
Vi sedang berada di ruang kerjanya. Menatap pada sebuah design rumah. Design rumah yang sedang dia kerjakan. Rumah yang rencananya akan ia tinggali bersama Lana nanti.
Kredit Instagram @ mansion dreamers
Vi menarik nafasnya pelan. Perlahan menyentuh gelang yang melingkar di tangan kirinya. Ternyata semua seperti sudah diatur sejak awal oleh Tania. Tanpa sengaja. Takdir membawa ketidaksengajaan itu menjadi nyata.
Vi sempat melihat gelang yang dipakai Lana. Sama persis dengan yang ia pakai. Hanya berbeda di permata safir yang berada di gelang Lana.
***
"Bagaimana hubungan kalian?" tanya Vi pada Riko juga Kanaya.
"Kami baik-baik saja" jawab Riko singkat.
"Soal media waktu itu?" tanya Vi.
"Bodo amat. Protes ya protes sana. Gue nggak peduli" jawab Riko.
Pria cukup jengah dengan para wartawan yang terus saja memprotes hubungannya dengan Kanaya. Untung saja Kanaya tidak terlalu terpengaruh akan hal itu. Bagi Kanaya itu tidak penting. Selama dia masih bisa bekerja dengan tenang. Dia tidak mempermasalahkan hal lain.
"Bagus kalau kalian tidak apa-apa dengan pemberitaan yang beredar. Lagipula mereka memang jangan terlalu dituruti keinginannya" Vi berucap.
"Kalian balikan lagi?" tanya Riko.
"Yeah mau gimana lagi. Aku sendiri juga mentok sama dia. Dia juga ngancam gue kalau nggak mau balikan bakal masuk ke klub tiap hari. Bikin mumet nggak tu" keluh Vi.
Riko terbahak.
"Daripada dia dipelototin cowok lain. Mending gue embàt sendiri" tambah Vi.
Membuat Riko semakin kencang tertawa.
"Nah tu tahu. By the way Arch mana?" tanya Riko.
"Kan masih nunggu Marina yang ada caesar darurat. Kamu sendiri yang acc masak lupa" Kanaya mengingatkan.
"Ya maaf. Habisnya gak ada dokter obgyn yang mau ambil tu pasien. Takut sama resikonya. Padahal aku yang akan bertanggungjawab kalau terjadi sesuatu dan keluarga setuju" jelas Riko.
"Jadi Arch masih stand by di sana?" tanya Vi.
"Harusnya sih sudah selesai dari tadi" jawab Kanaya melirik arlojinya.
"Nah tu dia" ucap Kanaya tak berselang lama.
Melihat kedatangan Arch dan Marina. Namun tak hanya itu ternyata di belakang mereka ada Lana, Caca dan juga Young Jae.
"Bisa barengan gitu ya" seloroh Riko.
"Baguslah. Sebentar lagi filmnya mau dimulai. Bisa telat dong kalau mereka tidak datang sekarang" tambah Kanaya.
Mereka berdelapan ternyata sengaja mengadakan kencan berjamaah. Dengan acara nonton film. Mereka yang semuanya cukup sibuk. Akhirnya bisa meluangkan waktu bersama untuk bisa hang out bareng.
"Sudah lama?" tanya Lana langsung memeluk manja Vi.
Membuat yang lain berdecih kesal.
"Kenapa? Iri? Praktek sendiri sono. Kan udah pada punya couple sendiri-sendiri juga" protes Lana.
"Bukannya itu Non. Ingat nggak dulu elu gimana sama Vi?" tanya Arch.
"Dulu ya dulu. Jangan diungkit-ungkit" ucap Lana ketus.
Enggan diingatkan soal sikap judesnya dulu ke Vi.
"Kena batunya dia sekarang. Ketemu orang yang tahan sama judes sama galaknya kamu" ledek Riko.
"Diam!" desis Lana.
