apa-apakan dia"


Ancam Arch. Membuat Vi tersenyum.


"Tergantung situasinya" batin Vi.


Perlahan turun dari mobilnya. Lantas membuka pintu sebelah tempat Lana berada. Membawa gadis itu dalam gendongan ternyamannya. Lantas membawanya naik ke unitnya.


Vi hanya terdiam, menahan gejolak dalam dirinya. Kala nafas hangat Lana menerpa kulit lehernya.


"Haishh ada apa dengan hariku" gerutu Vi.


Yang tadi wanita bayaran, dan Vi dengan mudah bisa menolaknya. Tapi sekarang Lana, bagaimana bisa dia menolaknya. Satu hal yang paling Vi inginkan dalam hidupnya.


Nyatanya bibir Vi sanggup mengucapkan kata putus tapi hati Vi sama sekali tidak bisa.


"Apa yang harus kulakukan padamu ha?" tanya Vi, ketika menatap Lana yang sudah terbaring di ranjang king size di kamar mewah Vi.


"Vi..." guman Lana.


Vi diam mendengarkan igauan Lana.


"Jangan tinggalkan aku hiks..hiks...aku mencintaimu...aku tidak bisa hidup tanpamu...hiks..hiks..aku tidak mau kamu disentuh wanita lain...hiks...hiks...kamu hanya milikku hiks...hiks...hiks..."


Sumpah demi apapun Vi tidak bisa menahan rasa bahagianya. Mendengar ucapan Lana. Meski itu hanya igauan saat Lana mabuk.


Perlahan Vi mencium lembut bibir Lana. Masa bodoh dengan kata putus yang dia ucapkan kemarin. Karena pada dasarnya dia tengah frustrasi saat mengucapkan kata perpisahan itu pada Lana.


"Aku mencintaimu Lana" bisik dalam hati.


***


Bonus pict,



Kredit Instagram @itsme_sweetjeany


Ahh so sweet banget sih...😍😍😍


***