"Sudahlah. Setidaknya ada juga yang bantuin jagaian dia kalau kita lagi lengah. Gak ilang-ilangan mulu" ucap Arch.
Yang lainnya akhirnya hanya diam.
"Masuk yuk. Sudah mau mulai" ajak Marina.
"Emang nonton apaan sih?" tanya Young Jae.
"Ini" ucap Kanaya menunjukkan tiket masuk mereka.
"Yasallam. Siapa juga yang milih tu film?" tanya Riko.
"Tu....." tunjuk Kanaya dengan dagunya.
Semua menatap ke arah Marina yang terlihat antusias. Begitupun dengan para wanita lainnya.
"Kenapa? Ada yang salah? Filmnya bagus tahu. Doctor Strangers In the Multiverse of Madness" seloroh Marina.
"Kenapa action sih. Kirain mau nonton 365 Days part two sekalian praktek" oceh Young Jae.
Yang langsung kena keplak Lana.
"Pikiranmu itu ke sana mulu" marah Lana.
"Kan hot banget tu film"
Kali Caca yang langsung mengeplak lengan Arch.
"Sakit, Yang" keluh Young Jae.
"Makanya jangan protes" ucap Caca penuh ancaman.
Pada akhirnya kedelapan orang itu masuk ke dalam bioskop. Dengan Lana dan Vi masuk belakangan.
"Tidak masalah nonton Dokter Stranger karena kita bisa praktek 365 Days di belakang" bisik Vi.
"Mesum amat kamu" maki Lana.
"Baru tahu ya" goda Vi.
Mencium sekilas bibir Lana. Sebelum duduk. Membuat gadis itu mendesis marah.
***
Hari berganti. Hingga tiba waktunya, Vi benar-benar melamar Lana di depan kedua orang tuanya. Meski awalnya Jayden membuat banyak drama untuk Vi. Namun di akhir pembicaraan, pria itu akhirnya berlapang dada. Saat sang putri menjawab "ya" saat Jayden bertanya apakah dia bersedia menerima lamaran Vi.
Tidak terbayangkan betapa bahagianya hati Vi. Selangkah lagi dia akan memiliki Lana seutuhnya. Meski malam itu. Hanya Vi dan Dika yang datang untuk melamar Lana.
Sang Mama Vera merestui langkah sang putra untuk meminang Lana. Putri sahabat tercintanya. Vera baru akan terbang ke Surabaya di hari pernikahan Vi dan Lana. Beruntungnya Jayden tidak mempermasalahkan itu semua.
"One step closer" guman Vi.
"Kamu sudah tidur?" tanya Lana ikut naik ke kasurnya.
"Belumlah. Bagaimana bisa tidur kalau ada pemandangan cantik di depan mata" ucap Vi.
"Gombal" ucap Lana cepat.
Vi hanya tersenyum mendengar ucapan Lana.
"Pasti rasanya indah sekali" guman Lana pelan.
"Apanya?" tanya Vi.
"Kalau kamarku seperti kamar Papa Mama" jawab Lana.
"Kamu ingin kamar dengan view langit malam?" tanya Vi.
Lana mengangguk.
"Gampang bisa diatur" ucap Vi cepat.
"Memang bisa. Apartemen kamu jelas tidak bisa dibuat seperti itu"
"Ya jangan buat di apartement dong"
"Lalu?"
"Ada deh. Nanti tak kasih lihat. Sekarang terima ini" ucap Vi menyerahkan sebuah kotak kecil.
"Cincinnya kan udah" jawab Lana menunjukkan cincin di jarinya.
"Itu bukan cincin. Bukalah" pinta Vi.
Begitu Lana membukanya. Mata Lana langsung berbinar cerah.
"Ini beneran untukku?" ucap Lana tidak percaya.
"Iyalah. Masak aku bohong sih. Sejak awal aku membelinya hanya untukmu" ucap Vi.
Lana semakin senang dibuatnya.
"Terima kasih" ucap Lana manja.
"Berterima kasihlah yang benar" pinta Vi.
"Caranya?" tanya Lana tidak paham.
Vi menunjuk bibirnya dengan telunjuknya.
"Ooo"
Lana mencium bibir Vi. Ketika gadis itu akan menyudahinya. Vi menahan tubuh Lana. Menarik tubuh gadis itu untuk naik ke atas tubuhnya. Sementara tangan Vi menahan tengkuk dan pinggang Lana.
Sehingga ciuman mereka kembali terjadi. Lama keduanya saling memagut. Seolah tidap pernah puas dengan bibir masing-masing. Bahkan Vi sama sekali tidak memberikan jeda bagi Lana untuk menarik nafasnya.
"Kau ingin membunuhku ya" protes Lana saat Vi akhirnya memberinya waktu untuk bernafas.
"Berlatihlah untuk bernafas dengan baik. Sekali memulainya aku tidak akan melepaskannya sampai aku puas. Begitu juga saat bercinta. Aku rasa aku bisa bertahan sampai pagi saat bercinta denganmu" ucap Vi sambil mengusap lembut bibir Lana.
Glek!
Lana menelan ludahnya berat. Sampai pagi? Dia tidak salah dengar kan. Gadis itu masih berada di atas tubuh Vi. Hingga kerasnya perut Vi, Lana bisa merasakannya.
"Bodynya kan hot. Atletis lagi. Berarti dia doyan ngegym. Dan biasanya orang doyan ngegym itu staminanya bagus dan tahan lama" batin Lana.
Sedikit ngeri jika benar dia harus melayani Vi semalaman saat keduanya sudah menikah nanti.
"Kamu tidak keberatan kan kalau Papaku tidak hadir di pernikahan kita" tanya Vi sendu.
Lana menggeleng.
"Aku tidak masalah" jawab Lana. Meletakkan kepalanya di dada bidang Vi. Hingga gadis itu bisa mendengar detak jantung Vi yang berdetak begitu teratur.
Reflek Vi langsung membelai lembut rambut Lana. Membuat Lana sejenak mendongak menatap wajah Vi. Yang terus menatap langit-langit kamar Lana.
"Bahkan dari bawah saja. Wajahnya terlihat seksi dan tampan" batin Lana lagi.
Kenapa baru sekarang, Lana menyadari ketampanan wajah Vi. Mengagumi betapa sempurnanya wajah pria yang dalam hitungan hari akan menjadi suaminya itu. Karena pernikahan keduanya akan dilaksanakan bulan depan.
Setelah sebelumnya Jayden harus memastikan dulu dengan keluarga besarnya. Terutama Rafa dan Hyun Ae. Karena dua pria itu yang paling ngotot harus hadir di pernikahan Lana.
"By, aku harap kamu tidak menyesal menikah denganku" ucap Vi tiba-tiba.
Lana mengerutkan dahinya.
"Kenapa? Ada yang salah?" tanya Lana.
"Soal keluargaku yang tidak sempurna" jawab Vi.
"Tentu saja tidak. Itu bukan masalah bagiku. Yang penting kamu cinta mati sama aku"
Ucapan Lana cukup membuat Vi tenang.
"Tentu saja aku cinta mati sama kamu. Sampai aku mati-matian untuk tidak memakanmu sekarang" Vi berujar.
"Ha?"
Lana melongo mendengar ucapan Vi.
"Kamu itu kok tidak paham-paham sih. Kalau posisimu begini kamu seperti sedang meminta posisi women on top" ucap Vi dengan nafas tersengal.
"Ha? Women on top? Apalagi itu?"
"Tidak paham juga. Nanti tanya mbah Google" jawab Vi lagi.
"Tanya mbah Google? Alamat jawabannya pasti seperti yang waktu itu"
Otak Lana langsung travelling kemana-mana.
***
Kredit Instagram @xukai_empire
Abang Vi yang otewe married..🤗🤗🤗
***